
Selamat membaca...
“Jadi seperti itu Om , Tante, karena saya dan Andrew harus kembali ke London, kami juga ingin sekalian ajak Fania untuk ikut kesana sambil adaptasi sebelum mulai kuliah.” Jelas Reno pada orang tua Fania soal rencananya beserta Andrew untuk membawa Fania bersama mereka kembali ke London.
“Ya, Om sama Tante juga udah bilang sama Fania, kalau semua terserah dia aja. Kami orang tua hanya bisa mendukung. Toh memang sudah dari dulu harusnya Fania bisa kuliah, Cuma ya Nak Reno sama Endru mungkin
paham kondisinya.” Papa Fania juga berbicara atas nama istrinya.
“Iya om, karena itu saya dan Reno ingin Fania segera bisa kuliah walau sedikit tertunda.” Ucap Andrew sambil memandangi Papa dan Mama Fania bergantian.
“Iya bener sama yang dibilang papanya Fania. Tapi apa ga ngerepotin nak Reno, Ara sama Nak Endru ini si Kajol nantinya?.” Ucap Mama Fania sambil menoleh pada anaknya.
“Insya Allah, engga kok om, tante. Kami tidak pernah sekalipun merasa direpotkan oleh Fania.” Ucap Reno sambil tersenyum.
“Tuh Syahrini dengerin abang ganteng ngomong. Mana pernah anakmu yang blaem blaem ini ngerepotin orang coba?.” Celetuk Fania.
“Blaem? Blaem? Itu apa Sweety?.” Tanya Andrew pada Fania.
“Blaem – blaem itu artinya....cantik.” Ucap Fania sambil nyengir kuda dan meletakkan dua jarinya dipipi sok imut pada Andrew.
Si Donald hanya geleng – geleng aja melihat kelakuan Fania.
“Dih cantik darimana nya tau.” Celetuk Prita yang sudah bergabung dengan mereka, namun dalam hatinya ia sebenarnya sedih bakal jauh dari kakaknya yang suka gesrek dan rusuh itu.
“Ah sirik aje lu.” Sahut Fania.
Prita hanya menjulurkan lidahnya meledek Fania. Membuat Andrew, Reno dan Ara tersenyum pada adiknya si Fania itu.
“Memang kira – kira kapan Nak Reno, Ara sama Endru ini berangkat?.” Tanya Papa Fania.
“Minggu depan om.” Jawab Andrew.
“Jangan sedih ye, keluarga cemara.” Ucap Fania menutupi hatinya yang mulai sedih membayangkan jauh dari keluarganya yang rame.
“Dih, siape yang sedih. Mayan nanti beras dirumah banyak lebihnya.” Sahut mama Fania asal dan mengundang gelak tawa yang lain.
“Tuh kan gitu kan. Ntar ditinggal mewek.” Sahut Fania.
“Engga, yakin dah.” Sahut Mamah Fania juga.
“Kalo om boleh tau, pastinya hari apa kalian berangkat?.” Tanya Papa Fania.
“Senin depan om, masih ada satu minggu lagi buat kangen – kangenan sama Fania disini. Ya kan Little F?.” Ucap Reno seraya bertanya pada Fania.
“Ho oh.” Jawab Fania singkat. “Eh iya btw aniwe buswe. Masak ga Mah?.” Tanya Fania pada mamahnya.
‘Apalagi itu bahasanya cewe gue?.’ Batin Andrew.
“Masak dong. Banyak itu. Kan kamu bilang mau bawa pasukan.” Jawab si Mamah. “Tapi mudah – mudahan pada doyan ya. Soalnya Tante bisanya masak masakan Indonesia.”
“Pasti doyan tan, lagian kebetulan masih disini kan puas – puasin deh makan masakan Indonesia, apalagi buatan Tante Bela.” Ucap Ara dengan lembut.
“Ya udah ayuk, kita makan dulu.” Ajak Papa Fania.
