BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 227


__ADS_3

Selamat membaca...





BRAK!.


Fania keluar dari kamar lalu membanting pintunya. Membuat Andrew terkejut karena bantingan pintu yang amat keras. Menandakan kalau istrinya itu sedang dalam mode kesal dan marah. Namun Andrew tak segera mengejar. Ia sendiri masih mencoba menetralkan emosinya.


Fania yang juga sedang emosi melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tak turun ke lantai bawah, karena semua orang sedang berkumpul disana.


Sementara Fania sedang enggan untuk berbicara dengan siapapun saat ini. Ia ingin sendiri.


“Theresa, you know who was get out from the Andrew’s and Fania’s room?. (Theresa, kamu tau siapa yang keluar dari kamarnya Andrew dan Fania?).”


Reno bertanya pada salah satu pelayan di Kediaman Smith karena Andrew dan Fania tidak turun untuk makan malam, hingga makan malam selesai.


Hanya tadi sempat mendengar pintu kamar ditutup dengan amat keras namun tak ada satupun yang muncul baik Andrew ataupun Fania ke lantai bawah.


“Mrs. Fania, Sir (Nyonya Fania, Tuan).” Jawab Theresa.


“Where is she? (Dimana dia?).” Ara ikut bertanya.


“She got inside to one of the guest room, Mrs. Ara (Dia masuk ke salah satu kamar tamu, Nyonya Ara).”


“And Andrew? (Dan Andrew?).” Tanya Reno lagi.


“I haven’t saw him out from their room (Saya belum melihatnya keluar dari kamar mereka).”


“Alright then. Thank you Theresa (Baiklah kalau begitu. Terima kasih Theresa).”


“You are very welcome, Sir (Sama – sama Tuan).”


Reno nampak terdiam sebentar. Yang lain pun tak berkomentar.


“Aku cek Fania dulu, Babe.” Reno bangkit dari duduknya.


“Aku ikut.” Sahut Ara.


“No, Babe. Better you stay here. (Jangan sayang. Sebaiknya kamu disini aja). Biar aku coba bicara dulu dengan Little F. Lagipula kamu jangan sering naik turun tangga.”


Ara pun patuh.


Ia dan anggota keluarga lain memilih untuk menunggu Reno di ruang santai keluarga.


Tok ... Tok ... Tok ...


Reno mengetuk salah satu pintu kamar tamu yang dimasuki Fania, setelah tadi menanyakan terlebih dahulu pada Theresa Fania ada di kamar tamu sebelah mana.


Tak ada tanda – tanda pintu akan terbuka. “Little F....”


Tak ada sahutan juga. Reno kembali mencoba. Mengetuk dan memanggil Fania.


“Kenapa Kak?.” Terdengar sahutan dari balik pintu, namun pintunya tak terbuka.


“Boleh gue masuk?.” Reno bertanya pelan.


“Sorry Kak, gue lagi pengen sendiri.”


Reno menghela nafasnya. “Ya udah. Gue di kamar kalau lo butuh sesuatu. Ponsel gue juga standby ya. Kasih tau gue kalau ada yang lo inginkan.”


“Iya Kak. Makasih.”


“Ya udah gue tinggal ya. Gue suruh maid antar makan malam lo ya?.”


“Ga usah Kak, gue ga laper.”

__ADS_1


“Tapi lo tetap harus makan, Little F. Nanti lo sakit.”


“Iya, nanti kalo gue laper gue bakalan makan kok. Lagian tadi juga gue udah jajan di luar. Jadi masih kenyang.”


Fania menjawab Reno dengan nada suara yang biasa namun sedikit parau. “Ya udah. Gue tinggal dulu ya, kalau lo masih belum mau cerita.”


“Iya Kak. Makasih and sorry....” Fania menjauh dari pintu dan Reno bergegas kembali turun. Berhenti sebentar di depan kamar Andrew dan Fania, namun mengurungkan niat untuk mengetuk. Ia meneruskan langkahnya kemudian untuk ke lantai bawah.


“Gimana Kak Fania, Kak Ren?.” Tanya Michelle.


“Sedang ingin sendiri dulu.” Jawab Reno.


“Mereka itu bertengkar soal apa sih, sampai seperti itu?.” Ara bersuara. Reno mengendikkan bahunya. Karena memang ia sendiri juga tidak tahu menahu permasalahan antara Andrew dan Fania.


