BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 218


__ADS_3

Selamat membaca.......


***


“Buburnya sudah aku hangatkan, jadi bisa langsung kamu makan, Heart.” Andrew dan Fania kini sudah tinggal berdua di kamar mereka.


Fania tidak menjawab.


“Heart, aku minta maaf.” Ucap Andrew sambil membelai lembut wajah Fania. Ia merasa Fania masih marah padanya.


“Aku ga lapar.” Fania berucap.


“Sedikit saja, agar kamu bisa minum obat.” Bujuk Andrew.


Fania menatap wajah Andrew. Teringat ucapan kakak gantengnya soal alasan Andrew yang ingin menunda untuk memiliki anak. Merasa terenyuh karena tau betapa si Donald Bebeknya itu teramat sangat mencintainya.


“Aku tau kamu mungkin membenci aku saat ini, Heart. Tapi setidaknya kamu harus makan dan minum obat.” Andrew berkata namun tertunduk sembari mengaduk – aduk bubur untuk Fania. Ia benar – benar merasa bersalah


pada Fania nya saat ini.


“Sini buburnya, aku bisa makan sendiri.” Fania mengambil mangkuk bubur yang di pegang Andrew.


“Aku bantu ya?.”


“Aku masih bisa makan sendiri.”


Andrew mengalah. Membiarkan Fania menyendok bubur dan memakannya sendiri, namun Andrew tetap memegang mangkuknya.


“Sudah.”


Andrew tersenyum tipis. “ Masa hanya satu suapan?. Lagi ya?.”


“Aku mual. Kepala aku sakit.” Ucap Fania yang tak berselera dengan bubur yang dibawa Andrew.


Andrew tak memaksa. Trauma dengan dirinya sendiri kalau memaksa Fania lagi. “Ya sudah, minum dulu lalu minum obatnya.”


Fania menurut, meminum sedikit air putih yang disodorkan Andrew dan mengambil beberapa butir obat dari tangan Andrew yang segera ia minum.


“Makasih.”


Andrew menyeka mulut Fania dengan tisu. Memindahkan mangkuk bubur ke meja dekat sofa, lalu kembali duduk disisi ranjang dekat Fania.


“Aku benar – benar minta maaf, Heart.” Andrew berkata lirih sambil menatap wajah Fania. Namun wanita yang dicintainya itu tak menjawab, hanya balik menatapnya.


Andrew merubah posisi duduknya yang tadi menghadap Fania, kini mengarah ke arah bangku yang menghadap ke balkon. Tertunduk lesu sambil menopang dan menyatukan kedua tangannya diatas paha.


“Kamu benar, aku egois.”


‘Andrew itu cinta mati sama lo, F. Dia hanya masih trauma kalau harus liat lo masuk Rumah Sakit lagi dia akan lebih memilih ga punya anak, daripada harus kehilangan lo. Mungkin beda cerita kalau insiden di Thai ga pernah terjadi.’


Fania teringat akan ucapan kakak gantengnya soal perasaan Andrew yang takut kalau kehamilan Fania beresiko nantinya.


‘Andrew itu cinta mati sama lo.’ Kata – kata Reno itu masih terngiang di telinganya dan Fania menjadi tak tega melihat Andrew yang tertunduk lesu saat ini.


“Marahlah, kalau memang kamu mau marah. Mau mencaci maki akupun silahkan, Heart. Aku terima. Tapi tolong, jangan membenci aku.”


Andrew kembali menatap Fania dengan tatapan mengiba yang dibayangi penyesalan dan rasa bersalahnya.


Fania menghela nafas pelan. “Aku ga mungkin benci kamu.” Ia melingkarkan kedua tangannya dibelakang leher Andrew.


Andrew yang tak menyangka Fania memeluknya, tak pelak lagi merasa bahagia dan sedikit lega mendengar ucapan Fania.


Memeluk Fanianya erat, sangat erat. “Maaf. Maafin aku ya?....” Andrew setengah terisak. “Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Jangan pernah membahayakan nyawa kamu lagi. Aku bisa gila, Heart.”


Fania mengangguk pelan. Masih memeluk Andrew.


“Lain kali jangan pernah mengambil keputusan sendiri.” Fania sudah melepaskan pelukannya, namun tangannya kini menangkup wajah Andrew.


Andrew mengangguk, memegang tangan Fania dan mengecupnya. “Aku janji. Segala hal yang menyangkut pernikahan kita, semua akan aku bicarakan dengan kamu. Aku janji.” Matanya berkaca – kaca.


