BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 210


__ADS_3

Selamat membaca ....


- - -


- - -


- - -


‘Ah, udah pasti ini sih. Yakin gue!.’ Fania tersenyum dengan dugaannya. Kembali ke meja makan setelah menginstruksikan pada salah seorang pelayan di dapur untuk memasak dan menyajikan mpe – mpe yang diminta oleh Reno.


Sebelum kembali ke ruang makan di halaman belakang, Fania terlebih dulu bergegas untuk mengambil sesuatu di kamarnya.


“Sorry for bothering you, Little F ( Maaf udah ngerepotin lo, Little F ). Ganggu lo sarapan.” Ucap Reno saat Fania sudah kembali ke tengah – tengah mereka.


“Santai Kak.” Sahut Fania yang senyum – senyum sendiri. 'Ntar gue suruh maid beli buah - buahan yang asyem.' Batinnya.


“Kenapa lo senyum – senyum gitu?.” Tanya Reno yang sadar kalo Fania sedang senyam senyum ga jelas.


“Ga apa – apa. Gue lagi seneng aja!.” Jawab Fania sumringah.


“Seneng karena?.” Tanya Reno heran, mewakili juga keheranan anggota keluarga yang lain.


"Iya dateng - dateng langsung senyum - senyum gitu." Timpal Ara. "Ada apakah gerangan?."


“Ada deh. Tuh mpe – mpe lo dateng Kak Ren.” Jawab Fania sembari menunjuk Theresa yang membawakan mpe – mpe yang sudah matang berikut kuahnya.


Wangi mpe – mpe yang masih panas serta bau kuah asam menyeruak tajam di hidung Reno dan mereka semua.


“Hati – hati tuh. Pedes sama asem loh Kak. Langganan gue soalnya jadi gue tau itu kuahnya gimana rasanya.” Fania memperingatkan Reno. "Seger yang jelas kalo buat gue sih."


“Let me try ( Sini gue coba ).” Andrew mengambil satu sendok dari kuah mpe – mpe yang terbayang asamnya dari aroma yang menyeruak. “Uhuk... Uhuk....”


“Nih minum dulu.” Fania menyodorkan air minum untuk Andrew dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya mengusap – usap punggung Andrew. “Kan aku udah bilang itu asam dan pedas. Kamu ga akan kuat.”


Dilan kali ah


“Lo yakin mau makan ini R?.” Ucap Andrew setelah mencoba kuah dari mpe – mpe tersebut. "Sangat asam dan Pedas!." Andrew memperingatkan. Meski ia sendiri sebenarnya bisa memakan makanan yang agak pedas. Tapi kuah mpe - mpe yang ini sangat pedas dan asam menurutnya.


“Iya Ren, meskipun kamu ga punya gangguan lambung. Tapi ini kuahnya pasti asam sekali meskipun kayaknya segar sih.” Ucap Mom Erna. “Masih ada Fania?.”


“Ada Mom, banyak lumayan banyak kayaknya. Cukup sih buat kita – kita.” Jawab Fania.


“Nanti siang siapkan ini lagi ya?!.” Sahut Mom.


“Sip. Mom.” Fania mengangkat satu jempolnya. “Bisa lo makan itu Kak?.” Tanyanya saat melihat Reno sudah mulai mengambil beberapa potong mpe – mpe beserta menyiram kan kuah diatasnya.


Reno mengangguk. “Bisa!.” Tampak tak sabar untuk segera memakan mpe - mpe yang harumnya membuat dia seketika benar - benar ngiler. 'Gue abisin juga bisa!.' Batinnya.

__ADS_1


“Are you sure? ( Lo yakin? ).” Andrew tampak ngeri melihat Reno memakan itu mpe – mpe yang kuahnya terasa tajam saat dia mencobanya tadi.


“Very sure ( Sangat yakin ).” Sahut Reno. “Enak ini, Ndrew. Banget!.” Tampak lahap dan amat menyukai mpe - mpe yang sudah masuk kemulutnya.


Membuat Jeff dan John akhirnya ikut mengambil mpe – mpe tersebut. “Not bad ( Lumayan ).” Ucap mereka berdua sambil manggut - manggut. "Seger sih memang." Ucap John.


"Lumayan pedas juga." Sahut Jeff. " But taste good ( Tapi enak )."


“Be careful R ( Hati – hati R ).” Ucap Dad kala melihat Reno mengambil lagi mpe – mpe beserta kuah lebih banyak.


“It’s okay Dad ( Ga apa – apa Dad ).” Sahut Reno. Hingga Ara pun akhirnya tergoda untuk mencoba karena melihat sang suami yang lahap memakan mpe – mpe tersebut. Bahkan air liurnya juga rasa hampir menetes.


“Iya ih, seger ternyata Fania. Bener kata kamu.” Ucap Ara senang. “Kamu ga mau coba Chel?.” Tanya Ara pada Michelle dan gadis itu pun juga merasa tergoda untuk mencoba.


Hanya Dad yang tak berani mencoba karena ia punya gangguan lambung. Sementara Mom memilih untuk menyantapnya siang nanti.


Fania tersenyum melihat Reno yang lahap makan mpe – mpe tersebut. “ Ntar sore gue bikinin rujak ya?.”


“Bener tuh, seger kayaknya!.” Reno menyambar cepat ucapan Fania. Matanya berbinar. “Dari tadi gue mau bilang itu makanan Cuma susah sebutnya. Enak itu kayaknya buah – buahan pakai saus kacang dan red sugar plus chili, right? ( gula merah dan cabe, kan? ).”


“Tapi lo juga harus tetap hubungi Owen, R. Check kondisi lo!. Muka lo sedikit pucat.” Ucap Andrew.


