BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 271


__ADS_3

Selamat membaca ..


Hari, minggu dan bulan berlalu. Ara tinggal menunggu waktu kelahiran. Ara ingin melahirkan di Indonesia. Jadilah sejak dua bulan yang lalu Keluarga Smith pindah ke Jakarta untuk sementara waktu.


Hanya Jeff saja yang lebih banyak tinggal di London dan Andrew yang sesekali terbang kesana untuk mengurusi Perusahaan, karena Reno standby di Jakarta menemani Ara dan tak ingin melewatkan persalinan Ara nanti.


Fania dan Michelle juga sedang libur dari perkuliahan. Sisanya mereka mengajukan cuti kuliah untuk sementara waktu, yang notabene tidak dipermasalahkan sama sekali oleh Pihak kampus tempat mereka menimba ilmu.


“Pagi.” Sapa Reno dan Andrew pada keluarga mereka saat kembali dari jogging. Termasuk Mama Anye yang merupakan Ibunda kandung Ara yang sudah dibujuk untuk tinggal bersama di Kediaman Smith di Jakarta sampai Ara melahirkan nanti.


“Pagi.” Sahut para anggota keluarganya.


“Ara sama Fania mana?.” Tanya Reno yang tidak melihat dua wanita itu di ruang makan.


“Fania sedang menyusul Ara ke kamar kalian. Baru aja.” Mom yang menjawab. “Peralatan untuk kelahiran Ara sudah dipersiapkan, Ren?.”


“Sudah Mom.”


“Ya sudah kalau begitu. Lebih baik kalian langsung sarapan, yuk.”


“Ren....” Belum sempat Reno melanjutkan kalimatnya.


“Kak Reno!!.” Fania tiba – tiba datang ke ruang makan dengan setengah panik.


Reno pun kaget, melihat Fania yang sedikit berlari, termasuk keluarga yang lain.


“Itu! Kak Ara! Mau lahiran kayaknya!.”


Reno langsung melesat bak the flash ke kamarnya.


“Tell Pak Iman to prepare car now (Suruh Pak Iman menyiapkan mobil sekarang).” Dad seketika sigap menyuruh salah seorang Pelayan untuk menyuruh salah satu supir keluarga untuk menyiapkan mobil mengantar Ara ke


Rumah Sakit.


“No, let me drive! (Tidak, biar aku yang mengemudi).” Ucap Andrew yang bergerak cepat untuk menyiapkan mobil.


“Aku ikut!.” Ucap Fania. Yang juga sigap mengambil tas kebutuhan persalinan Ara dari tangan mama Anye. “Sini mah. Biar Fania yang bawa tasnya.”


Reno sudah menggendong Ara yang air ketuban nya sepertinya sudah pecah itu sambil sedikit meringis. Reno pun berjalan cepat namun tetap hati – hati.


Fania sudah mendahului menuju mobil untuk membukakan pintu agar kakak ganteng dan kakak iparnya dapat masuk dengan leluasa dan segera.


“Ayo D!.” Ucap Fania yang sudah menduduki kursi penumpang disamping Andrew. Sesuai permintaan Andrew yang ingin dipanggil hanya dengan D bukan lagi Nald. Donald. Cuma kalo Fania lagi geregetan sebutan Donald Bebek


pada Andrew tetap keluar juga.


Andrew dengan sigap langsung melajukan mobil menuju Rumah Sakit. Keluarga yang lain mengikuti dengan mobil lain di belakang mobil mereka.


***


Fania bersama dengan keluarga yang lain menunggu dengan harap – harap cemas sambil berdoa agar proses kelahiran Ara berjalan dengan lancar. Sementara Reno ikut menemani Ara ke dalam Ruang Bersalin.


Andrew memeluk Fania, karena pusing melihat si Kajol mondar – mandir ga karuan.


Semua mata tertuju pada pintu Ruangan dimana Ara masuk untuk melahirkan. Hening. Melihat siapa yang keluar dari dalam ruangan tersebut.


Reno berdiri menghadap pada keluarganya. Menghela nafasnya pelan.


“Kak....”


Fania sedikit khawatir, hendak melangkah mendekati Reno.


“IT’S A BOOOYYYY!! (LAKI – LAKIIII!!!).”


Reno berteriak dengan wajah sumringahnya dengan tangannya yang terbuka.


“Alhamdulillah....”


Semua anggota keluarga kompak mengucapkan syukur atas kelahiran anak pertama Reno dan Ara yang berjenis kelamin laki – laki itu.


“Selamaaat Kak Reno.” Air mata bahagia menghiasi pelupuk mata Fania yang segera berhambur memeluk kakak ganteng kesayangannya itu.


