BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 266


__ADS_3

Selamat membaca ...


“Assalamualaikum Kajolita Esperansah de La Costa.” Kepala Ara menyembul dari balik pintu dengan senyum mempesona miliknya.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Andrew dan Fania bersamaan, juga kompak menoleh kearah pintu. “Eh Ibu Peri.”


Suara salam juga datang dari belakang Ara. Suara macho milik kakak gantengnya.


 “Kak Ren.” Fania hendak menyalami Reno setelah menyalami Ara. “Ih tangan lo kenapa, Kak?. Kok kayaknya bengkak. Apa mata gue nih rada ngeblur?.”


“Alergi.” Sahut Reno asal. Ga mungkin juga jujur sama Fania kalau kemarin dia hampir menghabisi Irvin, si saudara tiri ga ada akhlak.


“Alergi apa, Kak?. Kok kayak lecet gini?.” Fania sedikit heran.


Reno sedikit mengernyitkan dahi. “Lecet?. Luka?.”


“Scuffed. ( Lecet ).” Sahut Ara.


Reno pun ber Oh ria. “Hanya tergores.”


Andrew mencoba mengalihkan Fania. “Makan dulu jeruknya. Tadi minta aku mengupas.”


Fania menoleh pada Andrew. “Eh iya. Makasih D.”


Dan jeruk pemberian Andrew sukses membuat Fania tak lagi membahas luka lecet ditangan Reno.


“D, kapan sih aku bisa pulang?. Katanya kemarin. Tapi malah masih disini aja.” Fania beralih bertanya pada Andrew.


“Iya hari ini bisa pulang. Kamu kan harus melakukan satu cek lab lagi, Heart. Sebentar lagi Judith datang.”


“Kok harus cek lab sih?. Kan aku keguguran, D?.”


Tanya Fania yang sedikit penasaran.


“Hanya pengecekan biasa, Heart.”


“Uuum..... apa aku sakit parah..?.” Fania bertanya dengan ragu – ragu.


“Jangan berpikir yang bukan – bukan.” Andrew tersenyum dan mengacak – acak rambutnya.


“Andrew benar, lo jangan mikir yang terlalu jauh. Judith bilang lo sehat, Kok.”


“Iya Sweety, mungkin hanya prosedur pemeriksaan aja. Ini kan pengalaman pertama kamu. Jadi mungkin Judith juga ingin memastikan seandainya kamu hamil lagi, maka kamu dan bayinya sehat.”


Fania tersenyum mendengar ucapan Ara barusan.


“Aamiin. Mudah – mudahan ya Kak. Mudahan aja gue bisa cepet hamil lagi.”


Fania berkata sambil setengah tertunduk dan mengelus pelan perutnya.


‘Janji, kalo bisa cepet hamil lagi. Ga akan gue bantah perintahnya si Donald Bebek.’


Batin Fania yang penuh harap. Sementara Andrew, Reno sebentar saling tatap tanpa dilihat oleh Fania.


*****


Fania sudah kembali ke kediaman Smith bersama Andrew, Reno dan juga Ara. Mertua dan adik iparnya sudah menunggu mereka termasuk Jeff.


“Selamat datang kembali, Sayang.” Mama mertua idaman itu menyambut Fania dan mengecup kedua pipinya lalu memeluk si menantu yang sudah terlihat baik – baik saja sekarang.


Michelle juga melakukan hal yang sama seperti Mom. Sementara Dad dan Jeff memeluk Fania.


Para pelayan yang juga perduli dan menyayangi istri Andrew yang hiper aktif namun ramah itu sudah juga menyampaikan ucapan selamat datang kembali pada Fania.


Andrew merengkuh pinggang Fania. “Kita makan dulu, setelah itu kamu harus istirahat. Ingat pesan Judith kalau kamu masih belum bisa beraktifitas terlalu banyak, dan berat.”


Fania mengangguk dan tersenyum pada Andrew. Lalu bersama yang lain menuju ruang makan.


**

__ADS_1


Dua hari sudah berlalu sejak Fania kembali ke Kediaman Smith setelah ia dirawat karena keguguran.


Menikmati weekend di rumah saja bersama seluruh Keluarga Smith. Menggelar piknik kecil – kecilan di halaman belakang yang nampak indah dan luas juga.


“Harusnya kita ngeliweut ini.”


Celetuk Fania disela acara piknik nya bersama Andrew dan keluarganya tanpa terkecuali. Yah kecuali satu bule koplak yang terpisah benua.


