BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 242


__ADS_3

Selamat membaca ...




“Where are you going? (Mau kemana?).” Tanya Andrew pada Fania yang tidak langsung menuju tangga untuk ke kamar mereka. ‘Jangan bilang mau tidur di kamar maid.’ Batin Andrew was – was.


“Kitchen (Dapur).”


Fania menjawab malas pada Andrew.


“Mau ngapain?.” Tanya Reno pada si adik kesayangannya yang masih memakai gaun dan stiletto dan tas selempangnya yang sudah ia sampirkan menyilang dibahu.


“Bikin makanan, laper!.” Sahut Fania pada Reno.


“Biar Theresa atau Lita yang buatkan. Kamu lebih baik ganti baju dulu.”


Andrew mengikuti Fania yang sudah berjalan ke dapur dan ada dua pelayan disana. Theresa dan Lita.


“Iya Little F, mending lo ganti baju dulu sana. Biar mereka yang siapkan makanan untuk kita semua. Kalau sudah ganti baju lo bisa turun lagi, atau makanan lo dibawain ke kamar.” Timpal Reno. “Lo mau masak pake high heels tuh?.”


Fania menoleh pada kakinya.


‘Wa iya, lupita gue masih pake ini stiletto.’ Batin Fania baru ngeh kalau stiletto hitam masih nyangkut dikakinya. “Tinggal dibuka doang, apa susah.” Sahut Fania yang duduk lalu membuka stilettonya. Dan kini sudah asik nyeker ria.


"Aku ambilkan sandal buat kamu." Ucap Andrew yang melihat Fania tanpa alas kaki.


"Ga usah ah!." Sahut Fania ketus dan Andrew tak jadi mengambilkan sandal rumah untuk si Kajol yang bawaannya lagi kesel tingkat dewa.


“Mrs. Fania, is there anything I can do for you? (Nyonya Fania, apa ada yang bisa saya lakukan?).” Lita bertanya dengan sopan karena melihat Fania membuka kulkas dan lemari penyimpan makanan.


“No Lita, I can do it by myself. Better you and Theresa continue to take rest (Engga Lita, gue bisa sendiri. Lebih baik lo sama Theresa lanjut istirahat).”


“But Mrs. .. (Tapi Nyonya..).” Theresa ingin berbicara namun Fania keburu memotong kalimatnya.


“It’s okay Theresa, take a rest as I said. I’ll prepare food for me and them (Ga apa Theresa, beristirahatlah seperti yang aku bilang. Aku yang akan menyiapkan makanan untuk kami semua).”


Andrew mengkode Theresa dan Lita agar tak lagi membantah apa yang Fania bilang.


“Ah, could you please prepare some food for Alex? She hasn’t eat also (Bisa tolong siapkan makanan untuk Alex?. Dia juga belum makan). Please bring it to her room (Tolong bawain kekamarnya).”


“Already Ma’am, I already delivered food for Alex to her room (Sudah Nyonya, saya sudah mengantarkan makan untuk Alex ke kamarnya).” Sahut Lita cepat.


Fania mengangguk. “Take a rest then. You too Theresa (Ya udah istirahat sana. Kamu juga Theresa).” Fania mengeluarkan beberapa makanan dari dalam kulkas. “Kalian mau makan juga?.”


Andrew dan Reno mengangguk.


“Mau makan apa?.”


“Any (Apa aja).” Sahut Andrew dan Reno.


“Theresa mana?.” Tiba – tiba John muncul di dapur.


“Kenapa lo mau makan juga?.” Tanya Fania sambil menyiapkan beberapa macam makanan.


John mengangguk. “Lo yang mau buatkan makanannya, Fan?.”


Fania mengangguk juga. “Kasian orang yang pada disuruh kerja rodi. Mereka juga butuh istirahat.” Mamah Fania mulai ceramah. “Kak Jeff sama Kak Nino mau ikut makan  juga?.”


John mengangguk lagi.


“Lo panaskan aja itu makanan yang udah ready tadi buat makan malam. Pasti mereka buat lebih. Jadi lo ga terlalu repot.” Kakak ganteng menyarankan.


“Iya paham gue. Lagian siapa juga yang mau repot – repo banget ngurusin para lelaki yang hobi maen ke tempat prostitusi. Masih bagus gue mau kasih makan.”


Mamah Fania mulai julid dan ngedumel.


‘Bukan Andrew doang seorang ini kayaknya yang bakal menderita sama sindirannya si Kajol.’ Batin John pasrah.


Andrew dan Reno memilih no komen dah.😄


“Sini gue bantu bawa.” John menawarkan bantuan untuk membawa beberapa makanan yang sudah dipanaskan dan disiapkan Fania.


“Ya udah sana pada makan.” Ucap Fania yang masih menyiapkan panci untuk membuat sesuatu.

__ADS_1


“Kamu mau buat apalagi?.” Tanya Andrew. “Aku rasa yang tadi kamu siapkan sudah cukup.”


“Apa kek.” Fania menjawab dengan ketus.


