
Selamat membaca ....
“Nald, please ...” Fania mengiba. “Kak Ren, Kak Ara. Kasih gue waktu kek.”
“Fan, kamu sayang ga sama kak Reno kamu dan Andrew?.” Tanya Ara pada Fania yang kini sudah duduk disamping Fania.
“Ya ampun Kak Ara, masa harus ditanya lagi gue sayang apa engga sama mereka?.” Jawab Fania.
“Sayang ga?.” Tanya Reno kini pada Fania.
“Jawab dong, sayang ga?.” Andrew pun ikut – ikutan.
“Ya sayang lah. Kalo ga sayang gue ga bakal inget kalian berdua. Gue ga bakal nangis – nangis dalem mimpi juga saking gue kangen. Kalo ga sayang mana gue nangis bakalan pas ketemu lagi sama Kak Reno, sama lo juga Donald Bebek!. Sampe nyesek ini dada gue saking gue bahagia ampe terharu.” Cerocos Fania.
Mereka bertiga terkekeh mendengar Fania menjawab jujur, tapi dengan wajah yang menggerutu. Wajah orang yang sudah merasa terjebak dan tidak mampu melawan lagi dua orang yang dia sayang, meski Fania sedang dalam pergulatan batin karena disuruh berhenti bekerja oleh Andrew dan kak Reno nya.
“Nah sayang kan? Mereka apalagi. Termasuk Kak Ara ini yang juga udah sayang sama kamu Sweety. Jadi kalau sekarang Reno atau Andrew maunya kamu berhenti kerja, pasti mereka punya alasan yang bagus untuk itu.” Ucap Ara menjelaskan dengan aura ibu perinya.
‘Ga salah emang gue milih istri.’ Batin Reno
‘Lucky R to have Ara.’ Batin Andrew.
“Iya Kak Ara, paham. Gue paham. Tapi masa gue harus berhenti kerja segala?. Harus kuliah lagi masa?.” Ucap Fania.
“Little F, bukannya gue atau Andrew mau ngatur hidup lo. Gue sama Andrew ini ga akan tenang kalo ga bisa menuhin janji kita berdua sama lo.” Ucap Reno yang kini sudah duduk di dekat Fania meski di sofa yang berbeda.
“Lo inget ga? Dulu lo pernah bilang, gue pengen sekolah setinggi – tingginya biar jadi orang. Inget?. Waktu lo ngomong begitu tangan lo itu bahkan seperti mau meluk langit.” Ucap Andrew. “And did you remember what me and R said to you that time?.” Kini Andrew bertanya pada Fania yang sedang menatapnya.
Fania mengangguk dan membuat Andrew bertanya lagi.
“Apa?.” Tanya Andrew.
“Kak Reno bilang, gue akan bantu wujudkan cita – cita lo.” Jawab Fania.
“Terus gue bilang apa?.” Tanya Andrew lagi.
“Lo bilang, lo yang akan mastiin kesuksesan gue kelak.” Jawab Fania.
“Dan?.” Tanya Reno
__ADS_1
“Dan kalian bilang, kalian akan memastikan kalau gue ga akan lagi kekurangan karena kalian yang akan mulai bertanggung jawab dalam hidup gue selain papa sama mama.” Jawab Fania pelan.
“Dan karna janji gue dan R itu sudah tertunda selama bertahun – tahun. Sekarang kita mau mengganti enam tahun yang hilang itu dengan menjaga lo, memastikan semua mimpi dan cita – cita lo tercapai. Membuat lo menikmati hidup yang seharusnya lo punya kalau gue sama R ga pernah lose contact sama lo.” Ucap Andrew panjang lebar.
Fania tertunduk lesu. “Ya ... ga gitu juga. Gue ga pernah ngarepin apa – apa dari kalian, bener deh. Kalian berdua ada dalam hidup gue dari dulu aja itu adalah sesuatu yang patut gue syukuri. Gue bisa punya peralatan sekolah bermerek, pakaian bermerek, bisa makan enak di restoran mahal. Udah bahagia banget gue. Masa kalian harus bertanggung jawab sama hidup gue sampe segini nya lagi....”
“Apa?. Lo mau bilang lagi, gue ini kan bukan apa – apanya kalian. Ga ada hubungan darah. Gitu?.” Ucap Reno sambil memperagakan cara Fania yang kalo ngomong suka otomatis gerak – gerak badannya.
