
Selamat membaca ...
“PUAS KALIAN? LIHAT GUE DIPERMALUKAN KAYAK GINI?!.” Ucap Fania pada Reno dan Andrew sambil menunjuk mereka satu – satu.
‘Gue mati dua kali kalau begini.’ Batin Jeff.
‘God, help me.’ Batin Nino yang sedikit paham kalau adik atasannya itu sedang ngomel.
‘ Kajol marah beneran ini?.’ Batin John.
Sementara Reno seperti menahan nafasnya.
“Miss, You are... .” (Nona, anda...) Salah seorang petugas keamanan yang meskipun tidak paham apa yang Fania katakan, namun dia tau kalau Fania sedang memaki dua orang yang sangat berpengaruh di Perusahaan. Para laki – laki pewaris Perusahaan dan ia coba memperingati Fania.
“You are not allowed to interrupt when my sister is talking.” (Kau tidak dibenarkan menyela saat adikku sedang bicara). Reno berkata datar namun tajam kepada si petugas keamanan.
“Sis....ter?.” Kedua orang petugas keamanan itu langsung menelan salivanya kasar. Menatap Fania lagi dengan tatapan yang sukar dilukiskan, namun wajah mereka sepertinya panik dan mulai tampak pucat.
“We’re beg your pardon Mister Reno, we....” (Kami mohon ampun Tuan Reno, kami...). Om Terminator terbata, paham sudah melakukan kesalahan fatal. Begitupun petugas keamanan yang satunya.
“NINO!.” Teriak Reno memanggil Nino.
“Yes, Mister R. (Ya Tuan R).” Nino menjawab dengan sigap sepertinya paham apa yang harus dia lakukan. “Both of you. Follow me.” (Kalian berdua. Ikut aku). Ucapnya lagi pada kedua petugas keamanan tersebut.
Mereka kembali menelan kasar salivanya. Merasa sudah melakukan kesalahan besar. ‘I’m dead now.’ (Mati aku). Batin kedua petugas itu dan bergegas mengikuti Nino. “We apologize Sir. Excuse Us, then.” (Maafkan kami Tuan. Kami permisi kalau begitu).
Reno bergeming tak menjawab. Namun Andrew menatap mereka tajam.
“If there’s one scratch in her arm, I make sure there will be stratches around your body.” (Kalau ada satu goresan saja dilengannya, akan ku pastikan ada banyak goresan diseluruh tubuh kalian). Ucap Andrew pelan, datar, namun penuh penekanan. Tidak suka ada yang menyentuh Fania nya terlebih menyakiti gadis itu, tak perduli atas dasar apapun.
Kedua petugas keamanan itu kembali menelan saliva mereka lalu memberi hormat dan mengikuti Nino dengan hati yang pasrah.
‘Sister?. She? Reno Alexander sister?.’ (Adik? Dia? Adiknya Reno Alexander?). Batin Cindy tidak percaya setelah tadi mendengar Reno menyebut Fania sebagai adiknya pada kedua petugas keamanan.
“Sweety.” Ucap Andrew
“Little F.” Ucap Reno.
Ucap mereka berdua bersamaan.
‘Baiklah. Mari kita mulai adegan Telenovela.’ Batin Fania bersiap. ‘Ratu drama, liat nih Ratu Telenovela punya akting.’
Fania menatap sinis pada dua orang yang sedang fokus padanya itu. Lalu melirik pada Cindy.
‘Oke, Maria Cinta yang Hilang, saatnya berperang dengan Soraya Montenegro.’ Batin koplak Fania yang sedang tersenyum smirk.
“Sweety, very sorry, hem?.” (Sayang, benar – benar minta maaf, ya?). Andrew mengiba pada Fania kembali berusaha meraih tangan gadis itu.
Reno, John dan Jeff serta Nino yang sudah kembali bergabung masih juga berdiri disitu.
“Little F. Yuk ke ruangan Andrew atau gue aja. Hem?.” Reno ikut membujuk.
“Buat apa?!. Hem?!. Buat apa?!.” Ucap Fania lantang kepada Andrew dan Reno. Membuat hati kedua orang itu mencelos.
“Fan, tenang dulu oke?. Jangan pake emosi.” John coba ikut menenangkan Fania yang sepertinya sedang naik tensinya.
__ADS_1
“Iya Fan, Reno benar. Lebih baik ....” Jeff juga ikut membujuk tapi Fania keburu menyela.
