BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 211


__ADS_3

Selamat membaca.....



Ara dan Reno sudah kembali ke tengah – tengah keluarga mereka yang menanti hasil dari Test Pack yang di berikan Fania tadi.


“Gimana Kak?.” Tanya Fania yang excited hingga berdiri dari duduknya.


Michelle bahkan langsung beranjak dari duduknya mendekati Ara dan Reno saking excited.


“Jangan bilang prediksi gue salah ya?.” Tanya Fania deg – deg an, karena Ara dan Reno belum menjawab, malah saling menatap satu sama lain.


Ara menatap satu persatu keluarganya. Wanita itu tersenyum. “Mudah – mudahan aku bisa menjaganya dengan baik.” Ucap Ara yang matanya berkaca – kaca begitu juga Reno, sembari mengelus perutnya.


“Jadi?!....” Pekik Fania. “Bener berarti tebakan gue?!.” Sumringah.


Reno dan Ara mengangguk antusias dengan binar bahagia dan senyuman di wajah keduanya.


“Alhamdulillah!.” Mereka semua bersyukur, ikut berbahagia dengan kebahagiaan Reno dan Ara yang akan di karuniai momongan.


Fania langsung berhambur pada Reno dan Ara. Andrew tersenyum sambil geleng – geleng melihat istrinya yang seakan paling bahagia. Ia ikut berdiri untuk memberikan selamat pada Reno dan Ara, juga anggota keluarga yang lain pun sontak ikutan berdiri.


“Selameet ... Kak Ara!!! Kak Reno!!!.” Fania memeluk keduanya dengan bahagia dan sumringah. Sampe jijingkrakan sendiri itu si Kajol saking senengnya. Sembari melihat dua garis yang terpampang di test pack. ‘Kapan ya giliran gue?.’ Batinnya penuh harap.


“Thank you, Little F.” Ucap Reno dengan senyuman lebar.


“Bener Khaaann prediksi gue?!.”


“Iya, emang hebat ini anaknya Papa Herman sama Mama Bela.” Sahut Ara dengan senyuman yang sama seperti Reno. “Thank you, Sweety.”


Ucapan bergulir pun datang dari semua anggota keluarga. Mereka semua bahagia, sangat. Bahkan para maid pun ikut memberi selamat atas kebahagiaan Reno dan Ara yang akan menjadi orang tua.


“Jago kan, aku?!.” Ucap Fania pada Andrew.


“Iya jago memang!.” Sahut Andrew sembari juga tersenyum. “Istrinya siapa?.”


Fania melipat kocak bibirnya. “Coba tadi kita taruhan. Menang kan aku!.”


“Memang kalau tadi jadi, mau taruhan apa kalau kamu menang, hem?.” Tanya Andrew sembari memeluk Fania dari belakang.


“Nih, abisin ini dodol duren!.” Ucap Fania seraya mengambil dodol yang tadi Reno


ambil lagi namun belum habis.


“Hah, selamat .... untung ga jadi taruhan!.” Andrew mengelus dadanya, membuat yang lain terkekeh geli.


Tak terbayang kalau andainya Fania dan Andrew taruhan dan si Kajol yang menang. Bisa – bisa si Andrew muntah ga kelar – kelar ngalahin orang yang lagi hamil.


“Ya udah kita terusin lagi ini sarapan.” Ucap Jeff setelah semua orang sudah selesai memberikan selamat pada Reno dan Ara, dan diiyakan oleh semua sembari kembali duduk ke tempat masing –masing.


Sarapan pagi ini terasa begitu menyenangkan karena kabar bahagia dari Reno dan Ara. Terlebih lagi untuk pasangan yang dalam beberapa bulan kedepan akan menjadi orang tua itu.


“Jangan lupa kasih tau mamanya Kak Ara tuh Kak. Pasti bahagia deh denger bakalan jadi nenek.” Fania mengingatkan. Karena Ara masih memiliki ibu kandung yang tinggal di Indonesia.


“Iya, Sweety pasti dikasih tau lah.” Sahut Ara. “Nanti aku minta mama kesini ya, Hon?.” Bertanya pada Reno. Dan suaminya mengangguk tanda setuju.


“Mungkin sekarang Mama Anye mau tinggal sama kita, Babe.” Ucap Reno.


“Iya nanti aku coba bujuk lagi mama untuk tinggal sama kita.” Jawab Ara.


“Bener tuh Kak Ara, waktu nikahan aku ga sempet ngobrol lama – lama sama Tante Anye.” Fania menimpali.


“Ya udah ngobrolnya nanti dilanjutin selepas sarapan.” Mom Erna bersuara. “Ara, makan yang banyak biar sehat itu cucu mom yang diperut kamu.”


“Iya, Mom.” Sahut Ara.


