BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 216


__ADS_3

Selamat membaca ..




*


“Ya udah, kalau gitu kamu mau apa sekarang Sweety, bilang sama Kak Ara.” Sementara Ara sedang mencoba membujuk Fania. Reno menyuruh John untuk menelpon Dokter pribadi keluarga mereka segera datang.


“John, hubungi Owen. Suruh dia datang sekarang.” Ucap Reno dan John pun mengangguk. Menyegerakan dirinya masuk ke kamar dan menelpon Dokter Owen agar segera datang. Seperti yang Reno minta.


“Gue mau dia jauh – jauh dari gue!.” Ucapan Fania yang tertuju pada Andrew membuat hati laki – laki itu seketika mencelos. Fania tampak membencinya saat ini.


“Heart, don’t talk like that, I beg on you (Sayang, jangan bicara begitu, aku mohon sama kamu).” Andrew menarik pelan Fania yang sedang didekap Ara.


“Aku bilang jangan sentuh!.” Fania lagi menepis kasar Andrew, air matanya sudah turun dengan intens.


“Forgive me ... (Maafkan aku ....).” Andrew mendekap Fania erat.


Fania meronta. Andrew tak melepaskan.


“I’m sorry if I’m hurting your heart (Maafkan aku, jika aku sudah menyakiti hati kamu, sayang).” Andrew terus mendekap.


Fania terus terisak. Pada akhirnya membiarkan Andrew mendekapnya. Namun ia bergeming juga tak menjawab. Hanya terus terisak.


Dad dan Mom pun pada akhirnya juga muncul dengan wajah panik mereka. Merasakan ada hal yang tak beres pada Fania atau Andrew atau dengan mereka berdua, karena melihat menantu kedua mereka, sedang terisak dalam dekapan Andrew.


“Ada apa ini, Sayang?.” Mom Erna mendekati Fania yang terdengar sedang menangis dalam dekapan Andrew. Lalu membelai kepala Fania sambil menunggu jawaban, menatap Andrew.


Andrew hanya menjawab dengan kepalanya. Seperti mengkode Mom dengan bilang nanti saja. Mom pun paham. “Kita kembali ke kamar sambil menunggu Owen datang, ya?.” Kini Andrew membujuk Fania sembari perlahan mencoba membawa istrinya untuk berjalan ke dalam kamar.


Fania mendorong Andrew, ia berlari ke dalam kamarnya kembali, berlari kencang menuju kamar mandi.


Andrew sontak mengejar Fania dengan panik. Termasuk juga anggota keluarga yang lain yang juga nampak panik melihat Fania berlari seperti itu.


“Hoek ....”


Andrew semakin panik dan khawatir. Ia pun langsung menerobos ke dalam kamar mandi yang terbuka mengikuti Fania yang sedang muntah di closet.


Yang lain menunggu di luar pintu kamar mandi saat Andrew masuk sambil menutup pintu. Sedikit terkejut kala melihat ada pecahan gelas di lantai kamar. Namun tak ada yang saling bicara untuk saling bertanya. Hanya otak mereka yang sedang berspekulasi masing – masing.


Reno meminta Ara untuk memanggil pelayan agar membersihkan pecahan gelas tersebut. Terheran juga ada beberapa butiran seperti pil yang berceceran dilantai. Reno yang penasaran, membungkuk untuk mengambil satu dari beberapa pil tersebut.


“Apa itu R?.” Tanya Mom Erna, yang lain memperhatikan.


“Entahlah Mom, seperti pil.” Jawab Reno. Dan sepertinya mereka semua memiliki pemikiran yang sama.


Dad mengambil pil yang di pegang Reno. Memperhatikannya dengan seksama. Namun ia pun tak tau pil apa itu.


Mom yang kini meraih pil di tangan Dad. Sepertinya wanita tengah baya yang masih cantik itu mengenali pil tersebut. ‘Loh ini bukannya pil kontrasepsi?.’ Batin Mom Erna. ‘Oh Tuhan, apa Andrew memaksa Fania untuk


meminum ini?.’


Mom benar- benar khawatir, namun coba menyembunyikan hal yang ia terka itu dari para anggota keluarganya. Terlebih lagi dari Reno. Ia takut kalau Reno dan Andrew malah akan bersitegang nantinya.


***

__ADS_1


Andrew dengan sigap mengambil handuk kecil dari dalam laci wastafel lalu langsung menghampiri Fania, berjongkok disamping istrinya itu yang sedang muntah – muntah hebat.


“Heart ....” Andrew berkata lirih dengan wajah yang amat khawatir, sambil menyampirkan rambut Fania kebelakang dan memegangnya. Agar istrinya itu tidak terganggu dengan rambutnya sendiri.


