BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 03


__ADS_3

♦ FANIA & ANDREW ♦ LET’S TAKE A BREAK, THEN


**


Selamat membaca..


“Ya, did you see him, Annie?. ( Ya, apa kamu melihatnya, Annie? ).”


“Mister Andrew was left and he said that you don’t  have to wait for him. ( Mister Andrew tadi keluar dan dia bilang agar Nyonya tidak perlu menunggunya ).”


“Okay, thanks Annie. ( Baiklah, makasih ya Annie ).”


Fania tetap tersenyum meski rasa hatinya sedikit terganggu, pada asisten rumah tangganya yang bernama Annie itu, setelah ia menyampaikan pesan dari Andrew untuk Fania.


“Is there anything you need, Mrs. Fania?. ( Apa ada yang anda butuhkan, Nyonya Fania? ).”


Annie bertanya pada salah satu Nyonya rumahnya itu dan Fania menggeleng. “No, Annie, thanks. ( Engga Annie, makasih ya ).” Ucap Fania pada asisten rumah tangga yang kira – kira usianya sama dengan dirinya, lalu hendak kembali ke kamarnya dan Andrew.


“You are very welcome, Ma’am. ( Sama – sama, Nyonya ).”


“By the way, where’s Dad and Mom?. ( Ngomong – ngomong, mana Dad sama Mom? ).” Tanya Fania pada Annie, tentang mertuanya yang belum ia lihat sejak ia sampai rumah tadi.


Kalau Michelle memang masih liburan bersama teman – temannya, dan Jeff lebih sering berada di luar Mansion saat musim panas begini, kadang pun di tinggal di apartemennya sendiri.


“They have an invitation from their colleague, Ma’am. ( Mereka sedang menghadiri undangan kolega mereka, Nyonya ).”


Fania manggut – manggut, lalu bergegas ke kamarnya. “Okay, thanks An. ( Oke, makasih An ).”


**


“Drew?!.”


“Hem?.”


“Lo udah balik dari Paris?.” Jeff menghampiri Andrew yang entah sejak kapan berada di pub yang sama dengannya. Entah sejak kapan Andrew datang, dia baru menyadarinya saat setelah selesai dari toilet.


Jeff pun menghampiri Andrew dengan segera.


“Terpaksa buru – buru balik.”


“Mana Fania?. Dia tau lo udah balik?.”


“Yap. She’s home. ( Dia dirumah ).”


“Another fight, huh?. ( Berantem lagi lo?. ).”


“Nope. ( Engga ).” Andrew menjawab singkat pertanyaan Jeff.


“Like I don’t know you, bald man. ( Kayak gue ga tau lo aja, botak ).”


“ I didn’t fight with her. Just argued. ( Gue ga berantem sama dia. Cuma berdebat ).”


“Perdebatan yang ga biasa tapi kan?. Sampai lo keluar sendiri begini?.”


Andrew terdiam sebentar, menyesap pelan minumannya. “Hanya sekedar meredam kesal.”


Jeff hanya geleng – geleng. “Emang si Fania bikin ulah apa sampai lo kesal?.”


“Melakukan sesuatu di luar sepengetahuan gue dan dia ga jujur soal itu.” Ucap Andrew.


“Lo aja yang terlalu posesif. Ndrew.”


“Kalau gue terlalu posesif, ga akan gue biarkan dia keluar rumah. Sekalipun iya, gue akan tempatkan sepuluh bodyguard setiap dia pergi. Kalau gue terlalu posesif, gue akan membuat dia kuliah dirumah tanpa harus pergi ke kampus. Ga akan juga gue ijinkan untuk menyetir mobilnya sendiri.”


Andrew mulai nyerocos dan Jeff mendengarkan, sambil memesan minum pada seorang bartender.

__ADS_1


“I just asked her to tell me everything about all things that she wants to do, is it too hard?. ( Gue Cuma minta dia bilang kalau mau ngapa – ngapain, apa susah? ).”


“Mungkin dia takut lo marah, Ndrew.” Sahut Jeff. “Memang dia ngapain sampai lo kesal?.” Tanyanya.


Andrew mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan pada Jeff satu video kiriman Ezra yang dia simpan diponselnya.


‘Pantas si botak kesal. Si Kajol haha hihi sama orang yang ga dia kenal. Ck. Pake segala perform lagi.’ Batin Jeff bermonolog sambil melihat video yang disodorkan Andrew. “Ya mungkin dia kangen aja kali Ndrew, dia kan vokalis.”


“Ya, gue paham. Tapi dia ga jujur saat gue masih di Paris. Itu yang gue ga suka. Dia ga membicarakan hal itu saat gue telpon, sampai gue dapat informasi dari Ezra. Dan setelahnya baru dia bicara. Useless ( percuma ) gue sudah keburu kesal. Music is my life! ( Musik itu hidup gue! ). Sementara untuk gue, dia lah hidup gue.”