“Makan makanan bergizi, Mom. Makan banyak kalo ga bergizi, obesitas yang ada itu ibu hamil.” Celetuk John yang membuat lainnya terkekeh.

__ADS_1


**


“Finally. ( Akhirnya ). Jadi juga itu benih calon Reno Junior.” Ucap Andrew kala malam itu ia bersama Reno dan dua J duduk bersama menikmati batangan nikotin di halaman belakang.


Sementara para wanita berada di ruang santai beserta Dad selepas makan malam. Masih excited dengan kehamilan Ara yang membuat mereka tak bosan untuk membahasnya.


“Yah, Finally. I have a perfect happiness now. ( Yah, akhirnya. Kebahagiaan gue sempurna sekarang ).” Ucap Reno dengan senyuman. “Little F udah sama – sama kita lagi, kehamilan Ara, sayang hanya Bunda yang ga ada disini.”


Andrew dan dua J menatap laki – laki yang seketika tertunduk itu. Memahami dengan sangat ada sedih yang tersirat di sela kebahagiaannya.


“She’ll be happy even she’s not here anymore. ( Bunda akan ikut bahagia, meski dia udah ga disini lagi ).” Ucap John.


“I know. ( Gue tau ).” Sahut Reno. “Hanya merasa ada yang kurang aja. Dulu dia ingin banget bisa ketemu Little F lagi. Tapi ga keburu....”


“Leave it R. ( Udahlah R ).” Andrew menepuk pelan bahu Reno. “Lebih baik lo fokus sama kehamilan Ara.”


“Bener tuh yang dibilang Andrew, R. Better you focus to Ara’s pregnancy. ( Lebih baik lo fokus aja sama kehamilan Ara ).” Timpal Jeff.


“Ya you guys are right. ( Ya lo semua benar ).” Sahut Reno. “Little F udah ketemu dan sekarang Ara hamil, bahagia gue benar – benar sempurna.”


“Memang harus nunggu si Kajol ketemu dulu kayaknya itu baru akhirnya lo sama Ara bakalan jadi orang tua.” Celetuk John.


“You god damn right, John. ( Bener juga lo John ).” Jeff menimpali. Keempatnya pun terkekeh.


“Yuk ah.” Andrew mengajak Reno dan dua J masuk saat sudah menyelesaikan satu batang rokok. Ketiganya pun mengangguk dan ikut masuk bersama Andrew.


**


“Boy or Girl ya calon ponakan aku ini?.” Ucap Michelle saat ia beserta orang tua dan dua kakak iparnya berkumpul di ruang santai keluarga.


“Laki – laki atau perempuan sama saja, Chel.” Sahut Ara. “Ini karunia untuk Kak Ara dan Kak Reno. Dan kami sudah cukup bersyukur untuk kehadiran dia saat ini.”


“Benar yang dibilang kakak ipar kamu itu.” Reno sudah kembali bersama Andrew dan dua J ke ruang santai tersebut.


“Iya, iya ....” Michelle tak mau berdebat. Dia juga hanya sekedar tanya. Karena biasanya keluarga – keluarga dari kalangan mereka lebih menginginkan anak laki – laki yang jadi anak pertama agar bisa menjadi pewaris bisnis keluarga.


“Alright then, all of us better take a rest now. ( Baiklah kalau begitu, kita semua sebaiknya istirahat sekarang ).” Andrew berbicara seraya menarik tangan Fania.


Andrew mengangguk. “Lo kalau masih ga enak badan lebih baik ga usah ke kantor dulu. I’ll help. ( Gue akan bantu ).”


“Nah bener, mending lo istirahat. Toh ada Nino juga, dan gue masih seminggu lagi disini.” Sahut John.


“Okay.” Ucap Reno. “Besok juga gue sama Ara udah janjian sama istrinya Owen untuk cek kandungan Ara lebih detail.”


“Ya udah kalau begitu, see you guys tomorrow. ( Ketemu lagi besok ).” Jeff bergegas ke kamarnya untuk beristirahat, karena mulai besok ia sudah kembali berkutat dengan pekerjaan. Begitu juga para lelaki muda di Keluarga Smith.


Andrew dan Fania juga berpamitan untuk istirahat. “Make one more grand child for me and your mom. ( Buatkan satu cucu lagi untukku dan mom mu ).” Goda Dad pada Andrew.


“Focus to R and Ara’s baby first. ( Fokus ke bayinya R dan Ara dulu ).” Ucap Andrew datar, Fania menoleh sedikit karena merasa kalau kalimat suaminya itu menyiratkan kalau laki – laki itu tak berkeinginan untuk memiliki anak dengan segera.


Namun Fania tidak ingin menerka - nerka hal yang kurang baik. Mungkin hanya perasaannya saja. Begitu pikir si Kajol.


“Kalau Kak Fania hamilnya bareng sama Kak Ara kan seru!. Bukannya waktu itu ingin hamil bareng kan?.” Timpal Michelle.


