
Selamat membaca ..
“Where is she now? ( Dimana dia sekarang ).” Andrew bertanya dengan sedikit khawatir saat Nino bilang dia harus merubah arah tujuan kemana kini Fania menuju.
“Southend.” Jawab Nino sambil memandang Andrew.
“Haish!.” Andrew menambah kecepatannya dengan segera menuju tempat yang dibilang Nino barusan.
Andrew memarkirkan mobil Nino dengan cepat dan langsung buru – buru keluar dari mobil diikuti Nino untuk segera mencari Fania. Mobil Alex yang dikendarai Jeff juga sudah sampai disitu.
“That’s the car that Miss Fania used! ( Itu mobil yang Nona Fania pakai ).”
Nino menunjuk Lamborghini Urus berwarna putih milik Jeannie yang dipakai Fania saat pergi dari RED tadi, terparkir bersama beberapa jajaran mobil sport dan mobil modifikasi.
Andrew pun langsung berlari kearah mobil yang tadi dikendarai Fania. Mengecek apa Fania ada didalamnya.
“Andrew!.” Seseorang memanggilnya.
“Niel!.” Sahut Andrew pada pria yang memanggil dan langsung menyapanya.
“What’s been up man? ( Apa kabar lo? ).” Ucap pria yang dipanggil Niel itu pada Andrew. “Hey, Nino, long time no see! ( Lama ga ketemu ).” Niel juga menyapa Nino. “Jeff!.” Sapanya juga pada Jeff dan menyalaminya.
“How are you? ( Apa kabar lo? ).” Sapa Nino balik pada Niel.
“As good as usual ( Baik seperti biasa ).” Sahut Niel sambil berjabat erat dengan Nino seperti halnya dengan Andrew. “Are you looking for Fania? ( Apa lo cari Fania? ).”
Niel yang membaca gelagat Andrew yang sempat ia lihat mengecek dalam mobil yang ia ketahui dikendarai oleh Fania bertanya pada Andrew. Sejak Fania beraksi di Race Wars waktu itu, semua orang dikomunitas mobil balap sudah mengenalnya.
‘Jangan bilang Fania lagi balapan.’ Batin Andrew was – was. Karena balapan di Southend ini termasuk balapan liar, bukan seperti di Race Wars yang ia dan Reno dirikan yang tentunya dibangun diatas lahan milik pribadi yang jauh
dari jalanan publik.
“I saw her with R and John ( Tadi sih gue liat dia sama R dan John ).” Ucap Niel, dan seketika Andrew merasa lega. “Well, she fit you, really ( Yah dia bener – bener cocok sama lo emang ).”
“Ya lucky me ( Ya beruntungnya gue ).” Ucap Andrew. “Where are they? ( Dimana mereka? ).”
“Hey Niel!.” Seorang wanita memanggil Niel sebelum sempat menjawab pertanyaan Andrew barusan. Pria itu langsung menoleh. Sepertinya si wanita tidak melihat Andrew.
“Yap?!.” Sahut Niel pada wanita yang memanggilnya barusan. Berdiri agak jauh dari Niel.
“You want to in? ( Lo mau ikut? ).” Teriak si wanita tersebut.
“Race or bet? ( Balapan apa taruhan? ).” Teriak Niel bertanya.
“Bet! ( Taruhan! ).” Teriak si wanita itu lagi.
“Who’s take the line? ( Siapa yang balapan? ).” Tanya Niel masih ditempatnya.
“I think Fania wants to take part! ( Gue rasa Fania mau ambil bagian! ).”
Andrew membulatkan matanya mendengar ucapan wanita itu barusan. Tentu saja langsung berlari menuju area garis start.
“Shit!.” Umpat Andrew sambil berlari yang tak rela Fania ikut balapan liar yang amat sangat beresiko itu, karena dilakukan dijalanan umum yang pastinya akan ada mobil lain yang melintas.
‘Benar – benar istrinya si Andrew!.’ Gerutu Jeff dalam hatinya yang juga berlari mengikuti Andrew bersama Nino dan Alex.
“Heart!.”