Fania tersenyum. Melihat Andrew yang tampak seperti bucin sejati saat ini. Sungguh tak terbayang, kalau laki – laki yang nampak melankolis didepannya ini, juga punya sisi kejam yang teramat sangat untuk orang – orang yang berani mengganggunya, keluarganya, terlebih lagi Fania nya.


Hanya Fania. Ya, hanya pada Fania Andrew akan mengaku kalah. Yang bisa membuatnya merasakan segala hal yang orang lain tak bisa. Hanya di depan Fania saja sepertinya dia akan menunjukkan sisi lemahnya. Karena wanita itu adalah kelemahan sekaligus kekuatan terbesar untuk seorang Andrew Smith.


“Kamu istirahat gih. Muka kamu udah lelah banget itu kayaknya, Nald.” Ucap Fania.

__ADS_1


Andrew setengah terkekeh. Hatinya sudah lumayan lega saat ini. Lega karena Fania tak membencinya.


“Harusnya kamu yang istirahat, Heart.”


“Aku udah mendingan. Hanya masih sedikit pusing.”


“Maka dari itu, istirahat ya?.” Andrew merebahkan tubuh Fania. “Kalau berasa ingin muntah bilang. Aku sudah siapkan tempat agar kamu ga perlu ke kamar mandi.”


Andrew menunjukkan wadah bulat pada Fania.


“Engga ah, aku akan tetep ke kamar mandi kalo memang berasa pengen muntah.” Si Kajol yang susah dibilangin itu jarang nurutnya emang. “Nanti kamu ikutan muntah juga saking jijik.”


“Dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu, sudah pernah aku lihat, aku rasa. Kalau Cuma sekedar muntahan kamu, ga akan aku merasa jijik.”


“Kirain aku kamu mau bilang dilihat, diraba, diterawang.” Canda Fania, sekedar untuk mencairkan suasana dengan Donald Bebeknya saat ini.


Andrew sudah bisa tersenyum lebar sekarang. Fania yang suka asal nyeletuk itu udah kembali lagi meski wajahnya masih pucat.


“Memang kamu lembaran rupiah?.”


Fania terkekeh dengan ucapan Andrew barusan.


“Istirahat ya?. Aku disini kalau kamu mau apa – apa.”


Andrew merapihkan selimut Fania, masih tetap terduduk disisi ranjang.


“Kamu juga harus istirahat Nald. Nanti malah gantian sakitnya.” Ucap Fania mengelus lengan Andrew.


“Suami bucin kamu ini cukup kuat. So don’t you worry about that. (Jadi jangan khawatir soal itu).” Sahut Andrew sambil membelai kepala dan wajah Fania sembari tersenyum.


“Nald....” Ucap Fania.


“Hem?. Ingin sesuatu?.”


“Nurut!.”


Andrew tersenyum lebar mendengar Fania menyuruhnya untuk menurut agar lekas juga istirahat.


“As your wish my Queen. (Sesuai titah anda, Ratuku).”


***


“Morning Andrew.” Jawab Mom dan Ara bersamaan. “Kamu perlu sesuatu, Ndrew?.” Tanya Ara.


“Mau mengambilkan sarapan untuk Fania.”


“Gimana Fania Ndrew?. Masih muntah – muntah?.” Tanya Mom Erna.


“Hanya sekali semalam setelah minum obat. Tapi badannya masih agak demam.”


“Ya sudah, biar Mom minta maid yang siapkan sarapan untuk Fania dan kamu juga.”


“Untuk Fania dulu saja Mom, Andrew gampang nanti menyusul.” Ucap Andrew. “Dia harus minum obat soalnya.”


“Oh iya, kamu benar juga.” Sahut Mom. “Ya sudah nanti Mom suruh maid antar dengan segera. Kamu kembali ke kamar aja sekarang.”


“Biar maid antar sarapan Andrew Mom, sarapan untuk Fania, Andrew akan bawa sendiri.”


“Salah satu suami siaga selain Dad dan Reno di rumah ini.” Goda Ara. Mom terkekeh.


“Bisa aja Kakak Ara.” Sahut Andrew dan mereka bertiga pun terkekeh, hingga pelayan selesai menyiapkan sarapan untuk Fania yang dengan segera dibawa Andrew ke kamarnya.


**


Dalam dua hari Fania sudah membaik. Hanya tinggal menghabiskan obat dari Dokter Owen yang memang harus diminum sampai habis.


Selama dua hari itu juga Andrew tak membiarkan Fania sendiri. Suami siaga kalo kata Ara. Yang lain urusan sekian kalo udah menyangkut Fania. Urusan kantor dibantu Reno dan dua J tentunya.


Semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang santai selepas makan malam. Kegiatan rutin untuk bercengkrama saat malam jika sedang tidak ada urusan di luar.


