
Selamat membaca ....
Luka Fania sudah berangsur pulih. Perban pun sudah dilepas sejak beberapa hari yang lalu. Meski belum boleh terlalu sering menggunakan lengannya yang pernah tertembak itu namun setidaknya Fania sudah bisa beraktifitas dengan normal.
“Nald, kita mau kemana?.” Tanya Fania saat dia dan Andrew berada di dalam mobil. Andrew hendak mengajaknya ke suatu tempat, namun tidak mengatakan pada Fania kemana, dimana dan apa nama tempat yang akan mereka datangi itu. Sepertinya lumayan jauh, karena sudah kurang lebih dua jam mereka didalam mobil namun belum juga sampai.
Andrew tersenyum. “Ga usah khawatir, aku ga akan culik kamu.”
“Kalo kamu yang culik aku rela.” Fania terkekeh begitupun Andrew. “Serius kita mau kemana ini?. Jauh amat perasaan.”
“Sebentar lagi sampai.” Ucap Andrew.
“Ah kamu nih.” Fania mencebik pada suaminya.
Andrew dan Fania mengobrol ringan sambil sesekali bermesraan dengan untaian musik yang terpasang pada pemutar audio didalam mobil tersebut, hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju Andrew.
Fania terperangah melihat sebuah bangunan yang nampaknya adalah sebuah kastil kecil yang dikelilingi padang rerumputan dan hutan di belakangnya.
Ada beberapa orang berseragam bak agen di Film Men In Black yang sedikit membuat Fania heran.
“Kita ke tempat siapa ini, Nald?.” Tanya Fania.
“Mister Dracula’s Castle! (Kastilnya Tuan Drakula).” Jawab Andrew cengengesan.
“Ish, orang nanya bener juga!.” Fania mencebik. Andrew terkekeh.
“Ayo kita masuk.” Ajak Andrew.
Mata Fania berkeliling. Sedikit merinding karena meski kastil kecil itu terlihat bagus, namun tetap saja menyeramkan dimata Fania.
“Good day, Mister Andrew, Mrs. Fania.” Sapa seorang Men in Black dengan wajahnya yang datar namun menunduk hormat.
Andrew sedikit menganggukkan kepala.
Fania tersenyum dan kembali memandangi kastil tersebut.
Salah seorang Men in Black lainnya yang berdiri dengan tegak dan sigap membukakan pintu kastil tersebut, lalu Andrew membawa Fania masuk ke dalamnya.
“Kak Jeff?.” Panggil Fania yang melihat ternyata Jeff sudah ada di dalam kastil tersebut. Pria itu baru selesai dengan ponselnya seperti habis berbicara dengan seseorang.
“Hey.” Sapa Jeff sambil juga menggerakkan kepalanya menyapa Andrew.
“Heart, kamu disini dulu sama Jeff sebentar.” Ucap Andrew datar pada Fania, lalu menoleh pada Jeff dan laki – laki itu mengangguk.
“Kamu mau kemana emang?.” Tanya Fania yang masih merangkul lengan Andrew.
“There is something I wanna check. (Ada sesuatu yang mau aku cek).” Jawab Andrew sambil tersenyum. ‘Someone, exactly. ( Seseorang, tepatnya ).’ Batin Andrew. “Sebentar ya, kamu sama Jeff dulu disini.”
“Jangan lama – lama.” Ucap Fania yang kemudian melepaskan tangannya dari Andrew. Laki – laki itu mengangguk sembari tersenyum lalu berjalan ke arah dalam kastil yang di dalamnya juga ada beberapa pria berstelan Men in Black.
Fania memandangi Andrew yang berjalan ke arah dalam kastil sambil hatinya masih penasaran.
__ADS_1
“Duduk Jol.” Suara Jeff membuat Fania menoleh dan dia langsung duduk di sebuah kursi yang nampaknya antik tersebut. “Kenapa?.”
“Ini kastil ape rumah sih?.” Tanya Fania pada Jeff. “Punya siapa?.” Tanyanya lagi. “Berasa di kediamannya Volturi gue.” Cerocos Fania yang teringat nama klan Vampire dari suatu film yang terkenal.
Jeff terkekeh. “Korban film lo.” Sahutnya yang melihat Fania nampak was – was. “Mau minum apa?.”
“Apa aja asal jangan darah.” Celetuk Fania.
Jeff tergelak. “Jol .... Jol ....” Laki – laki itu kemudian memanggil seseorang dengan tangannya.
“Please make some drink for Mrs. Fania and Mr. Andrew. (Tolong buatkan minuman untuk Nyonya Fania dan Tuan Andrew).” Ucap Jeff pada seorang wanita yang menurut Fania tidak tampak seperti pelayan karena menggunakan stelan seperti para pria yang notabene adalah pengawal pribadi itu.
Wanita itu mengangguk sopan dan nampak patuh pada perintah Jeff, lalu berjalan ke arah dalam.
Tringggg....
Ponsel Jeff berdering dan laki – laki itu langsung menerima panggilan yang masuk ke ponselnya tersebut. “Okay.” Jawabnya singkat.
Jeff seketika berdiri dari duduknya.
“Kak lo mau kemana?!.” Tanya Fania yang ikut berdiri. “Jangan tinggalin gue loh ya.”
Jeff setengah terkekeh. “Siapa yang mau ninggalin elo sih Jol?. Justru gue mau ajak lo.” Ucapnya. “Andrew was called. (Andrew manggil).”
“Oh.” Sahut Fania ber OH ria.
“Yuk.” Ajak Jeff dan Fania mengikutinya juga dua Men in Black yang mengekorinya dan Jeff, satu orang berjalan di depan Jeff.
