BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 232


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Intan, Kak Jeff semalem pulang?.” Tanya Fania kepo pada salah satu pelayan.


“Pulang Nyonya Fania.” Jawab Intan si Pelayan yang adalah orang Indonesia juga.


“He woke up?. (Apa dia udah bangun?).” Tanya Andrew.


“I will go to check, Mister Andrew. (Akan saya cek sekarang, Tuan Andrew).” Jawab Intan sopan. Andrew mengangguk.


“Kok aku ngerasa nya cewek yang semalem itu rada ga beres deh.” Celetuk Fania sedikit berbisik.


“Menurut aku juga begitu.” Sahut Ara.


“Sama Mom juga rasa itu wanita yang namanya Clarissa semalam sedikit mencurigakan.” Timpal Mom.


“She’s a Gold Digger. (Dia itu cewe matre). Pasti! I’m very sure! (Aku sangat yakin!).” Michelle juga ikut menimpali.


Dan mulailah para wanita – wanita di Keluarga Smith bergibah di pagi hari yang indah ini.


Sementara Andrew, Dad dan Reno hanya geleng – geleng aja melihat kelakuan wanita – wanita berbeda usia yang punya hobi sama, Gibah!.


“Sssttt!!,”


Fania mengkode para partner gibahnya untuk berhenti, karena Jeff sudah muncul.


“Morning (Pagi).”


Sapa Jeff pada Keluarga Smith yang sudah nampak berkumpul di meja makan untuk sarapan.


“Morning.” Sahut mereka bersamaan.


“Have fun last night, huh?. (Bersenang – senang semalem ,hah?).” Sindir Andrew.


“You know I was went to Red, right?. (Lo tau gue pergi ke Red, kan?).” Sahut Jeff santai.


“Seru Kak?.” Tanya Fania penasaran.


“Tanya si Donald Bebek dong, dia tau banget disana seru apa engga.” Jawab Jeff dengan seringai liciknya.


Andrew menatap tajam padanya.


“Kata kamu jelek Clubnya.” Fania menatap curiga pada Andrew yang sedikit gelagapan.


“Heart, my love my everything (Sayangku, cintaku, segalanya bagiku), jangan dengar ucapan itu bule gila, okay?.”


“Ga mau tau, pokoknya aku mau kesana. Mau liat dalemnya. Dengan atau tanpa kamu!.” Ancam Fania, membuat Andrew berdecak sebal dan memandang sinis pada Jeff.


“Ya udah kita sarapan dulu, okay?.” Bujuk Andrew pada si Kajol yang sedikit nampak merajuk. “Jeff, habis sarapan ada hal yang harus kita bicarakan.”


“Soal Pekerjaan?.”


“Soal lo yang menghamili anak orang!.” Celetuk Reno.


Jeff yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapan Reno.


“WHAT?!. (APA?!).”


***


“Jelaskan!.” Andrew memberikan sebuah berkas berisikan laporan soal kehamilan pada Jeff. Kertas yang diberikan oleh wanita bernama Clarissa semalam yang mengaku kalau dia sedang mengandung anak Jeff.


Jeff membacanya dengan teliti. “I know exactly who gave this to you. (Gue tau persis siapa yang kasih ini ke elo).”


Keluarga yang lain tak bersuara. Memilih untuk diam mendengarkan penjelasan Jeff.


“Jadi? Benar itu anak lo?.” Andrew langsung bertanya pada intinya.


Jeff terkekeh sinis. “Bukan!.”


“Can you prove it?. (Apa bisa lo buktikan?).” Reno angkat suara untuk bertanya pada Jeff.


“Sangat bisa!.” Jeff menjawab dengan amat sangat yakin. “She’s even not pregnant. (Dia bahkan ga hamil).”


Semua orang nampak menelisik Jeff atas pernyataan dalam perkataannya itu.


“Tau dari?.” Tanya Ara.


“Can you take responsibility to what you just have said, Son?. (Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan ucapan kamu barusan, Nak?).” Tanya Dad dengan tenang.


Jeff tersenyum dengan raut wajah yang santai.

__ADS_1


“Of course Dad. Wait here. (Tentu saja, Dad. Tunggu disini).”


Jeff kemudian beranjak ke kamarnya.


Tak lama kembali dengan selembar amplop berwarna coklat di tangannya.


“Here. (Ini).” Jeff memberikan amplop tersebut pada Andrew yang langsung membukanya.


“What is this?. (Apa ini?).” Tanya Andrew sambil membaca lembar pertama kertas dalam amplop tersebut.


“It’s her medical report. (Itu laporan kesehatannya). Clarissa right? The woman who came here last night?. (Clarissa kan, perempuan yang datang semalam?).” Ucap Jeff. ‘Heh, Gold Digger!.’ Batinnya berkata sinis.