“Kajol, Karina kapur barus, ayo bantuin mama nyiapin.” Ajak mama Fania pada dua putrinya. Dan kedua putrinya yang cantik cantik mukanya, tapi kadang kurang cantik kelakuannya karena ngomong kadang asal jeblak itu langsung beranjak dari duduknya untuk membantu sang mamah menyiapkan makan siang untuk para tamunya.
“Sepertinya saya mendengar ada ajakan makan ini. Hahahaha... .” Tiba – tiba John muncul dari arah teras.
Ara dan Reno hanya geleng – geleng saja melihat itu orang. Sementara Andrew melihatnya dengan malas.
“Malu – maluin.” Ucap Andrew.
“Laper Bro.” Ucap John.
“Tau lo Ndrew, sentimen belom hilang juga.” Celetuk Jeff yang juga ikut masuk.
“Set dah penuh beut ini rumah roman.” Celetuk Fania asal yang melihat orang orang bule yang tingginya kayak mau mentok atap rumahnya itu pada masuk menuju ruang makan rumahnya yang tidak terlalu besar.
“Fania, yang sopan ama tamu.” Ucap si Papa yang mendengar omongan anak sulungnya.
__ADS_1
“Ga apa – apa om.” Ucap Reno sopan sambil tersenyum dengan memegang kepala Fania dan menggoyang – goyangkan nya pelan.
“Tinggi – tinggi amat sih kalian.” Ucap mama Fania pada tamunya. 'Emaknya pada ngidam megang tiang listrik kali ya.' batin mama Fania. “Non Ara juga sama ini tinggi kayak model. Bagus badannya.” Puji mama Fania pada Ara.
“Biasa aja Tante Bela, suka berlebihan memujinya.” Ucap Ara.
“Beneran Tante mah ngomong kenyataan. Doyan sayur pasti.” Ucap Mama Fania lagi.
“Saya memang suka sayuran Tante.” Ucap Ara lagi.
“Tuh Prita dengerin tuh, makan sayur makanya biar cakep kulitnya. Biar tinggi kayak Non Ara juga. Ini sih males makan sayur kuntet makanya sekarang.” Ucap si Mamah asal dan mengundang gelak tawa yang lain.
Jeff yang baru ini ikut ke rumah Fania sekaligus berinteraksi dengan keluarga si Demi Moore KW merasa terkejut tapi juga senang karna melihat keluarga Fania yang apa adanya dan asik – asik dalam pandangan si sodara kembarnya John yang beda orang tua itu.
‘Lucu juga ini si Fania, Mamanya.’ Batin Jeff.
“Ambil sendiri ya, Ka Reno, Ka Ara mah paham dah, ya kan?.” Ucap Fania pada Ara dan Reno.
“Iya tenang aja, ga usah disuruh juga gue ambil sendiri.” Sahut Reno.
“Sip deh. Makan yang banyak ya.” Ucap Fania lagi.
“Ka John, Ka Jeff ambil sendiri. Jangan malu – malu.” Ucap Fania pada dua J.
“Mmmm, ka-mu mau ambil sendiri apa diambilin?.” Tanya Fania pada Andrew yang masih canggung dengan bahasa aku – kamu yang dibilang oleh Andrew semalam, kalau dirinya harus mulai membiasakan bicara aku – kamu pada Andrew.
“Wow udah, upgrade nih ye.” Goda Ara. Dibalas Fania dengan juluran lidah dan membuat Ara terkekeh.
“Aku ambil sendiri aja.” Jawab Andrew.
“Ya udah ayo pada duduk deh. Tamu duduk di meja makan aja. Makan yang banyak ga usah malu – malu. Tante udah masak banyak banget ini, jangan sampe mubazir.” Ucap Mama Fania menyilahkan para tamunya.
“Oh tenang – tenang tante. Tante sama Om makan di meja makan ini, kita bisa makan di situ kok.” Ucap Jeff pada orang tua Fania.