Andrew hanya bisa melonggarkan dadanya mendengar Fania menjawabnya dengan ketus bahkan tak menoleh.


“Ya udah aku tunggu kamu. Biar kita makan bareng – bareng.” Ucap Andrew lagi.


“Udah makan aja duluan sana. Ga perlu nungguin aku. Pulang dari Italy juga ga langsung cari aku. Ngapain sekarang nungguin aku buat makan bareng. Udah gede bisa makan sendiri!.”


Lagi – lagi Fania menyahut dengan sindiran nan ketus. Reno dan Andrew hanya bisa membatin aja kalau begini sih.


‘Sabar ... Lapangkan dada lo, Andrew.’ Batin Andrew yang terus menyabarkan hatinya untuk tiap sindiran Fania.


‘Neraka lo baru aja dimulai Ndrew. Mungkin gue juga kebagian apinya ini.’ Batin Reno juga was - was, melihat si Kajol yang super jutek dari tadi.


“Lo juga Kak sana makan duluan. Ga usah pada sok perhatian. Sebelas dua belas kalian semua, kan?. Untung aja Kak Reno punya istri kayak Kak Ara, lo Kak. Sabar.”


Kembali keluar sindiran dari mulut si Kajol.


‘Kan kena juga api nerakanya si Donald Bebek, gue.’ Batin Reno pasrah.


‘Sepertinya gue ga menderita sendiri dengan siksaan sindiran dari Fania.’ Batin Andrew bahagia berbagi duka makan sindiran dari Fania.


“Lo kenapa makan mi instan sih?. Ga sehat tau ga?. Jangan keseringan.” Reno berusaha mengalihkan melihat Fania merebus mi instant yang si Kajol stok dari Indonesia.


“Suka hati gue. Mulut, mulut gue. Perut, perut gue.” Sahut Fania ketus, kesel sama kakak gantengnya yang ga menang balapan dari Andrew. Ga jadi pisah kamar sama Andrew kan, gara - gara mereka seri.


Reno menggaruk lehernya yang tak gatal. “Ya kan gue Cuma mengingatkan.”


“Makasih buat perhatiannya. Lebih baik ingetin diri sendiri biar pada jujur sama istrinya!.”


‘R, lebih baik lo diam.’ Batin Reno memperingatkan dirinya sendiri.


Andrew memilih no komen. Reno perasaan ga ada salahnya malam ini. Tapi tetep kena sindir Fania. Apalagi dia.


“Ya udah gue duluan makan ya.” Reno cari aman dan mengkode Andrew untuk ikut dengannya.


“Hem!,” Sahut Fania lalu menoleh sebentar ke arah Reno dan Andrew. “Sana duluan makan sebentar lagi aku selesai juga.”


“Ya sudah, aku tunggu di ruang makan.” Nurut aja lah Ndrew, daripada kena semprot.


Reno menunjuk dengan kepalanya ke arah Fania yang membawa mangkok agak besar dalam kedua tangannya.


Si kakak ganteng memberikan isyarat dengan tangan yang digerakkan dekat bibirnya agar mereka semua tutup mulut, jangan sampai ada celetukan yang bisa memprovokasi kalimat sindiran keluar lagi dari mulut si Kajol.


Dua J mengangkat jempolnya paham. Sementara Nino hanya diam.


‘Harum banget ini, si Kajol bikin apa sih?.’ Batin Jeff penasaran dengan apa yang ada dalam mangkok dalam genggaman Fania.


‘Sepertinya gue kenal ini aroma.’ Batin John yang juga mengendus harum semerbak yang nampaknya berasal dari makanan dalam mangkok yang dibawa si Kajol.


Andrew, Reno dan Nino juga lumayan menikmati aroma harum dari makanan yang dibuat Fania untuk dirinya sendiri.


“Selamat makaaann.”


Fania memulai makannya tanpa memperdulikan mereka yang sedang menunggunya, yang kemudian masing – masing mengambil makanan yang sudah tersedia ke piring mereka sendiri.


“Lo makan mie instant, Jol?.” Tanya Jeff pada Fania yang makanannya beda sendiri.


“Menurut lo?. Lo ga liat ini emang, bentuknya kriwil – kriwil gini?. Ya emi lah. Pake nanya. Kelamaan liat dada penari ronggeng jadi burem mata lo?.”


Kena lagi dah si bule gila.


‘Ga paham peringatan. Dibilang jangan comment yang ga penting!.’ Batin Andrew.


‘Udah gue bilang jangan ngomong.’ Batin Reno.


John hanya senyam – senyum sendiri, sementara Nino khusyuk makan. Sebodo amat si Fania ngomong apa juga. Bahasa Indonesianya si Fania susah banget dia pahami.


“Itu mie instant yang lo minta kirimin sama mama Bela waktu itu?.” Tanya John.


“Yep!.” Sahut Fania sambil menikmati mie goreng keluaran Indonesia yang udah tersohor itu, dengan begitu ekspresif ala - ala endorsan.


“Harum banget?.” Tanya Reno yang lumayan tergoda dengan mie goreng instant yang dimakan Fania. “Enak?.”