Reno juga memeluk balik Fania dengan bahagia.


“Thank you, Little F (Makasih, Little F).”


Dan ucapan selamat juga bergulir dari anggota keluarga yang lain juga atas hadirnya anak pertama Reno dan Ara. Cucu dan ponakan pertama di Keluarga Adjieran Smith.


Selamat Kakak ganteng dan Kak Ara. Author ikut bahagia.


*****


Ara sudah dipindah ke ruang rawat. Begitu juga bayi laki – lakinya dan Reno yang ditempatkan disebuah box disamping Ara.


Hati semua orang sedang diliputi kebahagiaan atas kelahiran anggota baru Keluarga Aditama dan Keluarga Smith itu. Bayi tampan mungil yang mewarisi wajah tampan dan cantik orang tuanya.


Oweee .. bayi kecil itu terdengar menangis dalam boxnya. Reno langsung mengangkatnya dengan hati – hati. “Sepertinya kamu haus, my boy.”


“Dah cowo – cowo harap menyingkir dari ruangan ini.” Ucap si Kajol yang paham kalau bayi mungil yang baru datang kedunia itu sedang haus. “Ini anak sultan mau ***** dulu. Hush, hush.”


Para lelaki yang diusir syantik oleh Fania pun segera melangkah keluar.


“Ayo, R.” Ajak Andrew pada Reno.


“I don’t have to leave (Gue ga perlu pergi lah).” Sahut Reno.


“Baby lo mau menyusu itu. Nanti takutnya lo iri sama bayi lo. Karena beberapa bulan ke depan kan lo puasa.”


Saudara laki – laki angkat Reno yang kadang tak berakhlak itu melangkah sambil tergelak setelah meledek Reno.


Para wanita yang lainnya hanya geleng – geleng sama kelakuan Andrew.


“Dasar Donald Bebek.” Celetuk Fania.


**


Fania’s POV’s on


Jika saja dulu aku mendengarkan Andrew untuk patuh dan beristirahat di rumah, mungkin dalam beberapa bulan kedepan akan ada bayi mungil lainnya selain bayi Kak Reno dan Kak Ara.

__ADS_1


Jika aku hari itu mengalahkan rasa bosan untuk tetap di rumah, aku ga akan bertemu dengan dua saudara tiri Kak Reno dan insiden itu tidak akan pernah terjadi. Yah, aku tau itu takdir.


Semua orang pun bilang begitu. Musibah kata mereka. Iya memang musibah dari kecerobohan ku. Tapi aku sudah ikhlas, termasuk ikhlas atas vonis medis yang mengatakan aku sulit hamil lagi kedepannya.


Tapi  Judith masih ada kesempatan, dan itu cukup membuatku bersyukur dan bahagia. Suatu saat nanti, entah kapan, aku bisa melengkapi kebahagiaan rumah tangga aku dan Andrew dengan kehadiran bayi. Bayi kami, buah cinta kami.


Tapi tetap saja, seikhlas – ikhlasnya. Sebisa mungkin untuk menerima, sedih dan kecewa aku tetap ada. Sedikit, tapi juga bikin hati mencelos. Ada penyesalan yang cukup aku simpan sendiri saja.


Penyesalan yang datang terlambat, karena kalo diawal namanya pendaftaran.


Entah kapan ya, aku bisa memberi kebahagiaan pada Andrew untuk menjadi seorang Ayah seperti Kak Reno. Maafin aku ya Donald Bebek. Hiks.


Fania POV’s off


**


“Hey, Heart.” Andrew menghampiri Fania yang sedang menatap bayi mungil Reno dan Ara yang sudah terlelap dalam box bayinya. Ara pun nampak sedang tertidur sehabis menyusui dan keluarga yang lain sudah pulang.


Andrew dan Reno datang bersamaan setelah mengantar keluarga mereka ke lobi Rumah Sakit.


“Dia sudah tidur?.” Tanya Reno dengan berbisik dan Fania mengangguk. Sudah sempat menghapus dengan cepat sebulir air mata yang keluar dari pelupuknya, saat mendengar Andrew dan Reno datang.


Andrew merangkul bahu Fania. “Kita pulang dulu, ya?.”


Fania mengangguk sembari tersenyum.


“Yuk.”


Menghampiri Reno yang nampak sedang memperhatikan Fania.


“Lo kenapa?.” Reno bertanya dengan masih berbisik sambil menyeka sudut mata Fania.


“Ada apa, Heart?.”


Andrew menyadari Reno yang menyentuh ujung mata Fania.


“Ga apa – apa, ngantuk. Gue balik dulu ya, Kak. Salam buat Kak Ara.” Ucap Fania dengan sangat pelan, takut membangunkan si baby boy itu.


