
Selamat membaca ..
Fania sedang bersiap –siap untuk berangkat Perform malam ini di Kafe yang berada dalam Hotel milik Reno, Hotel dimana dia bertemu kembali dengan kakak gantengnya. Hanya waktu itu mereka bertemu di Ballroom hotel tersebut, sementara sebelumnya Fania dan bandnya memang punya jadwal regular di Kafe ‘n Bar yang ada di dalam Hotelnya Reno itu.
Saat Fania ingin berpamitan kepada kedua orang tuanya, terdengar bunyi notifikasi dari ponsel yang sudah ia masukkan dalam tasnya. Fania mengecek ponselnya terlebih dahulu sebelum cium tangan untuk pamit berangkat pada si Mamah dan Papahnya.
‘I already at Indo.’ Begitu isi chat yang ternyata dari Andrew. Fania tersenyum, tapi kemudian dia hanya menatap pesan tersebut sambil hatinya yang dirasa kembali galau. Kemudian ia mengheningkan handphonenya. ‘Nanti aja deh replynya. Hadapi kenyataan Fania. Dia pacar orang.’ Begitu hati Fania bicara.
Ia pun bergegas berangkat dan sebelumnya berpamitan pada kedua orang tuanya.
***
Sudah satu jam sejak Andrew men-chat Fania, tertanda hanya di baca tanpa balasan sama sekali. Bahkan emoji jempol aja ga ada.
Andrew yang kala itu sedang bermain game di pc nya melirik arloji di pergelangan tangannya. Menghentikan sementara game onlinenya, lalu kembali mengecek ponselnya dan melihat chat yang tadi dia kirim pada Fania. Namun tetap saja tidak ada balasan apapun dari Fania.
Andrew yang penasaran kenapa Fania tidak segera membalas chatnya, padahal sudah terbaca sejak satu jam yang lalu itu memutuskan untuk langsung menghubungi Fania. Tiga kali Andrew sudah mencoba menghubungi Fania tapi tetap tidak ada jawaban meski nada panggilan tersambung.
“What are you doing F?”. Gumam Andrew sambil menatap ponselnya. ‘Busy huh?. Chat gue Cuma diread dan telpon gue ga diangkat.’ Andrew mengetik pesan untuk kedua kalinya. Lalu melempar ponselnya keatas kasur, karena Andrew sedikit kesal pada Fania. Ia pun kembali melanjutkan untuk bermain game.
Tak terasa sudah tiga jam Andrew bermain game, bahkan hari juga sudah mulai senja. Karena sudah bosan dan letih bermain game di pc, ia merebahkan dirinya di kasur dan kembali mengecek ponselnya.
“Aish.” Gerutu Andrew yang melihat chatnya pada Fania hanya centang dua tapi belum berubah warna. ‘Lagi ngapain sih lo Fan?.’
Saat Andrew ingin memejamkan matanya, ponselnya tiba – tiba berdering. Dia langsung menyambar ponselnya itu, karena berharap itu telpon dari Fania. Saat melihat siapa si pemanggil, namun ternyata bukan telpon dari orang yang diharapkan yang menelponnya, melainkan Reno.
“What’s up R? ( Ada apa, R? ).” Sapa Andrew.
“Where are you? (Dimana lo?).” Tanya Reno dari sebrang telpon.
“Home ( Rumah ).” Jawab Andrew malas.
“Wanna come? ( Mau ikut?).” Tanya Reno lagi.
“Where? (Ke?)”. Andrew bertanya balik masih dengan nada malas.
“Hang out ( Nongkrong ).” Jawab Reno.
“Kemana? Sama siapa aja?.” Andrew masih bertanya.
__ADS_1
“Formasi biasa. Lo ajak Jeff lah. Nongkrong di kafe hotel gue.” Ucap Reno.
“Fania sama lo?.” Tanya Andrew penasaran, iseng aja nanya begitu. Siapa tau memang Fania ternyata sedang bersama Reno dan Ara.
“Nope ( Engga ). Dia lagi ada urusan.” Jawab Reno. “Lo mau bareng gue apa jalan sendiri?.”
“Ketemu disana aja. Jam berapa?.” Tanya Andrew.
“Jalan sekarang.” Jawab Reno.
“Okey, I just gonna change first. ( Oke, gue ganti baju dulu ).” Sahut Andrew.
“Hem, meet you there. ( Hem, ya udah ketemu disana ).” Sahut Reno juga lalu memutuskan panggilannya.
‘Urusan? Sepenting apa sampai ga sempat balas chat sama terima telpon?.’ Gerutu Andrew dalam hatinya. Lalu ia menelpon Jeff untuk mengajaknya ikut hang out bareng dirinya dan Reno. Kalo formasi biasa tanpa Fania ya paling John sama Ara.
***
Fania melihat ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari Andrew dan satu pesan bertuliskan, ‘Busy huh?. Chat gue Cuma diread dan telpon gue ga diangkat.’
Sebenarnya saat Andrew menelpon untuk yang ketiga kalinya, Fania sudah memegang ponselnya setelah ia selesai berganti baju dan berdandan untuk perform. Tapi hatinya enggan untuk menerima panggilan Andrew.
