
Selamat membaca ...
- - -
- - -
- - -
‘ Jadi kangen gue sama lo Nal ‘. Batin Fania berkata sambil ingatannya kembali
saat dirinya Perform di sebuah Kafe dalam Hotel tempat Fania dan Bandnya punya
jadwal manggung reguler disana, ia melihat sosok yang mirip seseorang yang sangat Fania rindukan.
Walaupun hanya melihat dari samping, hatinya langsung berdebar
saat matanya tidak sengaja menangkap sosok seorang Pria
yang duduk menyamping sambil mengobrol
dengan wanita cantik dan seksi di salah satu bangku Kafe.
‘ Donald ‘. Begitu hati Fania spontan menyebut nama dari seorang laki – laki
yang ia rindukan seperti dirinya merindukan kakak gantengnya, bahkan rindu untuk
satu orang itu sedikit berlebih daripada rindunya pada sang kakak angkat, Reno.
Pria itu tak sempat menoleh ke arah Fania , meski Fania lumayan lama
memperhatikan laki – laki tersebut dari atas panggung.
Sepertinya si laki – laki plontos itu terlalu fokus
pada wanita di depannya jadi ga sempet lihat ke arah lain.
Sampai laki – laki itu meninggalkan Kafe tersebut sebelum Band Fania
selesai manggung pun, dia tak terlihat menoleh ke arah lain
selain saat pelayan mengantarkan Bill
dan Laki – laki itu selesai dengan pembayaran
atas pesanannya di Kafe tersebut.
Fania menghentikan lamunannya saat Kak Rita mendekat.
“ Napa lu bengong ? “. Tanya Kak Rita yang sadar kalo Fania lagi nge lamun.
“ Ga papa Kak . Lagi inget seseorang aja, kayak liat dia tadi sekilas “. Jawab Fania.
“ Mantan Lu ? “. Ucap Kak Rita asal.
“ Mantan, mantan, wasaitan ?! “. Sahut Fania. “ Ayo pulang ah “. Fania pun
beranjak dari duduknya seraya menarik tangan Kak Rita.
“ Jadi nginep di apartemen gue ga ? “. Tanya Kak Rita sambil berjalan
ke luar Kafe untuk menuju parkiran dengan personel yang lain
yang juga sedang berjalan di belakang Fania dan Kak Rita.
“ Jadi dong “. Jawab Fania.
“ Asik gue ga sendirian ni malem “. Ucap Ka Rita yang selalu seneng kalo Fania
atau Vivi atau keduanya menginap di Apartemen miliknya.
“ Makanya nikah sono biar ga sendirian mulu “. Celetuk Fania
“ Cariin CEO dong “. Balas Kak Rita
“ Mending buat gue kalo CEO mah “. Sahut Fania
“ Ya udeh wakil CEO juga boleh “. Ucap Kak Rita lalu keduanya tertawa
dan berpisah dengan yang lain di parkiran hotel.
*
Drrrrrt ....*
Telpon Seluler John yang berbunyi mengganggu tidur John.
Karena merasa terganggu dengan suara handphone ,
dia pun terbangun dan melirik weker digital di atas
nakas samping tempat tidurnya. Jam 1:14 dini hari.
“ Ish ini pasti si Reno yang nelpon jam segini “. Gerutu John.
Ia pun langsung menyambar handphonenya untuk menjawab
panggilan tanpa memperhatikan nama pemanggil
yang ia pikir adalah Reno. Karna memang yang suka mengganggu dirinya
di jam – jam tersebut adalah Bos sekaligus temannya itu.
“ What now R ? “. Jawab John malas dengan suara serak yang belom netral
karna matanya masih dalam mode ngantuk.
‘ It’s me ‘. Sahut suara di sebrang.
“ Damned, Andrew you know what time is it here at Jakarta ? “. Ucap John yang
kenal dengan suara di sebrang telpon.
‘ I know ‘. Jawab Andrew yang menelponnya . ‘ Get down here,
because I forget the unit of your apartment ‘.
“ Hah ?. Apaan ? “. John mencoba menyadarkan dirinya karena takut
salah dengar apa yang barusan Andrew bilang.
‘ I said, Get down here, cause I forget the unit of your apartment.
I’m at the Lobby of Your Apartment ‘. Jawab Andrew sedikit kesal
karena sudah dari setengah jam yang lalu dia sampai dan mencoba
menghubungi John namun baru diangkat itu telponnya.
“ You What ? ! “. John terkejut yang mendengar
kalau saat ini Andrew ada di Lobby Apartmentnya.
“ Serius Lu ? ! “.
“ Cepet ! “. Perintah Andrew ke John . dan John pun buru – buru turun dari
ranjangnya tanpa berpikir panjang untuk memastikan keberadaan Andrew yang
katanya sekarang ada di bawah.
“ Ah Botak gila “. Gerutu John sambil bergegas untuk menjemput Andrew
__ADS_1
di Lobby Apartment.
