
♦INDUK BEBEK BIKIN RIBET♦
**
Selamat membaca .....
😚
“What perfume you wear, Chel? ( Lo pakai parfum apa, Chel? ).”
Andrew mengendus pada Michelle saat ia berpapasan dengan adiknya itu saat akan menuju ruang makan.
“Parfum yang biasa aku pakai lah.”
“Baunya tidak enak!.”
“Tidak enak gimana sih?.” Michelle mengendus sendiri pakaiannya. “This is my favourite perfume Kak Andrew, You never complain before. Even you ever said the smell is good ( Ini parfum favorit aku Kak Andrew, biasanya juga ga pernah komplain aku pakai ini. Bahkan Kakak juga pernah bilang ini wanginya enak ).”
“Ganti baju lo Chel, pakai parfum yang lain. Parfum lo yang ini membuat gue mual!.”
Andrew menyuruh Michelle untuk ke kamarnya dan gadis itu merungut kesal.
“Ih apa sih Kak Andrew?. I’m in hurry, okay? ( Aku buru – buru oke? ). Aku harus segera ke kampus!.”
“Ganti gue bilang!.” Andrew melotot pada Michelle dan gadis itu tak berdaya untuk melawan sang kakak kalau sudah melotot padanya. Akhirnya Michelle melangkah juga ke kamarnya sambil menggerutu dan berganti baju serta parfumnya sesuai titah si Donald Bebek.
“D.” Fania datang dari dalam ruang makan. Menghampiri Andrew karena memang suaranya yang kalau sudah menggelegar itu mudah terdengar. “Kenapa sih?. Pagi – pagi sudah marah – marah?.”
“Itu si Michelle pakai parfum ga enak banget, membuat aku mual.” Ucap Andrew yang langsung meraih pinggang Fania. “Kamu pakai shampoo apa sih?.” Ucapnya lagi sambil menghirup dalam – dalam harum dari rambut Fania yang dicepol itu. “Ini parfum atau sabun?. Harum banget wangi kamu. So fresh ( Segar sekali ). Membuat nyaman.”
“Wangi dari mana sih rambut aku?. Orang ga keramas tadi pagi.”
“Serius. Kamu harum banget, Heart. Aku suka. So relaxaxing ( Sangat merelaksasi ).” Ucap Andrew yang membawa Fania ke ruang makan.
**
Fania buru – buru berangkat menuju Perusahaan dan menerobos masuk setelah Jeff menelponnya dan mengabarkan kalau Andrew yang tiba – tiba sakit.
“Mana Andrew Kak Jeff?.” Tanya Fania saat sudah berada didalam ruang kerja Andrew namun tak melihatnya disana. Jeff menunjuk ke ruang istirahat pribadi Andrew dan Fania langsung setengah berlari ke dalamnya.
“Pelan – pelan Jol.” Jeff mengingatkan dan Fania mengangkat jempolnya.
**
“D?.” Fania duduk disisi ranjang dengan wajah khawatir.
Andrew sedang berbaring diatas tempat tidur dengan wajah yang pucat dan tampak lemas.
“Kamu kenapa?.” Fania menyentuh kening Andrew dengan punggung tangannya. Namun Andrew terlalu lemas untuk menjawab sepertinya. Dahinya terasa berkeringat dingin.
“Dia sudah muntah – muntah hebat beberapa kali tadi.” Ucap Jeff.
“Lo udah panggil dokter, Kak?.”
“Ga mau gue panggilin dokter. Maunya dipanggilin elo, Jol.”
“D. Pulang aja yuk?.” Ajak Fania pada Andrew. “Kak minta tolong Eve buatkan teh hangat.”
“Oke.”
***
“This is the tea, Ma’am ( Ini tehnya Nyonya ).”
Hooeeeekkk... Hooeeeekkk...
Andrew kembali berlari menuju kamar mandi didalam ruang pribadinya dan Fania langsung mengejarnya.
Fania membantu memijat tengkuk Andrew saat suaminya itu memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel, yang hanya tersisa cairan saja. Membuat Fania tak tega melihatnya. “D, kita ke dokter ya?.” Namun Andrew menggeleng.
“Aku hanya ingin kamu..” Andrew memeluk Fania setelah membersihkan mulutnya dan Fania membantu menyekanya dengan handuk kecil yang tersedia.
Mengajak Andrew untuk kembali berbaring dahulu sebelum mengajaknya pulang karena nampaknya suaminya itu sangat lemas.
__ADS_1
“Eve! Why you still here?! Your smell makes me wants throw up! ( Eve! Ngapain masih disini?! Bau lo bikin gue mau muntah! ).”
“I’m sorry Mister Andrew ( Maafkan saya Tuan Andrew ).” Ucap Eve gelagapan. “Excuse me ( Saya permisi ).” Dan sang sekertaris yang nampak bingung itu pun segera keluar dari dalam ruang pribadi si Bos yang nampak sedang uring – uringan saat ini.
