
Selamat membaca ....
*****
“I dare you to race with me ( Gue tantang lo untuk balapan sama gue ).” Fania mengarahkan telunjuknya pada Andrew. “If you win, you can ask anything to me. But If I win.... ( Kalo lo menang, lo boleh minta apapun dari gue. Tapi kalo gue yang menang ... ).”
Fania menjeda ucapannya
“If I win the race, we separate ( Tapi kalau gue yang menang, kita berpisah ).”
Wajah Andrew berubah syok mendengar ucapan Fania barusan. Termasuk Reno, dua J dan Nino juga Alex yang masih berada di dekat mereka.
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan?.” Tanya Andrew memandang Fania dengan wajah tak percaya pada wanita yang dicintainya itu.
“Sadar! Sangat sadar! Bahkan sudah sadar, kalau aku punya suami, seorang laki – laki yang mampu mengkhianati kepercayaan istrinya!.”
Andrew menggeleng tak percaya. “Heart, you put our marriage on a bet? ( Sayang, kamu menjadikan pernikahan kita bahan pertaruhan? ).” Jujur kini Andrew merasa hatinya bagai diremas mendengar ucapan Fania.
“Dan kamu menempatkan pernikahan kita didada seorang penari t*elanjang!. Which one is the worst? ( Mana yang lebih buruk? ).” Fania menajamkan pandangannya sambil menunjuk Andrew tepat didadanya.
“Little F, jangan ngomong sembarangan. Gue paham....” Reno mencoba menjadi penengah antara Fania dan Andrew yang kiranya kalau tidak segera dihentikan akan berakibat fatal.
“Engga Kak, lo ga akan paham!.” Ucap Fania tanpa memandang Reno, ia tetap menatap tajam pada Andrew. “Lo ga akan paham perasaan seorang istri yang bahagia nunggu suaminya pulang. Yang udah bela – belain melakukan perawatan, yang memangkas waktu mainnya diluar, tapi ternyata suaminya lebih suka ngeliat dada perempuan lain!.”
Fania menarik nafasnya setelah bicara panjang lebar barusan dengan satu tarikan nafas.
“Apa lo paham, Kak Ren?. Engga! Lo ga akan paham. All of you!, men will never get it ( Kalian semua! Para pria, ga akan paham ). ”
Ucap Fania sambil memandangi satu persatu pria yang punya hubungan dekat dengannya.
“Bad club, Heart ( Klub yang jelek, Sayang ). Bad club.....” Fania meniru ucapan Andrew saat dia minta diajak ke RED. “Tapi dari apa yang aku lihat, kamu amat sangat menikmati waktu kamu disana ... kenapa bersikeras ga mau bawa aku kesana?. Karena kamu takut aku merusak kesenangan kamu, ditempat kalian, para bisnis men muda, sukses dan kaya raya.”
Reno dan dua J merasa tercekat juga mendengar ucapan Fania yang berbicara dengan raut wajah penuh kekecewaan. Andrew pun sama, ada perih yang terasa dihatinya melihat Fania dan mendengar ucapan serta caranya bicara.
“Apa pernah aku membatasi kamu?, hem?.”
Fania menelan saliva menahan getirnya setiap kata yang ia keluarkan dari hatinya hingga membuat manik mata coklatnya mulai digenangi air mata.
“Kamu Cuma tinggal bilang, kalau kamu ingin berkumpul sama teman – teman kamu. Aku paham Nald... kalian para pria butuh yang namanya ‘men time’. Seperti kami para perempuan yang punya ‘girls time’ bahkan kita pun butuh ‘me time’. Tapi tolong ... kenapa harus bohong?.”
Air yang tergenang dimata Fania pun akhirnya lolos merosot ke pipinya.
“Aku ga marah... Aku Kecewa! Sangat .....” Fania menunjuk dirinya sendiri. Menatap Andrew sebentar lalu tersungging senyuman getir di sudut bibirnya. “Maaf ..... sudah mempermalukan kamu malam ini ....”
“Kamu ga perlu minta maaf, Heart .... a - ....”
“Aku mau pulang....” Fania menyela Andrew yang berbicara. “ Ke keluarga aku .... makasih untuk semuanya.”
Tenggorokan Andrew terasa tercekat, hatinya terasa diremas dengan teramat kuat. Kalimat terakhir Fania sudah jelas menggambarkan kalau Fania benar – benar ingin berpisah.
“Take it back! ( Tarik kembali! ).” Andrew mencekal Fania yang beranjak pergi. “Tarik kembali ucapan kamu! Tarik ....” Bulir air mata pun jatuh di pelupuk mata Andrew. “Aku mohon.... tarik kembali, Heart.”
Fania hanya diam, Andrew mendekapnya erat.
- - -
*'men time: waktu khusus untuk para lelaki yang biasanya dilakukan bersama teman - teman segendernya untuk melakukan hal - hal menyenangkan untuk mereka.
__ADS_1
'girls time: kurang lebih sama seperti halnya men time, hanya ini untuk para wanita.
'me time*: waktu khusus untuk fokus pada diri sendiri.
*
“Heart, do not ever go from my side ( Sayang, jangan pernah pergi dari sisiku )”
“Listen to your inner voice ( Dengarkan suara hatimu )”
“Don’t let ego, erode your feelings ( Jangan biarkan ego mengikis perasaan mu )”
“To me ... ( Padaku )”
“Life ends when you stop dreaming ( Hidup berakhir saat kamu berhenti bermimpi )”
“That’s how my life end, if you leaving .... ( Hidupku pun berakhir, jika kamu pergi )”
- Andrew Smith to Fania -
( Andrew Smith untuk Fania )
***
“You have right to have a man who can respect your feeling and not wasting your trust ( Kamu berhak mendapatkan laki – laki yang bisa menghargai perasaan kamu dan tidak menyia – nyiakan kepercayaan kamu ).”