***
“ Why lookin’ at me like that ? “. Tanya Andrew dengan suara datar, saat sudah
berada di dalam Apartemen John. Ia merasa aneh pada temannya yang sedang
menatap dirinya dengan raut wajah yang sepertinya belum percaya kalo Andrew
ada disitu sekarang.
“ Lo kan harusnya ada di Singapura bukan ? “. Tanya John yang merasa aneh
soal kedatangan Andrew hari ini. Pasalnya informasi yang dia dapat,
kalau Andrew ada di Singapura dan lusa John akan menyusul laki – laki plontos
ini ke negara tersebut.
Andrew tidak langsung menjawab pertanyaan John.
Dia meminum bir kalengan yang sudah ada ditangannya.
“ So what kalau gue kesini dulu baru ke sana?. Jadwalnya baru
lusa Meeting dengan calon klien baru disana “.
“ Lo kan bisa ke Hotel . Kenapa harus kesini
dan ganggu gue pagi – pagi buta ? “.
Ucap John kesal yang merasa waktu istirahatnya terganggu gara – gara
si laki - laki plontos ini.
“ Ada yang mau gue pastiin “. Sahut Andrew.
“ Fania kan ? “. John keceplosan membuat Andrew langsung berwajah serius. ‘
Damned, gue keceplosan ‘. Batin John tapi tanpa menunjukkan dirinya yang
sedikit panik dalam raut wajah nya di depan Andrew yang sedang menatapnya
seperti itu.
“ Jadi bener feeling gua ya “. Ucap Andrew seperti bicara hanya pada dirinya
sendiri.
“ Heh Bald man ..... “. Belum sempat John meneruskan kalimatnya , Andrew menyela.
“ Jadi apa yang Reno sembunyi in soal Fania ? “. Selidik Andrew
Sebenarnya John itu kaget Andrew bisa hampir tepat sasaran soal Fania.
Tapi John memang terlatih untuk terlihat tenang .
Reno sudah menyuruhnya untuk tetap diam kalau
sewaktu – waktu Andrew menelponnya untuk menanyakan soal Fania.
Karena menurut cerita Reno, Andrew seperti sudah membaca sesuatu
soal Fania yang disembunyikan Reno darinya.
Reno juga menjelaskan pada John, dia bukan bermaksud menyembunyikan Fania
dari Andrew karna laki – laki plontos itu, walau tak seperti Reno
yang begitu mengkhawatirkan Fania, tetap menyayangi Fania dan memang ingin
bisa bertemu lagi dengan gadis yang Andrew juluki Demi Moore KW itu.
ini orang nya nanya langsung depan gue ‘. Batin John.
“ John, Fania sudah ketemu ? “. Tanya Andrew yang berharap John berkata Iya.
“ Menurut Lo ? “. Tanya John Balik
“ Udah “. Jawab Andrew
“ Hampir “. Ucap John
“ Maksud lo hampir ? “.
“ Masih belum bisa dipastikan . Itu aja yang bisa gue bilang “. Kilah John.
“ Explain “.
“ Aish, ni orang “. Gerutu John. Karena seperti hal nya Reno, Andrew juga kalo
nanya itu pake detail. “ Reno ketemu salah satu kenalannya yang kenal Fania.
Tau lah. Dia bilang si tomboi sering dateng ke toko buku favorit kalian
bertiga. Jadi waktu Reno disini, gue dan dia sering bolak balik ke toko itu
buat nemuin si tomboi. Tapi nihil “. John berimprovisasi dengan otak encernya.
“ I see. Jadi itu sebabnya Reno lama disini lebih dari biasanya “.
“ Nah You understand now ?. Gue mau lanjut tidur kalo gitu “. Ucap John yang
bangkit dari duduknya untuk menghindari Andrew dan memang juga dia ingin
melanjutkan istirahatnya yang terganggu. “ Lo pake kamar yang itu “. John
menunjuk kamar tamu yang berada di belakang Andrew, lalu kembali ke kamarnya.
Setelah John masuk ke dalam kamarnya, Andrew masih duduk terdiam di tempatnya sambil
otaknya memikirkan sesuatu.
‘ Bikin penasaran ‘. Batin Andrew. Lalu ia pun beranjak untuk menuju kamar tamu
yang John tunjuk tadi.
*
“ Mba, ini yang seri terbarunya yang mana ya ? “. Fania sedang melihat – lihat Printer
yang rencananya dia mau beli, karena printer di rumah Fania itu sudah rusak.
Berhubung uang dari Reno masih ada, masih banyak malah. Jadi dia ingin
mengganti Printer di rumahnya yang memang sudah ga layak pakai itu, karena
berhubung printer model lama.
“ Kakak mau cari merek ini ? “. Tanya si SPG Pria.
“ Iya mas tapi mau yang seri paling baru “. Jawab Fania.
“ Oh sebelah sini Kak “. Ucap si SPG Pria sambil mempersilahkan Fania untuk
mengikutinya.
“ Wangi amat “. Gumam Fania saat mencium aroma Harum khas parfum laki – laki yang
dari harumnya sudah terbayang oleh Fania soal merek dan harganya.