Jeff hanya cengengesan melihatnya. “Kayaknya si Andrew ini kena sindrom kehamilan seperti R dulu, Jol.”
Andrew sudah kembali berbaring diranjang dan Fania juga kembali duduk ditempatnya. “Oh ya?.”
Jeff manggut – manggut. “Looks like ( Sepertinya begitu ).”
“Ya sudah, kamu berbaring dulu sebentar D. Nanti kalau sudah enakan kita pulang ya?.” Ucap Fania yang beralih ke Andrew.
“Gue tinggal ya. Just call me if you guys need anything ( Hubungi gue aja kalau kalian butuh sesuatu ).”
Fania mengangguk.
“Jeff suruh si Eve ganti parfumnya!.” Ucap Andrew yang sepertinya kesal. “Aroma parfumnya bikin gue mual! Minta dia ganti baju sekaligus ganti parfumnya sekarang!.”
“Oke Boss!.”
“Kamu pakai parfum apa, Heart?.”
“Omnia.”
“Beritahu Jeff parfum yang kamu gunakan itu. Suruh Eve pakai dengan harum yang sama.”
“Omnia Kak. Lo tau kan? BLV.” Ucap Fania dan Jeff mengangguk paham.
“Lo belikan pakai uang lo, kalau mantan lo itu ga mampu beli itu parfum!.” Si Donald Bebek memekik lagi. Fania hanya geleng – geleng.
“Oke ....” Sahut Jeff malas.
“Kalau lo juga ga mampu, nanti gue lempar uang ke wajah lo untuk beli itu parfum! Sekalian sama tokonya! Kalau perlu beli Perusahaannya!.”
“Okeee Boooss!!.” Sahut Jeff. ‘Astaga!! Sabar Jeff induk bebek jantan sedang ngidam. Harap maklum.’ Jeff mengurut dadanya lalu bergegas pergi meninggalkan Andrew bersama perawat pribadinya. ‘Ribeet ... ribet ...’
****
“Sudah enakan D?.”
Andrew yang sedang bermanja ria dengan meletakkan kepalanya di paha Fania sambil menghadap ke perut Fania yang masih rata itu hanya mengangguk sambil mengelus – elus lembut perut sang istri dan sesekali menciuminya,
“Maaf ya?.”
“Untuk?.”
“Untuk kamu yang begini. Aku yang hamil malah kamu yang ngidam.”
“Dulu R juga seperti ini kan?. Jadi tidak masalah.”
“Satu sisi aku ga tega lihat kamu begini. Tapi satu sisi aku bahagia.”
“Kenapa?.”
“Karena dengan ini aku tahu seberapa besar kamu mencintai aku.”
“Dari dulu sudah aku bilang soal itu. Kamu masih aja suka meragukan aku. I think my tattoo of your name on my chest supposed to be enough to explain ( Aku rasa tato nama kamu didada aku seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan ).”
“Iya maaf.”
“Ga perlu minta maaf. Hanya cukup mempercayai aku saja.”
Fania mengangguk. “Tapi sebaiknya kamu hilangkan tato kamu itu, D.”
Andrew bangun dari posisinya. “Aku ga mau!.” Ucapnya sedikit ketus.
“D....”
“Udah ya aku ga mau bahasa soal itu. Aku lapar. Ayo kita turun untuk makan.”
“Aku hanya mengingatkan D. Supaya lebih afdol ibadah kamu.”
“Udah ya, kamu jangan terlalu cerewet.” Ucap Andrew dengan wajah cemberut. “Lebih baik mana punya suami bertato yang hanya satu tapi masih mau menjalankan kewajiban beribadah dan bertanggung jawab pada istri dan keluarganya atau punya suami tanpa tato tapi brengsek?. Jangankan ibadah, ingat Tuhan pun engga!. Pilih mana?.”
__ADS_1
“Pilih kamu!. Ya udah ayo kita turun makan.” Fania memilih tak melanjutkan bahasan nya. Dan buru – buru menggandeng Andrew yang wajahnya sudah cemberut itu. ‘Kalah anak perawan yang lagi dapet sensinya ama dia.’
**
“Katanya kamu lapar D?.” Ucap Fania yang melihat Andrew hanya memakan sesuap makanan dihadapannya, dan setelah itu hanya menusuk – nusukkan garpu pada makanannya. “Apa kamu mual dengan makanan ini?.” Tanya Fania lagi dan Andrew menggeleng.
“Aku rasanya tidak berselera dengan makanan ini.”
“Apa kamu mau puding?.” Fania menawarkan pencuci mulut.
“Ya boleh. Biar maid saja yang ambilkan. Kamu jangan terlalu lelah.”
