
Selamat membaca ..
“Puas?!.” Ucap Fania menatap Andrew dengan sinis dengan nada bicara yang juga sinis setelah meletakkan gelas dengan kasar di atas nakas samping tempat tidur dimana juga sudah tersedia teko air transparan yang tertutup, yang isinya sudah berkurang.
Andrew tak bersuara, hanya menggeser sedikit tubuhnya karena Fania nampak akan kembali ketempatnya tadi diatas ranjang.
Memasukkan sisa pil dalam lempengan ke dalam laci nakas, dan berjalan ke balkon untuk mencoba menetralkan kembali emosinya. Meraih rokoknya dan menyalakan salah satu batangan nikotin tersebut sembari berdiri menatap langit.
Entah apa yang ada dipikirannya soal kehamilan Fania yang tidak ingin ia segerakan. Laki – laki itu nampak menyimpan alasannya sendiri. Meski ia tau Fania akan terluka dengan keputusannya ini.
Larut dalam pikirannya sendiri, menatap langit malam sambil menyesap rokoknya. Berkali – kali menghempaskan nafas kasar.
Sedikit menoleh karena ia seperti mendengar suara dari dari dalam kamar. Memastikan dengan telinganya.
Andrew penasaran, berjalan masuk kembali ke dalam kamar masih memegang rokoknya.
Melihat Fania yang sedang berdiri bersandar pada nakas disamping tempat tidur dengan segelas air ditangannya meski cahaya kamar temaram. “Heart?.” Andrew menyebut Fania kembali dengan panggilan sayangnya. Sepertinya Fania menggengam sesuatu di tangan kirinya selain gelas berisi air minum ditangan kanannya.
Andrew mematikan rokoknya.
“Kamu sedang apa?.” Tanya Andrew yang melihat Fania membuka genggamannya tangannya. Berjalan mendekat dari arah balkon untuk menghampiri Fania.
“Minum obat! Biar ga usah punya anak sekalian!.”
**
“Hon?.” Ara dan Reno sudah berada di kamar mereka. Masih tinggal di Kediaman Smith atas permintaan Mom Erna.
“Hem?. Kenapa sayang?. Ingin sesuatu?.” Tanya Reno dengan senyumnya. Bertanya mungkin ada makanan yang diinginkan istrinya sebagaimana ibu hamil yang suka ngidam pada umumnya.
“Bukannya harusnya aku yang tanya kamu lagi mau apa?. Kan kamu yang ngidam bukan aku.” Ara terkekeh.
“Oh iya ya.” Sahut Reno dengan mimik wajah yang dibuat kocak membuat Ara lagi – lagi terkekeh.
“Mual kamu selain pagi hari masih suka sering datang?.” Tanya Ara.
“Hanya kalau aku makan makanan tertentu.” Jawab Reno sambil merebahkan diri disamping Ara yang masih terduduk di ranjang.
“Berarti untuk sementara kamu jangan makan makanan yang semacam dengan English Breakfast dulu ya.” Ucap Ara.
“Iya, tadi juga sudah minta Vitamin dari Owen.” Sahut Reno sambil mengelus – elus perut Ara yang masih rata itu.
“Oh iya, Hon. Hari ini kan Andrew sama Fania bukannya ketemu Judith?.” Tanya Ara mengingat kalau Judith bilang dua orang adik iparnya itu ada janji untuk konsultasi dengan dokter tersebut.
Reno menatap Ara. “Ah iya, aku lupa tanya.”
Ara tampak berpikir.
“What is it, hem?. ( Ada apa, hem? ).” Tanya Reno yang menyadari kalau istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
“Aku teringat ucapannya Jeff.” Jawab Ara.
“About?. ( Soal? ).” Reno bertanya lagi.
“Andrew dan Fania.”
“Why?. ( Kenapa? ).”
“Jeff bilang tadi saat Fania datang ke Kantor dan selepas mereka pergi dari sana, mereka tampak baik – baik saja. Terus setelah kembali ke kantor wajah Andrew sedikit tegang.” Ara mengingat ucapan Jeff saat selesai makan malam tadi.
Reno kini yang tampak berpikir.
“Mereka pasti ke tempat Judith, kan?.” Ucap Ara lagi. “Berarti ada sesuatu terjadi dengan pemeriksaan mereka yang memicu diamnya Andrew dan Fania saat makan malam tadi.”
