
Selamat membaca ....
Keluarga Smith dan Keluarga Cemara sudah meninggalkan ruangan Fania, setelah tadi Dad dan John menyusul datang menjenguk Fania. Keluarga Andrew membawa Keluarga Fania berjalan – jalan di Thailand, karena Andrew tetap kekeh ingin terus menjaga Fania nya.
Namun Reno dan Ara ikut tinggal di rumah sakit menemani Andrew. Reno masih ingin bercengkrama bersama Little F nya setelah sempat panik, takut dan khawatir yang teramat sangat seperti Andrew.
“Kenapa Kak Ara sama Kak Reno ga ikutan jalan – jalan aja sih?. Kalo engga pada istirahat sana.” Ucap Fania pada Reno dan Ara. “Kalian nih keras kepala banget pada disuruh istirahat juga.”
“Kayak sendirinya engga keras kepala aja.” Celetuk Reno dan Fania mencebik.
“Ya kan gue juga udah ga apa – apa.” Sahut Fania.
“Menurut lo, itu kan.” Timpal Reno. Lagi, Fania mencebik.
“Iya Sweety, ga apa – apa kok. Lagian bosen di Hotel.” Ucap Ara. “Yang penting sekarang kamu harus benar – benar pulih, so kita semua bisa istirahat lebih leluasa di rumah.”
“Listen to your sister in law (Dengerin kakak ipar kamu tuh).” Celetuk Andrew.
Fania memandang Andrew sambil mengerucutkan bibirnya.
“Eh iya, tadi aku denger kamu sama Kak Reno terus dua J dan Dad ngomong soal pemakaman, ya?.” Tanya Fania pada Andrew saat sepertinya ia mendengar kelima pria itu mengobrol soal pemakaman seseorang.
“Iya.” Jawab Andrew singkat.
“Pemakaman siapa?. Jangan – jangan udah nyiapin buat aku lagi.” Celetuk Fania asal yang sontak langsung mendapat tatapan horor dari Reno dan Andrew.
“Jangan asal ngomong!.” Reno berucap ketus.
“Ck. Kamu ini kalau ngomong suka sembarangan.” Andrew pun sama halnya dengan Reno. “Don’t you ever talk like that again. (Jangan pernah kamu bicara seperti itu lagi). Aku ga suka. Hati aku sakit dengarnya.”
“Iya ... maaf.” Ucap Fania. “Pemakaman siapa memangnya?.”
“Kakaknya Nino.” Jawab Andrew.
“Kakaknya Nino?. Nino asistennya Kak Reno itu?.” Tanya Fania lagi.
Reno mengangguk.
“Kebetulan banget ya Kak, sama tragedi gue ini.” Ucap Fania pelan. “Kak Nino itu orang Thailand?.”
“His brother yes, but Nino not. They were step Brothers. (Kakaknya iya, tapi Nino bukan. Mereka saudara tiri).” Jelas Andrew dan Fania ber OH ria.
“Bukan kebetulan juga sih sebenarnya.” Timpal Reno. “Let’s say .... (Bisa dibilang..) Dia gugur dalam tugas.”
__ADS_1
“Tentara?.” Tanya Fania polos. Andrew, Reno beserta Ara setengah terkekeh. “Dih orang nanya bener malah pada ketawa sih?.”
“Udah ah, panjang ceritanya.” Celetuk Ara.
“Satu lagi.” Sambar Fania cepat. Ada hal yang sangat ingin ia tanyakan pada Andrew sebenarnya atas dasar penasaran.
“Apa?.” Tanya Andrew namun Fania kini terlihat ragu.
“Waktu aku dibawa Nick....” Fania mulai berucap namun belum sempat melanjutkan.
“Don’t say his name in front of me!. (Jangan sebut namanya didepanku!).” Andrew berkata ketus. “Tolong.”
“Ma-maaf.” Fania setengah terbata.