Juga membantu memijat leher belakang Fania.


Fania segera menutup closet saat merasa sudah tidak ingin muntah lagi. Sedikit mengangkat badannya untuk menekan tombol penyiram disamping dudukan closet, namun Andrew segera mendahuluinya.


Fania seketika merasakan badannya lemas. Terduduk sambil bersandar di sisi bupet kecil samping closet, mencoba menetralkan nafasnya.


Andrew langsung membersihkan bibir Fania dengan handuk yang tadi sudah ia ambil dari laci dengan telaten.


Fania menepisnya tanpa menatap ataupun bicara pada Andrew.


Andrew meraih tengkuk Fania. Menempelkan dahinya pada dahi istrinya.


“I’m sorry. I’m so sorry. Forgive me, please ... (Aku minta maaf. Aku sungguh – sungguh minta maaf. Tolong ampuni aku).” Suara Andrew terdengar lirih. “Tunggu sebentar.” Ia beranjak.


Laki – laki itu berdiri menuju pintu kamar mandi, membukanya dan memanggil Reno.


“R, please get warm water for Fania. (R, Tolong ambilkan air hangat untuk Fania).” Disaat yang bersamaan terdengar Fania yang muntah - muntah lagi. “Where’s Owen For God Sake?!. (Dimana Owen, Demi Tuhan?).”


Andrew buru – buru kembali pada Fania.


*****


“R, please get warm water for Fania. (Tolong ambilkan air hangat untuk Fania).” Andrew yang meminta tolong pada Reno agar mengambilkan air minum hangat untuk Fania. Disaat yang bersamaan terdengar Fania yang muntah - muntah lagi. “Where’s Owen For God Sake?!. (Dimana Owen, Demi Tuhan?).” Andrew terdengar seperti menggerutu, lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Reno langsung meminta Theresa yang sudah siap berdiri di dekat mereka untuk mengambilkan air minum hangat yang diminta Andrew untuk Fania.


Theresa dengan sigap langsung berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum hangat.


Pandangannya terhenti pada lantai di depan nakas. Sedikit membungkuk untuk mengambil bungkusan yang nampak seperti bungkusan obat itu.


Memperhatikan baik – baik, namun tidak tau obat apa itu. Tapi otaknya langsung berpikir buruk melihat bungkus obat yang sudah kosong semua. Memasangkan pil yang ia pegang dengan bungkusannya.


Mengingat kalau beberapa pil terserak di lantai tadi.


‘Oh Tuhan, apa Andrew panik karena Fania menelan semua obat ini?.’ Batin Reno bermonolog, kini ia makin panik dan khawatir.


“Owen is here, Hon. Judith also come. (Owen sudah disini, Hon. Judith juga datang).” Suara Ara memalingkan Reno dari bungkusan obat yang ia temukan.


“Apa itu, Hon?.” Tanya Ara yang melihat Reno memegang sesuatu di tangannya.


“I’ll ask Owen. (Aku akan menanyakannya pada Owen).” Jawab Reno dan memasukkan bungkus obat tersebut ke dalam sakunya.


Ara mengangguk. Reno langsung berjalan ke arah kamar mandi di kamar Andrew dan Fania.


“Drew, Boleh gue masuk?.” Reno berbicara sambil mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


Terdengar sahutan suara Andrew yang mempersilahkan dari dalam kamar mandi. Reno langsung membuka pintu. Menghampiri Fania yang nampak baru selesai muntah itu dan bibirnya sedang diseka Andrew.


“Owen sudah datang.” Reno melihat Fania dengan khawatir sambil mendekatinya.


Sementara itu Mom menyilahkan Owen dan Judith untuk duduk sambil menunggu Andrew dan Fania beserta Reno keluar dari kamar mandi.


Ara menemani Mom, sambil menceritakan sekilas kondisi Fania.

__ADS_1


Juga menunjukkan pada Owen dan Judith satu diantara pil yang mereka temukan terserak dilantai. Pasangan dokter itu kemudian saling tatap.


*****


“Heart, ayo. Dokter sudah datang.” Andrew membantu Fania yang sudah menyelesaikan muntah – muntah hebatnya itu untuk berdiri. Wajah Fania yang sudah pucat benar – benar membuat Andrew khawatir dan takut akan


kondisi istrinya.


Termasuk juga Reno yang kini sudah benar – benar khawatir akan kondisi adik angkatnya itu. Membantu Andrew untuk memapah Fania.


