
♦SESUATU♦
Selamat membaca ......
Memasuki bulan ketujuh kehamilan Fania. Sejak mimpinya yang masuk dalam kategori mimpi terburuknya, Fania sudah tak lagi terbayang – bayang akan ketakutan pada keselamatan bayinya dan Andrew. Toh Andrew akan melakukan apapun agar istrinya itu sehat dan senang. Termasuk Keluarga mereka yang tak pernah henti memberikan dukungan moril pada Fania agar wanita yang paling dicintai Andrew itu bisa merasa tenang dan nyaman.
“Is Fania having another bad dream again, Ndrew?. (Apa Fania mengalami mimpi buruk lagi, Ndrew?.” Tanya Reno yang siang ini sedang berada di restoran bersama Andrew, Nino dan Jeff setelah menyelesaikan meeting dengan beberapa kolega mereka.
“Udah engga.”
“Syukurlah.”
“Gue pikir si Kajol itu orang yang paling santai dan cuek di dunia ini. Tapi masih percaya mimpi.” Celetuk Jeff
disela ia menyantap makan siangnya. Sementara Nino hanya mendengar dan memperhatikan obrolan ketiga pria yang bersamanya sekarang. Belum berniat untuk masuk ke dalam obrolan mereka.
“Ya, you were right Jeff. (Ya, lo benar Jeff). Tapi kadang untuk sesuatu yang ia rasa janggal atau mengganggu
perasaannya, ia pasti akan kepikiran.” Sahut Andrew. “Contohnya waktu dia terprovokasi dengan Inggrid, dia berpikir gue dan R memanfaatkan dia.”
“Ya itu, kadang – kadang yang gue suka sebal sama si Fania. Suka menyimpulkan sesuatu sendiri. Ujung – ujungnya dia sendiri kan yang gelisah.” Ucap Jeff. “Termasuk soal mimpi. Too paranoid. (Terlalu parno).”
“Dia kadang peka akan suatu hal. Dan jujur, soal mimpinya yang waktu itu pun masih sedikit membuat gue kepikiran.” Sahut Andrew. “Waktu kehamilan anak pertama kami, dia mimpi melihat darah dimana – mana, dan ternyata, ga lama dia keguguran.”
“Mungkin hanya kebetulan, Ndrew.” Ucap Reno.
“Ya I hope so. (Ya gue harap begitu).” Sahut Andrew.
***
Di siang yang sama, ditempat yang berbeda. Para wanita sedang sangat bersemangat berkeliling di sebuah Mal
ternama di London. Fania, Ara, Mom dan juga Michelle.
Keempat wanita cantik berbeda usia itu sedang antusias untuk membeli peralatan bayinya Fania dan Andrew. Bahkan sepertinya si jabang bayi didalam perut Fania ikut bergerak – gerak seirama dengan kesenangan ibunya yang kaki gatel, demen banget jalan, susah diem.
Merengek semalaman pada Andrew, agar membiarkannya sendiri untuk berbelanja dan memilih pakaian bayi mereka. Dan pada akhirnya memang Andrew luluh pada keinginan Fania itu. Tentu saja tak membiarkan Fanianya untuk pergi sendiri, karena jadwal Andrew cukup padat selama dua hari kedepan.
Tadinya Andrew menempatkan Alex yang memang sudah sejak lama menjadi pengawal pribadi Fania, termasuk Ezra yang juga ditunjuk Andrew untuk menjaga Fanianya. Dan beberapa pengawal lainnya yang Andrew suruh Alex dan Ezra untuk membawa mereka serta kemanapun Fania pergi.
Berlebihan?. Memang. Seperti itu lah Andrew pada Fania. Bahkan mengalahkan posesif nya Reno terhadap Ara.
Dan pada akhirnya rencana Fania untuk berbelanja kebutuhan bayi itu disambut dengan sangat antusias oleh para wanita yang sedang bersamanya itu. Minus Mama Anye, karena ia menemani Varen yang sudah mulai belajar untuk bersekolah, meski hanya di rumah.
Minus juga Mama Bela, karena mama kandung Fania itu baru akan datang ke London, karena Fania ingin melahirkan di kota itu. Mungkin kalo di Indonesia, mama Bela pasti ngajak nya ke tanah empo.
“Seneng banget sih, yang dibolehin Abang Andrew belanja sendiri.”
Ara menggoda Fania yang sumringahnya tak kunjung padam itu saat mereka sudah berada di dalam Mal.
