
♣ ADA APA DENGAN PRITA ♣ #2
**
Selamat membaca ...
“Gue minta maaf karena udah ngomong jelek soal cewek lo yang Terbaik itu!. Puas lo?!.” Ucap Prita pada John dengan wajah dan suara yang kesal namun air matanya sudah menetes.
“Prita ...” Jeff hendak mengejar, namun Fania menahannya.
“Biar gue aja Kak.”
“Ya udah.” Jeff membiarkan Fania yang menyusul adiknya.
“D, aku susul Prita dulu.”
Fania menoleh pada Andrew dan suaminya itu mengangguk dan ia langsung menyusul sang adik yang tadi setengah berlari menuju kamarnya.
**
Di lantai bawah, tempat insiden baru saja terjadi ..
“Ada apa ini?.” Mom kembali bertanya pada anak – anaknya yang sedang berkumpul setelah Fania pergi menyusul Prita diikuti oleh Mama Bela dan Ara.
Dad dan Papa Herman tak lama juga datang ke tengah – tengah mereka. “Ada apa?.”
Dad langsung bertanya karena melihat wajah – wajah tegang di hadapannya.
“Entah nih, anak – anak. Mom dengar perdebatan yang ujungnya Mom dengar pekikan Prita terus itu anak nangis dan pergi ke kamarnya.” Dad dan Papa Herman terkejut mendengarnya.
“Kenapa?. Si Prita dimarahin Fania?.” Tanya Papa Herman yang mendengar kalau putri bungsunya itu katanya menangis dan lari ke kamar.
“Hanya kesalah pahaman saja Pa. Prita bukan dimarahi Fania.” Ucap Andrew pada Papa Herman lalu langsung melirik sebal pada John.
“Iya Pa, biasalah adu argumen.” Sahut Reno mencoba bersikap biasa dan mencairkan suasana. Ia juga melirik pada John. “Fania, Mama Bela dan Ara sudah menyusul Prita ke kamarnya.”
“Oh, ya udah. Papa mau liat Prita dulu kalau gitu deh ya.”
Papa Herman langsung bergegas menyusul si putri bungsu yang kemungkinan besar ada di kamarnya.
“Kesalah pahaman apa sampai si Prita nangis kayak kesel banget begitu, hem?.” Mom kembali bertanya dengan tatapan yang menuntut jawaban yang jelas. “Ucapan dia tadi tertuju pada kamu kan, John?.”
“Iya Mom. John bentak dia.” Ucap John sambil menghela nafas panjangnya.
“Astaga John, memang Prita ngomong apa sampai kamu tega bentak dia?.”
“Ya she said something bad about Aila. (Ya dia bicara hal yang buruk soal Aila).” Sahut John pada pertanyaan Mom. “Aku sedikit emosi mendengarnya. I don’t like the way she talk like that about Aila. (Aku ga suka cara dia berbicara seperti itu tentang Aila). Iya aku tahu aku juga salah kalau sudah membentak Prita tadi.”
Mom geleng – geleng sambil menghela nafasnya.
“Ya memang ga bisa kalau ga membentak dia?. Secinta – cintanya kamu sama pacar kamu itu, jangan sampai kamu lupa, Prita itu bagian dari keluarga kita.”
“Iya Mom. My mistake, okay?. (Aku yang salah, oke?).” Ucap John. “Nanti aku segera minta maaf sama Prita.”
“Do that tomorrow, John. I think Prita will going to rest now also. (Besok saja, Dad rasa Prita juga akan istirahat juga).” Ucap Dad. “Better all of us take a rest now. (Lebih baik kita semua istirahat juga sekarang).”
__ADS_1
“Okay, Dad.”
“John, John, kayak apaan aja sih lo.” Celetuk Dewa. “Yuk ah, gue duluan tidur. See ya guys tomorrow.”
“Ya udah gue juga mau istirahat sekalian cek si Prita.” Timpal Andrew, Reno juga sama.
“Besok lo berangkat ke Truro pagi John. Meeting jam setengah sebelas. Lo udah bilang kan ke Keluarga Cemara kalau kalian balik ke Indonya di undur?.” Ucap Reno seraya bertanya pada John.
“Iya udah. Tapi kayaknya si Fania ga mudeng soal jadwal pulang keluarganya yang diundur.”
“Nanti gue yang bilangin.” Ucap Andrew sambil melenggang pergi untuk melihat adik ipar serta menyusul istri dan anaknya sekalian.
Reno juga melenggang pergi bersama Michelle, meninggalkan si bule koplak sendirian.
“Haish!.” John menggerutu sendiri.
**
Di lantai atas ....
Tok.... Tok... Tok... Tok......
Fania mengetuk perlahan pintu kamar Prita yang sudah langsung dikunci dari dalam oleh si empunya saat gadis itu setengah berlari ke kamarnya.
“Prita ....” Fania memanggil Adiknya.