__ADS_1


Fania mengangguk. “Banget!. Slogannya aja udah mendarah daging.”


“Bagi Jol!.” John menyodorkan piringnya pada Fania. Dia tau mie instant merk apa itu pada akhirnya, karena kebetulan sudah beberapa kali mencoba dan memang menyukai varian yang sedang dimakan oleh Fania itu.


“Mie instant ada slogan?. Slogan Indonesia maksudnya?. Apa tuh, Garuda Didadaku?.” Tanya Jeff yang ga tau soal per mie instanan di Indonesia. Karena dia juga hampir tak pernah makan yang namanya mie instant.


“Garuda di dadaku, Indomie seleraku.” Celetuk si Kajol sambil kembali menikmati mie instant dari merek favoritnya.


“Bagi Joooollll ....” Ucap John ga sabar.


“Ih udah gue acak – acak juga, dah kena mulut gue.” Sahut Fania.


“Ck, biarin aja. Bagi cepetan.” John menyodorkan piringnya pada Fania. “Ga bilang sih, mau bikin ini mie.”


“Ambil sendiri nih, ah.” Fania balik menyodorkan mangkok berisi mie instant miliknya.


“Santai Jol, gue tau lo sehat ini.” Ucap John sambil mengambil beberapa sendok mie instant dari mangkok Fania.


“Dih jangan sembarangan lo! Sehat lah gue!. Emang lo pikir gue penari ronggeng gatel yang grasak grusuk ditiang jemuran tuh yang kayak di KLUB yang katanya JELEK itu?!.” Nyolot kan si Kajol jadinya. “Mereka tuh yang ga sehat! Udah di cemek – cemek sama berapa cowok itu coba?! Ish. Najis!.”


‘Joohhhhnnnn.. cari perkara!.’ Batin Andrew dan Reno serta Jeff. Untung Nino masih ga paham jadi dia anteng aja masih asik dengan makanannya.


John sendiri terkekeh geli mendengar ucapannya Fania.


“Dih, malah ketawa lagi lo Kak!. Bukannya mikir!.”


Fania merungut sebal pada John. Dan tiga pria lainnya menatap tajam pada si bule koplak.


“Abis makan jangan langsung pada tidur. Bentar lagi subuh tuh. Sholat pada – pada. Mohon ampunan tuh. Tobaaat!.”


Sindir si Kajol lagi sambil berlalu ke arah kamarnya.


**


“Heart,” Andrew meraih lengan Fania saat mereka sudah berada di kamar.


Fania hanya melirik kearah tangannya yang dipegang Andrew.


“Kenapa?.”


Andrew kemudian menghadapkan dirinya pada Fania yang sedang mencari baju ganti di lemari. Menatap dalam - dalam manik mata Fania.


“Sekali lagi aku minta maaf.” Ucap Andrew menatap Fania, menunjukkan bahwa ia bersungguh – sungguh.


“Kan aku udah bilang, aku udah maafin. Tapi bukan berarti aku melupakan.” Ucap Fania datar.


“Iya Heart, aku paham. Aku hanya ingin terus minta maaf.”


Fania menghela nafasnya sambil memandang Andrew.


“Buat apa?. Permintaan maaf ga bisa merubah yang terjadi, kan?.”


Andrew mengangguk lesu.


“Ya aku tau.”


“Ya udah kalo udah tau. Permisi aku mau ganti baju, mau bersih – bersih.”


Fania langsung memalingkan dirinya dari Andrew dan kembali ke lemari untuk mengambil baju gantinya.


Andrew hanya bisa memandangi Fania yang sikapnya terlalu ketus saat ini dengan penyesalan.


Yah penyesalan datang terlambat Nald, Nald. Kalo duluan ya pendaftaran. Emang enak di ketusin si Kajol?.


“Mendingan kamu mandi duluan deh, mual aku nyium aroma – aroma susu basi!.”


‘Disindir lagi.’ Batin Andrew mencelos. “Iya, aku mandi sekarang.” Andrew mengambil cepat pakaian gantinya untuk segera mandi sesuai titah Nyonya Julid malam ini.


“Baju yang kamu pakai sekarang, buang!.” Ucap Fania yang masih berlagak sibuk di lemari. Andrew menghentikan langkahnya. “Kalo perlu itu semua yang kamu pake malem ini tuh buang semuanya. Geli! Ish! Bau susu basi adenya tarzan. Ga pake baju, gelayutan di tiang. Gue sumpahin digeragot semut rang – rang badannya itu cewe semua!.”


Andrew menghela nafasnya. Meski ada beberapa kata – kata Fania yang kurang ia pahami maksudnya, tapi si Donald Bebek paham kalo dia sedang disindir, dan pakaian yang ia pakai sekarang saat mampir di RED tadi harus dibuang. Geli!, sesuai yang ia dengar. Alias si Kajol jijik.


“Iya.” Andrew menjawab pasrah.


Iyain aja nald, daripada – daripada. Wkwk.

__ADS_1


****


To be continue .......


__ADS_2