Reno masih tampak berpikir. “Benar juga.” Ucapnya. “Tapi Mom dan Dad benar, kita jangan dahulu mencoba mencampuri urusan mereka berdua, saat ini. Sampai keduanya atau salah satunya ada yang terbuka pada kita. Mereka sudah menikah, aku juga ga berhak mencampuri urusan mereka kalau tidak diminta. Meskipun aku sangat sayang pada Little F.”
Reno mencoba berpikir untuk bertindak bijak. Meski ia sedikit mulai gundah takut ada masalah dalam pernikahan Andrew dan Little F nya.
“Ya sudah. Mudah – mudahan besok mereka mau sharing ke kita.” Ucap Ara, ia kemudian perlahan bangkit dari ranjang. “Aku ke bawah dulu ya, tiba – tiba ingin makan Cheese Cake yang tadi kita beli.”
Reno bergegas bangun juga. “Kamu disini aja. Biar aku yang ambilkan.”
Ara tersenyum. “Cie, suami siaga.”
Reno terkekeh. “Mau berapa potong?.” Tanyanya pada Ara.
__ADS_1
“Aku ikut ke bawah ah.” Sahut Ara. “Masa mentang – mentang hamil ga boleh gerak.”
“Iya boleh, tapi kan Judith bilang di tiga bulan pertama harus lebih hati – hati.”
“Iya sayang, aku inget.” Ucap Ara mesra.
Pasangan mesra itu pun bergegas keluar dari kamar mereka dengan saling merangkul.
“Lepas!!.” Pekikan suara yang mereka amat kenal mengejutkan Reno dan Ara.
***
“Puas?!.” Fania beringsut kembali ke atas ranjang. Merebahkan dirinya setelah meminum pil KB yang disuruh Andrew dengan paksaan pun yang ia minum dengan amat sangat terpaksa.
Marah, sedih, kesal dan kecewa bercampur jadi satu dihatinya. Menciptakan kesesakan yang membuat matanya berair.
Bulir air mata keluar dengan intens dari dua pelupuknya. Berbaring menyamping tak ingin melihat wajah Andrew. Mencoba memejamkan mata, menangis dalam diam. Meski ia tau Andrew masih berdiri didekatnya. Dan tak lama
Fania mendengar suara laci nakas yang ditarik lalu ditutup kembali.
Tak lama juga setelah itu ia merasakan Andrew tak lagi berada didekatnya. Tidak juga melangkah menuju ruang diatas ranjang disampingnya.
Fania masih memejamkan matanya. ‘Sumpah Nald, kamu kejam banget.’ Batinnya bersedu sedan bersamaan dengan air matanya yang masih tumpah perlahan.
Fania membuka matanya. Sulit sekali untuk bisa tertidur. Merasakan Andrew sudah tak lagi berada di dekatnya, ia mendudukkan dirinya sambil bersandar dikepala ranjang. Menghela nafasnya berat, sangat berat rasanya.
Berbagai macam spekulasi muncul diotaknya. Kenapa Donaldnya tak ingin untuk memiliki seorang anak saat ini.
‘Apa sudah ada orang lain dihati kamu, Nald?.’ Batin Fania berprasangka.
Rasanya Fania kini sedang tak mampu berpikir berat. Kepala dan hatinya kalut.
‘Fine, if that what you want. ( Baiklah kalau memang itu yang kamu mau ).’ Batin Fania bermonolog lagi.
Fania melirik nakas disampingnya, membuka laci nakas tersebut dan menemukan pil yang amat ia benci saat ini. Meraih dan mengeluarkan sisa pil dalam lempengan yang masih tersisa banyak dari dalam nakas dan menghempaskan bungkus lempengan yang sudah kosong ke bawah dekat kakinya dengan sembarang.
Fania menuangkan segelas air ke dalam gelas. Bersandar pada nakas tersebut.
“Ga mau punya anak, kan?.” Fania menggerutu kesal campur sedih. Ia mengeluarkan semua sisa pil yang ada dari lempengan, menaruhnya diatas telapak tangan. ‘Gue kabulkan! Tuan Andrew Adjieran Smith!.’ Batin Fania.