“Betul itu!.” Sahut Mom.


“Kenapa kamu baru terpikir sekarang, coba?.” Timpal Ara yang bersandar manja pada Reno.


“Nge-what?.” Andrew tak paham.


“Susah kalo bule mah. NGE – LI – WEUT. Do you understand?.” Goda Fania pada Andrew.


Si Donald Bebek yang asik tiduran dipaha Fania hanya geleng – geleng saja. “Kamu sudah lama di London, masih saja suka pakai bahasa yang ga jelas.”


“Enak aja, bahasa ga jelas. Kamu aja kali yang kelewat bule, ga paham ngeliweut. Mom sama Kak Ara aja paham si.”


Cerocos Fania menjawab ucapan Andrew. Membuat yang lain terkekeh selain Andrew sendiri yang malas menanggapi cerocosan Fania.


“Kak Ara jadi lahiran di Indo, Kak?.”


Fania tak lagi membahas soal liweutan.


“Maunya sih. Tapi nunggu Bapak satu ini menyelesaikan pekerjaan dan segala urusannya.”


“Mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi. Kalau memang bumil cantik ini ingin melahirkan disana.”


Ara dan Reno menjawab pertanyaan Fania.


Seketika Fania terdiam. “Oh iya Kak. Itu .. urusan keluarga lo udah selesai?.”


“Sedikit lagi.” Ucap Reno santai. “Tinggal nunggu lo tanda tangan, kan?.”


*****


“Little F.”


Reno menyambangi Fania dikamarnya setelah adik angkat kesayangannya itu sudah kembali dari rumah sakit.


“Kak Ren.”


Fania yang sedang duduk disofa menggeser sedikit tubuhnya melihat Reno datang.


“Feeling better?. ( Merasa baikan? ).” Tanya Reno sambil membelai lembut kepala Fania. Seperti biasa.


“Udah Kak. Terima kasih pada ini nih, Donald Bebek yang udah sabar ngurusin gue.” Ucap Fania sembari menoleh pada Andrew yang duduk di atas sandaran tangan pada sofa, tepat disamping Fania.


Andrew hanya tersenyum saja.


“Oh iya Kak Ara mana?.” Tanya Fania karena Reno datang sendiri.


“Dikamar.”


“Iya sih, Kak Ren. Bilangin Kak Ara, jangan terlalu mikirin gue. Nanti itu bayinya protes loh. Ngurusin gue terus.”


“Sudah seharusnya, Little F. Ara, terlebih lagi gue, sudah seharusnya ngurusin lo, terlepas dari Andrew.” Ucap Reno dengan tersenyum.


“Makasih ya Kak. Dan gue bener – bener minta maaf sama lo. Maaf kalo gue sempet berpikir buruk sama lo. Sama kalian.”


“It doesn’t matter, Little F. ( Ga masalah, Little F ). Bukan salah lo.” Reno menggenggam tangan Fania. “Justru gue yang seharusnya minta maaf.” Ia tertunduk. “Maaf, karena membela Ara, lo jadi harus mengalami ini.”


“Kak .... Kak Ara pasti melakukan hal yang sama seperti gue, seandainya posisi kami terbalik waktu itu. Kan kita keluarga?....” Fania menempatkan satu tangannya diatas tangan Reno yang menggenggamnya.


“Makasih ya....” Reno memeluk si adik angkat kesayangannya.


“Sama – sama Kak.” Fania memeluk Reno balik.

__ADS_1



Sesaat ketiganya terdiam.  Reno menatap Andrew seperti minta persetujuan. Dan Andrew mengiyakan dengan isyarat matanya.


“Oh iya Little F, ada sesuatu yang mau gue bicarakan juga sama lo.” Reno mulai bicara duluan.


“Soal apa, Kak?.” Tanya Fania pada si kakak ganteng. Lalu setengah menoleh pada Andrew yang hanya tersenyum padanya.


“Soal sesuatu yang tertunda sebelum lo pingsan waktu itu. Soal pengesahan lo sebagai adik angkat gue secara legal.”


“Kak, mohon maaf ya sebelumnya. Gue percaya sama lo, sama Andrew. Gue yakin seyakin – yakinnya kalo lo, Andrew sayang sama gue dengan tulus. Tapi kalo dengan elo yang meresmikan gue sebagai adik lo, terus elo melimpahkan beberapa aset keluarga lo ke gue, rasanya kok ga adil, Kak?.”


Reno tersenyum.


“Ga adil untuk siapa?.”


