
Selamat membaca..
- - -
- - -
- - -
- - -
Fania dan John sudah dalam perjalanan pulang, sesuai dengan titah si Bos Besar yang mengharuskan
John mengantar Fania pulang dengan segera.
“Eh iya Kak, lo anter gue ke apartemen kak Rita ya.” Ucap Fania.
“Kenapa emang?. Lo ada perform malam ini?.” Tanya John dan Fania menjawab dengan anggukan. “Ya udah, tapi lo kasih tau itu kakak lo. Ntar gue disalahin lagi kalo dia tau gue ga nganter lo ke rumah.” Cerocos John.
“Iye Om, cerewet banget si Om.” Sahut Fania.
“My responsibility, okay?.” Timpal John.
“Oke Bos.” Sahut Fania pada John lagi dan ia pun mengirim pesan melalui aplikasi chat kepada Reno bahkan Ara.
‘Kak Reno n kak Ara yang soleh dan solehah, adikmu ini izin engga langsung pulang ke rumah ya. Karena malam ini neng Fania kudu manggung. Nyari duit buat sekarung berlian. Jadi gue minta tolong kak John buat nganter ke apartemen kak Rita dulu.’ Begitu isi pesan Fania kepada Reno dan Ara disertai emoji kiss di akhir pesannya.
Setelah Fania selesai menulis dan mengirim pesan pada dua kakaknya yang sedang berada di London, dia kembali sibuk menyetel music di player mobilnya John.
Fania memilih satu lagu yang di rilis oleh duo ratu pada tahun 2006 lalu. Ia menyukai lagu tersebut dan mengunduh serta menyimpannya dalam perpustakaan musik di dalam ponselnya. Selain lagu itu ada kenangan tersendiri untuk Fania.
....
Aku hanya pergi ‘tuk sementara
Bukan ‘tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti ‘kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
....
__ADS_1
Refrain lagu tersebut membuat Fania mengingat satu memori. Ia duduk bersandar di kursi penumpang samping John sambil menatap Jalanan dan pikirannya sedang mundur mengingat satu kenangan.
“I miss you.”
...
*****
Flashback on
“Emang lo ga bisa apa kalo kuliah disini? Harus gitu kuliah di London? Disini juga banyak kampus yang bagus, kan?.” Fania tomboi sedang bicara dengan seorang laki – laki plontos nan tamvan.
Kala itu Fania dan Andrew sedang berada di dalam mobil Andrew setelah selesai pulang dari sebuah Mal dan Andrew menyetir mobilnya untuk mengantar Fania pulang.
“Kan ada pepatah yang bilang, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Nah kalo gua pilih London aja. Lagipula kan Dad memang asli Inggris, jadi kita ada rumah disana.” Ucap Andrew pada Fania saat itu sambil melirik si tomboi, namun tetap fokus pada kemudi.
“Kak Reno udah ke London, sekarang lo juga mau kesana.” Ucap Fania dengan sedih.
Andrew tersenyum lalu menoleh pada Fania dan mengacak – acak rambut gadis itu setelah mendengar kata – kata Fania dan gadis itu bicara dengan nada suara serta raut wajah yang sedih.
“Udah jangan sedih gitu dong. Udah jelek tambah jelek.” Ucap Andrew sambil coba menggoda Fania biar gadis itu kesal. Karena Andrew selalu suka sama ekspresi Fania kalo kesal dengan ejekannya.
Tapi Fania bergeming tanpa ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Gadis itu menatap jalanan di sampingnya.
Andrew paham Fania sedang sedih kala itu dan dia mencoba menghibur Fania dengan kata – katanya.
Kasian si Demi Moore KW sendirian. Temen juga ga banyak kayaknya, karena sejak kenal dengan Reno lalu Andrew, gadis itu seringnya main dengan mereka berdua.
“Nanti gue sering – sering dateng deh kalo liburan buat ngajak lo maen Time zone.” Andrew masih coba menghibur tapi Fania tetap diam.
Kebetulan saat itu radio di dalam mobil Andrew menyala dan salah satu siaran radio yang kala itu terdengar sedang
memutar request lagu dari para pendengar. Fania masih diam dan Andrew memahami kesedihan gadis itu.