Reno pun mengangguk dan Fania langsung mencium tangannya, lalu keluar bersama Andrew dari ruangan Ara.


**


Andrew menggengam tangan Fania sesekali saat ia tengah menyetir. “Kamu kenapa, Heart?. Ada yang mengganggu pikiran kamu?.”


“Ga apa – apa , D. Cuma agak ngantuk aja.” Ucap Fania sambil menoleh pada Andrew.


Andrew memandang Fania sebentar sambil tersenyum, lalu kembali fokus pada kemudi dan jalanan.


Fania pun terdiam sambil memandang jalanan di luar.


‘Aku tahu kamu sedih, Heart.’ Batin Andrew yang matanya sesekali melirik pada Fania yang kini tengah melamun. “Tidurlah, Heart. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai.”


“Ga ah, tanggung.” Ucap Fania tanpa menoleh pada Andrew yang kemudian menepikan mobilnya. Lalu langsung meraih Fania dengan pelan untuk menghadapnya.


Fania sedikit terkejut, tak menyadari Andrew sudah menepikan mobil dan membuatnya menghadap suaminya itu. Tak sempat menghapus air mata yang ia tutupi saat memandangi jalanan diluar.


“Sudah aku bilang, jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari aku, termasuk perasaan kamu.”


Andrew membawa Fania dalam pelukannya, yang tanpa aba – aba langsung menangis dipelukan Andrew.


Andrew membiarkannya. Matanya pun sudah basah, merasakan sedih Fania diatas bahagianya pada kebahagiaan Reno dan Ara.


“Menangislah, jika itu bisa membuat kamu sedikit lega. Aku disini, Heart. Selalu.”


**


Varen Aditama Smith. Nama yang disematkan oleh Reno dan Ara untuk anak laki – laki mereka. Seperti harapan kedua orang tuanya agar anak itu menjadi laki – laki terbaik kelak. Bayi yang membuat siapapun merasa gemas


ingin menggendong dan menciumnya itu sudah menjadi idola para anggota keluarga.


The baby boy sudah berumur kurang lebih sebulan. Ara pun sudah kembali ke rumahnya dan Reno di Jakarta, juga Mama Anye yang pada akhirnya mau tinggal bersama Reno dan Ara untuk seterusnya. Si nenek yang ga tahan kalau lama – lama jauh dari cucunya itu.


Termasuk Mom dan Dad yang juga memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jakarta. Sama seperti halnya mama Anye yang ga bisa lama – lama jauh dari cucu. Hanya Michelle yang sudah kembali ke London sendirian


“Kak Reno sama Kak Ara balik lagi ke London, apa seterusnya stay disini?.” Tanya Fania yang hari itu sudah berada di rumah Ara dan Reno. Sementara Reno dan Andrew juga sedang pergi ke Perusahaan mereka masing –


masing bersama dua J sejak pagi tadi.


“Belum tau sih itu Sweety. Tapi Kak Ara sih tergantung kakak kamu aja.”


Fania manggut – manggut.


“Kenapa memangnya, hem?.”


“Kak Ara dah kayak kak Ren sama si Donald Bebek aja, seneng banget ham hem ham hem.”


Ara, Mom dan Mama Anye terkekeh kompak.


“Kamu memang sudah mau balik ke London?.” Tanya Mom.


“Harusnya sih, kan kuliah Mom. Pengen cepet – cepet selesai aja, cepet lulus trus kerja deh.”


“Kerja?.” Tanya Mama Anye dan Fania manggut – manggut.


“Boleh memang sama si Donald Bebek kamu kalo kerja?.”


“Ga tau. Belom nanya sih. Kalo diijinin ya kerja. Kalo engga ya ga apa – apa. Fania ikut aja apa kata dia.”


“Udah mulai nurut nih sama si Donald Bebek ceritanya?.” Ledek Mom.


“Udah janji, Mom. Mau nurut sama dia.”


“Iya lah Fania. harus nurut sama suami.” Timpal Mama Anye. “Surganya kamu itu.”


“Iya Ma.” Fania tersenyum tipis. “Takut mengecewakan lagi.”


“Hey, Sweety.” Ara memberikan Varen pada Mom sesaat setelah melihat wajah Fania menjadi sedikit muram.


Mom dan Mama Anye juga menyadari perubahan wajah Fania.

__ADS_1


“Gue merasa bersalah Kak, itu aja sih. Sama Mom, Dad, sama si Donald Bebek apalagi.” Fania tertunduk.


“Fania .... sudah berapa kali Mom bilang, kamu ga salah apa – apa.” Mom yang sedang menggendong Varen itu menempelkan kepalanya dengan Fania. “Mom yakin suatu saat kamu dan Andrew akan memiliki bayi lucu seperti Reno dan Ara.”


