BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 190


__ADS_3

Selamat membaca..


****


Sepasang suami istri itu menghabiskan satu hari lagi di Thailand, kali ini Fania yang menentukan destinasi jalan – jalan mereka.


Fania memilih untuk berjalan – jalan untuk wisata kuliner di Khao San Road. Yang merupakan tempat wisata kuliner paling terkenal di Thailand dan selalu ramai wisatawan terutama saat malam hari.


“Too crowded, Heart. ( Terlalu ramai, sayang ).” Ucap Andrew kala mereka berdua sudah berada di tempat wisata kuliner tersebut. “Kamu ga apa – apa?.”


“Namanya juga tempat kulineran, Nald. Seru kan rame gini.” Sahut Fania. “Ayo ah kita hunting makanan.”


Andrew menggeleng ringan, namun tetap setia mengikuti Fania yang menggandeng tangannya.


“Kenapa kita ga masuk ke situ aja Heart?.” Andrew menunjuk salah satu cafe yang didalamnya tidak terlalu ramai.


“Ish, tempat kayak gitu sih di Jakarta sama London banyak.” Sahut Fania lalu kembali menyusuri langkah ke area pedagang kaki lima yang ramai wisatawan. Baik ke tempat dimana tersedia aneka makanan khas Thailand ataupun mampir di toko yang menjual pernak – pernik.


Sebuah toko perhiasan buatan tangan yang cukup terkenal disana membuat Fania tertarik untuk masuk ke dalamnya. Setelah membeli beberapa barang untuk dirinya, Andrew dan oleh – oleh, Fania kembali mengajak Andrew mampir ke sebuah toko yang menjual beberapa barang vintage.


Andrew tak banyak protes, dia ikut bersemangat dan senang melihat Fania yang sangat bersemangat malam ini. Lebih baik Fania belanja barang – barang daripada jajan pinggir jalan yang menurut Andrew tidak higienis.


Namun kelegaan Andrew tak berlangsung lama, karena setelah dari toko pernak – pernik terakhir yang mereka sambangi, Fania langsung mengajak Andrew ke tempat para pedagang kaki lima yang menjual aneka macam makanan.


“Belum tentu halal loh, Heart.” Andrew mencoba memperingati Fania agar istrinya itu mengurungkan niatnya.


“Itu nyobain es krim kelapa aja kok.” Sahut Fania. “Sama mau liat bentuk kuliner ekstrem.”


Andrew memutar bola matanya. ‘*Women (**Dasar wanita**)*.’ Batin Andrew namun tetap saja ia mengikuti maunya si belahan jiwa.


Mimik wajah Fania berubah diantara jijik dan ngeri saat mereka berada didepan penjual makanan ekstrim.


“Mau coba itu ulat goreng?.” Goda Andrew. “Atau itu kecoak?.” Setengah terkekeh melihat mimik wajah Fania yang lucu itu. “Mau?”


“Iyuhh.” Sahut Fania masih dengan mimik wajah yang kocak hingga akhirnya membuat Andrew tergelak geli.


Gemas, hingga mencubit hidung Fania nya. “Tadi sok – sok an mau lihat.”


“Ternyata menjijikkan.” Bisik Fania di telinga Andrew dan lagi – lagi suaminya itu tergelak.


“Ya udah ayo. Mau kemana lagi, hem?.” Tanya Andrew mesra pada Fania.

__ADS_1


“Mending kita lihat pernak – pernik lagi aja yuk?. Masih sore nih.” Ucap Fania sambil nyengir. “Kita ke situ yuk.” Fania menunjuk area yang berisi beberapa kios kecil.


Andrew mengangguk, namun menahan Fania sebentar. “Wait ( Tunggu ).” Andrew seperti mengkode seseorang untuk mendekat.“ Sini belanjaannya.” Ucap Andrew mengambil beberapa tas belanja yang ngotot Fania ingin pegang saat seorang pria berbadan tegap menghampiri mereka.


Fania sedikit heran, karena tidak mengenali pria tersebut.


“Please bring it to our car. ( Tolong bawakan ini ke mobil kami ).” Ucap Andrew sembari memberikan tas belanjaan yang tadi ia ambil dari Fania dan menyerahkan kepada pria berbadan tegap tersebut.


“Siapa itu?.” Tanya Fania.


“Our bodyguard. (Pengawal Kita).” Jawab Andrew. “Yuk.”


“Bodyguard?. Kok aku ga pernah tau kita bawa bodyguard?.” Fania heran.


“Sengaja aku bawa Cuma untuk berjaga – jaga dan mereka juga aku suruh jaga jarak.” Sahut Andrew.


“Dih, badan udah segede ini, masih aja bawa bodyguard. Malu tau sama otot.” Ledek Fania sambil memencet – mencet lengan Andrew yang memang lumayan berotot itu.


Andrew tergelak. “Just in case, Sweety ( Hanya untuk berjaga – jaga sayang ).” Andrew menangkup wajah Fania.


Brug !.