Andrew melihat Fania yang sudah berdiri disamping sebuah mobil BMW modifikasi.
***
“R.” John menunjuk sebuah mobil Lamborghini Urus berwarna putih yang baru diparkirkan dan Fania nampak Fania keluar dari pintu kemudi.
“You park the car ( Lo parkirin ini mobil ).” Ucap Reno yang segera keluar setelah ia memberhentikan mobil dan John mengambil alih kemudi.
Ia berusaha mengejar Fania, sementara John memarkirkan mobil.
“Little F!.” Panggil Reno dan Fania menoleh.
“Kak Reno?!. Kok ada disini?.” Tanya Fania sedikit terkejut.
“Chasing my Sister who is really upset ( Ngejar adik gue yang lagi kesal setengah mati ).”
“CK!.” Fania berdecak. “Ga usah diingetin!.”
“Iya .. iya.” Reno mengacak – acak rambut Fania yang tertata rapih itu. “Balik yuk.” Ajak Reno sambil meraih bahu Fania.
Fania menggeleng. “Ogah!.”
“Cari minuman yuk. Gue haus.” Ajak Reno pada Fania. Dan adik kesayangannya itupun mengangguk.
“Lo sama siapa Kak?.”
__ADS_1
Reno menunjuk ke satu arah. “Tuh!.” John sudah menghampiri Fania dan Reno.
“Lah Kak John, kapan dateng lo?.”
“Ga lama sebelum dapet kabar ada yang sedang murka!.”
“Tau ah!.”
“Hey Niel!.” Sapa John pada seorang pria yang merupakan temannya dan Reno juga. Fania juga kenal, tapi Cuma inget muka, ga inget nama.
“Hey, John! I thought you were at Indo? ( Hey John, gue kira lo di Indonesia? ).” Sapa pria bernama Niel tersebut.
“Just arrived. Accompanied R, mother in law ( Baru nyampe. Nemenin mama mertuanya si R ).” Sahut John.
“Oh lo sama Mama Anye, Kak?.” Sambar Fania.
“Yap!.” Sahut John.
“Hey, Fania. How are you? ( Apa kabar? ). Hey R!.” Sapa Niel pada Fania dan Reno.
“Hey Niel!.” Sahut Reno sementara Fania hanya tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menyapa.
“Where’s Andrew? ( Andrew mana? ).” Tanya Niel.
“Lagi n*te kali!.” Sahut Fania dalam gumamannya sambil menggerutu.
Reno dan John yang mendengar gerutunya Fania tertawa geli, membuat Niel yang tak paham Bahasa sedikit bingung.
“What you guys laughing at? ( Apa yang kalian tertawakan? ).” Tanya Niel.
“Nothing. You husband and wife kind of things ( Bukan apa – apa. Lo tau lah urusan suami istri ).” Jawab Reno masih terkekeh.
Niel hanya manggut – manggut.
“Alright, catch you guys later, I want to see some cars there ( Okelah, sambung lagi nanti. Gue mau liat beberapa mobil dulu disana ).”
Pamit Niel pada Reno, Fania dan John yang dijawab anggukan oleh ketiganya.
“Lo berdua mau minum apa?.” Tanya Reno pada Fania dan John.
“Apa aja.” Sahut keduanya. Reno mengangguk dan memesan tiga minuman pada satu booth.
“R, gue ajak Fania kesitu ya?.” Celetuk John menunjuk ke satu arah dimana ada beberapa orang yang ia kenali sedang berkumpul.
Reno menoleh lalu mengangguk.
Fania pun ikut saja dengan John untuk menghampiri orang – orang yang nampaknya dikenal oleh John itu, sambil seperti biasa matanya berkeliling.
“John, minuman lo nih.” Reno datang membawa tiga kaleng minuman. “Fania mana?.” Tanya Reno yang tak melihat Fania didekat John.
“Tuh, eh?. Tadi disitu dia.” John menunjuk kesatu arah yang tadi ia ketahui kalau Fania mengobrol dengan beberapa orang sambil melihat – lihat mobil.
Reno dan John pun akhirnya celingukan mencari Fania.