“Cuma ambil puding di dapur ga akan bikin lelah.”
“Janjinya akan selalu menurut sama aku kan?. Lupa sama janji sendiri?.”
Andrew memberikan tatapan yang sedikit tajam pada Fania.
“Iya maaf.”
“Theresa, bring me that puding that Fania said ( Theresa, bawakan puding yang barusan Fania bilang ).” Ucap Andrew pada kepala asisten rumah tangga di mansion mereka itu. Jeff hanya geleng – geleng begitu juga Dad, Mom dan Michelle.
“Kenapa? Ga suka juga?.” Tanya Fania karena Andrew lagi – lagi hanya memasukkan satu suapan lalu tak melanjutkan lagi memakan puding yang sudah disediakan. Andrew menggeleng. “Biasanya kamu suka ini puding.”
“Ya. Tapi rasanya aku ingin memakan sesuatu yang lain.” Jawab Andrew. “Ada makanan apa saja dirumah ini, Mom?.”
“Theresa what food we have here? ( Theresa kita punya makanan apa disini? ).” Tanya Mom yang paham akan ngidam nya Andrew saat ini.
Theresa menyebutkan satu – satu makanan yang tersedia di mansion.
“Kamu mau yang mana?.” Tanya Fania. “Atau ingin aku buatkan sesuatu?.” Tanyanya lagi.
“Aku ingin sate.” Jawab Andrew.
Semua orang yang berada di sekitar meja makan pun membulatkan matanya.
“Ck! Jangan aneh – aneh Ndrew!. Mana ada tukang sate di London?.” Protes Jeff. “Ngidam boleh, gila jangan!.” Tambahnya. ‘Gila kalo gue disuruh terbang ke Indonesia Cuma buat beli sate!.’ Gerutu Jeff dalam hati.
“You can ask our cook to make a barbeque ( Kamu bisa meminta juru masak untuk membuat barbekyu ).” Dad coba mengusulkan.
“No. I want sate, that I’ve ever eat near at Keluarga Cemara’s old house ( Engga. Aku ingin sate yang pernah aku makan di dekat rumah Keluarga Cemara yang lama ).”
“Kamu pikir rumah Keluarga Cemara hanya satu kilometer dari sini Andrew?.” Ucap Mom sambil menahan sudut bibirnya. ‘Lebih parah dari R.’ Batin Mom.
“Iya sih Kak. Mengidam yang wajar – wajar aja kenapa?.” Celetuk Michelle.
“Iya D, atau besok coba aku cari bahan – bahannya di Indonesia Groceries ya. Kalau ada besok aku buatkan, gimana?. Siapa tahu mereka menjual itu bahan – bahan buat bikin sate. Tapi besok, ini kan sudah malam. Sudah tutup juga mereka.” Fania mengajukan solusi. Untungnya Andrew mengangguk setuju.
Anggukan Andrew membuat Fania dan keluarga mereka lega saat ini.
“You know the Owner? ( Kamu tahu siapa pemiliknya? ).” Tanya Andrew pada Fania dan Fania menggeleng.
“Aku ga tau.”
“Jeff try found out the Owner ( Jeff coba cari tahu siapa pemiliknya ).” Ucap Andrew pada Jeff.
“Pemilik apaan?.”
“Indonesia Groceries yang tadi Fania bilang.” Sahut Andrew. “Hubungi dia dan minta dia untuk menyuruh anak buahnya mengantar keperluan untuk membuat sate malam ini juga.”
“What?! ( Apa?! ).” Jeff setengah memekik. Andrew mengabaikan pekikan Jeff.
“Heart, You write down everything that you need to make sate after you finish your dinner ( Sayang, kamu tulis semua keperluan untuk membuat sate setelah kamu menyelesaikan makan malam kamu ). Lalu berikan pada Jeff.” Ucap Andrew pada Fania yang memasang wajah yang sukar diartikan kemudian melirik pada Jeff.
‘Nasib lo Kak Jeff.’ Batin Fania yang cekikikan. Kurang lebih sama dengan hati Dad, Mom dan Michelle.
“Write down how to make that and give it to Theresa so she can give it to our cook so they can make it ( Tulis juga bagaimana membuatnya lalu berikan pada Theresa jadi dia bisa memberikannya pada juru masak agar mereka segera membuatkan ).” Sambung Andrew lagi.
“Ya ga sekarang juga kali Ndrew! Ini udah malam. Ah sakit lo!.” Protes Jeff.
“You do as I said ( Lo lakukan apa yang gue bilang ). Atau gue bekukan semua aset lo!.” Ancam si Induk Bebek Jantan yang lagi ngidam itu. “I want it sate by tonight! ( Aku mau makan sate malam ini juga! ).”
‘Ya Allah nak, bapak lo kenapa ribet begini sih?.’
__ADS_1
*****
To be continue ...