“Iya sayang, Mama Anye dan kami semua selalu mendoakan hal itu, kok.”


Ara meraih bahu Fania. “ Varen ini anak kamu dan Andrew juga. Ayo dong, Sweety mana percaya diri si Kajol, hem?.”


“Mulai deh ham hem ham hem.”


Keempat wanita beda usia yang sama cantiknya itu akhirnya tertawa bersama.


“Assalamu’alaikum.”


Suara milik seorang pria mengalihkan empat wanita yang sedang bercengkrama itu.


“Wa’alaikumsalam.”


“Apa kabar para wanita cantik?.”


“Eh, Dewa. Kemana aja sih kok baru muncul?.” Ucap Mama Anye yang langsung menghampiri Dewa dan ponakannya itu pun mencium tangannya dengan takdzim.


“Kak Dewa apa kabar, Kak?.” Fania mengulurkan tangannya.


“Baik, Naomy.” Sahut Dewa. “Salaman aja nih, ga dipeluk gitu apa cipika cipiki?.” Goda Dewa.


Fania tertawa kikuk. ‘Pengen sih. Astagfirullah.’ Batin Fania bermonolog.


“Inget jangan coba jadi pebinor.” Celetuk Ara pada sepupu nya itu.


Dewa tergelak. Lalu langsung menyambangi Mom dan Ara.


“Michelle mana?.” Tanya Dewa pada semua.


“Udah balik ke London duluan.”


Dewa hanya manggut – manggut. Kembali mereka yang tadinya berempat dan kini jadi berlima dengan Dewa, terlibat obrolan ringan. Eh lima setengah deng, termasuk dedek Varen yang anteng banget dengerin orang ngobrol.


****


“Eh iya, Kak Dewa darimana emang?.”


“Dari Jerman. Ada yang ngajakin join bisnis disana.” Fania dan Dewa terlibat pembicaraan berdua bersama Fania di pinggir kolam renang rumah Ara dan Reno.


Sambil menunggu para pria yang sejak pagi pergi ke kantor dan katanya sekarang sudah dijalan pulang.


“Oh. Bisnis apa Kak?.” Tanya Fania sekedar ingin tahu.


“Restoran. Kecil – kecilan.” Jawab Dewa.


“Oh iya, Kak Dewa kan jago masak ya?.”


“Bisa. Ga jago.”


Hening sejenak, sama – sama sedikit canggung.


“Eh iya Kak, gue tinggal dulu ya. Gue mau bantu nyiapin makanan buat Dad sama empat sekawan.”


Fania berdiri dari duduknya.


“Aku bantu sekalian deh kalo gitu.”


‘Yassalam, gue sengaja ngindarin dia, malah die mau ikut. Ntar si Donald Bebek liat, bisa cemburu dia bisa – bisa.’


“Kenapa?.”


“Eh engga, tar malah ngerepotin lo, Kak.”


“Engga lah. Aku punya resep dessert enak. Mau aku ajarin?.”


Wajah Fania berubah semangat mendengar Dewa mau mengajarkannya membuat Dessert baru.


Si Kajol pun mengangguk antusias.


“Wow!.” Fania sumringah saat dia dan Dewa sudah berkutat di dapur untuk membuat Dessert yang tadi dibilang Dewa.


“Gimana?.”


“jago emang Kak Dewa.”


Dewa tersenyum lebar. “Mau coba?.”


“Mau lah. Pake nanya.”


Dewa terkekeh dan langsung mengambil sendok kecil agar Fania bisa mencoba Dessert buatannya itu.


“Aaa....”


“Ih, Kak Dewa gue bisa suap sendiri kelles. Emang gue balita disuapin.”


Dewa sudah mengarahkan sendok kecil berisi potongan Dessert tepat didepan mulut Fania. “Udah terlanjur. Cepet buka mulutnya, nanti keburu jatuhan.” Fania menggeleng geli namun membuka mulut pada akhirnya menerima suapan Dewa.


“Enak?.” Tanya Dewa pada Fania.


“Enak banget, Kak.”


“Sorry.” Dewa membetulkan anak rambut Fania yang sedikit berantakan. Membuat Fania sedikit salting.


“Heart.”


*


To be continue ...*


Eh iya, Author pernah janji mau ngadain give away. Kira kira kalian mau aposeh, asal jangan rumah, mobil, motor perhiasan, emas, berlian. wkwkwkwk. Author bukan keluarga Andara soale😄


Author tunggu feedbacknya yawgh. 


Untuk give away sendiri nanti ada aturan maennya. Ga jauh - jauh kok maennya. Takut ilang. 

__ADS_1


__ADS_2