
Selamat membaca ...
“Cukup pertama dan terakhir kamu bahas soal perpisahan.” Ucap Andrew saat dirinya kini memposisikan dirinya berbaring disamping Fania setelah selesai melakukan kegiatan kepemilikannya atas tubuh Fania. Sambil membelai mesra wajah gadis yang malam ini sudah tak gadis lagi.
Fania menatap Andrew penuh arti kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis, juga membelai wajah pria yang dicintainya itu. Menggerakkan pelan tubuhnya untuk bersandar di dada Andrew yang belum memakai apapun. “Ssh.” Merasakan sedikit perih pada milik berharganya dibawah sana.
Desisan yang lebih mengarah pada ringisan akibat ulah dari milik pria disampingnya itu. Pelan, namun terdengar
Andrew yang langsung mengangkat dagu Fania.
“Is it really hurt?. (Sakit sekali kah?).” Tanya Andrew lembut sedikit khawatir kalau ia terlalu kasar tadi.
“Lumayan.” Jawab Fania singkat. ‘Pake nanya lagi. Ini aja perasaan masih ganjel biar udah lepas juga.’ Batin Fania
yang sebal sekaligus merinding , karena si Bona, Gajah Kecil Berbelalai panjang milik Andrew yang benar – benar merobek apa yang ada dibawah namun bukan kertas. Apaan tuh?.😃
“Maaf.” Andrew mengecup kening Fania. “Aku jahat, ya. Hem?. Menyesal pasti ya?. But I don’t care (Tapi aku ga perduli). Meskipun kamu membenciku atas ini. Kamu sudah ga bisa kemana mana lagi.”
Fania terkekeh. “Kamu nih.” Memukul pelan dada Andrew. Kembali menatap goresan tinta permanen yang ada di dada kiri Andrew.
“Kamu milik aku, Fania. Seutuhnya.” Ucap Andrew.
Fania tersenyum masih menatap namanya yang terukir indah di dada kiri Andrew. Menyentuhnya perlahan. “ Kenapa kamu harus bikin tato ini Nald?.” Tanya Fania
“Like I said. (Seperti yang aku bilang). Agar kamu tahu bagaimana posisi kamu dalam hidup dan hati aku, Heart.” Jawab Andrew yang meraih tangan Fania yang membelai lembut dada bidangnya lalu mengecupnya berkali - kali. Antisipasi pertahanan dirinya juga, karena kalau Fania terus mengelus dadanya seperti itu, bisa bisa si Bona yang lagi mati suri tiba – tiba bangun.
“Nald.” Panggil Fania pelan pada Andrew yang kini memeluknya dan menempatkan kepala Fania di dada bidangnya.
“Hem?.” Sahut Andrew lembut, tersenyum sambil memejamkan matanya. Bahagia sedang memenuhi relung hati si Donald.
“Aku mau pakai baju dulu.” Ucap Fania. Antisipasi takut ada gencatan senjata susulan.
“Sebentar aku aja yang ambilkan.” Sahut Andrew yang tak lama berdiri untuk mengambil pakaian Fania. Meninggalkan Fania yang wajahnya merah padam saat laki – laki itu berdiri tanpa dosa dengan tubuh polosnya. Bangun dan berjalan menuju walk in closet dan tak terlihat risih meski tak ada sehelai benang pun yang menempel ditubuhnya.
‘Ish ni orang ga ada malu – malunya. Kan mata gue ternoda jadinya. Tapi ga diliat juga sayang.’ Batin Fania. ‘Sakit lo emang Faniaa....’
**
“Morning.” ( Pagi ). Sapa Andrew pada orang – orang yang mulai berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Minus Fania dan Michelle yang entah belum turun atau memang belum bangun.
“Morning.” Sapa mereka balik yang masih menunggu para pelayan selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Where is Fania, Son?.” ( Mana Fania, Nak? ). Tanya Tuan Anthony pada Andrew.
“Masih tidur.” Jawab Andrew yang ikut duduk bergabung. “Don’t prepare anything for me. Just make a black coffee for me as usual.” ( Jangan siapkan apapun untukku. Buatkan saja secangkir kopi seperti biasa ). Andrew berkata pada pelayan yang akan merapihkan peralatan makan di didepannya.
