
Selamat membaca ..
“Kak, emang si Donald sama Jeff tu sebenernya kemana sih?. Urusan kerjaan kah? Mendadak amat.” Ucap Fania
seraya bertanya pada Reno sebelum mereka beristirahat.
“Hem kind of (seperti itu kira – kira).” Jawab Reno.
“Sibuk banget emang itu mereka?.” Tanya Fania lagi.
“Kenapa?.” Tanya Reno balik.
“Ada yang kesel Hon, ga di telpon sama kekasih tercintanya.” Goda Ara.
“Ish, Kak Ara. Usil.” Cebik Fania membuat Ara, Reno beserta John terkekeh. Sementara Michelle sudah pamit
untuk tidur duluan.
“Tinggal telpon aja Jol, Jol. Susah amat.” Celetuk John.
“Apa? Gue telpon dia duluan?. Ogah!. Pergi aja ga bilang –bilang.” Sahut Fania.
Ketiga orang tadi kembali terkekeh. “T’rus tadi nyanyi lagu galau?. Bukannya kangen?.” Goda Ara.
“Ih, orang lagi seneng aja dengerin itu lagu. Abis ngapalin chord gitarnya juga. Eh gitar yang dari Kak Reno kan di rumah yang di Frognal.” Cerocos Fania. “Makanya nyobain chord pake piano tadi.”
“Beneran ga kangen?.” Goda Reno.
“Sangat Benar, kakakku sayang.” Sahut Fania. “Kerajinan ngangenin dia. Pergi mendadak, pamit engga, kasih kabar Cuma sekali, telpon pun engga.”
“Gue bilangin loh. Nanti malah beneran ga ditelpon telpon, sedihh.” Celetuk Jeff.
“Bilangin aja sana gih. Ga masalah. Kalo perlu bilang tuh sama dia kalo dia telpon lo, ga usah telpon – telpon gue. Ga penting.” Cerocos Fania sementara John beserta Reno dan Ara hanya terkekeh saja.
“Ah yang bener nih.” Goda Ara lagi.
“Bener lah Kak.” Sahut Fania. “Kak Reno bilangin aja itu sama Brother nya Kak Reno itu. Kalo udah bosen sama gue bilang. Yang Gentle. Laki di dunia ini bukan dia doang!.” Cerocos si Kajol. “Dah gue mau tidur.”
Fania berjalan dengan menghentakkan kakinya akibat kesal. Sementara tiga orang yang tadi bersamanya hanya terkekeh dan lama – lama kekehan mereka berubah jadi tawa hingga tergelak saat sudah yakin kalau si Kajol udah masuk kamar.
“Situasi gawat ini kayaknya.” Ucap John dengan tawanya didepan ponsel.
“You’re all know what I’ve been doing here, okay?!. (Lo semua tau disini gue lagi ngapain, oke?).” Suara Andrew terdengar dari telpon John yang sedari tadi sudah on mendengarkan pembicaraan ketiga orang tersebut bersama Fania barusan. “Kenapa harus mancing emosi dia?.”
Andrew menggerutu karena dari tadi mendengar Fania nya ngoceh dan komplain soal kepergiannya yang mendadak tadi pagi. Ketiga orang itu kembali tergelak.
“Salah lo ga hubungi dia.” Sahut Reno.
“Gue baru santai ini. I called to her cell phone but no answer.” (Gue telpon di tadi tapi ga diangkat). Ucap Andrew.
“Handphone nya dia lagi dicharge katanya tadi sebelum makan malam.” Ucap Ara.
__ADS_1
“Ya udah. Takut dia telpon gue nanti denger nada sibuk malah mikir aneh – aneh.” Andrew ingin mengakhiri sesi telponnya. Yang sebenarnya tadi dipancing John yang bilang ke Andrew Fania lagi bersama mereka karena kesal sama si Andrew dan si Donald Bebek pun langsung telpon John.
(Fania lagi sama gue, R and Ara. Istri lo lagi galau tuh. Lagi curhat). Begitu isi chat John yang kebetulan langsung di baca Andrew karena dirinya memang sedang aktif. (Lo dengerin nih curhatan nya). Lalu John menekan tombol panggilan ke Andrew tanpa mengatakan pada Fania kalau Andrew sedang tersambung di telpon hingga sampai si Fania masuk kamar.
Berharap mendengar kalau curhatan Fania ke Reno, Ara dan John adalah ungkapan kangennya ke dia, ternyata malah denger si Kajol ngomel.
“Ga akan dia telpon lo.” Celetuk Reno.
“Ya udah gue yang telpon dia.” Sahut Andrew.
“Ga akan diangkat. Trust me. (Percaya deh sama gue). Udah keburu kesal adik gue sama lo.” Reno senyam – senyum.
“Pastinya.” Timpal John karena telpon ke Andrew di loud speaker. “Tau sendiri dia kalo sama Lo berdua ambekan. Apalagi sama lo Ndrew.”
“Yah tadi denger kan dia bilang. Ga usah telpon – telpon dia kamu Ndrew. Ga penting.” Kata Ara. “Laki di dunia ini bukan dia doang.”
Klik
Sambungan telpon langsung di putus Andrew. Tiga orang yang malam ini kurang berakhlak itu kembali tertawa ngakak.
**
“Laki di dunia ini bukan dia doang.”
Kata – kata Fania yang diulang Ara membuat Andrew tak tenang.
“Haish.” Andrew berdecak. Langsung menelpon nomor Fania.