Otak si Kajol sudah gelap. Terlalu marah, terlalu kesal dan terlalu sedih dan kecewa pada Donaldnya. Menarik nafas sambil memejamkan mata dengan menggenggam erat pil – pil tersebut. Lalu menatap nanar pada butiran pil yang sudah ada dalam genggamannya.
Fania berjalan menjauhi nakas. “Minum obat! Biar ga usah punya anak sekalian!.”
“Apa?.” Ucapan Fania sedikit kurang jelas di telinga Andrew. “Kamu sedang apa, Heart?.”
Krek..
Kaki Andrew seperti menginjak sesuatu, membuatnya menoleh kebawah kakinya saat dia sedang memanggil dan bertanya pada Fania.
Mata Andrew sontak membulat sempurna saat ia menyingkirkan kakinya mengambil cepat sesuatu yang ia injak itu.
Meski cahaya kamar temaram tapi ia tau persis apa itu. Lempengan pembungkus pil kontrasepsi yang isinya sudah tidak ada sama sekali. Yang tadi ia sudah letakkan dalam laci nakas setelah membuat Fania meminum salah satunya.
“Heart!.” Andrew berlari cepat ke arah Fania. Hendak menepiskan tangan Fania yang ia lihat sedang menggengam sesuatu tadi.
Terlambat!
Sepertinya Andrew sedikit terlambat karena Fania sudah tampak menengadahkan kepalanya untuk menenggak sesuatu.
Andrew meraih tubuh Fania dengan sedikit kasar. Genggaman tangan Fania sudah terbuka keduanya hingga gelas yang ia pegang pun terlepas dan terjatuh ke lantai hingga pecah. Beberapa pil pun juga berhambur ke lantai yang
nampaknya tidak sempat tertelan oleh Fania, karena Andrew yang secara tiba – tiba menarik tubuhnya.
Fania terbatuk. Ada beberapa pil mungkin yang tersangkut di tenggorokannya. Mencoba menelan pil – pil yang tersangkut itu dengan kasar agar segera masuk ke kerongkongannya yang masih dirasa agak basah, karena gelas
berisi air yang ia pegang sudah lepas dari genggamannya.
“Muntahkan, Heart!.” Andrew mengguncang tubuh Fania sambil berbicara histeris. Hendak mengajak istrinya itu ke kamar mandi untuk segera memuntahkan kembali pil – pil KB yang sudah ditelannya.
Wajah Andrew nampak panik. “Lepas!.” Fania melepaskan dirinya dengan kasar dari pegangan Andrew.
“Apa yang kamu lakukan, Heart?.” Andrew kembali merengkuh kedua lengan Fania sambil menatap dengan khawatir. Tak menyangka Fania nya sampai menelan hampir semua pil kontrasepsi secara bersamaan.
“Aku melakukan apa yang kamu inginkan!.” Fania kembali melepaskan dirinya dari rengkuhan tangan Andrew dengan kasar.
“Heart, are you crazy?!. ( Apa kamu sudah gila?! ).” Pekik Andrew. “Muntahkan!.” Andrew menyeret Fania menuju toilet di kamar mereka.
__ADS_1
Tapi lagi – lagi Fania menepiskan tangan Andrew dengan kasar. Berbalik dan berjalan menjauhi Andrew.
“Heart!.” Andrew mencekal lagi.
“Mau kamu apa Hah?!. Ga mau punya anak, Kan?!. Aku kabulkan!. Kalo Cuma minum satu butir nanggung!.” Fania berkata dengan kencang. “Tadi kamu paksa aku minum, Kan?!. Sekarang kamu suruh muntahkan!.”
“Heart, ayo kita ke dokter, hem?. Yang kamu lakukan itu berbahaya.” Ajak Andrew lembut, ia benar – benar mengkhawatirkan Fania nya saat ini.
“I don’t care!. ( Aku ga perduli! ).” Sahut Fania ketus, mendorong Andrew pelan, berjalan ke arah pintu kamar. Andrew mengejarnya.
“Heart, aku punya alasan. Tapi aku mohon sekarang kita harus ke dokter.” Andrew menghalangi Fania membelakangi pintu. Dia mengiba pada Fania nya.
Meraih cepat coat Fania yang tergantung di gantungan kayu.
“Minggir!.” Fania berkata datar.