“Kamu ga sarapan, Ndrew?.” Tanya Mom.
“Nanti saja bareng Fania, Mom.” Jawab Andrew santai.
Anggota keluarga yang lain saling bertatap sembari memperhatikan sikap Andrew yang nampak tidak segusar semalam.
“How is she?.” ( Dia gimana? ). Kini Reno bertanya. “ Lo ga marah – marah sama dia kan?.”
__ADS_1
“Aku, Mom sama Michelle yang pilihkan gaun itu untuk dia.” Ucap Ara merasa bersalah, takut Andrew merasa pakaian yang Fania pakai semalam terlalu membuat gadis itu terlihat menggoda para kaum Adam di restoran semalam.
“Never mind, Ara. ( Ga usah khawatir Ara ). Bukan salah Fania atau kalian. Dia memang cantik dan menggoda terlepas dari apapun yang dipakainya.” Sahut Andrew. ‘Sangat seksi dan menggoda hingga mampu meruntuhkan iman gue.’ Batinnya tersenyum penuh arti. “Dia bilang mau pulang ke Indo.”
Yang lainnya sontak terdiam dan kompak memandang Andrew yang sedang menyesap kopinya.
“Lalu?.” Tanya Reno.
“Dia minta putus.” Jawab Andrew datar dan kembali ditatap oleh yang lain.
‘Ajal Hefner sudah dipastikan tiba dalam waktu dekat.’ Batin Jeff.
“Merasa jadi beban gue dan lo, R.” Sambung Andrew. “Merasa jadi beban kalian semua. Merasa dirinya selalu menjadi pemicu keributan.”
“Salah siapa?.” Sahut Reno datar. “Cinta lo ke adik gue terlalu berlebihan.”
Andrew terkekeh. “ Gue berlebihan lo bilang?. Lo bahkan hampir membunuh orang hanya karena dia panggil Ara sayang.” Membuat Reno menyunggingkan senyum sinis.
“Kalian berdua itu sama.” Celetuk Mom. “ Jadi ga usah saling menyalahkan.” Tambahnya. “Kasihannya menantu – menantu Mom and Dad ini jadi pasangan putra – putra Keluarga Adjieran Smith yang sifat posesif nya di luar batas manusia normal!.”
Yang lainnya tergelak mendengar ucapan Mom Erna.
“Just like their Father, right Mom?.” ( Seperti Ayah mereka, kan Mom?. ) Ucap John sambil melirik pada Mom dan Dad.
“Ah iya kamu benar, John. Dad juga sama Posesif nya. Ga heran sih anak – anaknya pada begitu.” Sahut Mom dan lagi – lagi mengundang gelak tawa.
“All because I Love You that Much, My Love!. Terlanjur cinta, Right?!.” ( Semua karena aku terlalu mencintaimu,
sayang! ). Goda Dad Anthony pada istrinya.
“Totally Agree.” ( Sangat setuju ). Sahut Andrew juga.
‘Tiga laki – laki dengan bucin tingkat dewa.’ Batin Ara.
“By the way ( Ngomong – ngomong ). Soal Hef ....” Jeff belum sempat melanjutkan kata – katanya.
“Jangan sebut nama dia lagi depan gue. Pastikan saja dia sudah menjauh dari London dan gue mulai sekarang.” Ucap Andrew datar.
“As your wish Boss.” ( Sesuai titah Anda, Bos ).” Sahut Jeff kemudian.
“ I’ll go check Fania.” ( Mau liat Fania dulu ). Andrew bergegas berdiri dari duduknya.
“Kamu jangan marahin Fania, Andrew nanti dia kabur.” Ucap Mom. Andrew tersenyum tipis.
“Soal Fania yang mau pulang ke Indo?.” Tanya Reno yang melihat Andrew beranjak berdiri, namun urung karena Reno sepertinya masih ingin bicara dengannya.
“As I said last night.” ( Seperti yang sudah gue bilang semalam ). “Minggu depan.”
“You told her already?.” ( Sudah bilang padanya? ). Tanya Tuan Anthony.