“Ya seneng lah. Daripada die bawa itu toko ke rumah.” Sahut Fania dan Ara, Mom serta Michelle terkekeh mendengarnya. “Lagian ga sendiri juga, ini dua Nyonya sama satu Nona muda ikut serta. Belom lagi itu tuh.” Ucap Fania yang menunjuk para pengawal pribadi yang berjalan agak berjarak disekitar mereka.
“Udah nikmatin aja, Fania. Daripada ga boleh sama sekali.” Celetuk Mom. “Aish, dasar emang si Andrew itu sama aja kayak Dad nya. Terlalu posesif dan suka khawatir yang berlebihan.”
“Hehe.” Fania tersenyum merekah.
“Betul itu yang Mom bilang, nikmati saja. Mari kita habiskan itu uangnya si Donald Bebek!.” Ucap Michelle
bersemangat. “Tuh kan mereka biar ada kerjaan nanti bawa kantung belanjaan.”
Keempat wanita itupun tergelak gembira dan berkeliling Mal sambil mampir ke setiap Merchant yang ada disana.
“Mari kita khilap.” Ucap Fania pongah, karena kartu tanpa batas milik Andrew sudah diberikan juga padanya. Padahal kartunya sendiri juga jarang – jarang Fania pakai, termasuk uang dalam ATM nya yang sudah bertambah lagi sebelum habis.
**
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Fania langsung berhambur pada Andrew yang baru saja pulang lewat jam makan malam. “Eh ATM berjalan aku udah pulang.”
“ATM berjalan?.” Andrew mengernyitkan dahinya sambil memeluk Fania.
__ADS_1
“Iya kan kamu Atm berjalan aku, D. Ga abis – abis duitnya, kan?.” Ucap Fania dengan senyumnya.
Andrew terkekeh sambil menciumi wajah Fania. “Lebih kaya aku daripada ATM. Mesin itu bahkan bisa kehabisan uang, aku kan engga.”
“Oh iya, ya.” Fania ikut terkekeh sambil membantu Andrew melepas jas kerja dan lainnya.
“Gimana acara shopping nya, senang?.” Tanya Andrew.
“Seru. Uang kamu aku pake buanyak.” Jawab Fania. “Lecet kayaknya itu kartu, saking sering di slide.”
Andrew tergelak. “Yang penting kamu senang, Heart.”
“Kok ga nanya, aku pakai uang kamu buat beli apa aja?.” Ucap Fania.
“Aku tahu kok.”
“Dari Mom ya?, atau Michelle? Apa Kak Ara?.”
“Semua laporan penggunaan kartu pribadi aku itu akan langsung langsung masuk ke ponsel aku istriku sayang.”
Ucap Andrew. “Lupa?.”
“Oh iya, aku lupa soal itu.” Sahut Fania. ‘Eh, berarti dia .. aduh metong nih, dia tau berarti kalo gue beli....’
“Sepertinya ada yang mau menggoda aku malam ini, hem?.” Andrew menyeringai jahil. “Ada laporan pembelian dua pasang lingerie.”
‘Yah kan, orang rencananya besok baru mau gue pake.’ Fania menunjukkan barisan giginya.
“Coba pakai, aku mau lihat.”
“Lihat aja sih, ngapain musti aku pake juga?. Belom dicuci lagian.”
“Aku mau lihat pas atau engga dibadan kamu.” Mata Andrew mencari paper bag berisi lingerie tersebut.
“Aku lupa taro paper bagnya dimana. Ketinggalan di mobil mungkin.” Sahut Fania. ‘Untung udah gue umpetin duluan.’
“Aku tahu tempat kamu menyembunyikannya.” Ucap Andrew lagi. “Mau kamu ambil sendiri, atau aku yang
ambilkan?.” Andrew menunjuk pada salah satu laci besar dengan kepalanya.
*****
"Jadi dalam rangka apa membeli lingerie seksi, hem?." Ucap Andrew setelah uji coba lingerie berakhir ke ranjang.
"Ga dalam rangka apa - apa. Pengen aja mengesankan kamu. Biar udah buncit juga ini perut."
"Tetap seksi kok."
"Jangan boong."
"Siapa yang bohong sih, memang benar kok makin seksi sekarang."
"Bagus deh kalo ga boong." Fania mengeratkan pelukannya pada Andrew. "Mata kalo diluar dijaga nih."
"Iyalah. Ga usah kamu bilang. Tapi ngomong - ngomong, tadi kamu agresif sekali, hem?."