“Let me see. (Coba gue liat).” Reno mengambil kertas laporan kesehatan itu dari tangan Andrew dan membacanya bersama Dad, lalu memberikan pada Mom yang langsung di serbu juga oleh tiga anak perempuan yang penasaran


dengan lembaran – lembaran tersebut.


“Dia itu mata duitan. Cewe matre!. Wanita busuk yang melakukan segalanya demi uang!.”


Jeff berkata dengan sedikit emosi.


“Ini maksudnya itu cewe mandul, gitu?.” Celetuk Fania dengan pertanyaannya.


“You are absolutely right, Kajol!. (Lo sangat benar, Kajol!).” Sambar Jeff dengan yakin.


“Dan kenapa lo bisa berurusan sama dia?. Berani – beraninya dia datang kesini.”


Jeff berdecak. “Well, I meet her, get interact, have fun ... you know!. (Yah gue ketemu, ngobrol, senang – senang, lo tau lah).”


“Terus?.” Tanya Reno.


“Ya awalnya dia menyenangkan, tapi lama – lama menyebalkan!.” Lanjut Jeff. “Tadinya gue berpikir untuk memulai hubungan sih sama dia, tapi dia minta gue buru – buru nikahin dia. Maksa! Sangat mencurigakan..” Gerutu Jeff.


“Ya wajar sih kalau dia minta kamu menikahi dia. Kalian pasti udah sering make love kan?.” Ucap Ara yang di Aminkan oleh ketiga wanita yang lainnya.


“I’m not the first one who touched her, okay?. (gue bukan orang pertama yang menyentuhnya, oke?).”


“Tapi bukan berarti juga lo bisa membuangnya gitu aja.” Timpal Reno. “Apa salahnya menikah muda?.”


“Nikah muda ga salah, of course. It’s a choice beside. (Lagipula itu pilihan). Dan gue ga membuangnya. Perempuan seperti dia memang sudah sepantasnya dibuang jauh – jauh juga. Di enyahkan kalau perlu!.”


Jeff tampak setengah emosi.


“Kenapa bicara begitu Jeff?.” Tanya Ara.


“Tepat seperti dugaan aku!.” Celetuk Michelle.


Fania mengkode Michelle dengan telunjuknya.


“What makes you so sure?. (Apa yang membuat lo merasa yakin?).” Tanya Andrew.


“Lo ingat Ian?. Ian Harold! Perempuan itulah penyebab kematian pria menyedihkan yang mati konyol dengan menembak dirinya sendiri itu.” Jawab Jeff.


“What?!. (Apa?!).” Andrew dan Reno sama – sama nampak sedikit terkejut. “Benarkah?.” Tanya mereka berdua dan Jeff mengangguk.


“Jadi dia wanita yang menyebabkan Ian Harold hingga bangkrut lalu pergi meninggalkan pria itu begitu saja dan kabur ke ke luar negeri?.”


Ara juga sepertinya mengetahui kisah dari pria yang sedang mereka bicarakan itu.


Jeff mengangguk lagi. “Even better Ara. (Bahkan lebih dari itu Ara). Clarissa even isn’t her real name. (Clarissa bahkan bukan nama aslinya). Bahkan wajah yang sekarang juga bukan seratus persen wajah aslinya.”


Semua anggota keluarga nampak sedikit terkejut.


"Dia ingin masuk ke Keluarga ini, dengan motif terselubung pastinya. Seperti yang ia lakukan pada Harold dulu." Jelas Jeff.


“Well, I think everything are clear now. (Baiklah sepertinya sekarang semuanya sudah jelas). I will tell my men to ‘take care’ of her. (Aku akan menyuruh beberapa orangku untuk ‘mengurus’ nya).” Ucap Dad.


“Tapi kamu sudah benar – benar memastikan kalau wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang kalian maksud dan bicarakan ini, Jeff?.” Ucap Mom seraya bertanya. “Jangan hanya karena kamu ingin lari dari tanggung


jawab.”


Jeff terkekeh.


“Mom tau aku dengan sangat baik, bukan?. Aku akan mempertanggung jawabkan setiap hal yang aku lakukan. Dan untuk tuduhan pada wanita ular itu, itu bukan tuduhan Mom, tapi kenyataan. Dan aku sudah memiliki semua buktinya. Mom jangan khawatir.”


Mom menarik nafas lega. Ia tau semua anak laki – lakinya adalah para pria yang gentel. Meski dua J bukan anak kandung mereka, seperti halnya Reno. Namun sudah mereka anggap bak anak sendiri. Karena dua J juga sebenarnya masih ada hubungan keluarga dekat dengan Keluarga Adjieran Smith.