“Make it surprise, Dad.” ( Biar jadi kejutan, Dad ). Jawab Andrew.
“Tahan dulu, anak orang jangan di apa – apain. Grepe Grepe masih oke lah.” Celetuk John asal.
“Grepe?.” Tanya Mom heran, begitupun Dad. Yang lain hanya geleng – geleng.
__ADS_1
“Touching – touching Mom.” ( Sentuh sentuh lah Mom ). Sahut Jeff asal sambil terkekeh.
“ Oh sekitar wilayah dada. “ Sahut Mom mereka yang tanpa beban. Dan mendapat tatapan luar biasah oleh anggota keluarga yang lain. Karena Mom enteng aja bicara.
“Betul sekali Mom. Sekwilda. Sekitar Wilayah Dada.” Timpal si bule koplak, John. Andrew, Reno, Ara beserta Tuan
Anthony hanya geleng – geleng saja. Andrew kemudian berdiri.
“Meet you guys later.” ( Ketemu lagi ntar ). Ucap Andrew mulai berjalan untuk keluar dari ruang makan.
“Yah pesan Mom sih, hati – hati keterusan kamunya. Fania itu gadis baik – baik, Andrew.” Ucap Mom sebelum anaknya itu meninggalkan ruang makan. Andrew menyunggingkan senyum Smirk.
‘Udah terlanjur.’ Batin nakal Andrew sambil salah satu sudut bibirnya terangkat.
“You’ve ‘Touched’ her don’t you?.” ( Kau sudah ‘ Menyentuhnya ‘, Bukan? ). Tanya Reno yang melihat Andrew menyunggingkan penuh makna saat laki – laki itu mulai berjalan.
Ruang makan seketika hening. Karena Reno berucap dan menatap Andrew tajam.
Andrew berhenti dan berbalik menghadap Reno sambil tersenyum tipis. “ Menurut lo?.”
“Cih!.” Reno berdecak dan menggeleng – geleng masih menatap Andrew. “Lo paksa dia?.”
“Gue Cuma bilang dia milik gue.” Andrew tersenyum tipis.
“Kalau sampai dia mengadu ke gue dan bilang ga terima sama perlakuan lo. Urusan lo sama gue.” Ucap Reno penuh penekanan.
Andrew kembali menyunggingkan senyumnya. “We’ll see about it.” ( Kita lihat saja nanti ).
“Apa?! Andrew ?!Fania sudah kamu nodai?!.” Pekik Mom yang tiba – tiba sudah berada di dekat Putranya sambil
membalikkan tubuh Andrew dengan kasar ke hadapannya yang sedang menghadap Reno.
“You heard it Mom.” ( Kau sudah dengar barusan, Mom ). Jawab Andrew.
“Andreeeewwww! Kamu Nih!.” Pekik Mom lagi. Geregetan sama anaknya sambil memberikan kepretan maut yang perihnya diabaikan Andrew.
“Memastikan Fania ga akan kemana – mana, Mom.” Ucap Andrew santai.
“Kamu Iniiii!!! Benar – benar Andrew!.” Pekik Mom lagi. “ Mom yakin Fania itu masih Virgin sebelum kamu nodai dia!.”
“Hem.” Sahut Andrew santai dan mulai malas. “Sudahlah Mom, Things happened are happened okay?.” ( Yang sudah terjadi biarlah terjadi, oke?).
“Pasti dia kesakitan.” Mom melirik ke arah bawah anaknya. Membuat Andrew sedikit risih.
‘For God Sake, Mom.” ( Demi Tuhan, Mom ). Batin Andrew saat sadar Mom nya melirik Si Bona Gajah Kecil Berbelalai panjang miliknya yang ga kecil juga sih. Sepertinya milik Andrew itu lebih ke bapaknya Bona.😄
“Kamu ga main kasar tapi kan?.” Ucap Mom Erna seraya bertanya.
“You did it very softly, right?.” ( Kau melakukan dengan lembut kan? ). Timpal Dad yang sontak kedua orang tua itu mendapat tatapan horor dari anggota keluarga yang lain.
‘Keluarga macam apa ini Tuhaaan?.’ Batin Reno.
***
To be continue...
__ADS_1