“Are you guys looking for Fania? ( Lo berdua cari Fania? ).” Salah seorang cewe yang mereka kenal berbicara seraya bertanya pada Reno dan John.
Reno dan John mengangguk.
“I think she want to take part ( Gue rasa dia mau ikutan ).” Cewe itu menunjuk ke arah jajaran dua mobil yang sepertinya akan balapan.
“Haish! Ni gara – gara si Donald Bebek!.” Reno berdecak sambil berlari ke arah Fania berada, yang sepertinya sudah siap untuk masuk mobil. “Little F!.”
Reno setengah berteriak memanggil Fania.
***
“Heart!.”
Andrew melihat Fania yang sudah berdiri disamping sebuah mobil BMW modifikasi, seperti sedang berdebat dengan Reno.
Fania dan Reno pun sama – sama menoleh ke arah sumber suara.
“CK!. Elo sih Kak, Rese banget!.” Protes Fania pada Reno karena si Donald Bebek sialan, kalo kata Fania malam ini, udah keburu nongol. “Awas ah!. Gue mau ngerasain balapan disini.”
“Engga! Gue bilang engga, ya engga. Kalo di Race War gue kasih, disini No!. Big NO!.” Sergah Reno menahan Fania agar tak masuk mobil disampingnya.
“Apa bedanya sih?!. Ga usah lebay!. Tuh keburu dateng si Botak Ngeselin yang bikin gue enek!.” Fania berkata ketus sambil melirik sinis pada si Donald Bebek yang keburu mendekat.
Reno sedikit terkekeh dan menoleh sebentar.
“Heart ....” Andrew memandang pada Fania yang nampak pura – pura tak mendengar atau melihatnya.
“Kak, awas ih!.”
“Ga ada Little F!. Disini sama di Race Wars jelas beda. Ini balapan liar! Track lo itu jalanan umum di depan, bukan jalanan sepi.”
Reno melanjutkan debatnya dengan Fania. Andrew sepertinya sudah paham kalau Fania ini saking keselnya ama dia, jadi mau menyalurkan emosinya lewat balapan.
__ADS_1
“Bodo ah!. Jam segini juga mobil ga bakalan banyak yang seliweran. Minggir ah!.”
Fania mencoba menggeser tubuh Reno.
“Heart, dengarkan Reno. Balapan disini bahaya.” Andrew coba berbicara namun Fania mengabaikannya. “Heart.. aku tau kamu marah besar sama aku. Tapi jangan begini, please?.”
Andrew coba membujuk Fania dan berdiri didepan si Kajol yang sudah melipat tangannya, namun membuang muka tak mau menatapnya.
“Ayo, Little F, kita minggir dulu. Mereka stuck gara – gara kita.” Reno juga ikutan membujuk dengan beralih kalau banyak yang tertunda untuk balapan karena mereka bertiga menghalangi garis start. Namun yah, kaga ada yang
berani juga menegur Reno dan Andrew.
“Ya elo aja yang minggir sih Kak. Kan elo yang halangi gue dari tadi mau masuk mobil.”
Andrew yang merasa dicuekin Fania, menghela nafasnya. Berat!. Berat... berat emang kalo menghadapi si Kajol yang lagi kesel setengah mati.
“Heart, ayo, kita bicara dirumah.” Sekali lagi Andrew membujuk sekaligus mengiba sambil mencoba meraih lengan Fania.
“Put your hand off from me ( Jauhin tangan lo dari gue ).” Ucap Fania pelan namun ketus tanpa memandang Andrew.
“Heart....” Andrew tak menggubris ucapan Fania barusan. Masih berusaha membujuk Fania.
“GUE BILANG JAUHIN TANGAN LO DARI GUE!!.”
Fania mendorong Andrew dengan kasar, lalu berjalan menjauhi Andrew dan Reno yang lumayan tersentak mendengar hardikan Fania yang lumayan kencang barusan.
Andrew hanya pasrah mendapat perlakuan seperti itu dari Fania nya. Ia kembali menghela nafasnya. Hatinya sedikit tercubit diperlakukan seperti itu oleh Fania.