Andrew terus nyerocos mengeluarkan semua unek – unek dalam hatinya.


Jeff masih setia mendengarkan. “Ya ga mungkin lo disamakan dengan musik juga Ndrew menurut gue sih. Si Kajol kan juga cinta mati sama lo. Kalau menurut gue sih, ya seperti soul healing dia lah. Seperti lo, gue, R sama John pada mobil. Dia lagi kangen aja kali sama manggung. Mau ngomong masih menimbang takut lo marahin.”


Andrew terdiam, sedang menelaah kata – kata Jeff. “Kalau dia jujur saat gue telfon, gue ga akan sekesal ini.”


“Tapi dia udah kasih lo penjelasan?.”


“Ya sudah memang. Tapi percuma, gue sudah keburu kesal!.”


 Jeff menghela nafas, menyesap minumannya. “Dia tau lo pergi kesini?.”


“Gue hanya menitip pesan pada maid, kalau gue keluar.”


“Kesal lo masih ada sekarang?.”


“Why?. ( Kenapa? ).”


“Kalau kesal lo sudah redam, lebih baik lo pulang. Jangan lupa si Kajol itu unpredictable creature ( makhluk yang susah ditebak ), susah diprediksi jalan pikirannya.”


“Maksud lo?.”


“Yah, selain sulit ditebak, kadang pendek juga kan cara berpikir dia. Hobi melakukan hal yang aneh – aneh. Keras kepala, sama seperti lo. Gue aja masih suka heran lo berdua bisa jadi pasangan.” Ucap Jeff. ‘Cocok si pasangan kepala batu.’ Batinnya. “Kalau si Kajol udah mencoba memberikan penjelasan sama lo mesti telat dan lo tetap seperti ini, bahkan keluar ga bilang sama dia, entah apa yang ada diotaknya.”


“Milyuner miskin!.” Celetuk Jeff setengah teriak pada Andrew yang melangkahkan kakinya lebar – lebar. ‘Jangan sampai si Kajol juga keluar dari rumah. And after that, chaos!. ( Dan setelah itu, kacau! ).’ Gerutunya dalam hati. “Yang satu bucin over posesif, yang satu bucin keras kepala.”


Awas jadi bucin juga lo, bang Jeff!.😝


**


“Mrs. Fania, are you calling for a Taxi?. ( Nyonya Fania, apa anda menelpon taksi? ).”


Annie menghampiri Fania yang terlihat sedang menuruni tangga.


“Yes, An. ( Iya, An ).”


Fania mengangguk pada Annie lalu berjalan keluar.


“Mrs. Fania, where are you going to?. I can chauffeur you. ( Nyonya Fania, anda mau kemana?. Aku bisa mengantar anda ).” Ben yang merupakan  Supir kepercayaan Keluarga Smith yang nampak sudah berganti dengan pakaian santai itu, datang setengah tergesa menghampiri nona mudanya yang akan memasuki taksi yang ia pesan.


“It’s okay, Ben. I’m going to catch up my husband. ( Ga apa – apa Ben. Aku hendak menyusul suami ku ).” Ucap Fania pada supir keluarga mereka itu.


“But you can ask me to take you. ( Tapi anda bisa meminta saya untuk mengantar anda ).”


“No, it’s okay. Just take a rest. I’ll go home with him. ( Ga apa – apa. Istirahatlah. Aku akan pulang bersamanya ).” Ucap Fania lagi. ‘Mungkin.’


**


“Yah, selain sulit ditebak, kadang pendek juga kan cara berpikir dia. Hobi melakukan hal yang aneh – aneh. Keras kepala, sama seperti lo. Gue aja masih suka heran lo berdua bisa jadi pasangan.”


“Kalau si Kajol udah mencoba memberikan penjelasan sama lo mesti telat dan lo tetap seperti ini, bahkan keluar ga bilang sama dia, entah apa yang ada diotaknya.”


Andrew menyetir sedikit cepat. Kata – kata Jeff yang sebagian ia ingat saat di pub tadi, sedikit meresahkan nya.


‘How can I forget, that I have a full of surprise wife. ( Gimana gue bisa lupa, kalau gue punya istri yang suka penuh kejutan ).’ Lalu ia mengecek GPS Fania melalui ponselnya, juga GPS mobil Fania. “At least you stay at home. ( Setidaknya kamu dirumah ).” Gumamnya setelah melihat keberadaan GPS Fania.

__ADS_1


Andrew sudah sampai di garasi belakang. Seorang penjaga sudah berdiri didekat gerbang, saat benda otomatis itu terbuka.


“Welcome, Sir. ( Selamat datang, Tuan ).” Sapa si penjaga dengan sopan dan hormat pada Andrew yang menghentikan mobilnya sejenak di dekatnya.