Berusaha untuk menetapkan hatinya agar berhenti berharap pada Donald, yang memang sudah benar – benar ada di hati Fania lebih dari sekedar sahabat atau kakak seperti Reno. Dan sebelum rasa itu semakin dalam serta karna merasa Donald udah ada yang punya, Fania memilih mundur alon – alon.
“Siapa juga yang bengong.” Sahut Fania.
“Nah ini duduk termenung di deket kolam renang apa namanya kalo bukan bengong.” Ucap Kak Rita.
“Orang gue lagi ngecek hp doangan.” Ucap Fania.
“Ya dah yuk, bentar lagi maen nih.” Ucap kak Rita mengajak Fania untuk segera bersiap – siap manggung.
“Siap Bos.” Sahut Fania lalu berjalan bersama kak Rita menuju area kafe.
*
Fania dan Vivi masing – masing sudah menyelesaikan dua buah lagu yang mereka bawakan di kafe yang berada di dalam Hotelnya Reno tersebut. Kafe ‘n Bar itu tak pernah sepi pengunjung meski crowd nya tidak seperti di tempatnya Julian dan Lisa yang selalu antusias.
Namun kafe tersebut bisa dibilang ya selalu ramai, terlebih lagi saat The Boyz n Girls ada jadwal manggung ditempat itu. Malam ini pun juga sama ramainya, hanya saja ada satu area yang belum terisi yang tidak jauh dari panggung namun sudah ada papan panjang kecil bertuliskan RESERVED. Tapi tampaknya orang – orang yang sudah memesan area tersebut juga sepertinya belum datang.
__ADS_1
“Fan, maen gitar nih udah lama kan lo ga pernah perform sambil maen gitar.” Kiki menawarkan Fania untuk bernyanyi sambil bermain gitar. Gadis itu tampak berpikir sebentar.
“Hem, okelah. Mana sini.” Sahut Fania seraya meminta gitar.
Kiki pun memberikan gitarnya pada Fania yang sudah siap pakai karena memang sudah disetel sebelum mulai perform. Kiki mengambil gitar cadangan yang ada dibelakangnya yang memang selalu disiapkan dengan posisi siap pakai juga jadi ga sibuk nyetem lagi kalo anak musik bilang.
Fania pun mengalungkan strap gitar kiki menyilang dibahunya. Kak Vivi nampak sumringah.
“Aseik dah ade gue.” Ucapnya sumringah sambil membantu memposisikan standing microphone di depan Fania.
“Lagu ape Fan?.” Tanya Samuel
“Dive”. Jawab Fania. Lalu gadis itu sudah meletakkan beberapa jari di tangan kirinya di barisan senar gitar siap untuk memainkan.
Fania mulai memainkan jarinya pada gitar, memainkan instrumen awal lagu bergenre Pop tersebut dan tak lama ia mulai bernyanyi sambil memetik gitar dengan indah dan asik.
Oh, maybe I / came on too strong, Maybe I waited too long / Maybe I played my cards wrong, Oh, just a little bit wrong / Baby I ... apologize for it
Saat tengah bernyanyi di bagian pertama, pandangan Fania tertuju pada beberapa orang yang berjalan mendekati area yang sudah direservasi. Fania pun sumringah karena ia melihat kakak ganteng beserta istrinya yang tersenyum kagum pada Fania.
Bahkan terlihat mulut Ara yang membentuk kata “WOW” dari jauh saat melihat Fania bernyanyi sambil bermain gitar. Sementara Reno melihatnya penuh kekaguman seraya duduk. John pun terlihat di belakang mereka. Sama seperti Ara dan Reno yang menatap Fania kagum lalu mengangkat dua jempolnya pada Fania sambil tersenyum.
Fania masih terus bernyanyi, menyapa para kakak ketemu gedenya dengan anggukan kepala sambil tersenyum lebar di sela nyanyiannya, karena tangannya sedang sibuk memetik string gitar.
I could fall / or I could fly, Here in your aeroplane / And I could live, I could die, Hanging on the words
you say / And I've been known to give my all, And jumping in harder than / Ten thousand rocks on the lake
Namun Fania merubah ekspresi wajahnya seketika saat melihat ada orang lain yang datang bersama Reno, Ara dan John. Jeff ternyata ikut juga malam itu, dan mata laki – laki itu membulat sempurna terkejut namun penuh kekaguman. saat melihat Fania dipanggung yang sedang bernyanyi dan bermain gitar.
Dan orang terakhir dari mereka adalah orang yang seharian ini chat dan panggilannya di hindari Fania. Andrew!.
si Donald!. Ekspresi terkejut tampak dari wajah laki – laki plontos yang merupakan cinta dalam hatinya Fania itu.
So don't call / me baby, Unless you mean it / Don't tell me you need me, If you don't believe it
So let me know the truth, Before I dive right into you
Namun tak lama Andrew tersenyum dan tetap terpaku menatap Fania yang berada di panggung. Senyuman dari wajah seseorang yang Fania rindukan beberapa hari ini.
__ADS_1
***
To be continue..