BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 276


__ADS_3

**Nungguin Ada Keributan Yak?. Wkwkwkwk **


 


Selamat membaca ...


 


Fania sibuk mondar – mandir di kamarnya. Tadi sore sudah janjian dengan Shita dan Jeannie akan pergi bersama kedua teman dekatnya di kampus itu untuk datang ke acara ulang tahun salah seorang teman kuliah mereka.


Fania melirik ponselnya. ‘Gue kayak mau maling aja ini rasanya. Ah tau ah.’ Ia segera bergegas keluar dari kamarnya.


***


“Ndrew, kita langsung ke Mansion?.”


Tanya Jeff sesaat setelah ia dan Andrew turun dari jet pribadi Andrew.


“Mampir dulu sebentar ke Truffle.” Andrew melirik Arlojinya. “Masih buka kan mereka jam segini?.”


“Sepertinya.” Sahut Jeff. “Beliin coklat buat si Kajol?.”


Andrew menatap malas pada Jeff.


“Lo pikir?.”


Jeff terkekeh sendiri. “Ya who knows (Ya siapa tau, kan) mungkin lo bosen sama si Kajol.”


“Mulut lo jaga Tuan Jeff!. Gue setia sampai mati sama dia.” Sahut Andrew sinis dan Jeff malah tergelak.


“Nah kalau lo yang mati duluan?.”


“Gue bawa Fania ikut serta!.” Sahut Andrew ga pake mikir. “Gue ga rela Fania jadi janda dan punya kesempatan untuk bersama orang lain. Enak aja.”


Jeff pun makin tergelak.


“Ngomong – ngomong lo udah bilang sama si Kajol hari ini lo balik?.”


“Nope (Belum).”


**


“Mau kemana Chel?.”


“Party.” Sahut Michelle yang sudah rapih kala ia menyambangi keluarganya yang sedang berkumpul di ruang santai setelah makan malam selesai beberapa waktu lalu.


“Klub?.” Celetuk Reno yang sedang mencoba menidurkan Varen dalam gendongannya.


“Manalagi?.” Sahut Michelle.


“Hati – hati kamu Chel. Pergi sama siapa?.”


“Iyaaa Kak Ara. Aku pasti hati – hati. Selama ini aku memang pernah mengecewakan kalian meski pun suka pergi ke Club. And I’m still sealed and keep it until I get married, okay? ( Dan aku masih segel, akan aku jaga sampai nanti aku menikah, oke? ).” Ucap Michelle.


Seluruh anggota keluarganya hanya terkekeh mendengar pernyataan Michelle sekaligus manggut – manggut.


Lagipula memang selama ini Michelle tidak pernah neko – neko dalam bergaul. Mengingat betapa judesnya itu anak, dan selama dalam pengawasan Dad, R maupun Andrew, putri bungsu Keluarga Smith itu tidak pernah terlihat


dekat dengan seorang pria.


Sekalipun Michelle akrab dengan yang namanya klub dan mungkin mengenal yang namanya minuman keras, tapi dia tidak pernah pulang dalam keadaan mabuk. Selain dari beberapa pengawal pribadi yang ditugaskan oleh tiga pria penting di keluarganya untuk mengawasi tingkah laku Michelle tentunya.


“Lo  pergi sama siapa?. Mau gue anter?.” John menawarkan.


“Ga usah Kak. Aku sama kak Fania kok.”


“Fania?.” Dad bertanya. “If you take her with you, better make sure you brother knows about it ( Kalau kamu mengajaknya, pastikan kakak mu tau soal itu ).” Tambah Dad sekaligus mengingatkan Michelle dengan tabiatnya

__ADS_1


Andrew.


“Iya Dad benar. Kamu tau kakak kamu yang satu seperti apa, kan?. Apalagi kalau kamu ajak Fania ikut serta ke Klub.”


“I know it Mom, Dad ( Aku tau itu Mom, Dad ).” Sahut Michelle pada kedua orang tuanya yang mengingatkan sekaligus memperingatkannya itu.


Udah ribet aja kalo soal urusan Fania. Tambah lagi Andrew sedang tak ada di London. Keluarga Smith sudah antipati untuk lebih memfokuskan perhatian pada Fania, yang sayangnya suka tambeng kalo dibilangin itu.


“Lagipula Kak Fania juga kenal sama Alicia kok. Makanya dia mau datang.”


“Halo para sultan dan sultanah.” Fania muncul ke tengah – tengah keluarganya yang sedang berkumpul itu.


“Lo katanya mau ikut Michelle ke Party nya teman kalian?.” Reno bertanya seraya memberikan Varen yang sudah tertidur pada Ara.


“Ummm... pengen sih.” Ucap Fania sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Terus Kak Fania mau datang begini aja?.” Celetuk Michelle seraya bertanya sambil memperhatikan pakaian yang dikenakan Fania.


“Ya engga lah.”


“Ya terus?. Cepat sih ganti baju Kak, aku udah rapih seperti ini juga.”


“Lo sudah ijin sama si Donald Bebek Belum?.” Ucap John.


Fania mengangguk. “Tapi kayaknya gue ga jadi pergi, Chel.”