“Are you alone Mike? Where is Ian?. ( Apa lo sendirian Mike?. Mana Ian? )” Tanya Andrew karena tak melihat penjaga satu lagi. Ada dua orang penjaga dalam satu shift.


“Oh, he’s on his way to get here. A little bit late because he is taking his wife to a Doctor first. ( Oh, dia sedang dijalan menuju kesini. Sedikit terlambat, karena dia habis mengantar istrinya ke dokter ).”


“I see. Tell him that he can ask for a permission to off if it’s necessary. ( Oh gitu. Bilang sama dia kalau dia bisa minta ijin kalau dirasa perlu ). “ Ucap Andrew pada Mike.


Salah satu alasan selain gaji yang besar untuk bekerja dan betah ikut Keluarga Adjieran Smith adalah pengertian para Tuan Rumahnya terhadap orang – orang yang bekerja pada mereka.


“By the way, Mike. Is my wife drive out?. ( Ngomong – ngomong Mike, apa istri gue berkendara keluar? ).” Tanya Andrew lagi pada Mike. Bukan tanpa sebab Andrew masuk dari sana, karena kalau prediksinya Fania keluar dengan menggunakan mobil, ia bisa buru – buru melacaknya.


“No Sir. Her car still inside. ( Tidak Tuan, mobilnya masih didalam ). Not using another car too ( Tidak juga menggunakan mobil yang lain ).” Jawab Mike detail.


Andrew menganggukkan kepalanya lalu melajukan lagi mobilnya pelan untuk parkir di halaman belakang. Segera bergegas masuk untuk menemui Fania di kamar mereka.


***


“Mike!.” Seorang pria yang memakai seragam seperti Mike datang menghampirinya dari arah halaman depan.


“How’s your wife?. ( Gimana istri lo? ).” Tanya Mike pada rekan sekerjanya yang bernama Ian itu.


“She’s okay, just a little bit unwell because of his pregnancy. By the way, is Mister Andrew came with Mrs. Fania?. ( Dia ga apa - apa, hanya sedikit kurang enak badan efek kehamilannya. Ngomong – ngomong, apa Tuan Andrew datang bersama Nyonya Fania? ).”


Mike menggeleng. “Even Mister Andrew asked about her. ( Malahan Tuan Andrew bertanya tentangnya ).”


“I have to tell Ben then. ( Gue bilang dulu sama Ben kalo gitu ).” Ucap Ian.


“Why?. ( Kenapa? ).”


“Ben told me to tell him if Mister Andrew already comeback, because Mrs. Fania is catch him by using a cab. ( Ben bilang sama gue untuk kasih tau kalau Tuan Andrew sudah kembali, karena Nyonya Fania menyusulnya dengan menggunakan taksi ).”


***


Andrew menaiki tangga dengan cepat.


“Sir!. ( Tuan! ).” Theresa memanggilnya.


“Later Theresa. ( Nanti Theresa ).” Andrew nampak setengah tergesa. “Make a coffee and take it to my room. ( Buatin kopi dan bawakan ke kamarku ).”


“But, Sir ..... ( Tapi, Tuan ... ).” Theresa hendak berbicara namun Andrew nampaknya sudah keburu masuk ke kamar. “I want to ask, if Mrs. Fania with him?. ( Aku ingin bertanya, apa Nyonya Fania datang bersamanya? ).”


Theresa menggumam sendiri, karena tadi Annie bilang Fania pergi dengan taksi, dan Ben juga mengatakan kalau Fania pergi karena mau menyusul Andrew.


“Maybe they crossed each other. ( Mungkin mereka berselisih jalan ).” Gumam Theresa sambil mengendikkan bahunya lalu segera membuatkan kopi yang diminta Andrew.


**


Andrew masuk ke kamar dengan pelan, karena lampu sedikit temaram, berpikir mungkin Fania sudah tidur.


“Heart?.” Andrew masuk ke dalam walk in closet dan juga kamar mandi, karena ranjang dan balkon juga kosong. Ponsel Fania ada diatas meja depan sofa saat dia meliriknya. Setidaknya ia tenang karena Fania ada di rumah.


Mungkin sedang berada di dapur karena tidak ada di kamar.


Andrew melepas jaket dan mendudukkan dirinya di sofa, menunggu kopi, menunggu Fania juga. Tapi selembar kertas di bawah ponsel membuat Andrew sedikit mengernyitkan dahinya. Andrew meraihnya.


“Aku minta maaf. Kamu dan musik itu berbeda, D. Musik memang hidup aku, tapi kamu lebih dari itu. Musik hanya sekedar soul healing aku, menghilangkan penat. Dan arti kamu untuk aku bahkan jauh lebih besar dari itu. Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin kita perlu waktu lagi untuk lebih saling memahami . Let’s take a break, then for a while ( Mari kita rehat untuk sementara kalau begitu ). I Love You.”


****


To be continue ...


Up satu episode doang yah. Tapi mayan panjang dah ini.

__ADS_1


__ADS_2