BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 127


__ADS_3

*Hari ini Author bela - belain Update dua episode buat sayang - sayangnya Author semua*


Selamat membaca..


- - -


- - -


“Bagaimana Indonesia, Fania?.” Tuan Anthony membuka suara dan bertanya pada Fania kala gadis itu menjadi tim hore nya Andrew saat bermain game konsol melawan kakak gantengnya.


Merasa sedang diajak bicara, Fania menggeser sedikit tubuhnya dan memposisikan dirinya berhadapan dengan Tuan Anthony dan Nyonya Erna yang duduk di sofa semi lesehan.


“Fania, Dear. Sini duduk diatas.” Ajak Nyonya Erna.


“Engga apa – apa Tante, Fania disini aja.” Ucap Fania yang masih duduk di karpet. “Indonesia yah ga jauh – jauh dari panas sama macet Om.” Fania menjawab pertanyaan Tuan Anthony dengan sopan. Dan laki - laki itu terkekeh.


Michelle yang tadi sedang bersandar pada sang Mom, beringsut turun dari sofa untuk duduk di karpet dekat Fania.


“Santai aja Michelle, ga apa apa kamu samping Tante Erna aja.” Ucap Fania sambil tersenyum pada Michelle.


“It’s okay Fania, enakan begini.” Sahut Michelle sambil selonjoran setengah telentang dan kepalanya bertumpu pada dudukan sofa.


“Kak Fania, Michelle!.” Teriak Andrew. “She’s gonna be your sister in law. ( Dia akan jadi kakak ipar lo ).” Teriaknya lagi.


“Iyaaaa.” Sahut Michelle membalas teriakan Andrew yang masih bermain konsol.


“Biarin sih Nal, orang aku sama Michelle beda sedikit doang umurnya.” Ucap Fania.


“Tuh, kata orangnya juga ga apa – apa aku panggil nama si.” Ucap Michelle bermaksud pada Andrew.


“Berani sekarang ya.” Sahut Andrew atas ucapan Michelle. Ngomongnya sih biasa aja, nengok aja engga itu si Donald , tapi raut muka Michelle sedikit berubah.


Fania yang sadar kayaknya si Michelle tuh rada takut sama kakaknya langsung menyentuh tangan gadis itu. “Udah biarin aja.” Ucap Fania pelan.


“Kak Andrew itu galak tau.” Bisik Michelle di telinga Fania.


“Oh ya?. Masa?.” Fania terkekeh dan Michelle mengiyakan dengan anggukan.


“Chel.” Andrew teriak lagi.


“Iya, Ka Andrew aku panggil Kak Fania. Udah tuh puas.” Sahut Michelle sebal tapi takut buat membantah kakaknya.


‘Ish ni orang, sama adek sendiri juga.’ Batin Fania.


“Keluarga kamu sehat Fania?.” Tanya Nyonya Erna.


“Alhamdulillah sehat Tan.” Jawab Fania sopan.

__ADS_1


“Fania, kamu sekarang bagian dari keluarga ini sayang. Jangan panggil Om sama Tante lagi dong. Mom and Dad. Oke?.” Ucap Nyonya Erna.


“Mom is right, Fania ( Mom benar, Fania ). Buat diri kamu terbiasa dengan sebutan Mom and Dad pada kami mulai sekarang. Okay?.” Tambah Tuan Anthony.


“Um .. iya Om, Tante. Eh, Mom, Dad.” Ucap Fania canggung.


“Usaha papa kamu lancar kan, Fania?.” Tanya Tuan Anthony dan Fania merasa terhenyak dengan pertanyaan Dad barusan.


“Om, eh Dad kenal sama Papa Fania?.” Tanya Fania. Disaat yang sama Andrew dan Reno spontan menoleh.


***


“Lo udah cerita soal keluarganya Fania sama Dad , R?.” Tanya Andrew pada Reno saat dia Reno dan Jeff memisahkan diri sebentar untuk merokok di halaman belakang. Setelah Mom and Dad pamit untuk tidur duluan.


“He’s our Dad, Ndrew. If you forget. ( Dia Ayah kita, Ndrew. Asal lo inget ).” Jawab Reno sambil kemudian menyesap rokoknya. “Dia bisa dapat informasi apapun yang dia mau tanpa harus tanya sama kita.”


“Lo takut emang kalau Mom and Dad ga merestui lo sama si Kajol yang keluarganya biasa itu?.” Tanya Jeff iseng. Padahal dia tau betul kalau Tuan Anthony dan Nyonya Erna adalah orang yang rendah hati dan menolak yang namanya perbedaan status sosial.


“Nope. I know my parents as well. ( Enggaklah. Gue tau orang tua gue dengan baik ).” Sahut Andrew. “Lagipula Mom juga tau dari dulu soal kondisi keluarga Fania. Dan Mom menerima dia dengan sangat baik dulu juga.” Tambah Andrew. “Just curious ( Cuma penasaran ), Dad tanya tentang usahanya Papa Fania.”


“Jangan heran. Dad bahkan sudah tau soal Fania, jauh sebelum gue menemukan si Little F.” Ucap Reno yang rokoknya hampir habis.


“What?!. ( Apa?! ).” Pekik Andrew dan Jeff.


“Heeemm ... seperti yang kalian dengarlah. Kita ga pernah tanya dia katanya. Jadi dia menikmati aja kita yang sibuk


mencari keberadaan Fania.” Tambah Reno.


***


“Fan, foto – foto kita yang ada di hp kamu, kirim dong.” Ucap Ara yang bercengkrama bersama Fania dan Michelle di ruang santai.