“Sorry. ( Maaf ).” Seorang wanita cantik yang menabrak Andrew barusan ternyata. Lumayan seksi karena memakai atasan kaos ketat dengan leher rendah yang menampakkan setengah bukit kembarnya.


Tersenyum sangat manis pada Andrew, membuat Fania melihatnya malas.


“It’s okay. ( Ga apa – apa ).” Sahut Andrew dan langsung berbalik namun Fania sudah tidak berdiri di tempatnya. Mata Andrew langsung mencari ke arah sebrang mengingat tadi Fania sempat menunjuk ke arah area yang menjual baju dan pernak - pernik.


“Wait ( Tunggu ).” Wanita seksi yang menabrak Andrew tadi menahan lengan Andrew. “Can you help me?. ( Apa kau bisa membantuku? ).” Pintanya yang tidak ditanggapi Andrew.


“Sorry, My wife is waiting ( Maaf, istriku menunggu ).” Ucap Andrew datar dan langsung bergegas menyusul Fania menuju tempat yang tadi Fania tunjuk.


Jalanan sedikit penuh, karena pedagang kaki lima ada di setiap sisi jalan Khao San Road dan para wisatawan banyak yang berkumpul ditengah jalan.


“Excuse me ( Permisi ).” Andrew membelah kerumunan untuk sampai ke area tempat beberapa kios yang menjual baju dan pernak - pernik tersebut.


Matanya langsung mencari – cari keberadaan Fania, yang sosoknya belum ia lihat.


Andrew menyusuri area tersebut dengan langkah cepat, sambil matanya terus mencari. Sedikit gelisah karena masih tak menemukan Fania nya.


“Heart!.” Andrew mencoba memanggil Fania dengan sebutan sayangnya. “Fania!.” Masih belum menemukan juga. Hingga pria tegap yang tadi sempat ia suruh untuk menaruh tas belanjaan menghampirinya.

__ADS_1


“Sir ( Tuan ).” Panggil si pria tegap itu saat ia sudah berada di dekat Andrew, dan dia bersama satu pria lagi yang juga memiliki postur tubuh sepertinya.


“Did you see my wife? ( Apa kau melihat istriku? ).” Tanya Andrew yang mulai gelisah pada pria yang adalah pengawal pribadinya itu.


“Last time I saw her with you, Sir ( Terakhir tadi saya lihat dia bersama anda, Tuan ).” Ucap si pria berbadan tegap tersebut. "We're here because we seen you looking around ( Kami kesini justru karena melihat anda sedang mencari sesuatu )."


“I take you here to keep her save! ( Gue bawa kalian kesini buat menjaga dia! ).” Andrew mulai gusar. “Find her ! ( Temukan dia ! ).” Hardik Andrew.


“Yes Sir ( Baik Tuan ).” Ucap kedua bodyguard Andrew sambil langsung bergegas berpencar untuk mencari nyonya muda mereka.


“Heart!.” Andrew terus memanggil Fania dan berkeliling.


Area yang berisi beberapa kios yang menjual pernak – pernik itu lumayan luas dan penuh, hingga Andrew dan kedua bodyguardnya benar – benar memasang mata mereka.


Andrew dengan sigap segera meraih ponselnya. Mencoba menghubungi ponsel Fania.


Tak dijawab. Andrew mencoba sekali lagi. Terjawab namun langsung dimatikan.


Raut wajah Andrew seketika berubah. Ia terus mencoba menghubungi nomor Fania. Ponselnya sudah tidak aktif.


“Shit !.” Andrew langsung mengumpat. Teringat untuk melacak sinyal GPS Fania untuk mengetahui posisi terakhir istrinya.


“Sir ( Tuan ).” Disaat yang bersamaan kedua bodyguard Andrew kembali mendekat. “We cannot find her ( Kami tidak bisa menemukannya ).” Dua orang pria berbadan tegap itu nampak sedikit ngeri pada Andrew yang menatap mereka sangat tajam.


“If something bad happened to her, I’ll make you both beg for your life! ( Kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya, akan kubuat kalian berdua memohon untuk hidup kalian ! ).” Ancam Andrew. “Find Her ! ( Temukan dia ! ).


Kedua bodyguard itu mengangguk patuh. “ We’re looking to another area ( Kami akan mencari ke area yang lain ).”


Andrew kembali melihat ponselnya yang sedang melacak sinyal GPS dari ponsel Fania, kala tadi ponsel istrinya itu masih aktif.


Adhere the 13th. Tempat terakhir Fania berada, yang terlacak di ponsel pintar Andrew.


“Adhere the 13th !.” Andrew berbicara melalui ponselnya. Lalu bergegas menuju tempat dimana ponsel Fania terlacak. Sedikit jauh dari tempatnya berada sekarang.


Raut wajah Andrew sudah semakin panik. Ia pun langsung bergegas menuju tempat yang ditunjukkan dalam ponselnya.


“Andrew?.” Sebuah suara yang cukup di kenal Andrew membuatnya berhenti.


**


To be continue... 

__ADS_1


__ADS_2