“Iya si, Mama Papa disini aja temenin kak Reno sama kak Ara.” Ucap Fania pada kedua orang tuanya. “Kamu juga duduk di meja makan aja sini. Mama udah nyiapin kursi tambahan juga.” Ucap Fania pada Andrew kemudian dan dijawab anggukan oleh si kekasih hati.
“Makan semuanyaaaa.” Ucap Prita kepada semua orang selepas dia selesai mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya, lalu berjalan menuju area depan tivi untuk duduk lesehan diatas karpet karna di sofa sudah ada John dan Jeff.
“Biarin si, orang laper.” Sahut Prita asal.
“Eh Prita, kok disitu, sini. Masih muat kok disini.” Ucap John pada Prita yang ga tega melihat gadis kecil itu duduk di karpet depan tivi.
“Tenang aja kaka bule, aku udah biasa disini. Udah Pewe.” Sahut Prita.
“Okelah kalau begitu.” Sahut John. Jeff yang melihat adiknya Fania duduk dibawah juga sedikit merasa tidak enak.
“John, kita diluar aja gimana, kasian itu dia duduk dibawah gitu.” Ucap Jeff pelan pada John.
“Santai aja Bro, mereka udah biasa. Justru kalo kita terlalu sungkan malah bikin mereka ga nyaman.” Sahut John. Dan Jeff hanya ber OH ria lalu mereka berdua melanjutkan makan mereka.
‘Enak banget ini masakan.’ Batin Jeff yang baru kali pertama merasakan masakan Mamanya Fania.
“Ya udah selamat makan semua ... .” Ucap Fania pada semua, terutama pada mereka yang duduk di meja makan. Lalu gadis itu ngeloyor membawa piring dan gelas berisi air putih untuk makan bersama Prita depan Tivi.
“Hey, Sweety, kamu mau makan dimana?.” Tanya Andrew yang sudah duduk namun Fania tidak ikut duduk bergabung di meja makan.
“Nih nemenin bocah.” Sahut Fania yang sudah mendaratkan pantatnya di samping Prita. “Laper mba?.” Ledek Fania pada adiknya.
“Om, Tante saya makan sama Fania ya.” Pamit Andrew permisi dari meja makan yang ga tega amat liat Fania makan dibawah sementara dirinya di meja makan.
“Loh Nak Endru, ga apa apa makan disini aja.” Ucap Papa Fania yang merasa tidak enak kalau Andrew harus makan dengan duduk di lantai meski beralaskan karpet bulu yang dibeli Fania yang sering tidur tiduran di depan tivi.
“Iya, nak Endru, ga usah ga enakan gitu. Itu anak berdua emang hobi makan depan tivi.” Tambah mama Fania.
“Ga apa – apa Om, Tante. Saya makan bareng Fania ya.” Pamit Andrew lalu mengangkat piringnya. “R, Ara gue makan sama si Little F.”
“Okay.” Sahut Reno dan Ara yang paham kalo Andrew mungkin belum lagi terbiasa.
“Dih, kenapa ga di meja makan sih?.” Tanya Fania yang melihat Andrew sudah akan duduk didekatnya.
__ADS_1
“Kamu makannya disini, masa aku tega?.” Ucap Andrew sambil mengelus kepala Fania.
“Biasa aja kali. Udah biasa aku sama Prita makan disini sambil nonton TV.” Ucap Fania.
“Ulala, uwu sekali Anjali dan Rahul.” Celetuk Prita melihat sikap dua orang di dekatnya. Membuat Andrew tersenyum pada si calon ade ipar. Weits.
‘Apalagi itu maksudnya?.’ Batin Andrew.
Dua J yang berada tidak jauh seraya menoleh setelah mendengar celetukan Prita.
“Biasa itu pasangan baru, dek.” Sahut John cengengesan.
