
Selamat membaca ....
- - -
“Alright everyone, a Big Thank, sincerely from my heart For Everything You’re all done for me.(Oke semuanya, aku benar – benar berterima kasih dari hati saya untuk semua hal yang sudah kalian lakukan untukku).” Ucap Andrew saat Keluarga Smith sudah tiba di rumah mereka. “Dad, Mom. Thank You very much.(Dad, Mom, terima kasih banyak).” Ia memeluk Dad and Mom.
“Anything for you my Son. My All Sons and Daughters.(Apapun untukmu Nak. Semua anak-anakku).” Ucap Dad.
“Terima kasih, Dad, Mom.” Fania menambahkan.
“Ya sudah sekarang lebih baik kita beristirahat. Kita ketemu saat makan malam.” Tambah Mom dan dijawab dengan anggukan oleh yang lain. Dad and Mom bergegas ke kamar mereka.
“R, gue rasa terima kasih aja ga cukup gue ucapkan ke elo.” Ucap Andrew yang langsung memeluk Reno.
“No thanks, Man.(Ga usah berterima kasih).” Ucap Reno. “Ini adik gue yang ga ada duanya di dunia dan di akhirat, ga mau peluk gue juga.”
“Maulah.” Sambar Fania yang langsung memeluk kakak gantengnya dengan erat dan bahagia. “Ma kasih Kak Reno ... Lo yang terbaik.” Fania juga langsung memeluk Ibu Peri.
“Sama – sama. Little F, anything for you. (Apapun buat lo).” Ucap Reno dan Ara.
“Thank you my sister in law. So much.(Makasih Kakak Ipar. Makasih banyak).” Andrew juga memeluk Ara yang kemudian mengangguk dan tersenyum.
“Gue sama Ara balik ke rumah dulu ya. Nanti Insya Allah pas makan malam kita kesini.” Ucap Reno seraya berpamitan pada Andrew, Fania dan dua J, berikut Michelle.
“Jeff, thanks Dude. Nanti gue naikkan gaji lo.” Andrew juga berterima kasih kepada Sahabat yang sudah seperti keluarga baginya. Sudah diangkat jadi bagian keluarga Smith juga atas dedikasi dan kesetiaannya.
“Ck. Macam sama siapa aja lo Ndrew.” Sahut Jeff. “Gue minta libur panjang.” Mereka terkekeh. “Gue langsung istirahat juga deh ya. Jol, gue duluan ya.”
“Iya Kak Jeff, makasih ya. Maap kalo sering ngerepotin.” Fania juga memeluk Jeff.
“Take a chill pil (Santai).” Sahut Jeff. “Yuk semua.”
“John, terima kasih juga buat lo. Banyak.” Andrew memeluk John.
“Haha. Apa sih lo.” Sahut John.
“Selama ini juga kan lo ikut jagain Fania sebelum gue ketemu dia.” Ucap Andrew.
“She’s worthed lah.(Dia pantes dijagain).”Sahut John.
__ADS_1
“Ma kasih kakak John yang baik hati dan sabar.” Fania terkekeh dan juga memeluk John.
“Apa sih yang engga buat lo. Ya udah ya gue juga duluan.” John pamit untuk istirahat. “Istirahat dulu, sisanya tunggu entar malem.”
Mereka pun terkekeh paham maksud John.
“Michelle.. My Dear beautiful sister. Thank you so much, huh? (Michelle.. Adik gue sayang yang cantik. Makasih banyak ya?).” Andrew memeluk dan mengecup pucuk kepala adik satu – satunya itu.
“Iya Chel, makasih ya udah ikutan cape.” Ucap Fania yang ikut memeluk adik iparnya itu. “Maap ya udah ngerepotin juga.”
“Apa sih Kak Fania. Aku bahagia buat kalian. Sangat. Ga ada orang lain yang pantas untuk Kakak aku yang diktator ini selain Kak Fania, tau.” Ucap Michelle tulus. “Ya udah aku juga istirahat ya. Oh iya kado menyusul oke?.”
“Double lo ya.” Timpal Fania.
“Triple.” Tambah Michelle lalu bergegas ke kamarnya seperti halnya yang lain.
Menyisakan sepasang suami istri baru yang sedang dilanda bahagia.
“Istirahat sekarang, istriku sayang, hem?.” Andrew menangkup wajah Fania dan mengecup keningnya lembut. “I Love You.”
“Istirahat loh ya.” Fania mengarahkan telunjuknya pada Andrew dan laki – laki itu tergelak.
“Nanti aku pikirkan dulu.” Ucap Andrew sambil menggendong Fania ala Bridal Style ke kamar mereka sambil mengerlingkan satu matanya.
Membuat jantung Fania jadi berdebar – debar, takut diena – ena sama si Donald.