Fania nampak lemas, Andrew yang tadinya ingin memapah. Langsung menggendong Fania dengan cepat. Reno juga sigap melebarkan pintu kamar mandi.


Andrew langsung merebahkan Fania dengan hati – hati diatas ranjang. Memberikan ruang pada Owen untuk segera memeriksa kondisi Fania.


“I think let Andrew with Fania, Owen also Judith here. We better waiting outside (Saya kira biarkan Andrew, Fania, Owen juga Judith yang disini. Yang lain lebih baik menunggu diluar).” Dad menyarankan untuk memberikan ruang pada keempat orang yang ia sebutkan tadi.


Para anggota keluarga yang lain pun mengangguk setuju, untuk meninggalkan keempat orang itu di kamar Andrew dan Fania.


Owen dan Judith mengangguk hormat dan langsung memeriksa Fania. Sementara Andrew memperhatikan dengan seksama pemeriksaan Fania dengan wajah yang masih tampak khawatir.


“How do you feel now, Fania?. (Apa yang kamu rasakan sekarang, Fania?).” Tanya Owen setelah ia bertanya terlebih dahulu pada Andrew tentang keluhan Fania. Dan Andrew menjelaskan kalau istrinya itu sepertinya


menelan banyak pil kontrasepsi hingga sampai Fania mengalami muntah – muntah hebat.


Setelah mendapatkan penjelasan detail dari Andrew, Owen langsung memeriksa Fania dengan seksama.


“I feel dizzy. (Aku merasa pusing).” Jawab Fania atas pertanyaan Owen.


“Anything else you feel?. How about nausea?. Still feel it also?. (Ada lagi yang dirasa?. Bagaimana mualnya?. Masih merasakan juga?).” Tanya Owen lagi.


“Nau-sea?.” Fania kurang paham kata tersebut.


“Mual. Apa kamu masih merasa mual, Heart?.” Andrew menjawab kebingungan Fania.


Fania hanya mengangguk.


Owen menjelaskan kondisi Fania saat ini sepasang suami istri tersebut, termasuk juga Judith. Sepasang Dokter itu pun juga memberikan nasehat pada Andrew dan Fania. Dan diterima oleh keduanya dengan baik.


“If she’s not getting well in two days, you should took her to Hospital. (Kalau dia tidak membaik dalam dua hari, kamu harus membawanya ke Rumah Sakit).” Ucap Owen pada Andrew, dan laki – laki itu mengangguk. “I already ask my assitant to bring some medicine for your wife. (Saya sudah menyuruh asisten saya untuk membawakan obat untuk istrimu). He will be here in thirty minutes. (Dia akan tiba disini dalam setengah jam).”


“She might get some more gag after she took the medicine, it’s okay. It will help to take out those pills that she has been consumed. But  if the gag is getting worse, took her to Hospital as soon as possible. (Dia mungkin akan muntah lagi setelah meminum obat, tapi ga apa – apa. Itu akan membantu mengeluarkan pil – pil yang sebelumnya tertelan olehnya. Tapi kalau muntahnya semakin parah, bawa ia sesegera mungkin ke Rumah Sakit).” Judith menambahkan.


Andrew mengangguk paham.


“There’s also probability that she might got a fever, but I already put the prescription for that. (Ada kemungkinan dia akan mengalami demam, tapi saya sudah menuliskan resep obat untuk itu).” Ucap Owen lagi.


“Okay. Thank you so much. (Baiklah terima kasih banyak).” Ucap Andrew pada Owen dan Judith.


“Well, I wish everything will be okay with both of you. Communication is the key. (Aku harap semua akan baik – baik saja dengan kalian berdua. Komunikasi itu penting).” Ucap Judith sambil tersenyum, karena ia paham sumber masalah dari kenekatan istrinya Andrew Smith yang menelan banyak pil kontrasepsi sekali minum.


Fania dan Andrew pun menggangguk. “I will keep that in my mind, Judith. (Akan selalu aku ingat, Judith).” Ucap Andrew yang menyadari kesalahannya.


“Get well soon Fania. (Lekas sembuh ya Fania).” Ucap Owen juga Judith sebelum berpamitan.


“Thank you. (Terima kasih).” Ucap Fania pelan dengan sedikit tersenyum pada sepasang dokter itu.


“Heart, aku antar mereka keluar dulu ya?.” Andrew menghampiri Fania terlebih dahulu sebelum mengantar sepasang dokter tersebut. Namun Fania tak menjawab. “Aku minta maaf.” Ucap Andrew sekali lagi dengan membelai lembut kepala Fania dan mengecup kening istrinya. “Aku tinggal sebentar ya.”

__ADS_1


****


To be continue ..


__ADS_2