Fania nampak sedikit ragu untuk menjawab.


“Ade – ade lo.”


“Adik gue Cuma satu. Kajol namanya.”


Andrew dan Fania terkekeh, senyum Reno juga mengembang.


Fania meraih lengan Reno.


“Kak, seburuk – buruknya mereka. Mereka juga masih keluarga lo Kak. Meski lahir dari ibu yang beda. Mereka lebih berhak Kak, dari gue.”


“Mereka ga punya hak apapun, atas apa yang mau gue limpahkan ke elo selain aset pribadi Ayah.” Reno tersenyum sinis. “Itupun atas kemurah hatian Bunda ....”


“Maksudnya, Kak?.”


“Bunda meminta cerai dari Ayah, karena Ayah berselingkuh dengan ibu dari dua orang kurang ajar itu. Ayah bisa menjadi sesukses itu dulu, karena support finansial dari Bunda.”


Reno mulai bercerita.


“Bunda itu sama kayak gue, anak tunggal. Pewaris Kakek satu – satunya kakek Danendra. Jadi saat kakek tiada, Kakek melimpahkan hartanya pada Bunda dan gue. Dan saat itu Bunda percaya penuh sama Ayah sampai dia tahu kebenaran Ayah yang berselingkuh dibelakang Bunda bahkan memiliki anak dari selingkuhan nya itu.”


Fania masih setia mendengarkan dan Andrew pun sama. Andrew yang notabene sudah tahu konflik internal keluarganya Reno, membiarkan Reno sendiri yang menceritakannya pada Fania.


“Dan yah... Ayah sudah memindahkan beberapa aset atas namanya, bahkan selingkuhan nya. Hebat, kan?.” Lagi – lagi Reno tersenyum sinis, menahan pahit dihatinya. “Ayah bahkan tahu kalau Bunda mengidap kanker, tapi ia abaikan. Malah asik menikmati hidup dengan keluarga sialannya itu.”


Fania mengelus – elus lengan kekar Reno.


“Menikmati tanpa malu, harta Bunda. Bahkan beberapa aset yang masih atas nama Bunda pun mereka kuasai. Sampai akhirnya gue ke sini. Dad mengajari gue dan Andrew soal bisnis dan segala hal. Saat gue sudah siap, gue mulai mengambil kembali milik Bunda dari mereka. Termasuk R Corp. Yang sebelumnya itu Aditama Corp, nama belakang keluarga Bunda. Saat kakek tiada, Ayah menggantinya jadi Alexander Corp. Setelah gue rebut kembali ya gue ganti jadi R Corp.”


‘Ribet amat yak.’ Batin Fania berpendapat.


“Dan beberapa aset yang juga sudah gue ambil kembali. Mereka ga terima, termasuk Ayah. Gue bukan memanfaatkan lo, atau meminjam nama lo. Gue bisa kok melimpahkan pada siapapun. Tapi apa yang mau gue berikan ke elo itu adalah amanatnya Bunda.”


Fania sedikit terkejut.


“Sebenarnya dari dulu, Bunda itu mau menjadikan lo anak angkatnya. Yah memberikan lo beberapa aset buat lo kalo udah dewasa, so you can have a good life, ( Jadi lo bisa hidup dengan baik ). Bahkan udah mau bicara sama Papa Herman dan Mama Bela, tapi gue tahan. Ga tau kita bakal pisah kan?.”


Reno masih bicara panjang lebar.


“Waktu itu gue pikir ga perlu sampai begitu. Karena yakin gue akan selalu ada buat lo, memastikan lo hidup dengan baik dan berkecukupan. Dan gue menyesali itu saat hilang kontak sama lo.”


Reno menghela nafas panjang.


“Yahh intinya yang mau gue kasih ke elo memang hak elo pada dasarnya, Cuma keburu dinikmati sama para pecundang itu. Dan mereka tau kalau apa yang gue ambil dari mereka, akan gue limpahkan ke elo.”


“Rumit banget ya Kak, masalah keluarga lo. Kalah sinetron .” Celetuk Fania yang membuat Reno dan Andrew terkekeh. ‘Horang kayah ga jauh berantem soal harta. Mending keluarga cemara dah, berantem berebutan remot.’


Reno hanya menggeleng pelan. “Gue ga mau memaksa, Little F. Lo benar soal ikatan itu menyangkut batin. Gue Cuma meneruskan amanatnya Bunda. Selebihnya adalah keputusan lo.”


Flash back off


***

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2