“Ga perlu!.” Sambar Fania santai.


Membuat keluarga yang lain menoleh padanya. Heran.


“Fania is right. I’m okay ( Fania benar. Aku baik – baik saja ).” Sahut Reno yang merasa lebih baik setelah memakan makanan dengan kuah asam dan pedas itu.


“Kak Ara tuh yang harus diperiksa!.” Celetuk Fania yang lagi – lagi membuat yang lain gagal paham maksud si Kajol termasuk Reno.


“Why? ( Kenapa? ).” Tanya Reno heran mendengar Fania mengatakan kalau Ara yang harus diperiksa.


Fania merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu yang sebelumnya sempat dia ambil dari kamar. “Nih Kak Ara.” Fania menyodorkan sebuah kotak bertuliskan Test pack pada Ara. Ara pun mengambilnya.


“Test pack?.” Tanya Ara dan Fania memainkan alisnya sambil tersenyum simpul. “Maksud kamu, aku....?.”


“Maksud aku,  Kak Ara lagi isi, yang ngidam suaminya tuh!.” Fania nyengir sambil menatap Reno yang terkejut dengan ucapannya. Termasuk para anggota keluarga yang lain. “Udah coba tes dulu pake itu. Nanti baru ke Dokter.”


“I’m going to be a Grandfather? ( Aku akan menjadi seorang Kakek? ).” Wajah Dad sumringah begitupun Mom.


Reno menangkup wajah Ara dengan sumringah. “Are you pregnant, Babe?! ( Kamu hamil, Sayang?! ).”


“I ... I don’t know, Hon ( A .... Aku ga tau, Sayang ).” Ara juga terkejut dengan prediksi Fania, hingga terbata.


“Kamu yakin soal itu, Heart?.” Andrew bertanya pada Fania, takut istrinya itu asal ngomong. Begitupun anggota keluarga yang lain.


“Yakin!. Tarohan ayo!.” Tantang Fania yang yakin seratus persen kalau Ara sedang isi dan Reni yang kebagian ngidam nya.

__ADS_1


“Mom setuju sama Fania. Lebih baik kamu langsung periksa pakai Test pack yang diberikan Fania.” Ucap Mom yang berbinar, mulai paham kalau mungkin Fania ada benarnya, kalau melihat kondisi Reno yang kayaknya lagi ngidam itu.


Ara mengangguk antusias. “Eh iya, kapan kamu belinya ini Test pack, Sweety?.” Tanya Ara pada Fania.


“Itu punya aku Kak.” Jawab Fania dan kini semua mata mengarah pada istrinya Andrew itu. Terlebih Andrew yang langsung menghadapkan wajah si Kajol padanya.


“Are you? ( Apa kamu? ) ....” Tanya Andrew sembari menangkup wajah Fania.


Fania tersenyum. “Aku pikir. Tadinya ....” Ucapnya pelan. Sedikit ada kecewa. “ Tapi belum dikasih ternyata.”


Andrew terenyuh karena Fania langsung menundukkan wajahnya. Begitupun anggota keluarga yang lain.


“Maaf ....” Ucap Fania lirih.


Andrew meraih dagu Fania agar istrinya itu kembali menatapnya. “Hey. It’s okay, Heart ( Hey. Ga apa – apa sayang ).” Membawa wajah Fania menempel didadanya. “Aku ga memaksa kamu untuk cepat hamil, kan?.”


“Iya, aku Cuma terlalu berharap. Tapi ternyata hanya telat haid biasa.” Ucap Fania pelan.


“Santai Jol, tuh Kakak lo aja tiga tahun nunggunya.” Sahut Jeff.


"Iya sih Fania, lo sama Andrew masih terhitung Pengantin Baru. Masih banyak waktu." John menambahkan.


“Jeff and John were right ( Jeff dan John memang benar ). Kamu jangan terbebani akan hal itu, Heart. Hem?.” Ucap Andrew lembut. Diiyakan oleh yang lainnya juga. Fania kemudian mengangguk dan tersenyum kembali.


“Very sorry, Little F ( Maaf banget ya Little F ).” Reno tak tega.


“Apaan sih lo Kak?. Gue seneng lah kalo lo sama Kak Ara bisa punya momongan. Justru gue amat bahagia!.” Ucap Fania sumringah.


“Terima kasih ya, Sweety.” Ucap Ara tulus pada Fania.


“Sama – sama Kak Ara.” Sahut Fania. “Toh kan nanti gue bisa belajar ngurus bayi kalian. Iya kan, Nald?.”


Andrew mengangguk sembari tersenyum dan membelai lembut kepala Fania. "Kalau Ara benar hamil, anak mereka kan anak kita juga, Heart. Right?." Ucap Andrew pada Fania lalu menoleh pada Reno dan Ara.


"Andrew was right, Little F ( Andrew benar Little F )." Sahut Reno.


“Ya udah, mending coba cek pake itu Test pack dulu Kak.” Ucap Fania. “Dah ga sabar nih gue!.”


Ara pun mengangguk. “Aku tes sekarang aja ya?.” Ia beranjak dengan diikuti Reno yang antusias dengan kebahagiaan untuk sebuah asa dalam hatinya.


Kalau memang benar prediksi adik angkat kesayangannya itu. Ia dan Ara akan sangat berbahagia dengan kehadiran si jabang bayi yang mereka sudah nantikan selama tiga tahun itu.


Anggota keluarga yang lain menunggu dengan perasaan yang berdebar - debar, teriring doa kalau prediksi Fania soal Ara yang sedang mengandung itu benar.


***


To be continue .....

__ADS_1


__ADS_2