"Biar kamu selalu terbayang - bayang. Obat kalo kangen aku."
****
“D?.” Sapa Fania yang melihat suaminya sedang berdiri di antara pintu balkon pagi ini, setelah dirinya tak menemukan Andrew di walk in closet dan pakaian kerja Andrew yang sudah ia pilihkan pun masih tergantung rapih disana. “Ngapain bengong disitu pagi – pagi?.” Ucapnya.
“Udah selesai mandinya?.”
“Udah. Kok kamu belum rapih – rapih sih?. Bukannya ada meeting pagi?.”
“Entah, aku tiba – tiba ragu mau berangkat ke kantor.” Ucap Andrew sambil menelusup kan rambut Fania yang
setengah basah itu di belakang telinganya.
“Ada masalah di kantor yang bikin kamu kepikiran?. Atau ada masalah di Perusahaan kamu yang lain?.”
Andrew menggeleng. “Engga ada, semua bisnis dalam kondisi stabil, bahkan sangat baik.”
“Terus kenapa?.”
__ADS_1
“Entah, aku juga ga tau.”
“Ya udah sana, rapih – rapih gih. Nanti aku mampir ke kantor kalo kamu ga sibuk.”
“Ya sudah, kabari kalau memang mau datang ya. Tapi kalau rasanya badan kamu letih, jangan.”
“Iya. Itu bajunya udah aku siapin. Mau aku bantu?.”
“Katanya aku suruh buru – buru ke kantor?. Beda nanti urusannya kalo kamu bantuin aku pakai baju. Nanti kalo aku
apa – apain protes.” Ucap Andrew dan Fania terkekeh.
“Ya kamunya aja kali otaknya tuh ngeres. Aku Cuma mau bantuin ganti baju si.”
Andrew terkekeh. “Udah kamu duduk cantik aja. Nanti kita turun sama – sama untuk sarapan.” Ucap Andrew dan Fania mengangguk.
***
“Yuk.” Ajak Andrew setelah dirinya rapih. “Heart?.”
Fania terhenyak.
“Udah rapih?.”
“Melamun mikirin apa, hem?.”
“Engga, seneng aja liatin kamu. Takut kangen.”
“Kan tinggal telfon, video call. Nanti siang kan mau mampir ke Perusahaan katanya?. Sekalian nanti kita ketemu Judith juga, memastikan apa kamu bisa melahirkan secara normal atau tidak.” Ucap Andrew sambil merengkuh Fania erat.
Fania mengangguk. “Aku seneng banget harum badan kamu, D.”
Andrew hanya tersenyum dengan sikap Fania yang nampak manja sekali pagi ini.
“Laper banget ga?.”
“Engga?.”
“Buru – buru?.”
“Engga juga.” Andrew menyahuti pertanyaan Fania. “Kenapa sih?.”
“Pengen dipeluk yang lamaa.” Ucap Fania sambil mengeratkan pelukannya. “Aku bakal kangen....”
“Bumil sedang manja sekali ya, hem?.” Ucap Andrew yang mengeratkan pelukannya.
“Bawaan baby kayaknya sih.” Ucap Fania. “Dia lagi pengen banget deket sama kamu, D. Ga Cuma baby kita aja sih, aku juga. Kayak lama ga bakal dipeluk kamu.”
“Ya udah nanti siang, kalau kamu ke kantor aku peluk lama – lama. Kalo perlu aku peluk sepanjang perjalanan ke
rumah sakit hingga pulang lagi kesini, nanti selanjutnya terserah anda.”
Fania terkekeh.
“Janji ya, jangan pernah letih mencintai aku.”
“I promise (Aku janji). Aku ga akan letih dan ga akan bosan mencintai kamu.”
“Sebentar lagi ya peluk nya.”
“Iya Heart, I’m yours okay? (Aku milikmu oke?).” Andrew hanya tersenyum saja dengan sikap manja Fania saat ini. Kebahagiaan tersendiri untuk Andrew.
“Maaf ya, nanti kalau kamu sedikit terlambat ke kantor.”
“Ga masalah, aku ini Boss, ingat?.”
Fania tersenyum, senyuman yang mampu membolak – balikkan dunia Andrew.
“Just take your time, My love (Puas – puasin deh, Sayangku).”
‘Ah D ku sayang, kok rasanya aku bakal kangen banget sama kamu ya?. Kayak lama bakal ga liat kamu?.’
----
To be continue ...
__ADS_1