Panggilan Pertama – tak dijawab
Panggilan Kedua – tak di jawab
‘Heart, sudah tidur?.’
Kini Andrew mencoba mengirim teks pada Fania. Centang dua tak lama berubah warna tertanda sudah dibaca. Namun hingga beberapa saat tidak ada balasan.
‘Heart, kok dibaca aja pesan aku?. Kamu marah?.’
Terbaca, tak ada tanda – tanda Fania akan membalas pesannya. Ga ada tulisan sedang mengetik dibawah nama kontak. Masih tak ada balasan.
‘Heart, please. Aku telpon ya. Kamu angkat oke?.’
Tulis Andrew lalu menunggu status pesan. Terbaca. Andrew langsung menelpon. Mencoba hingga lima kali panggilan tetap tak diangkat.
‘Heart, belum tidur kan?. Aku tau kamu belum tidur. Seengganya kalau ga mau ngomong, reply chat aku.’
Pesannya tetap terbaca dan tetap tak dibalas Fania. (Laki di dunia ini bukan dia doang). Kalimat itu lewat lagi di kepalanya.
“Damned (Sial).” Andrew mengumpat kesal.
‘Heart, jangan kekanak – kanakan. Aku minta maaf pergi buru buru ga sempat pamit. Ngejar waktu, jadwalnya padat.’
Terbaca lagi tetap ga dibalas lagi. Hampir habis sabarnya Andrew.
‘Okelah kalau kamu tetap keras kepala. Aku ga chat lagi setelah ini. Ga aku ganggu lagi kalau ini juga kamu ga mau reply. Aku sudah minta maaf tapi kalau kamu masih keras kepala silahkan aja.’
__ADS_1
Masih dengan status terbaca , masih tidak dibalas.
‘Besok aku mungkin juga sibuk. Jangan protes kalau ga aku hubungi. Kamu nih ya yang mulai ngambek.’
Andrew masih mencoba. Fania masih aktif dan masih membaca pesannya. Namun sama , tetap tidak ada tanda tanda Fania akan membalas pesannya. Menunggu hingga lima menit karna mulai habis sabarnya.
‘Ya sudah terserah kamu lah.’ Chat terakhir akibat kesal.
Centang satu. Dahi Andrew sedikit berkerut sambil memandangi kolom pesan. Foto profil Fania tidak muncul. Iseng kembali menelpon karena sedang menerka nerka sesuatu. Memanggil bukan berdering. Sedikit mulai gusar.
“Heart, let’s talk okay?.” Andrew mencoba mengirim pesan suara. Gagal. Mencoba berulang kali tapi gagal.
“Ndrew, kenapa lo?.” Jeff yang baru saja datang merasa heran dengan wajah Andrew yang kayaknya lagi tegang. Andrew menoleh pada Jeff sedikit lama.
“Pinjem handphone lo.” Ucap Andrew dan Jeff memberikan ponselnya tanpa bertanya untuk apa.
‘Fan, lo dimana.’ Mengetik pesan seolah adalah Jeff. Centang dua. Centang biru menandakan terbaca. Meraih ponselnya sendiri, mencoba mengetik ke nomor Fania juga.
‘Heart.’ Di Ponsel Andrew malah centang satu. Hatinya makin terasa ga enak. Mencoba memanggil tetap tertulis calling bukan ringing.
Kini ia memanggil dari ponsel Jeff. Berdering bukan memanggil.
‘Kenapa Kak Jeff?.’ Suara Fania terdengar dari sebrang saat Andrew melakukan panggilan dari nomor Jeff.
‘Halo, Kak?.’
“Kamu blokir nomor aku?.” Andrew bersuara seraya bertanya.
Klik.
Telpon langsung di putus Fania. Mencoba lagi menelpon nomor Fania dari ponsel Jeff, namun sepertinya Fania sudah me non aktifkan ponselnya. Andrew memijit keningnya.
“Nomor lo diblokir sama si Kajol Ndrew?.” Tanya Jeff karena mendengar Andrew menanyakan hal tersebut barusan di telpon.
“Hem.” Jawab Andrew lemas.
Jeff terkekeh. “Pasti chat atau omongan lo itu provokasi dia.” Ucapnya.
“She didn’t reply my chat but she read, didn’t pick up my call (Dia ga jawab pesan padahal dibaca, telpon gue ga diangkat).” Sahut Andrew.
Jeff terkekeh lagi. “ Trus lo chat dia dengan omelan lo pasti.”
“Gue bilang kalo dia masih keras kepala gue ga akan chat atau telpon lagi. Besok gue sibuk, jangan marah kalo gue ga sempet kasih kabar.”
Jeff malah tergelak. “Ndrew, Ndrew. Si Kajol itu jangan di tantangin. Dia panasan orangnya. Ga boleh diancam sedikit.” Ucap Jeff. “Tambah lagi lo pergi mendadak, Terburu – buru sampai ga pamit.”
Andrew merasakan kepalanya sedikit sakit.
“R, You guys leave from London by tomorrow ( R, lo semua berangkat dari London besok ). I can’t wait until Wednesday.( Gue ga bisa tunggu sampai rabu ).” Ucap Andrew saat panggilannya terhubung dengan Reno.
‘Are you crazy? (Lo waras?).’ Sahut Reno
“Your sister block my number. ( Ade lo nge blok nomor gue ).”
Suara tawa Reno pecah dari sebrang telpon.
__ADS_1
*
To be continue...*