“Cie, akhirnya pacaran beneran nih Yeee.” Goda Prita lagi pada Andrew dan Fania. Membuat Andrew tersenyum sambil geleng – geleng seraya menyuap makanan yang tadi dia ambil. Sementara Fania melirik malas pada adiknya. Dan dua J juga tertawa.
“Eh iya Kajol, sebelom kamu berangkat nanti bikin pengajian dulu.” Celetuk si Mamah yang ga ada sopan – sopannya teriak dari ruang makan.
Reno, Ara serta John sudah ga aneh sama kelakuan mamanya Fania yang malah lucu menurut mereka sih.
Sementara Andrew mulai membiasakan diri, Jeff pun sama. Meski masih memperhatikan keluarga Fania yang kayaknya rame dan seru.
“Ya ilah ribet amat.” Celetuk Fania.
“Ya kan biar lancar Kajool, kamu entar di negara orang.” Sahut si Mamah lagi.
“Fania mau kuliah lah. Segala pake pengajian. Doa orang tua udeh cukup.” Sahut Fania menanggapi mamanya.
“Biar Afdol Jol.” Mama Fania masih menyahuti anaknya, sementara para tamu mesem – mesem aja mendengarkan debat unfaedah itu.
“Wasaidol.” Celetuk Fania. “Sekalian aje Ratiban, ga jadi kuliah ke London, jadinya Fania naek haji.” Sahut Fania asal dan membuat yang lain tertawa terbahak – bahak pada akhirnya.
‘Anak dan Ibu yang langka.’ Batin Reno dan Ara yang walaupun sudah terbiasa melihat debat unfaedah antara Fania dan Mamanya, tetap saja mereka selalu merasa lucu setiap kali melihatnya.
‘Calon istri sama mertua kenapa lucu sekali.’ Batin Andrew.
‘Hiburan gue kalo kesini.’ Batin John.
‘Pantes pada senang ke rumah orang tuanya Fania. Asik banget ini keluarga.’ Batin Jeff.
“Gimana kalo dangdutan?.” Celetuk John dengan usulan nya.
“Cakeeeppp .... “ Sahut Prita yang berdiri untuk meletakkan piring kotornya yang sudah bersih dari nasi dan lauk pauk sambil mengarahkan jempol pada John lalu mengangkat piring kotor dua J juga.
“Tau – tauan dangdutan lo.” Celetuk Jeff.
“Taulah, tuh tersangkanya yang sering ajak gue ke Acara nikahan orang komplek sini. Jadi kenal gue sama dangdut.” Ucap John sambil menunjuk Fania.
“Tapi doyan kan lo Kak, ngeliatin biduan goyang?.” Celetuk Fania yang juga sudah selesai makan bersamaan dengan Andrew yang berdiri untuk menaruh piring kotor bekas dia dan Andrew ke wastafel.
“Depan mata. Sayang kalo ga diliatin.” Sahut John sambil tertawa.
“Biduan, penyanyi maksudnya?.” Tanya Jeff pada John.
“Yoi.” Jawab John singkat.
“Cakep John?.” Tanya Jeff lagi yang jadi penasaran pengen liat biduan goyang.
“Pas dalam genggaman.” Ucap John pelan sambil memeragakan tangannya bak sedang menggenggam pinggul biduan dengan tangannya.
“Wuih Sexy.” Sahut Jeff.
“Very.” Sahut John. “Panas dingin lah pokoknya kalo liat goyangannya.”
Jeff yang belum pernah liat biduan itu benar – benar terprovokasi oleh ucapan John soal goyangan biduan yang bisa bikin panas dingin.
“Ya udah dangdutan itu bener usulnya John.” Ucap Jeff membuat Andrew yang sudah bergabung duduk di sofa ruang tamu geleng –geleng aja.
‘Beneran bisa bikin panas dingin?.’ Batin Andrew.
Dan begitulah sepertinya Omes sedang bekerja di kepala tiga pria itu.
__ADS_1
****
To be continue ....