“And Dad, you don’t need to do anything. I’ll handle her myself. My way .... (Dan Dad, tidak perlu melakukan apapun. Akan kuurus dia dengan tanganku sendiri. Dengan caraku .....).”


Seringai Sinis muncul di wajah Jeff.


****


“Sedang apa, hem?.”

__ADS_1


Andrew masuk ke dalam kamar mandi, karena Fania sedikit lama di dalam sana.


“Um ... engga. Abis gosok gigi.”


Fania menunjukkan deretan giginya yang rapi dah bersih.


Andrew tersenyum penuh arti, karena tadi sempat melihat Fania nampak sedang berkaca sambil memegang perutnya. Ia memeluk Fania dari belakang.


“Jangan terlalu dipikirkan.” Mencium ceruk leher Fania.


“Pikirin apa coba?. Sok you know ih Donald Bebek.”


“I know, Heart. (Aku tau sayang).” Andrew membalikkan tubuh Fania untuk menghadapnya.


“Tau apa?.”


“R dan Ara sabar kok menunggu hingga tiga tahun. Jadi soal bayi kecil kita yang belum ada disini, jangan terlalu kamu pikirkan.”


Andrew mengelus perut Fania.


“Aku hanya takut.”


“Takut kenapa?.” Andrew menggendong depan Fania, membawanya ke sofa di depan TV.


Fania menunduk dan mengelus perutnya. “Aku takut aja. Takut kalau aku kurang beruntung.”


Andrew tersenyum. Paham maksud kata – kata Fania. “Hey, kamu sehat sayang, kita sehat. Subur. Tidak ada masalah dengan kesuburan. Kita kan sudah cek hampir tiap bulan.”


“Iya sih.” Ucap Fania yang bergelayut manja pada Andrew. “Ya namanya juga takut.”


Andrew mengecup pucuk kepala wanita tercintanya itu.


“We’ve trying, Heart. (Kita kan sudah berusaha, Sayang). Sisanya itu urusan Tuhan.”


Fania beringsut naik ke pangkuan Andrew.


“Tumben Donald Bebek lagi lurus nih ngomongnya.” Meledek suaminya.


“And this?. (Dan ini)?.” Andrew meledek balik yang melihat Fania naik dengan sendirinya ke atas paha Andrew. “Maksudnya apa nih?.”


“Ca elah suka muna nih Donald Bebek. Padahal ngarep banget khaaaan?.”


Fania terkekeh masih meledek sekaligus menggoda Andrew.


“Oh, jadi si Kajol nantangin nih?.”


“Siapa takut!.”


“Siap – siap ya, aku buat kamu ga bisa bangun besok.”


“Eh iya D,”


“Hem?.”


Tangan Andrew sudah mulai bergerilya.


“Kira – kira itu cewe yang namanya Clarissa bakalan diapain sama Kak Jeff?.” Tanya Fania penasaran. “Tadi kalo ngeliat mukanya Kak Jeff agak ngeri – ngeri sedep, masa.”


Andrew menghentikan kegiatannya sejenak.


“Menurut kamu?.” Memeluk pinggang ramping Fania sambil menatapnya.


“Yang pasti sesuatu yang ga bagus buat itu cewe. Soalnya Kak Jeff kesel banget mukanya. Baru liat muka dia serius, dingin begitu. Biasanya slengean.”


Andrew tersenyum penuh arti. “Dia bagian dari pria – pria di Keluarga ini Heart, tak suka diusik karena kami tak pernah mengusik duluan. Terlebih lagi ini soal nama baik Keluarga ini dan Jeff secara pribadi. Dia ga akan tinggal diam. Sama seperti aku, Reno, Dad bahkan John kalau ada yang mengusik kami juga.”


“Ga heran , Bosnya aja kejam gini, pasti Kak Jeff ga jauh – jauh kejamnya dari kamu.” Cup!. “Tapi aku cinta biar kejam gini.”


“Buktikan.” Andrew menaik turunkan alisnya menggoda Fania.


“Ye ... mesum mode on.”


Fania terkekeh bersamaan dengan Andrew yang melucuti setiap helai benang ditubuhnya dan Fania melakukan hal yang sama.


‘Biarlah Jeff melakukan apa yang mau dia lakukan pada wanita ular yang berusaha menjebaknya. Kalau saat ini gue akan melakukan apa yang seharusnya gue lakukan pada si Kajol yang tampak begitu lezat saat ini.’


Begitu kira – kira batin Andrew yang sedang bermonolog.


Hingga akhirnya suara – suara erotis pun menggema lagi dan lagi di kamar Si Kajol dan Donald Bebek. Suara erangan yang bukan sekali pun terdengar saat keduanya mencapai kenikmatan dari penyatuan mereka berdua.


****


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2