Andrew menaikkan sedikit volume radionya. “Nih denger musik biar ga bete.” Ucap Andrew yang masih coba menghibur dan ia mengelus kepala Fania.
....
Aku hanya pergi ‘tuk sementara
Bukan ‘tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti ‘kan kembali pada dirimu
__ADS_1
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
....
“Tuh denger lagu itu barusan.’ Aku pasti kembali’.”
Flashback off
****
Setelah semalam Fania manggung dari Kafe milik Julian dan istrinya, Lisa. Fania langsung pulang ke rumahnya di Bekasi. Tentu saja kakak John tetap setia menjemput dan mengantarnya pulang dengan selamat sampai ke rumah.
Meskipun sebelumnya Fania sudah mengirim pesan untuk tidak menjemputnya malam itu. Tapi tentu saja John lebih patuh pada titah Bos sekaligus sahabatnya itu. Dan yang sebenarnya John juga sudah menyayangi Fania
sebagaimana rasa sayang seorang kakak ke adiknya.
Kalo kata John sih Fania itu cewek dengan pribadi yang unik. Terlepas kalau gadis itu adalah adik angkatnya Reno
Alexander, Fania memang gadis yang sangat sangat menyenangkan. Gadis itu, menurut John bisa membuat orang lain merasa nyaman mengobrol dengannya meski baru kenal.
Nah karena sekarang John udah terlalu kenal sama Fania, jadilah dia ketularan sama sayangnya Reno ke Fania.
John sudah sangat care pada Fania saat ini. Jadi terlepas mengantar jemput Fania adalah perintahnya Reno, John juga merasa ga tega kalau membiarkan Fania pulang malam sendiri. Meskipun kadang John mengirim supir untuk menjemput Fania di manapun saat dirinya berhalangan.
Untung saja semalam tidak ada permintaan untuk perpanjangan waktu manggung, jadi Fania ga harus pulang terlalu larut, meski tetap saja Fania sampai rumah sudah jam 1.30 pagi. Berhubung sudah masuk hari minggu dan tidak ada job untuk acara wedding dan sebagainya, jadi saat sampai rumah Fania bersih – bersih wajah dan tubuhnya dengan santai sambil menunggu adzan Shubuh baru kemudian ia sholat dan tidur.
Hari sudah menjelang agak siang saat Fania membuka matanya. Gadis itu terbangun sendiri tanpa ada yang mengganggunya. Karena hari libur, papa, mama dan adiknya tidak pernah mengganggu waktu istirahat Fania yang berharga. Mereka ga tega membangunkan si biduan yang kayak ga ada capenya itu kalo lagi melek. Lagian juga Fania sudah sholat Subuh dulu baru tidur, jadi mamanya ga akan ganggu.
“Ya Allah, badan gue.” Fania mengulet saat sudah membuka matanya dan mendudukkan dirinya diranjang sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.
Cape banget kayaknya si Biduan yang kemaren siang abis balapan dan malamnya harus manggung demi sekarung berlian.
Setelah dirasa nyawanya sudah kumpul dengan sempurna, Fania bergegas turun dari tempat tidurnya dan mandi.
Fania melirik jam yang menempel didinding kamarnya. Kemudian melangkah menuju lemari untuk mengambil baju ganti yang akan dia bawa ke kamar mandi. Karena kalo Fania abis mandi Cuma handukan terus berjalan
lenggang dari kamar mandi ke kamarnya kalo dia lupa bawa baju ganti, mama Fania pasti bakal ngomel.
“Perawan ga ada malu-malunya handukan begitu dari kamar mandi.” Begitu kira – kira omelan mama Fania kalo si anak sulungnya kambuh penyakit lupa bawa baju ganti pas mau mandi.
***
__ADS_1
To be continue ....
Sampai sini saya Pribadi, mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian semua para readers yang sudi membaca novel ini. Hingga sampai episode ini, novel Bukan Sekedar Sahabat sudah mencapai 5000 sekian popularitasnya. Author cuma mau bilang terima kasih buat waktu dan apresiasinya. Mudah - mudah otor bisa terus belajar dan memberikan cerita yang layak untuk di baca. Kritik dan saran Insya Allah akan otor baca karna otor merasa bahagia baca dan bales komen. Hehehe ...