“Sorry, Heart. (Maaf sayang).” Ucap Andrew yang merasa bersalah pada Fania karna nada bicaranya barusan.
Fania meraih tangan Andrew. “Ga apa – apa, aku ngerti.”
“Kamu mau tanya apa, Sweety?.” Tanya Ara.
“Waktu di Villa terkutuk itu, ada satu orang yang ditangkap dan dibawa ke hadapan aku. Mereka bilang dia orangnya kamu.. Dan ....” Fania tampak ragu melanjutkan kalimatnya, agak ngeri juga kalau mengingat seseorang ditembak mati depan matanya waktu itu.
Andrew, Reno dan Ara menunggu Fania menyelesaikan kalimatnya.
“Dan ... mereka mengeksekusi dia di depan aku.” Fania melanjutkan. Menghela nafasnya pelan.
“Damned!. (Sialan!).” Ucap Andrew membayangkan bagaimana Fania nya kala itu.
Fania mengangguk pelan saat Reno bertanya. Ara merengkuhnya.
“Kraisee.” Ucap Reno. “Namanya Kraisee. Dia kakak tirinya Nino. Salah satu orang yang setia sama gue, sama Andrew.”
“He’s one of the best man actually. (Dia salah satu orang terbaik sebenarnya). Tapi karena satu pengkhianat yang membongkar penyamaran Kraisee saat itu, sampai akhirnya dia tertangkap dan dibunuh.” Ucap Andrew yang tampak sedikit geram.
“Gara – gara aku ya.. Sampai ada korban.” Fania tertunduk lesu.
“No, Sweety. Bukan gara – gara kamu.” Ara mencoba menghibur Fania. “Kraisee sudah melakukan tugasnya dengan baik, setidaknya ia memastikan kalau laki – laki bajingan yang sudah menculik kamu, tidak melakukan hal – hal yang melecehkan kamu.”
“Kalau gue udah boleh keluar dari rumah sakit, anter gue ke keluarganya ya Kak. Gue mau ucapin belasungkawa. Termasuk ke Kak Nino.” Ucap Fania pelan. “Gue juga ga nyangka kalo N.. dia, sampe bisa dengan teganya nembak orang kayak ga ada beban.”
“Laki – laki gila itu yang mengeksekusi Kraisee dengan tangannya?.” Tanya Reno dan Fania mengangguk.
“Setelah dia bilang kalau kakaknya kak Nino itu orangnya Andrew, waktu orang – orangnya bawa dia di depan gue, ga lama dia langsung nembak tepat di kepala.” Jelas Fania. “Gue ga sempet buat menghindar untuk ga liat, karena itu terjadi sekejap mata.”
‘Jadi si gila Nick sendiri yang mengeksekusi Kraisee dengan tangannya.’ Batin Reno. ‘Well, Nick Alister, lo akan dua kali menderita.’
__ADS_1
Kraisee sangat setia pada Andrew dan Reno. Reno terutama. Pria yang tewas ditangan Nick itu sudah juga dianggap keluarga seperti halnya Nino, selain pria itu juga lumayan banyak berjasa membantu Reno dan Andrew dalam menangani setiap urusan mereka, terutama jika ada pengacau.
Tubuh Fania setengah gemetar saat berbicara sambil mengingat kejadian saat Nick menembak orang yang bernama Kraisee itu tepat dikepalanya, di hadapan Fania.
“Maaf ya, kamu sampai menghadapi kejadian semacam itu.” Andrew merengkuh tangan Fania dan menggenggamnya. Fania mengangguk pelan.
Andrew dan Reno saling bertatapan penuh arti tanpa dilihat Fania. Hanya Ara yang melihat dan sepertinya wanita itu paham dengan apa yang sedang dipikirkan oleh kedua laki – laki itu.
“Ndrew.” Panggil Reno pada Andrew lalu mengkode Andrew untuk keluar dari ruangan Fania sebentar untuk berbicara suatu hal.