“Just give them some times. They will share if they want to share. If not, that is their right (Beri mereka waktu. Mereka akan berbagi jika memang mereka ingin. Jika tidak, itu adalah hak mereka).” Dad berkata bijak.


“Iya Dad benar.” Sahut Mom.


“Baiklah, lebih baik kita semua ke kamar masing – masing. Reno sudah bilang pada Fania kalau butuh apa – apa untuk langsung menghubungi Reno.”


Mereka semua menjawab dengan anggukan lalu beranjak untuk masuk ke kamarnya masing – masing.


****


Andrew melirik jam digital di atas nakas samping ranjang. Setelah bertengkar dan Fania keluar dari kamar Andrew tak lama merebahkan dirinya di atas ranjang hingga terlelap.


’12 A.M.’


Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Melirik tempat disampingnya, Fania tak ada. Ia pun langsung beringsut turun dari ranjang. Melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka, sekaligus mengecek keberadaan Fania. Ternyata ga ada juga di kamar mandi.


Kesal Andrew sudah sedikit berkurang pada Fania, namun masih gengsi untuk memanggil. Andrew melangkahkan kakinya menuju walk in closet. Ga ada juga itu si Kajol.


“Keras kepala. Dimana dia?.” Andrew bergumam sendiri. Merasakan juga perutnya yang sedikit lapar. Melirik meja rias, ada tas yang Fania pakai kemarin beserta bungkusan warna putih yang sedikit menyembul dari dalamnya.


Andrew meraih bungkusan putih tersebut. Sontak ia terkejut dengan apa yang ada di dalamnya.


“Haish. Apa yang ada dipikirannya ya Tuhan.” Andrew bergumam lagi, setelah melihat alat kontrasepsi yang sepertinya kemarin di beli Fania di mini market. Ia menghela nafasnya dengan kasar sambil buru – buru keluar dari


Lampu – lampu sudah temaram di luar kamar. Mencoba mencari Fania di lantai bawah, mengecek keberadaan si Kajol di setiap ruangan di lantai bawah. Terkecuali kamar Reno yang sudah pindah dari lantai atas sejak Ara hamil


dan kamar orang tuanya.


‘Dimana kamu Heart?.’ Batinnya bertanya sendiri. Tak nampak siapapun juga saat ini. Namun ia yakin kalau Fania masih di dalam rumah, karena tak ada kehebohan kalau andainya Fania mencoba pergi dari rumah. Tak ada yang menggedor kamarnya juga.


Andrew bergegas kembali ke kamarnya dan Fania untuk mengambil ponsel.


*****


“Ck, habis lagi ini air. Males banget gue keluar.” Fania merasa kembali haus. Namun air minum di dalam teko kaca yang tadi dibawakan oleh pelayan sudah habis. “Jam dua belas. Harusnya dia udah tidur. Bikin kopi ah.”


Fania bergegas keluar kamar. Merasa sedikit lapar juga, namun enggan makan. Dia belum bisa tertidur juga sedari tadi sejak ia memisahkan diri untuk tinggal di kamar tamu setelah bertengkar dengan Andrew.


Meraih teko kaca untuk diisi kembali, Fania pun keluar dari kamarnya.


‘Ck!.’ Batin Fania menggerutu saat melihat Andrew berdiri di depan kamar mereka sambil menatapnya. ‘Apes!.’


Fania langsung balik kanan, masuk kembali ke kamar tamu yang jadi tempat tinggalnya sejak tadi dan langsung menguncinya.


Sementara Andrew setengah terkejut melihat Fania yang keluar dari kamar tamu yang berada di ujung kamarnya. Ia menghela nafas saat melihat Fania berbalik untuk kembali ke kamar tersebut, tak melanjutkan langkahnya yang seperti ingin mengambil minum.


“Heart.” Andrew memanggil Fania dari luar pintu kamar tamu yang dimasuki si Kajol barusan. Sudah mencoba membuka, namun terkunci. Tak ada sahutan dari dalam. “Heart, tolong buka pintunya. Kita perlu bicara.”


Kini Andrew berbicara dengan nada yang sudah kembali terdengar biasa. Berusaha membujuk Fania yang tak juga kunjung menyahut apalagi membukakan pintu.