“Why? ( Kenapa? ). Bukannya Kak Fania bilang sudah dapat ijin dari Kak Andrew?.”


“Hehehe. Engga sih sebenernya. Kakak lo ga ngasih ijin.” Fania menunjukkan barisan giginya, sambil terkekeh garing.


“Takut nih ye.” Celetuk Reno cekikikan, disertai kekehan oleh yang lainnya, terkecuali Ara yang sudah pergi ke kamar karena Varen sudah tertidur.


“Bisa takut juga lo Jol!.” Timpal Jeff.


“Bukannya takut si. Tapi gue udah janji sama diri sendiri buat nurut sama si Donald Bebek.”


Lagi – lagi Fania hanya menunjukkan barisan giginya.


“Kak Fania nih, untung segera sadar. Kalau engga, aku akan kena murkanya Kak Andrew.”


“Iya, iya. Maaf. Maklum khilaf.”


“Ya udah kalau begitu. Aku berangkat ya, semua. Bye.”


Michelle pun melangkah pergi dan berpamitan pada keluarganya.


“Jangan terlalu lama disana , Chel.” Ucap Reno setengah berteriak dan Michelle mengangkat tinggi – tinggi jempolnya.


Fania tak lama ikut nimbrung di ruang santai, namun tak lama kemudian ia mengingat sesuatu dan berdiri dari duduknya. “Bentar ya, kekamar dulu.”


“Mau ngapain sih Jol?. Mending kita main pool. Ajarin gue trik lo waktu itu.”


Celetuk John pada Fania.


“Bentar gue ngambil hape. Takut si Donald Bebek telpon ga gue angkat. Tau sendiri deh si Andrew Smith kayak gimana.”


“Memang aku kayak gimana, hem?.”


Suara bariton yang terdengar bersamaan dengan si pemiliknya yang muncul sukses mengagetkan Fania.


“D?!.”


“Kenapa, hem?.”


Andrew tersenyum melihat Fania yang nampak amat sangat terkejut dengan kehadirannya. Termasuk juga Dad, Mom, Reno dan John yang sedikit terkejut.


‘Untung si Fania feelingnya bagus.’ Batin Mom bersyukur karena Fania tidak ikut Michelle pergi ke pesta.

__ADS_1


‘Thanks God, ga jadi ada keributan,’ Batin Reno juga ikut bersyukur. Begitupun John dan Dad.


“Why you stunned like that?. Not happy if I come home earlier from Italy? ( Kenapa bengong begitu?. Ga suka kalau aku pulang cepat dari Italia? ).”


Fania tersenyum lebar. Tersenyum lega tepatnya.


‘Hah, selamet, selamet gue.’ Lalu langsung berhambur pada Andrew yang langsung memeluknya dengan tersenyum juga.


“Apa kamu merindukanku?.” Ucap Andrew sambil mencium pucuk kepala istrinya itu.


“Sangat.”


“Aku kira kamu ga ada dirumah.”


“Ada dong.” Sahut Fania cepat. “Aku kan istri solehah, yang nurut ama suaminya.”


‘Heleh.’ Batin John bermonolog.


“Baguslah.” Ucap Andrew yang bahagia karena Fania tidak nekat pergi ke pesta temannya, karena Andrew melarangnya pergi dan Fania mematuhinya.


Die kaga tau aje, hampir itu jiwa tambeng bininya mencuat. Untung keburu Insap si Kajol.


***


“Urusan kamu di Italy sudah selesai emangnya, D?.”


“Sudah.”


Fania dan Andrew sudah berada di kamar mereka.


“Kamu sudah makan?.”


“Belum. Aku mau mandi dulu.”


“Mau mandi di shower atau bathup?.”


“Shower. Biar cepat. Aku sedikit lapar.”


“Mau makan disini atau dibawah?.” Tanya Fania yang hendak keluar dari kamar, namun ditahan Andrew. “Kenapa?. Mau kangen – kangenan?. Katanya laper?.”


“Terima kasih ya.”


“Untuk?.”


Andrew merengkuh pinggang Fania. Mendekapnya erat.


“Karena tidak melanggar larangan aku.” Ucap Andrew sambil tersenyum.


Fania melingkarkan tangannya dileher Andrew. “Seperti kamu yang ga ingin mengulangi kesalahan kamu, akupun sama, D.” Ucap Fania. “Aku ga mau mengulangi kesalahan aku atas dasar bosan, seperti waktu itu. Waktu..”


Andrew yang paham kelanjutan kalimat Fania tentang pengalaman buruk yang dialami istrinya itu hingga mengalami keguguran. “Hey, look at me ( Hey, lihat aku ).”


Andrew mengangkat dagu Fania yang sedang tertunduk memandangi perutnya.


“What did I say to you? ( Apa yang pernah aku bilang? ). Hal itu sudah tidak perlu kamu ingat lagi. Wasn’t your fault ( Bukan salah kamu ).”


“Iya D....” Fania mengangguk seraya tersenyum.


“I love you, Heart.”


“I love you more.”


**


To be continue...


Yeee yang nungguin ada keributan di episode ini, mohon maap anda harus gigit piring. Wkwkwkwk.

__ADS_1


Bulan puasa kaga boleh ribut – ribut. 😁


__ADS_2