Bukan karena merasa dipermalukan didepan umum, dia bahkan tak perduli pada perhatian orang – orang yang melihat Fania membentak dan mendorongnya kasar barusan.
Yang terasa mencubit hatinya adalah ucapan Fania. Perlakuan Fania yang menggambarkan kalau wanita yang dicintainya marah besar, tampak muak padanya.
Terbaca jelas dari hardikan, dorongan kasarnya Fania dengan menatapnya amat sinis, terlebih Fania menggunakan kata gue – elo pada Andrew di kalimat hardikannya tadi.
Reno tak berkomentar, hanya mengikuti Fania dari belakang.
‘Haish, Ndrew.. Ndrew.. habis lo kali ini. Marah besar itu si Little F.’ Batin Reno sembari kepalanya menggeleng seraya berpikir bagaimana cara menenangkan adik angkat kesayangannya itu.
Andrew mengusap wajahnya dengan kasar sambil juga berjalan di belakang Fania yang sedang menuju mobil yang ia kendarai tadi.
“Little F, lo pulang sama gue.” Bujuk Reno yang sedang mencari kunci mobil dalam tas selempang kecilnya. “Ini mobil teman lo, kan?. Biar Alex yang bawa.”
Fania tak menggubris Reno. Ia membuka kunci otomatis saat kunci mobil Jeannie sudah ditangannya. Dua J dan Nino berikut Alex yang juga sudah ada didekat dua laki – laki yang sedang membujuk Fania hanya diam dan
memperhatikan.
Ga berani masuk ikut campur, karena aura si Kajol sudah nampak menyeramkan bagi mereka saat ini.
Alex yang nampak terlihat paling kaget saat melihat dan mendengar Fania yang membentak Andrew dan mendorong kasar suaminya itu.
“Little F....” Reno berusaha lagi. “Lo pulang sama gue, oke?.”
“Minggir Kak, gue udah males debat.” Ucap Fania menatap Reno dengan wajah yang terlihat menahan kesal.
“Pulang sama R, jangan menyetir sendiri lagi.” Andrew mengambil kunci dari tangan Fania. “Ga apa kalau ga mau pulang bareng aku.”
“Siniin itu kunci.” Pinta Fania pada Andrew tanpa menatapnya.
Andrew tak menjawab Fania, tak juga memberikan kunci mobil yang sudah ia ambil dari tangan Fania.
“Alex.” Andrew memanggil Alex yang langsung sigap mendekatinya, lalu memberikan kunci mobil Jeannie pada Alex.
“Apa sih! Give it to me Alex! ( Kasih ke gue, Alex ).”
Fania mencoba kembali merampas kunci mobil Jeannie dari tangan Alex.
“Heart, listen to me ( dengerin aku ). Aku tau kamu marah, tapi kalau kamu menyetir dalam kondisi emosi seperti ini, bahaya!.”
“Heh!.” Fania tersenyum sinis. “Perduli apa lo?!.”
Andrew menarik nafas. “Ga mungkin aku ga perduli, Heart.”
“NGAPAIN?!.” Nah naek lagi Nada suara si Kajol. Andrew hanya menahan nafasnya. “NGAPAIN LO PERDULI SAMA GUE?!.”
Reno memijat pelipisnya. Baru ini dia bingung harus gimana. Mau ngomong apa juga belum terbayang diotaknya melihat Fania yang begini.
‘Kalo lo pukulin si Andrew sekarang, sumpah ga akan gue pisahin!. Dari pada gue liat lo begini Little F....’ Batin Reno yang ikut pusing bareng kepalanya.
Andrew mengusap kasar wajahnya. “Ya udah, kamu maunya apa? Aku harus gimana, Heart?.”
“Mau gue?!. Lo tanya mau gue apa?!.”
Andrew mengangguk. “Iya, kamu mau aku gimana? Aku harus apa? Untuk menebus kesalahan aku ke kamu?.”
“MAU GUE LO ENYAH DARI HADAPAN GUE SEKARANG!.”
****
__ADS_1
To be continue ..