“Bicara noh ama tembok!.” Gerutu Fania dalam gumamannya. Ia memasangkan headset di telinga untuk mendengarkan musik dari ponselnya.


“Heart. Buka pintunya tolong.” Andrew masih berusaha membujuk agar Fania membuka pintu. Tetap nihil. Tak ada sahutan, tak ada pergerakan juga sepertinya yang mendekati arah pintu.


Andrew jadi tak sabar. “Buka atau aku dobrak pintu ini.” Tetap juga tak ada sahutan.

__ADS_1


Fania mendengarkan musik sambil merebahkan dirinya diatas ranjang dalam kamar tamu yang sedang ia tempati itu. Belum berganti baju, hanya sekedar cuci muka. Karena semua baju dan peralatan pembersih muka berikut


peralatan mandinya semua ada di kamarnya dan Andrew. Ga kepikiran dia bawa tadi.


🎶


Sendiri, Sendiri Kudiam/Diam dan merenung,


Merenungkan jalan yang ‘kan membawaku pergi


Pergi ‘tuk menjauh, menjauh darimu


Darimu yang mulai berhenti


Berhenti mencoba, mencoba bertahan


Bertahan untuk terus bersamaku


🎶


***


“Heart? ....”


Andrew sudah berhasil memasuki kamar tamu yang di tempati Fania, tanpa mendobraknya. Sebelumnya ia teringat kalau setiap kunci kamar tamu ada kunci penggantinya yang tersimpan pada suatu tempat.


Fania tampak tiduran memunggungi arah pintu kamar, jadi tak mengetahui Andrew yang sudah masuk ke dalam kamar. Dia juga memakai headset yang terpasang ditelinga dengan volume yang lumayan besar, karena musik yang tersetel sayup – sayup juga terdengar dengan mata yang memang ia pejamkan. Mencoba tidur.


“Heart? ....”


Andrew coba memanggil lagi. Fania bergeming pada posisinya.


Andrew sudah mendekatkan diri menatap Fania yang sedang terpejam itu. Menghela nafasnya pelan.


Berjalan kembali ke arah pintu kamar tamu tersebut dan membukanya lebar lebar.


Tanpa aba – aba lagi, Andrew pun langsung mengangkat tubuh Fania dari atas ranjang tersebut. Yang tentu saja membuat si Kajol membuka matanya dan kaget melihat Andrew yang sudah berada di dalam kamar dan kini sedang menggendongnya ala Bridal Style.


“Turunin.”


Fania menatap tajam pada Andrew meminta suaminya itu untuk menurunkannya. Namun Andrew bergeming. Tetap menggendong Fania sambil terus berjalan mengarah ke luar dari kamar tersebut.


“Aku bilang turunin, gak.”


Fania mulai meronta, karena Andrew yang bergeming tak menurunkannya, pun tak bicara. Hanya melirik sebentar pada si Kajol yang menatapnya sebal campur kesal itu.


Kalah tenaga, tentu saja dari Andrew yang tubuhnya amat sangat atletis itu.


Namun Fania terus meronta, hingga sampai Andrew sudah membawanya masuk ke kamar mereka dan baru menurunkan Fania di atas ranjang mereka.


Fania langsung berusaha bangun saat Andrew sudah mendudukkannya di tepi ranjang. Namun Andrew mencekal dengan tubuhnya sambil menatap intens pada wajah Fania. “Awas!.”


Andrew tetap bergeming pada posisinya.


“Look at me (Lihat aku).”


Fania tak mau mengikuti permintaan Andrew, ia memalingkan wajahnya dan tetap berusaha menghindari Andrew.


Andrew melepaskan headset dari telinga Fania, lalu merampas ponsel si Kajol dari tangan istrinya itu dan meletakkan dengan sedikit kasar di atas nakas.


“Jangan lancang!.” Fania melotot pada Andrew setelah si Donald Bebek merampas ponselnya.


Andrew setengah terkekeh. Langsung meraih tengkuk Fania dan mencium bibirnya sedikit kasar.


Juga merebahkan dengan memaksa tubuh Fania di atas ranjang dan mengangkat kaos Fania sampai perut rata si Kajol itu pun nampak terlihat.


“This is what you want\, isn’it? (Ini yang kamu mau\, kan?).” Andrew setengah menyeringai. “Let’s have s*x then (Mari kita berhubungan i*tim kalau begitu).”


*****

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2