Fania lumayan terkejut karena Andrew kini sudah bersimpuh dihadapannya. Meletakkan harga dirinya diatas kedua lututnya untuk kata maaf dari seorang Fania.
“Maafkan aku, jika aku belum sepenuhnya menjadi laki – laki itu. Tapi untuk kamu tahu, aku sedang berusaha. Aku akan lebih berusaha.”
Andrew memandangi Fania dalam posisinya yang masih berlutut dihadapan wanita yang dicintainya itu.
Tapi ini, meminta maaf hingga berlutut. Sudah dapat dipastikan pria yang sedang berlutut ini teramat sangat mencintai wanita yang sudah dikecewakan nya.
Oke, pria manapun mungkin bisa saja melakukannya. Banyak juga para pria yang sudah melakukan hal itu, bukan?. Berlutut untuk sebuah kata ‘maaf’, untuk sebuah pengampunan.
Tapi Andrew?. Andrew Adjieran Smith?!.
“All I ask is just a chance ( Yang aku minta hanya sebuah kesempatan ). Just One ( Hanya satu ).”
Andrew masih menatap Fania dengan sungguh – sungguh, dalam posisinya. Sementara Fania masih terdiam tak berkata, meski yah sebenarnya ada rasa tak tega melihat Andrew sampai berlutut begitu.
“You don’t need to love me anymore, if your love was gone to me tonight ( Kamu tak perlu mencintaiku lagi, jika memang cinta kamu sudah hilang ke aku malam ini ). Just let me love you and I show it to you ( Biar aku saja yang mencintaimu dan akan aku tunjukkan ke kamu ). How much I love you, and I don’t want to lose you ( Betapa aku mencintaimu dan tak ingin kehilangan kamu ).”
***
‘’Hope it’s lost when you stop believing. And love fails when you stop caring.” (Harapan hilang saat kamu berhenti percaya. Dan cinta gagal saat kamu berhenti peduli).’’
--- Anymous---
*
'Anymous: Kutipan tak dikenal
*
**
__ADS_1
“Kamu tau?, suatu hubungan itu akan berhasil berdasar atas rasa saling percaya. Dan aku udah sangat mempercayai kamu, Nald.”
Fania mulai berbicara. Andrew terus menatapnya. Mendengarkan baik – baik setiap kata yang terucap dari bibir Fania. Berharap wanita yang dicintainya itu menarik kembali kata – katanya yang meminta berpisah secara tidak langsung.
Masih tak ada yang menginterupsi, bahkan Reno sekalipun. Masih terpaku pada tempatnya masing – masing. Spechless ( Tak mampu berkata - kata ).
“Aku kecewa, sangat. Tapi sayangnya.. cinta aku ga setipis itu.. Bangunlah.”
“Engga sebelum kamu tarik kembali kata – kata kamu.” Andrew bersikeras.
Fania menghela nafasnya sedikit panjang.
“Aku udah maafin kamu, Nald. Tapi mungkin aku ga bisa melupakan kebohongan yang sudah kamu lakukan.” Andrew mengangguk dengan wajah yang masih penuh harap, menatap Fania yang juga sedang menatapnya. “Bangunlah. Aku tarik kembali kata – kata aku. Ga perlu memohon dengan cara seperti ini. Aku butuh bukti, bukan janji.”
Andrew langsung berdiri dan memeluk Fania erat, sangat erat. “Forgive me ( Maafkan aku ). Maaf sudah mengkhianati kepercayaan kamu....” Menangkup wajah Fania dan menempelkan dahinya pada dahi Fania. “Tapi tolong, jangan pernah membahas tentang perpisahan.”
**
🎶
So I’m Gonna Love You, Like I’m gonna Lose You..
🎶
-Like I'm Gonna Lose You ( Meghan Trainor & John Legend )-
**
“Tapi aku ingin tetap balapan... dan tetap ada taruhan ....”
“Apa?!.” Andrew tersentak kaget, mendengar Fania yang tetap kekeh untuk meminta adanya balapan dan taruhan.
‘Haish, baru gue bernafas lega.’ Batin Reno menggerutu.
“Next time? ( Lain kali? ).” Bujuk Andrew harap – harap cemas.
Fania menggeleng. “No, right now ( Engga, sekarang ).” Menatap Andrew dengan yakin.
Andrew menghela nafas berat. “Apa taruhannya?.”
“Kalau kamu kalah, kita pisah kamar.” Ucap Fania tanpa ragu. "Kalau aku yang kalah, silahkan minta apapun."
Andrew memandanginya sebentar. “Okay, but I don’t want to race with you. I’m not risking your life ( Oke, tapi aku ga mau balapan sama kamu. Aku ga mau membahayakan nyawa kamu ).”
“Tapi ini urusan kita.” Sahut Fania.
“Biar ini jadi urusan gue juga.”
**
To be continue..
- - -
Seperti biasa Author ingatkan ( kalau ga keberatan loh ya ) meski sebenarnya authornya ngarep banget dikasih jempol apalagi vote. Hehe. Komen juga iya dong ya. Authornya sangat sangat rajin membaca. Biar bisa introspeksi authornya supaya Novel Bukan Sekedar Sahabat meskipun panjang episodenya, tapi ga ngebosenin.
Auto curhat. 😘
__ADS_1
Mohon maaf juga kalo upload nya ga seintens dulu. (Tapi tetap diusahakan dengan semampu Author untuk update setiap hari). Karena saat ini Author receh ini sudah fokus ke dua novel. (Mampir yak ke Novel Author yang atunya lagi. Kali cocok). Kalo ga cocok ya cek toko sebelah. Wkwk.
Sekali lagi ma icih .. eh ma acih ..