
Selamat membaca .....
- - -
“What do you guys want?. ( Kalian mau apa? ).” Fania mencoba bersikap setenang mungkin meski pandangannya gelap karena kepalanya ditutupi dengan sebuah kain dan tangannya terikat kebelakang kursi yang ia duduki saat ini.
Hening tidak ada jawaban. Namun Fania tau ada orang yang berada tak jauh darinya, karena terdengar langkah kaki sesekali dan sayup sayup ia mendengar suara orang berbicara sedikit jauh dari tempatnya sekarang.
“Are you guys are deaf?! ( Apa kalian tuli ?! ).” Pekik Fania.
“Shut Up ! ( Diam ! ).” Hardik salah seorang dari mereka yang tadi menyeretnya masuk mobil.
****
Flash back On
"Sorry. ( Maaf )." Seorang wanita cantik menabrak Andrew dari belakang saat Fania hendak mengajak Andrew ke area yang ada beberapa kios penjual baju dan pernak pernik di sebrang jalan tempat mereka berdiri.
Wanita tersebut lumayan seksi karena memakai atasan kaos ketat dengan leher rendah yang menampakkan setengah bukit kembarnya. Dan sepertinya sangat tertarik pada Andrew yang memang tampan dan ideal itu.
Wanita tersebut tersenyum sangat manis pada Andrew, membuat Fania melihatnya malas.
Karena sebal, Fania menyebrang sendiri tak menunggu Andrew yang sepertinya sedang diajak ngobrol oleh wanita yang menabrak suaminya itu.
‘Gatel!.’ Batin Fania menggerutu sambil dirinya menyebrang ke arah para penjual baju dan pernak – pernik. 'Awas aja kalo ga nyusulin gue buru – buru.’ Batinnya lagi sambil berjalan melihat – lihat ke beberapa kios yang malam ini agak ramai itu.
Khilaf kalo udah liat barang – barang lucu, sampai lupa menunggu Andrew yang kemungkinan mencarinya.
“Miss Fania.” Sapaan dari seorang pria membuat Fania menoleh.
“Yes?.” Jawab Fania sambil memperhatikan sang pria yang pakaiannya seperti bodyguard Andrew yang tadi menghampiri untuk membawakan tas belanjaannya. Namun tidak terlalu memperhatikan wajahnya.
“Mister Andrew tell me to take you home. ( Tuan Andrew menyuruh kami untuk membawa anda pulang ).” Ucap pria bersetelan rapih tersebut.
“Really?. Where is he now?. ( Benarkah ? dia dimana sekarang ? ).” Tanya Fania pada pria tersebut.
“He’s been waiting on the car, Miss. ( Dia sudah menunggu di mobil, Nona ). Let’s go ( Ayo ).” Pria tersebut mempersilahkan Fania untuk segera berjalan. Fania memutar bola matanya malas.
“Baru jam berapa.” Gerutu Fania dalam gumaman nya namun ia tetap berjalan.
“This way Miss. ( Sebelah sini Nona ).” Ucap pria tersebut yang wajahnya tampak dingin dan sedikit menyeramkan.
“Eh?.” Fania seperti sesaat tersadar. “ I thought that our car was park on that side ( Kayaknya mobil kami parkir disana ). “ Ucap Fania pada pria tersebut sambil menunjuk ke salah satu arah dimana supir mereka memarkirkan mobil yang ia dan Andrew tumpangi selama mereka di Thailand.
“We already moved the car, Miss ( Kami sudah memindahkan mobilnya, Nona ). “ Ucap si Pria sambil terus membuat Fania berjalan mengikutinya lalu kemudian ada seorang pria yang berpakaian sama seperti yang didepannya, tiba – tiba sudah ada di belakangnya.
__ADS_1
Fania mengedarkan pandangannya, tau tau dia sudah berada di sebuah jalanan kecil ditengah – tengah antara beberapa ruko yang beberapa nampak tak berpenghuni.
Pria yang tadi menunjukkan jalan padanya berhenti di dekat sebuah mobil sedan hitam. Fania menghentikan langkahnya.
'Perasaan gue ga enak.’ Batin Fania karena melihat mobil yang bukan milik dirinya dan Andrew.
Fania langsung berbalik, namun ia lupa kalau ada satu pria lagi tadi yang sudah ada di belakangnya.
“You better get inside the car, Miss. Or something bad will happen to your husband ( Sebaiknya anda masuk ke mobil Nona, atau sesuatu yang buruk akan menimpa suami anda ).” Pria bersetelan yang tadi berada di belakang Fania mencekal tangannya sambil memberi ancaman.
“Let me go! ( Lepaskan aku ! ).” Pekik Fania.
“Maybe you want to see this ( Mungkin anda mau melihat ini ).” Pria yang sebelumnya menunjukkan sebuah gambar. Membuat Fania langsung membulatkan mata dan menelan kasar salivanya. “If you don’t want to see your husband get kill, better you go with us. ( Kalau anda tidak ingin melihat suami anda terbunuh, lebih baik anda
ikut dengan kami).”
Pria itu menunjukkan foto dalam layar ponselnya dimana ada seseorang yang berdiri dekat Andrew dengan memegang sebuah senjata dari balik jasnya.
🎶🎶
Terdengar sayup sayup suara ringtone handphone. Fania merasakan getaran dari dalam tasnya, menutup perlahan tas dengan tangannya, berharap kedua pria itu tak mendengar.