Fania semakin was – was, karena pria berstelan yang ada di depan mereka itu membawanya dan Jeff menyusuri tempat yang sepertinya ruang bawah tanah. ‘Tempat apa sih ini?.’ Batinnya ngeri karena memang anak tangga yang terbuat dari batu entah dari abad keberapa itu benar – benar seperti kastil – kastil yang ia lihat di beberapa film horor.
Namun tetap saja Fania masih ngeri dan was – was saat melalui beberapa ruangan yang pintu kayunya tertutup.
“Kak.” Fania menarik pelan jas yang dikenakan Jeff.
“Apa?.” Sahut Jeff. Namun terus berjalan.
“Sebentar dulu ih.” Fania mengkode agar Jeff berhenti. “Ini kita mau kemana?.”
“You will know it later. (Lo akan tau nanti).” Jawab Jeff. “Ayo ah. Your husband is waiting. (Suami lo udah nunggu).”
‘YOU CRAZY!. ( KAU GILA! ).’
Fania spontan menghentikan langkahnya, saat samar – samar ia mendengar seseorang berteriak histeris.
“Ka – K.” Memanggil Jeff sedikit terbata. Kakinya seketika kaku.
Jeff menyadari Fania yang menghentikan langkah di belakangnya. “Kenapa?!.”
‘LET ME OUT OF HERE!. ( KELUARKAN AKU DARI SINI! ).’
Teriakan mengerikan bagi Fania itu terdengar lagi olehnya. Ia bergidik ngeri. “Lo denger ga sih itu suara?!.” Bertanya pada Jeff apa laki – laki itu mendengar suara yang lebih seperti teriakan histeris seseorang di telinganya.
Suara seorang wanita yang terdengar frustasi dengan teriakan yang dirasa menderita.
__ADS_1
“Suara apa?.” Jeff tersenyum tipis.
“Itu suara teriakan. Cewe!.” Ucap Fania yang bulu kuduknya mulai meremang. “Jangan bilang lo ga denger ya!.”
Jeff tersenyum lagi. “Don’t be paranoid. I heard. (Ga usah parno. Gue juga denger).” Ucap Jeff santai. “And I know who’s voice is that. (Dan gue tau itu suara siapa).”
***
“How are you?. (Apa kabarmu?).” Andrew berada di dalam satu ruangan yang cukup luas. Berdiri di depan sebuah kotak ber teralis besi berwarna hitam dengan penerangan yang temaram.
“Y-you?!. (K-kamu?!).” Seorang wanita yang berada dibalik jeruji tersebut dan sepertinya terkejut saat mendengar suara laki – laki yang menyapanya.
Andrew tersenyum sinis saat wanita itu berjalan mendekati jeruji dimana Andrew sedang berdiri di sebrangnya. “Missed me?. (Merindukanku?).” Ucap Andrew menatap wanita itu dengan dingin sambil meraih ponselnya. "Bawa Fania kesini." Ucap Andrew pada Jeff yang ia hubungi.
“Why are you doing this to me?!. (Kenapa kau melakukan ini padaku?!).” Tanya wanita itu dengan lirih, setalah Andrew mematikan panggilannya.
“Why? .... (Kenapa? ....).” Jawab Andrew. “You know it very well. (Kau tau itu dengan baik).” Andrew berjalan sedikit jauh lalu, duduk di sebuah kursi kayu antik berjarak dengan jeruji tersebut.
“Is it your wife who asked you to do this to me?!. (Apa istrimu yang menyuruhmu melakukan ini padaku?!)." Tanya wanita itu karena mendengar nama Fania disebut saat Andrew menelpon. "Let me out, please... (Lepaskan aku, kumohon ...).” Wanita itu mengiba.
Andrew menyalakan sebatang rokok ditangannya. “Only if you already stop breathing. (Hanya jika kau sudah berhenti bernafas).”
“YOU CRAZY!. (KAU GILA!).” Teriak si wanita.
“I am!. (Memang!).” Ucap Andrew santai.
“LET ME OUT OF HERE!. (KELUARKAN AKU DARI SINI!).” Teriak wanita itu lagi.
“Let her out. (Keluarkan dia).” Ucap Andrew pada salah satu penjaga dan wanita itu nampak sedikit berbinar namun tak lama, karena meski keluar Andrew menyuruh salah satu penjaga untuk membukakan pintu jeruji tersebut. Dua orang pengawal itu memegangi si wanita dengan kuat.
“Let me go!. (Biarkan aku pergi!).” Hardik si wanita pada dua orang yang nampak seperti algojo baginya meski dua pria itu berpakaian rapih.
“In your dream!. (Dalam mimpimu!).”
***
“Nald? ....” Fania memanggil Andrew saat ia dan Jeff sudah masuk ke dalam sebuah ruangan. Melihat Andrew yang tengah duduk membelakanginya, sedang berbicara dengan seorang yang Fania yakin adalah seorang wanita, karena ia mendengar percakapan saat masuk ke ruangan tersebut.
Namun Fania sedikit ragu. Agak ngeri sebenarnya, meski ada Jeff dan Andrew disitu.
“Hey Heart, come here. (Hey Sayang, sini).” Ucap Andrew yang menoleh saat mendengar suara Fania. Laki – laki itu berdiri dan menghampiri istrinya. “Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Mata Fania membulat ngeri saat melihat ‘sesuatu’ yang ditunjukkan Andrew padanya.
Bukan sesuatu, melainkan seseorang yang penampilannya sudah sangat tidak karuan. Memprihatinkan ....
“Cindy?!....”
***
To be continue .....
Jangan lupa tinggalkan jejak yang para readers ku sayang 😏😏😏😏
__ADS_1
Like - Vote - Komen
Terima Kasih