“Diem! Ga usah pada ikut campur!.” Sahut Fania ketus pada dua J.
Glek!.
Lima orang pria yang mengelilingi Fania menelan saliva mereka masing – masing karena baru ini melihat wajah Fania yang sepertinya benar – benar marah.
‘She is Mister R sister. Creepy like her Brother.’ (Emang adiknya Tuan Reno, menakutkan kek kakaknya). Batin Nino.
‘Serem amat si Kajol kalo marah.’ Batin Jeff.
John menggaruk leher belakangnya yang tak gatal.
“Untuk ini kalian nyuruh gue kesini iya?!. Untuk bikin gue malu?!. Untuk kasih tau gue supaya sadar siapa gue, iya?!.” Si Maria cinta yang hilang kembali pada adegan.
“Engga ... “ Reno berbicara tapi keduluan Andrew.
“Engga sayang, dengerin aku ....” Andrew juga berbicara namun sepertinya tidak dibiarkan Fania untuk melanjutkan kata – katanya.
“Sudah.” Fania mengangkat tangannya mengkode agar Andrew tak perlu bicara. “Kamu! Suruh aku datang kesini, hanya untuk menjadikan aku sebagai bahan perbandingan dan cemoohan?. Tega kamu Andrew!.” Tambahnya. 'Tega kamu mas.' Inget adegan di sinetron ikan terbang😄.
John memperhatikan Fania. Cara Fania bicara dan bahasanya.
“No, Sweety, No.” (Bukan, sayang, Bukan ). Andrew kembali mengiba sambil menggeleng seraya menangkup wajah Fania. “Aku sudah bilang pada Jeff tadi untuk ... .”
“Ga usah bawa – bawa Kak Jeff.” Sambar Fania.
‘Hah, selamat... .’ Batin Jeff.
“Kamu sengaja Kan?!. Suruh aku datang kesini, untuk menerima semua penghinaan ini?!. Aku ga sangka?!... Sungguh terlalu....” Ucap Fania . ‘Kau Rhoma.’ Batin Fania.
“Ah, sudahlah.” Si Maria Cinta yang ilang menepis tangan Luis Fernando dan mundur satu langkah. “Sakit hati aku, sakit.” Sekarang memegang dadanya seperti terluka. Begitupun nada suara Fania yang mengibaratkan dia merasakan sakit yang begitu dalam dihatinya.
‘Hemm, alamat ga beres ini sih.’ Batin John yang sudah membaca gelagat si Kajol. Dia pun geleng – geleng. “Boleh gue jitak ade lo ga sih Ren?.” Tanyanya pada Reno sambil berbisik.
“Rasanya juga kalau ga sayang, mau gue karungin dia.” Reno balas berbisik.
Dan dua orang itu memilih untuk menonton adegan Telenovela antara Fania dan Andrew.
“Kamu tau what they said to me?. (Apa yang mereka bilang ke aku?). I’ m a Shameless woman who claimed myself as your girlfriend, while your Fiance is here.” (Perempuan ga tau malu yang ngaku – ngaku sebagai pacar kamu).” Ucap Maria eh Fania. “Aku merasa terhina.” Fania kembali memegang dadanya, menggeleng seolah tak percaya atas perlakuan pada dirinya dan rahang Andrew nampak sudah mengeras.
‘Oh Kajol, lo akan membuat beberapa nyawa melayang di kantor ini.’ Batin Jeff.
“Who said that?! ( Siapa yang bilang?! ).” Tanya Andrew pada Fania. “Who said that to you?.” (Siapa yang bilang begitu ke kamu?).
“Tuh.” Fania menunjuk ke arah Cindy dengan kepalanya. Andrew pun menoleh dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. ‘Makan tuh mak lampir. Gantian.’ Batin Fania sambil tanpa sadar tersenyum Smirk saat Andrew berbalik dan menggandengnya mendekati Cindy dan senyuman itu tertangkap oleh John dan Reno.
“Totalitas tanpa batas ade lo, R.” Bisik John lagi pada Reno dan kakak ganteng Fania hanya mengangguk – angguk tanda setuju.
Fania melirik sebentar pada John dan Reno yang berdiri berdampingan sambil tersenyum tipis dan menggerakkan kepalanya pelan.
Kembali John dan Reno hanya menggeleng – geleng tak percaya ama kelakuan si Kajol. Sementara Nino masih berspekulasi dalam otaknya setelah melihat Fania yang melirik John Dan Bos nya.