Ponsel Fania tak bersuara lagi, sedikit bernafas lega. Sambil berpikir untuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya
tanpa diketahui dua pria yang sedang mengancamnya ini.
🎶🎶
Sayangnya Fania tak sempat berbicara, karena ponselnya direbut kembali dengan cepat dan langsung dimatikan oleh salah satu pria yang menahannya, lalu membuang ponsel Fania ke sembarang tempat.
“The decision on you. ( Keputusan ada di tangan anda ).” Ucap pria tersebut masih mencekal tangan Fania dan setengah menariknya.
Dengan sedikit perlawanan, karena dilema teringat pada gambar yang ditunjukkan oleh pria tadi tentang ancaman mereka pada Andrew, namun Fania akhirnya tetap ikut dengan mereka karena tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya itu, meski tadi dia sempat menahan kakinya sebentar, mencoba menolak masuk mobil.
Hingga hal terakhir yang ia lihat adalah dua orang tersebut duduk menghimpitnya di kursi belakang penumpang dan ada pria lain yang duduk di belakang supir, sebelum kepalanya ditutup oleh sebuah kain, dan tangannya diikat oleh sebuah tali.
Flash back Off
****
“Are you guys are deaf?! ( Apa kalian tuli ?! ).” Pekik Fania.
“Shut Up ! ( Diam ! ).” Hardik salah seorang dari mereka yang tadi menyeretnya masuk mobil.
“Let me go! ( Lepaskan aku! ).” Fania kini berteriak. “Who are you? And what do you want?! ( Kalian siapa? dan mau apa?!).”
__ADS_1
“I said shut up! ( Gue bilang diam! ).” Teriak seorang pria sambil melepas tutup kepala Fania.
Fania terdiam namun menatap pria itu tajam, meski matanya sedikit berbayang akibat terlalu lama tertutup kain. Setidaknya ia bisa mengatur nafasnya sekarang, tidak sesesak saat kepalanya tertutup meski ada sedikit udara dari bawah lehernya karena kepalanya tadi tidak ditutupi dengan ketat.
“I’m thirsty ( Aku haus ).” Ucap Fania. Gadis itu sedikit melirik dengan ekor matanya, menghitung ada berapa orang yang sedang menyekap nya saat ini. Dan mencari pintu keluar.
Pria yang tadi menatapnya. “Go get water for her ( Ambilkan air untuknya ).” Berbicara pada rekannya yang kemudian mengangguk lalu bergegas jalan.
Beruntung mereka menempatkan Fania disudut ruangan. Minta diambilkan air hanya sekedar alasan Fania untuk berusaha melepaskan ikatan ditangannya. Sambil berusaha terlihat berusaha agar orang – orang yang menyekap nya itu tidak curiga.
Beruntung Fania paham soal simpul. Dulu ikut ekskul pramuka kayaknya sih.
“ Here, Sir ( Ini Tuan ).” Pria yang tadi disuruh ambil air minum untuk Fania sudah kembali dengan segelas air ditangannya, menyodorkan kepada Pria yang tadi menyeret Fania ikut yang sepertinya adalah pimpinan mereka.
“Give it to her ( Berikan padanya ).” Ucap pria yang dipanggil Sir barusan. Lalu pria yang sepertinya pimpinan mereka itu tampak sedang akan menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Here (Ini ).” Pria yang membawa air minum itu menyodorkan gelas pada Fania.
Fania menatapnya. “I cannot use my hand, okay?. You should untied me ( Gue ga bisa menggunakan tangan gue, oke?. Lo harus buka ikatan gue ).”
“Sir ( Tuan ).” Pria itu memalingkan tubuhnya dari Fania bermaksud bertanya pada orang yang ia panggil Tuan itu.
Prang !!!
Fania merampas gelas dari tangan pria yang tadi menyodorkan minum padanya setelah berhasil melepaskan ikatan tangannya, lalu menghantam pria yang memegang gelas tersebut saat ia lengah.
Fania pun langsung berlari ke arah pintu yang tadi sudah dilihat dan diperhitungkan olehnya. Berlari kencang tanpa menoleh, meski ia mendengar teriakan dua pria tersebut.
Brugggg!!!!
Fania menabrak sesuatu saat berlari. Seseorang nampaknya.
“Do you think you can run?!. ( Apa kau pikir kau bisa lari?! ).” Fania tertangkap. Baru ingat kalau ada tiga orang tadi yang membawa paksa dirinya.
“Let me go! ( Lepaskan aku! ).” Fania meronta sekuat tenaga, namun tenaga pria yang kembali menangkapnya lebih besar.
“You damned woman! ( Perempuan sialan! ).” Ucap Pria yang kepalanya dihantam dengan gelas oleh Fania tadi. Ada darah yang menetes dari kepalanya itu, ia meremas kasar rambut Fania dan mulai menyeret Fania untuk kembali ke dalam ruangan tempat ia menyekap Fania tadi.
“Let Her Go! ( Lepaskan dia! ).” Terdengar suara hardikan dari belakang Fania dan beberapa pria tersebut.
Suara yang sepertinya Fania kenal. Namun wajahnya belum bisa Fania lihat karena posisinya yang sedang dijambak oleh salah satu penyekapnya.
“How dare you being rude to her! ( Beraninya kalian berlaku kasar padanya! ).”
***
__ADS_1
To be continue ...