Fania hendak menjawab tapi keburu Andrew berbicara.


“Udah, gue ngantuk!.” Andrew mulai berjalan menuju kamarnya dan Fania. Pada akhirnya si Kajol pun mengikuti Donald yang sudah berjalan menuju kamar mereka.


***


“Nald ....” Panggil Fania kala dia dan Andrew sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.


“Heeeemmm?.” Andrew menyahut dengan Hem – man – nya.


“Aku jadi kuliah?.” Tanya Fania kala mereka berdua sudah rebahan di ranjang.


“Harus jadi.” Jawab Andrew.

__ADS_1


“Jadinya aku kuliah dimana?.” Fania bertanya lagi.


“Terserah kamu sayang.” Andrew menopangkan kepala dengan satu tangannya sambil membelai wajah Fania.


“Kalo ga jadi di kampusnya Michelle, boleh?.”


“Memang kenapa kalau di kampusnya Michelle?. Salah satu kampus favorit itu.”


“Iya tau. Tapi mahal banget kan?. Kampus yang biasa aja sih.”


Andrew terdiam sejenak. “Di kampus tempat Michelle aja, biar aku lebih mudah mengawasi kamu sekaligus Michelle.”


“Aku bukan anak bayi yang perlu diawasin lah!.” Protes Fania. Andrew tersenyum.


“Memang kamu bukan bayi, tapi aku ga ingin ada yang macam – macam lagi sama kamu.”


“Ya kan, di kampusnya Michelle rata – rata kenal kamu. Tau siapa kamu. Pasti juga mereka tau aku ini istri kamu. Mana mungkin ada yang berani, Nald.”


“Who knows?. ( Siapa tau? ) ada yang mau coba – coba berurusan dengan aku. Mengganggu kamu lagi.”


Andrew berkata datar dan biasa, namun Fania tau maksud ucapan suaminya itu. Seketika dia ingat dua orang yang pernah mencoba memisahkannya dan Andrew, namun sepertinya nasib mereka menjadi menyedihkan.


‘Nick, Cindy....’ Seketika batin Fania teringat akan dua orang itu. Tak berani mengucapkan lagi dua nama itu di depan Andrew, mengingat betapa menyeramkan nya sang suami saat dia bertemu Cindy yang ditahan oleh Andrew.


Entah bagaimana lagi nasib Cindy saat ini, Fania prihatin namun tidak mungkin melawan Andrew.


Seketika pun ia ingat pada Nick. Kala itu hanya ada Cindy dan tak melihat laki – laki yang terobsesi pada dirinya itu. ‘Kalau si Cindy diperlakukan kek gitu ama Donald. Si Nick gimana nasibnya coba?.’ Batin Fania bergidik ngeri.


Menghela nafasnya pelan. Mencoba untuk tak mengingat sebagian rentetan kejadian yang menyeramkan baginya sejak di Thailand. Melirik Andrew yang sepertinya sudah mulai terlelap.


“Nald.” Mencoba memanggil.


“Hem?.” Suara Andrew terdengar pelan, sepertinya dia sudah mulai menuju alam mimpi.


“Udah tidur?.”


“Hem.”


“Kalau aku tunda dulu kuliah gimana?.” Fania tetap berbicara meski Andrew sudah nampak terlelap.


“Kenapa?.” Andrew menjawab namun matanya tetap terpejam.


“Aku mau kita program punya bayi ya?.” Meski mengantuk Andrew masih mendengar jelas ucapan Fania barusan. Ia membuka matanya dan menghembuskan nafas kasar.


“Kenapa?.” Tanya Fania yang mendengar Andrew menghembuskan nafasnya dengan kasar, sembari mendudukkan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang.


“Kamu fokus kuliah dulu.” Ucap Andrew.


“Tapi aku ingin punya bayi, Nald.” Ucap Fania sembari tersenyum. “Emang kamu ga mau apa punya anak dari aku?.”


“Mau. Tapi ga sekarang.” Ucapan Andrew sedikit mengejutkan Fania.


“Ga boleh tau menunda – nunda.” Fania masih coba membujuk.


“Bisa kita jangan bahas itu sekarang?.” Andrew mencoba mengakhiri pembicaraannya dengan Fania.


“Kamu kenapa sih, kayaknya ga kepingin amat kalau aku hamil cepet?. Nama ....”


“Aku belum siap!.” Andrew menyela. “Jelas?.”


Fania termangu.


“Aku mau tidur, besok aku harus ke kantor. Nitey Nite.”


Andrew kembali merebahkan tubuhnya, mematikan lampu tidur dan memejamkan mata tanpa memberi Fania kecupan selamat tidur.


Meninggalkan si Kajol dengan pertanyaan di kepala dan hatinya tentang Andrew yang ingin menunda kehadiran momongan di hidup mereka berdua.

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2