__ADS_1
Fania ga tahan untuk ga menoleh
“ Miss .... “. Suara Berat seorang Pria yang sedang berada di counter Pulpen yang
harganya amazing buat Fania.
“ Cowok botak lagi “. Gumam Fania saat memperhatikan pria yang
sepertinya sedang memilih – milih Pulpen mahal disana.
“ Kak “. Suara seorang Pria lain mengalihkan pandangan Fania dari
laki – laki botak yang sedang ia tatap dari belakang itu.
“ Eh iya mas , Sorry “. Fania langsung menghampiri si SPG Pria yang ingin
menunjukkan Printer yang diinginkan Fania. ‘ Sampe lupa gue ama printer. Ah
cowok botak kenapa jadi begitu menggoda ‘. Batin Fania sambil mengikuti si SPG
pria tersebut.
**
“ I wish gue lebih beruntung dari Reno hari ini “. Gumam Andrew saat melangkah
masuk ke dalam sebuah Toko Buku Besar di daerah Jakarta. Toko buku Favorit
Fania dulu kalo mau beli komik.
Andrew sudah lama tidak mampir ke tempat ini
dan sepertinya sudah banyak perubahan penempatan
dari yang Andrew sedikit ingat.
Andrew ingin bertanya pada SPG Pria yang sedang berdiri di samping seorang gadis
yang menggunakan kemeja garis – garis perpaduan abu – abu dan putih
serta celana panjang dengan tas yang ia slempang kan di bahunya.
Tapi urung, karena sepertinya si SPG pria itu sedang sibuk
dengan gadis yang sedang memilih printer.
‘ Beautiful ‘. Batin Andrew yang walau hanya melihat gadis itu dari samping.
Karena kulitnya yang bersih dan hidungnya yang lumayan mancung
yang jelas terlihat walau dari sisi kanannya saja.
Andrew itu jago menebak wanita cantik atau bukan
meski hanya melihat dari belakang.
Kemudian Andrew beralih kepada SPG wanita yang sedang berdiri di sebuah Counter Pulpen
yang Eksklusif.
“ Miss “. Sapa Andrew dan SPG wanita itu menjawab Andrew dengan senyuman.
“ Yes, Sir, How can I help you ? “.
“ I want to buy comic for my sister, can you show me where is it ? “
“ Oh , you can go to second floor sir “.
“ Alright, thank you “. Ucap Andrew kemudian meninggalkan counter Pulpen Eksklusif
tersebut untuk pergi menuju ke lantai dua.
**
“ Printer udah “. Ucap Fania pada dirinya sendiri setelah memegang nota pembelian
sebuah printer kemudian melihat arloji ditangannya. “ Masih macet pasti “.
Gumamnya lagi.
Fania hari itu tidak dijemput oleh John, karena si laki –laki blasteran
itu menelpon Fania kalau dia punya banyak kerjaan di kantor.
Fania juga tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Lagipula dia memang berencana untuk mampir ke Toko Buku Favoritnya itu
untuk membeli printer baru dan pulangnya dia akan memesan taksi online.
Fania memutuskan untuk mencari – cari bahan bacaan di lantai dua.
“ Cari Novel dulu deh ah “. Gumam Fania sambil menaiki eskalator menuju lantai dua.
Fania sampai di bagian Toko Buku tersebut yang memajang banyak sekali
Novel dari penulis dalam dan Luar negeri.
Sambil melihat – lihat yang sekiranya menarik walau dari cover nya saja.
Fania berjalan menyamping sambil tangannya menyentuh buku – buku
yang ada di rak tanpa memperhatikan ada orang lain di dekatnya.
Brug
Fania menabrak seseorang yang dipastikan adalah Pria karena
wangi parfumnya sama dengan yang ia cium di bawah saat memilih printer.
“ Eh, maaf , maaf “. Ucap Fania.
“ It’s okay. Are you ? “. Jawab si Pria yang suaranya berat
Fania coba menengadahkan kepalanya karena waktu sadar telah menabrak
seseorang yang ia lihat hanya lengan kanan si Pria yang terlihat lumayan berotot.
“ Eh “. Batin Fania saat melihat orang yang barusan ia tabrak.
Laki – laki bertubuh tegap , dengan harum yang maskulin
serta berkepala plontos itu tersenyum padanya.
Fania terkesima pada laki – laki tersebut. Begitu pula laki – laki yang ia tabrak
yang sepertinya terlihat terpesona pada wajah Fania.
“ Are you okay ? “. Tanya laki – laki plontos tersebut yang suara beratnya
terdengar seksi di telinga Fania.
“ I – iya. Sorry “. Jawab Fania kikuk.
“ Never Mind “. Ucap si Pria. “ Would you please excuse me then “. Ucap si Pria
itu lagi sambil tersenyum kemudian berjalan meninggalkan lorong tersebut
beserta Fania yang hatinya sedang berdebar.
“ Ya Allah Donald .... “
__ADS_1
**
To be continue ...