Andrew menyampirkan coat untuk Fania di lengannya lalu membukakan pintu kamar. Ia sungguh sangat panik dan khawatir saat ini pada Fania nya.
“Ayo.” Ajak Andrew lembut.
“Lepas!.” Fania tak ingin disentuh Andrew. Ia setengah berteriak.
“Heart ....” Andrew mengiba, mencoba meraih lagi tangan Fania dengan lembut.
“LEPAS AKU BILANG!.”
“Aku salah, iya aku salah. Sekarang kita ke dokter dulu, ya?.”
“SANA! GA USAH SOK SOK PERDULI!.” Fania mendorong Andrew, hampir menangis karena emosi.
“Hey, hey, Little F, kenapa?.” Reno datang setengah berlari diikuti Ara. “Ada apa ini Andrew?.”
“Gue jelaskan nanti R, gue harus bawa dia ke dokter.” Sahut Andrew. “Heart, ayo, aku mohon?.”
Ara tak ikut bicara, terlalu khawatir melihat Fania dan Andrew. Terlebih lagi Fania yang nampak terbalut emosi. Ia mendekati Fania.
“Little F, apapun alasannya, kalau Andrew minta lo untuk ke Dokter, lo harus ke dokter. Ya?.” Reno khawatir dengan Fania.
Pasalnya pasti ada hal yang darurat kalau Andrew sudah mengajak adik angkat kesayangannya itu untuk segera ke dokter.
“Kamu harus segera ke dokter, Heart. Setelah dari dokter, kalau kamu mau mencaci maki aku, silahkan.” Andrew terus mengiba, meraih pinggang Fania untuk mengajaknya jalan bersama.
“Jangan Sentuh!.” Hardik Fania.
Reno dan Ara sangat terkejut dengan sikap Fania pada Andrew.
“Heart....” Andrew masih berusaha.
“AKU BILANG JANGAN SENTUH!.” Lagi Fania berteriak. Seketika para penghuni rumah, terutama yang berada dalam kamar di satu lantai tempat ketegangan itu berlangsung berhambur keluar kamar.
“Sweety, tenang sayang.” Ara mencoba menenangkan. “Kita ke dokter, Kak Ara sama Kak Reno ikut juga, oke?.”
Meski tak tahu alasan mengapa Andrew ingin membawa Fania ke dokter saat ini juga, Ara tetap membujuk Fania untuk pergi. Dia pun khawatir sama seperti Reno.
Sementara dua J, berikut Michelle datang mendekat namun tak bicara, hanya saling tatap dan menggeleng. Entah apa yang sedang terjadi. Mereka mendengar Fania berteriak dengan amat kencang. Tiga orang itu benar - benar terkejut.
Fania nampak kacau dengan air mata yang sudah turun di pipinya. Memandang Andrew dengan sangat sinis. Dan mereka mendengar teriakan Fania yang menggelegar.
“Aku ga mau ke dokter.” Ucap Fania yang mulai terisak.
“Gue ikut, Ara ikut, oke?. Yang jelas gue ga mau lo kenapa – kenapa.” Reno kembali berbicara. Dua J dan Michelle semakin bingung.
‘Fania kenapa?. Ke Dokter?.’ Batin dua J dan Michelle.
“Gue ga mau Kak.” Ucap Fania lirih.
“Heart, please?. ( Sayang, aku mohon? ). Aku salah. Aku minta maaf.” Andrew terus saja mengiba.
Yang lain makin bingung melihat Andrew yang memohon pada Fania.
“Ya udah, kalau gitu kamu mau apa sekarang Sweety, bilang sama Kak Ara. Tapi kita tetap harus ke dokter ya?. Kami semua khawatir.” Sementara Ara mencoba membujuk Fania. Reno menyuruh John untuk meminta Dokter pribadi keluarga mereka segera datang.
“John, hubungi Owen. Suruh dia datang sekarang.” Ucap Reno dan John mengangguk. Menyegerakan dirinya masuk ke kamar dan menelpon Dokter Owen agar segera datang. Seperti yang Reno minta. "Ara benar, lo mau apa?. Bilang." Kembali berbicara pada Fania.
“Gue mau dia jauh – jauh dari gue!.”
**
__ADS_1
To be continue...
🌈 HAPPY WEEKEND READERS 🌈