“Is she who said that you are a Shameless woman, hem?.” (Apa dia yang bilang kamu perempuan tidak tahu malu, hem?). Tanya Andrew pelan pada Fania lalu menatap Cindy dengan tatapan seperti ingin menelan wanita itu.
Cindy menelan kasar salivanya, begitupun resepsionis yang tadi sempat mentertawakan Fania.
“Hum. And also her.(Dan juga dia).” Tunjuk Fania pada resepsionis yang wajahnya sudah sangat pucat.
__ADS_1
‘Why this happen to me, God?.’ (Kenapa ini menimpaku Tuhan?). Batin si resepsionis cantik yang kecantikannya memudar berganti kepucatan.
‘Tau rasa, resepsionis ga ada akhlak.’ Batin Fania.
“R take Fania with you.” (R, bawa Fania). Andrew melepaskan tangan Fania tanpa menoleh, makin tajam menatap Cindy dan resepsionis itu bergantian.
Fania berjalan menghampiri Reno dan John yang sudah membaca akting telenovelanya sambil sedikit menarik kerah coat nya dan tersenyum tipis. ‘Keren kan akting gue?.’
John dan Reno hanya menggeleng lagi dengan wajah sedikit malas.
**‘Is she...?.’**(Apa dia ... ?.). Batin Nino yang sepertinya membaca sesuatu yang gesrek dari gelagat adik Bosnya itu.
“Repeat everything you said to her!.” ( Ulangi apa saja yang sudah kau katakan padanya! ). Ucap Andrew memajukan kakinya satu langkah pada Cindy dan wanita itu juga mundur selangkah. Takut, ya takut pada Andrew saat ini padanya karena pandangan laki – laki itu sudah seperti ingin menelannya hidup – hidup.
“I - ....” Cindy terbata.
“And you, Shameless receptionist. What you have said to my Woman?.” (Dan kau, resepsionis tidak tahu malu. Apa yang kau katakan pada wanitaku?). Andrew memalingkan tatapan tajamnya pada si resepsionis.
“Drew, Chill out Man.” ( Drew, santai ). Ucap Jeff yang mencoba menenangkan Andrew.
“Stay Out.” Sahut Andrew yang matanya tak berpaling dari Cindy dan Resepsionis.
Jeff mundur selangkah. Dua kata saja dari Bos nya itu, mampu menciutkan nyalinya dalam situasi seperti ini. Fania nya di hina, Andrew pasti meradang. Jeff paham betul.
“You may dream to be Mister Andrew’s girlfriend, but his Fiance is here.” (Kamu boleh bermimpi jadi pacar Tuan Andrew, tapi tunangannya disini).” Sahut Fania yang sudah berada diantara John dan Reno. Andrew mendengarkan. “That was she said to me. (Itu yang dia bilang aku).”
‘Oh Miss, you really gonna make me lose my life.’ (Oh Nona, kau benar benar akan membuatku kehilangan nyawa). Batin resepsionis itu memandang Fania dengan pandangan memohon ampun.
‘Kajool. Lo jangan siram bensin diatas api.’ Batin Jeff.
Reno menatap Fania dengan arti yang Fania paham.
“Mau protes?.” Bisik Fania pada Reno.
“Jangan suka cari gara – gara.” Reno balik berbisik pada Fania.
“Kalau Kak Ara tau bagaimana gue diperlakukan tidak hormat karena kelalaian suaminya... ck...ck... bisa tidur seminggu di kamar tamu lo Kak.” Bisik Fania lagi.
“Prada Limited Edition.(Prada Edisi Terbatas). Hari ini juga gue beliin.” Bisik Reno lagi mengantisipasi jangan
sampai Fania bilang ke Ara soal kejadian ini, karena nasib dia dan Juniornya dipertaruhkan selama seminggu.
“Gitar paling mahal.” Sahut Fania masih berbisik sembari menonton satu adegan di depan mereka.
“Oke deal.” Jawab Reno cari aman.
John hanya geleng – geleng. “Belom puas juga Jol?.” Bisik John .
“Jangan banyak bacod kalo aib lo ga mau gue sebar luaskan.” Bisik Fania kini pada John.
John memilih diam. Karena Fania punya sesuatu yang bisa membuat image nya hancur.
‘Gue karungin juga lo Jol.’ Batin john. Menyadari Fania sedang menahan kedutan di bibirnya.
BRUAKKK!!
Suara meja yang dihantam dengan sangat keras membuat semua orang membatu.
***
__ADS_1
To be continue...