Mereka kompak menoleh saat Andrew datang bersama Fania yang digendong belakang oleh Andrew ke ruang santai keluarga. “Halo semua.” Sapa Fania.


“Hey, Little F, kenapa kesini?.” Reno berdiri menghampiri. “Lo ingin sesuatu?.”


“She said that she bored staying at room. (Dia bilang dia bosen dikamar).” Sahut Andrew.

__ADS_1


“Makanya jangan sakit.” Reno mengacak pelan rambut Fania, kemudian Andrew menurunkan istrinya itu dengan perlahan diatas sofa semi lesehan di ruang santai. Dibantu oleh Reno juga.


 “Ululu, manjanya adek Kajol sama suami and kakaknya.” Ledek John melihat Fania yang mendapat perhatian lebih dari Andrew dan Reno.


“Sirik nih ye, ga ada tempat buat bermanja – manja.” Sahut Fania.


“Eleh, dua hari yang lalu aja, ga mau dipegang lo sama si botak.” Timpal John. “Gimana Jeff?.”


“Lepas!.” Sahut Jeff yang disambut kekehan oleh John.


Dua bule koplak itu pun berdiri.


“Lepas! Jangan sentuh aku!.”


“I’m so sorry Heart.”


Memperagakan kejadian setelah Fania meminum pil dan membangunkan seisi rumah dengan suara cetar nya itu.


“Jangan sentuh aku!.” Jeff mengangkat tangannya seolah dia Fania dan John itu Andrew.


Disambut dengan gelakan geli seluruh anggota keluarga.


“Emang dasar bule ga ada akhlak lo berdua.” Celetuk Fania yang tengsin di sindir oleh dua J kala dia marah – marah pada Andrew dua hari yang lalu. Tapi Fania ikutan tergelak melihat gaya kocak dua bule koplak yang barusan memperagakan dirinya dan Andrew dengan gaya yang kocak.


Andrew melempar bantal kursi yang ada di dekatnya pada dua J.


“Jangan suka pada meledek Fania!.”


“Sukurin!. Marahin aja tuh mereka, Nald. Deportasi kek.” Fania terkekeh.


Dua J cekikikan. “Makanya apa – apa tuh jangan suka sembarangan aja. Untung kan lo ga kenapa – napa. Kalo sampe lo ga ketolong, bisa mati itu Donald Bebek lo.”


“Jeeff.” Andrew memandang sinis pada Jeff. “Shut your mouth. (Tutup mulut lo!).”


“Eh iya lusa gue balik ke Indo. Ada titipan buat Keluarga Cemara ga Jol?.” Ucap John seraya bertanya pada Fania.


“Yah kok mendadak sih Kak?. Gue belom beliin apa – apa buat mereka. Nanti aja sih lo balik ke Indonya, nunggu gue udah sehatan.”


“Enak aja lo. Kerjaan gue udah numpuk di Jakarta.”


“Memang kamu mau belikan apa untuk Keluarga Cemara, hem?.” Tanya Andrew pada Fania.


“Yaa ..... apa aja gitu, pengen ke Camden Lock Market sih.”


“Kamu mau cari apa disana?.” Ara bertanya.


“Ya... liat – liat aja Kak. Kan itu tempat barang – barang vintage murmer. Kali nemu yang lucu.”


“Ayo deh kita kesana, kalo kamu udah sehat tapi ya.”


“Kak Ara jangan ikut ah.” Celetuk Fania.


“Loh kenapa memang?.” Tanya Ara heran.


“Kak Ara kan lagi hamil muda.” Jawab Fania.


“Kak Ara kuat kok, masih. Lagian yang ngidam kan kakak kamu ini, Sweety.” Ucap Ara setengah terkekeh.


“Fania benar Ara, kamu lagi hamil muda. Harus banyak istirahat.” Timpal Mom.


“Tuh kan.” Celetuk Fania. “Apa gue bilang.”


“Iya, iya.”


Ara pasrah. Harus menurut karena memang bayi yang masih berada di perutnya adalah penantian selama tiga tahun. Harus benar – benar ia jaga dengan baik, pikir Ara.


“Puas – puasin deh kamu ya, Sweety sebelum hamil. Nanti kalau sudah hamil kan ga boleh sering jalan – jalan ke luar.”


“Iya lah. Gue puas –puasin dong. Gue sih ngalah sama yang tuaan.” Ucap Fania. “Gue juga ga jadi kok pengen buru – buru hamil.”


Seketika yang lain terdiam. Terlebih Andrew yang merasa kalau kalimat terakhir Fania mencubit hatinya.


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2