“Gue lagi pengen sendiri, Kak.” Sahut Prita dari dalam.
“Prita, ini Mama. Kamu kenapa?. Buka pintunya, ngomong sama mama ya?.” Mama Bela mencoba membujuk putri bungsunya itu.
“Ya udah Mah, biarin die sendiri dulu.” Ucap Fania saat mama Bela hendak mengetuk pintu kamar Prita untuk mencoba membujuk lagi.
“Iya Ma, sepertinya lebih baik kita biarkan Prita sendiri dulu.” Ucap Ara mendukung ucapan Fania.
“Ya udah deh.”
“Yuk. Mama mending istirahat gih. Besok kan mau balik.” Ucap Fania lagi.
“Si Prita kenapa, Kak?.” Papa Herman datang menghampiri pada tiga wanita yang tadi menyusul Prita.
“Ga ape – ape. Miss komunikasi aje ama Kak John, jadi rada bentrok. Udah Papa sama Mama istirahat sono. Besok kan mau pada balik?.”
Fania membujuk kedua orang tuanya agar segera istirahat dan membiarkan si Prita dulu untuk sementara waktu.
“Papa, Mama sama Prita kan ga jadi balik besok, Kak. John ada kerjaan dua hari ke depan. Jadi tiga hari lagi kita pada pulang ke Indonesianya.” Ucap Papa Herman.
“Oh gitu.” Sahut Fania. “Syukur deh, masih bisa jalan – jalan berarti besok.”
Papa dan Mamanya Fania hanya manggut – manggut. “Eh kak, kamu bukannya ini malem ada acara pesta kelulusan itu katanya papa denger kemaren kamu ngobrol sama si Andrew.”
“Diundur, sampe minggu depan.”
Papa dan Mamanya Fania kembali manggut – manggut.
“Ya udah Kak Ara pamit ke kamar ya, Sweety.” Pamit Ara saat melihat Andrew yang sudah datang menghampiri mereka. “Pa, Ma. Ara duluan. Yuk Ndrew.” Ucap Ara lagi lalu berjalan pergi dan Reno juga sudah berada di lantai
__ADS_1
dua kemudian berjalan bersama Ara menuju kamar mereka.
Andrew dan Fania juga berpamitan untuk pergi ke kamar mereka pada Papa Herman dan Mama Bela.
****
“Gimana Prita?.” Tanya Andrew saat dia dan Fania sudah berada di kamar mereka, dan melihat Andrea yang baru saja tertidur pulas.
“Belom mau ngomong.” Jawab Fania pelan. “Aneh itu anak sikapnya ini hari.”
“Anehnya?.” Tanya Andrew sambil merengkuh Fania dari belakang. Menghirup dalam - dalam aroma tubuh Fania yang menjadi candunya juga.
“Ya aneh aja, ga kayak biasanya. Aneh jadi sentimen banget kayaknya sama si Aila. Padahal waktu ketemu, ngobrol aja engga itu dia sama Aila.”
“Ya mungkin Prita sedang ada masalah.” Ucap Andrew.
“Ya belum tau juga.”
“Ya sudah lebih baik kita istirahat. Besok coba kamu bujuk dia buat share sama kamu. Mungkin besok perasaannya sudah jauh lebih baik.”
Fania mengangguk.
*****
Fania sulit terlelap, masih kepikiran sama si Prita yang bersikap aneh karena seolah ga suka oleh kekasihnya John, atau bahkan ga suka dengan hubungan John dan wanita bernama Aila itu.
‘Pasti ada apa – apa ini.’ Batinnya yang gelisah mulai menduga – duga. ‘Tunggu – tunggu deh, ini ada gelagat mencurigakan ini si Priwitan.’ Fania berpikir keras. ‘Oh ya Ampuuuunnn. Jangan – jangan si Priwitan naksir Kak
John?. Oh Tuhan , semoga gue salah.’ Fania memijat pelan pelipisnya.
Sementara Fania sedang sibuk dengan spekulasi di otaknya, Andrea dan Andrew sepertinya sudah pulas dalam tidur mereka.
‘Si Prita udah tidur belom ye?.’
Fania hendak bangkit dari ranjang, namun tangan kekar Andrew tiba – tiba melingkar di perutnya.
“Mau kemana, hem?.” Tanya Andrew dengan suara yang sedikit parau.
“Aku kira kamu udah tidur, D.” Jawab Fania.
“Gimana aku ga bangun kalau kamu ga bisa diam, Heart?.” Ucap Andrew.
“Duh, maap ya, jadi ganggu tidur kamu deh, D.”
“Masih memikirkan soal Prita?.”
“Iya. Penasaran aku.”
“Penasaran kenapa?.”
“Penasaran mau mastiin, tuh anak beneran naksir om – om apa engga.”
“Apa?!. Naksir om - om?!.”
***
__ADS_1
To be continue ...