Andrew paham. “ Heart, aku keluar dulu sama R.”
“Babe, titip Fania sebentar.” Ucap Reno pada Ara dan kedua wanita itu mengangguk.
**
“Nick Alister!.” Suara dingin pria terdengar ditelinga oleh Nick yang kini sedang duduk terikat disebuah kursi besi yang mirip dengan kursi yang diperuntukkan untuk tahanan berbahaya. Pria itu seperti sudah juga duduk dihadapan Nick, namun berjarak.
Kedua tangan dan kakinya terikat di sebuah borgol besi yang menempel pada kursi tersebut. Tubuhnya di biarkan bertelanjang dada, hingga dua luka tembak yang bersarang di tubuh bagian atasnya itu nampak jelas.
Tubuhnya terlihat berkeringat karena ruangan tempat ia berada tak berventilasi dan remang. Ada lampu yang tergantung diatas kepala Nick namun cahayanya temaram. Tak bisa membuat Nick melihat dengan jelas.
“Andrew Smith?.” Ucap Nick yang sepertinya tak takut. “No, I can recognize his voice. (Bukan, gue bisa kenalin suaranya).” Laki – laki gila itu setengah terkekeh. “He sent you to kill me?. (Dia mengirim lo buat bunuh gue?). Is he too coward to face me, until he send his man?. (Apa dia terlalu pengecut untuk menghadapi gue, sampai harus mengirim orang?).”
“I send myself to you. (Gue dateng sendiri buat lo).” Ucap pria di depan Nick itu. Membuat Nick setengah heran.
“And who the hell are you?!. (Terus lo siapa?!).” Tanya Nick yang nampak santai itu. “You may hold me here, or kill me. But My people, my Dad especially, won’t let you and Andrew Smith get away. (Lo bisa aja menahan gue disini, atau bunuh gue. Tapi orang – orang gue, terlebih lagi ayah gue, ga akan membiarkan lo dan Andrew Smith lolos).”
“Your people ... your Dad, huh?. (Orang – orang lo..... Ayah lo ya?).” Pria itu kini terdengar terkekeh namun dengan nada sinis. Ia meraih ponselnya lalu berbicara dengan seseorang di sebrang telpon kemudian me - loud – speaker panggilan tersebut.
‘I don’t have a son Named Nick Alister!. (Saya tidak punya putra bernama Nick Alister!).’ Terdengar suara dari sebrang telpon tersebut. ‘And I don’t care what you are going to do to him!. (Dan saya tidak perduli apa yang akan kau lakukan padanya!).’
Nick membulatkan matanya saat mendengar suara dari sebrang telpon itu. Suara yang amat ia kenal.
“Yuri Alister! It was him, right?. Your Father. Was. (Yuri Alister!. Barusan itu dia, kan?. Ayah lo. Tadinya).” Ejek pria di depan Nick itu.
“Who the hell are you?!. (Siapa sebenarnya lo?!).” Nick mulai tampak tak tenang.
“Me?!. (Gue?!).” Pria itu memajukan wajahnya. “Reno Alexander! Fania’s Brother! (Kakaknya Fania!).”
“What?! Re-Reno Alexander?!.” Jantung Nick mulai tak karuan. Ia pernah mendengar nama itu. Pernah juga mendapatkan peringatan dari beberapa orang dari dunia bawah untuk tidak mencari cari masalah dengan pria bernama Reno Alexander. Kalau tidak ingin hidupnya terasa seperti neraka yang tanpa akhir. “Y-you? Fania’s Brother?! (L-Lo? Ka-kakaknya Fania?!).”
Teringat salah satu peringatan yang pernah sampai ditelinganya. Berharaplah seorang Reno Alexander berbaik hati untuk memberikan lo kematian yang cepat seandainya lo sudah mengganggunya.
__ADS_1
To be continue ....*