Ara dan Andrew pun tertawa melihat Reno yang seperti itu. Sementara Fania berdecak sebal meski sebenarnya hatinya ketawa geli melihat kak Reno nya yang konyol saat ini.
“Dih. Amit deh.” Ucap Fania.
“Loh emang gitu kan lo kalo ngomong.” Ucap Reno.
“Iya ga usah di peragain juga.” Protes Fania.
Andrew dan Ara masih terkekeh. Emang ajaib si Fania. Reno yang terkenal Cool banget itu kalo diluaran, bisa bisanya menunjukkan kekonyolan seperti barusan.
‘Harusnya gue video kan tadi waktu R peragakan gayanya Fania ngomong. Ah sial kenapa baru kepikiran.’ Batin Andrew.
“Jadi gue harus gimana?.” Tanya Fania
“Ya udah seperti rencana. Berhenti kerja, nikmatin hidup. Kuliah deh, just like R said. Belum telat – telat amat. Masih bisa dapat gelar MBA di usia muda.” Jawab Andrew.
“I’m always right.” Sahut Andrew pede.
“Kepedean.” Fania juga menyahut. “Duh, otak gue udah tumpul ini kalo harus belajar lagi.” Gerutu Fania. “Lagian mau kuliah dimana coba?.”
“London!.” Sahut Reno, Ara dan Andrew barengan.
*
Sore itu akhirnya Fania pulang ke rumah dengan diantar oleh Reno, Ara juga Andrew. Setelah drama soal berhenti kerja dan perkuliahan di rumah Andrew tadi yang hasilnya adalah Fania menyerah kalah karna dipojokkan oleh tiga orang kakak angkatnya.
“Besok tapi gue ngantor dulu loh ya Kak Ren.” Ucap Fania setelah berada di dalam mobil Vellfire milik Andrew yang dikendarai supir. Mereka ber empat duduk di kursi belakang. Fania dan Andrew dibagian paling belakang. Reno dan Ara di kursi tengah.
“Senin aja sekalian farewell party.” Sahut Reno.
“Kak, paling engga sehari aja kak, gue ngerasain kerja lagi. Lagian gue masih ada barang – barang si di laci.” Ucap Fania memohon.
“Nanti gue suruh orang yang rapiin.” Sahut Reno lagi.
__ADS_1
“Kak, Pliiiss.” Fania masih memohon.
“Iya sih hon, jangan kejam – kejam banget. Siapa tau Fania mau pamitan gitu sama pacarnya di kantor.” Ucap Ara sambil menggoda.
Andrew langsung menoleh pada Fania. “Punya pacar?”. Tanya Andrew penasaran.
“Dih apaan sih kak Ara. Sok you know banget. Mending buru – buru balik ke London gih, lama – lama disini jadi lambe turah.” Celetuk Fania.
Ara dan Reno terkekeh.
“Apa itu lambe turah?. So weird. Your boyfriend name?.” Tanya Andrew.
“Ini lagi. Orang bule ga usah mau tau soal dunia pernetizenan di sini. Keder ntar.” Jawab Fania asal.
Lagi – lagi Reno dan Ara terkekeh mendengar Fania berbicara. “Jawab dulu tuh pertanyaan Andrew. Udah punya pacar belum?.” Ara menggoda Fania lagi.
“Hem. Jawab.” Tanya Andrew pada Fania sambil memainkan alisnya. “Pasti belum.”
“Ih sok teu.” Jawab Fania.
“Jadinya punya pacar beneran?.” Andrew masih penasaran.
“Mau tau aja apa mau tau banget?.” Tanya Fania sambil menggoda Andrew.
“Pasti belum pacar. Yakin gue.” Ucap Andrew pede.
“Dih. Kayak tau gue aja lo.” Balas Fania.
“Tau lah.” Sahut Andrew.
“Taunya?.” Tanya Fania. Sementara Ara dan Reno hanya mendengarkan perdebatan unfaedah dua orang dibelakang.
‘Berdebat aja ntar juga saling jatuh cinta.’ Batin Ara.
“Pasti tipe lo yang sekeren gue, Fan. Sementara gue ini one and only.” Jawab Andrew yang lagi – lagi pede.
“Dih pede amat jadi orang.” Balas Fania.
“Awas loh ya nanti kalo jatuh cinta sama gue?!.” Ucap Andrew yang membuat hati Fania berdebar.
‘Udah’. Batin Fania
__ADS_1
**
To be continue...