“Would you please open the door, my Dear Wife?(**Maukah kau membantu membuka pintunya, istriku sayang?).” Andrew tersenyum pada Fania dalam gendongannya.
“Lebay.” Sahut Fania. Andrew terkekeh. “Dikunci ga?.” Tanya Fania karena seperti halnya di London, kamar Andrew yang disini pun memakai kode akses.
“Nope.(Engga).” Sahut Andrew dan Fania langsung membuka pintu kamar mereka. “Sekarang kunci.” Andrew langsung memutar badannya agar Fania menekan kode akses kamar mereka itu.
“Masih sama?.” Fania mempertanyakan kode akses kamar Andrew yang sebelumnya.
“Udah aku rubah. Sekarang kodenya adalah hari ini, tanggal ini, tahun ini.” Ucap Andrew dan Fania tersenyum lalu menekan kode akses yang dibilang Andrew.
“Lengkap ?.” Tanya Fania dan Andrew mengangguk lalu kembali berbalik menghadap kamar tidur Fania. Memperlihatkan pada sang istri bagaimana kamar itu di design sedemikian rupa untuk sang Pengantin Baru.
__ADS_1
Taburan mawar merah sepanjang lantai dari pintu masuk hingga ranjang terbentang dengan cantiknya. Yang juga tertata diatas ranjang pengantin yang sudah dihias begitu indahnya dengan lampu yang memang sengaja ditemaramkan agar suasana romantis lebih merasuk dalam jiwa.
Kelambu yang tadinya ada juga terlihat terpasang di sekitar ranjang. Biar reader ga ngintip katanya.
Beberapa buket bunga mawar merah pun tersusun di beberapa sisi bersama dengan foto Andrew dan Fania yang tampak mesra berukuran besar disalah satu sudut kamar. Mereka tidak melakukan sesi pre – wed foto karna Fania yang menolak. Toh sudah banyak sekali fotonya dan Andrew yang amat mesra. Dan itu cukup menurut Fania.
“Suka?.” Tanya Andrew dan Fania mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Andrew melangkahkan kakinya menuju ranjang pengantin dan merebahkan Fania dengan perlahan diatasnya. Andrew mengunci tubuh ramping Fania, namun masih menyisakan jarak antara mereka. Merapihkan sedikit anak rambut Fania. “You don’t know how long it feels, I’ve been waiting for this moment.(Kamu ga tau berapa lama rasanya aku menunggu momen ini). Bisa memiliki kamu seutuhnya.”
Tangan Fania masih melingkar dileher Andrew. “Thank you. Thank you for loving me.(Terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku).” Ucap Fania lembut yang langsung berinisiatif mencium bibir Andrew yang sudah bersertifikasi halal sekarang. Menari bersama bibir Andrew dengan ritme lembut dan perlahan. Menyalurkan cinta dan bahagia.
Ritme ciuman yang lembut itu mulai naik. Makin dalam, saling mengh*sap. Tangan Fania secara naluri mengusap tengkuk Andrew yang kini makin memperdalam ciumannya. Mengabsen setiap inci rongga dalam mulut istrinya. Saling bertukar saliva dengan nafas yang mulai memburu dan terasa semakin tipis.
“Naaldd.” Fania menarik bibirnya perlahan dari bibir Andrew yang nampak tak ingin melepas bibir sang istri yang selalu terasa manis untuknya. Menatap Fania dengan tatapan sedikit sayu dan wajahnya yang nampak mupeng alias muka pengen. Tak sabar menyalurkan sesuatu yang sudah mulai terasa sedikit bergejolak dalam dirinya.
“Heem?.” Jawab Andrew dengan suaranya yang mulai terdengar lebih berat.
“Malam Pengantin loh namanya. Bukan Sore Pengantin.”
**
“Babe.” Panggil Reno pada Ara saat mereka beranjak ke kamar tidur untuk beristirahat sejenak.
“Ya?.” Sahut Ara yang bergelayut manja seraya berjalan disamping suaminya.
“Tanggung jawab aku pada Little F sudah sedikit berkurang. Sekarang mulai fokus ya?” Ucap Reno.
“Fokus untuk?.” Tanya Ara yang kurang paham maksud suaminya.
“Bikin Reno dan Ara Junior sebelum keduluan sama si botak.” Ucap Reno yang langsung mengangkat Ara dalam gendongannya seraya terkekeh saat sudah berada di dalam kamar mereka di rumah pribadinya.
“Waduh.” Ucap Ara sambil tergelak begitu juga dengan Reno. “Saingan sama Pengantin Baru dong kita.”
“Ga apa – apa, kita kan Senior.” Sahut Reno yang langsung menyambar bibir Sang Bidadari surga pribadinya itu.
*
To be continue ...*
__ADS_1
Sampe ketemu nanti malam😜