“Okeee. Yang di hp Kak Ara , kirim juga ke gue ya Kak.” Sahut Fania.


“Okay. Nyonya Andrew.” Sahut Ara seraya meledek.


“Dih, apaan sih Ibu Peri, lebay bener.” Sahut Fania dan mereka berdua terkekeh.


“Emang Kak Fania kan calon Nyonya Andrew, yang sudah terkonfirmasi dan tidak bisa diganggu gugat.” Sambar Michelle yang sesuai perintah kakaknya harus memanggil Fania dengan tambahan Kak juga.


“Bisa aja lo Chel. Gue sama Kakak lo ni masih seumur jagung pacarannya juga.” Ucap Fania. “Btw, sorry ya Chel, kalo gue ngomong elo – gue sama lo. Lebih nyaman soalnya.”


“Santai sih Kak, Kak Andrew juga ngomongnya elo gue kok sama aku, biar sudah lama stay disini juga.” Sahut Michelle. “Dia itu ga mau menghilangkan Kak Fania dari hidupnya.”


“Maksudnya?.” Tanya Fania yang kurang paham maksud Michelle.


“Andrew ingin suasana hidupnya masih seperti di Indonesia, Fan. Waktu kalian bertiga belum terpisah.” Timpal Ara. “Yah, seenggaknya saat di rumah.”

__ADS_1


“Iya Kak, kalo yang aku pernah denger Kak Andrew sama Kak Reno ngobrol tuh, waktu Kak Fania masih dicari sama mereka, mereka tuh suka berandai – andai Kak Fania bisa ketemu.” Ucap Michelle meneruskan perkataan Ara. “Mereka takutnya kalau akhirnya terbawa budaya disini. Nanti susah malah komunikasinya sama kak Fania. Takut akan jadi awkward ( aneh ) kayaknya.”


“Karena, seinget mereka Bahasa Inggris kamu itu masih acak – acakan. Eh ternyata . Your English is very well. ( Bahasa Inggris kamu sangat bagus ) Fasih.” Timpal Ara lagi.


“Mereka... dan London motivasi gue Kak.” Ucap Fania tersenyum tipis lalu menunduk. Mengingat betapa besar juga harapan dia dulu buat ketemu lagi sama dua abang – abangan ketemu gedenya itu. “ Gue Sampai serius nabung dan kursus Bahasa Inggris sampe tingkat Advance saking pengen bisa berangkat ke London. Berharap bisa ketemu Kak Reno sama Donald lagi. Naif, ya Kak? Gue.. ?.”


“Hey, engga lah Sweety. Itu tandanya kan kamu sayang mereka.” Ara merengkuh Fania karna haru.


‘Pantas ya Kak Andrew sama Kak Reno sampai begitu nya cari dia. Mereka sedekat itu ternyata.’ Batin Michelle.


“Kenapa?!.” Andrew tiba – tiba langsung meraih wajah Fania saat dari halaman belakang dan melihat Fania seperti


menghapus air mata.


“Aku ga ngomong apa – apa Kak Andrew.” Michelle langsung membela diri karena Andrew langsung menatapnya tajam.


“Apa sih Nal.” Sahut Fania .


“Dia menghina kamu?.” Tanya Andrew penuh selidik membuat Michelle bergidik ngeri.


“Apaan sih orang aku lagi cerita.” Jawab Fania.


“Kok nangis?.” Tanya Andrew yang belum puas.


“Terharu lah inget kalian.” Sahut Ara sambil menatap Andrew dan Reno.


“Kenapa Little F, hem?.” Tanya Reno sambil membelai kepala Fania.


“Engga Kak, cuman ga nyangka aja gue bisa sampai London sekarang. Padahal tabungan gue aja belum kumpul. Hehe ....” Ucap Fania sambil terkekeh.


“Bener, Michelle ga bilang sesuatu yang menyinggung kamu?.” Andrew memastikan lagi kalau adiknya itu ga cari gara – gara. Karena Michelle juga tipe orang yang gamblang menunjukkan ketidak sukaan baik dengan ucapan dan sikap.


“ Engga lah. Yah, bener kata Kak Ara, gue terharu. Ga sia – sia gue bela – belain sisihkan uang buat Les Bahasa Inggris sampe lulus di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris yang lumayan di Jakarta. Bahkan Tugas Akhir dan Presentasi gue dapet nilai memuaskan. “ Fania menjelaskan. “ Usaha gue semua terbayar sekarang. Paling engga meski bukan Sarjana,  seengganya gue masih bisa kasih kebanggaan buat abang – abang gue. Kalo si Demi Moore KW yang dulu Bahasa Inggrisnya ancur ini sekarang udah jago.” Fania tersenyum sambil mengangkat


jempolnya.


Andrew merasa tenggorokannya sedikit tercekat, Reno pun sama. Andrew pun memeluk Fania sambil mengecup pucuk kepalanya.


“Gue bangga sama lo Little F.” Ucap Reno lirih namun tersenyum sambil mengelus kembali kepala Fania dan gadis itu balas tersenyum.


“Karena kalian motivasi gue.” Ucap Fania.


“Thank you ... so much.” Ucap Andrew lalu mencium kening Fania dan memeluknya lagi.


Ara dan Jeff tersenyum haru, begitu juga Michelle.


‘Beruntung banget kalian Reno, Andrew. Punya ade – adean  kayak si Fania ini.  Segitunya dia memuja kalian.’ Batin Jeff.

__ADS_1


***


To be continue....


__ADS_2