BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 43


__ADS_3

Selamat membaca ...


- - -


- - -


- - -


‘ Jadi kangen gue sama lo Nal ‘. Batin Fania berkata sambil ingatannya kembali


saat dirinya Perform di sebuah Kafe dalam Hotel tempat Fania dan Bandnya punya


jadwal manggung reguler disana,  ia melihat sosok yang mirip seseorang yang sangat Fania rindukan.


Walaupun hanya melihat dari samping, hatinya langsung berdebar


saat matanya tidak sengaja menangkap sosok seorang Pria


yang duduk menyamping sambil mengobrol


dengan wanita cantik dan seksi di salah satu bangku Kafe.


‘ Donald ‘. Begitu hati Fania spontan menyebut nama dari seorang laki – laki


yang ia rindukan seperti dirinya merindukan kakak gantengnya, bahkan rindu untuk


satu orang itu sedikit berlebih daripada rindunya pada sang kakak angkat, Reno.


Pria itu tak sempat menoleh ke arah Fania , meski Fania lumayan lama


memperhatikan laki – laki tersebut dari atas panggung.


Sepertinya si laki – laki plontos itu terlalu fokus


pada wanita di depannya jadi ga sempet lihat ke arah lain.


Sampai laki – laki itu meninggalkan Kafe tersebut sebelum Band Fania


selesai manggung pun, dia tak terlihat menoleh ke arah lain


selain saat pelayan mengantarkan Bill


dan Laki – laki itu selesai dengan pembayaran


atas pesanannya di Kafe tersebut.


Fania menghentikan lamunannya saat Kak Rita mendekat.


“ Napa lu bengong ? “. Tanya Kak Rita yang sadar kalo Fania lagi nge lamun.


“ Ga papa Kak . Lagi inget seseorang aja, kayak liat dia tadi sekilas “. Jawab Fania.


“ Mantan Lu ? “. Ucap Kak Rita asal.


“ Mantan, mantan, wasaitan ?! “. Sahut Fania. “ Ayo pulang ah “. Fania pun


beranjak dari duduknya seraya menarik tangan Kak Rita.


“ Jadi nginep di apartemen gue ga ? “. Tanya Kak Rita sambil berjalan


ke luar Kafe untuk menuju parkiran dengan personel yang lain


yang juga sedang berjalan di belakang Fania dan Kak Rita.


“ Jadi dong “. Jawab Fania.


“ Asik gue ga sendirian ni malem “. Ucap Ka Rita yang selalu seneng kalo Fania


atau Vivi atau keduanya menginap di Apartemen miliknya.


“ Makanya nikah sono biar ga sendirian mulu “. Celetuk Fania


“ Cariin CEO dong “. Balas Kak Rita


“ Mending buat gue kalo CEO mah “. Sahut Fania


“ Ya udeh wakil CEO juga boleh “. Ucap Kak Rita lalu keduanya tertawa


dan berpisah dengan yang lain di parkiran hotel.


*


Drrrrrt ....*


Telpon Seluler John yang berbunyi mengganggu tidur John.


Karena merasa terganggu dengan suara handphone ,


dia pun terbangun dan melirik weker digital di atas


nakas samping tempat tidurnya. Jam 1:14 dini hari.


“ Ish ini pasti si Reno yang nelpon jam segini “. Gerutu John.


Ia pun langsung menyambar handphonenya untuk menjawab


panggilan tanpa memperhatikan nama pemanggil


yang ia pikir adalah Reno. Karna memang yang suka mengganggu dirinya


di jam – jam tersebut adalah Bos sekaligus temannya itu.


“ What now R ? “. Jawab John malas dengan suara serak yang belom netral


karna matanya masih dalam mode ngantuk.


‘ It’s me ‘. Sahut suara di sebrang.


“ Damned, Andrew you know what time is it here at Jakarta ? “. Ucap John yang


kenal dengan suara di sebrang telpon.


‘ I know ‘. Jawab Andrew yang menelponnya . ‘ Get down here,


because I forget the unit of your apartment ‘.


“ Hah ?. Apaan ? “. John mencoba menyadarkan dirinya karena takut


salah dengar apa yang barusan Andrew bilang.


‘ I said,  Get down here, cause I forget the unit of your apartment.


I’m at the Lobby of Your Apartment ‘. Jawab Andrew sedikit kesal


karena sudah dari setengah jam yang lalu dia sampai dan mencoba


menghubungi John namun baru diangkat itu telponnya.


“ You What ? ! “. John terkejut yang mendengar


kalau saat ini Andrew ada di Lobby Apartmentnya.


“ Serius Lu ? ! “.


“ Cepet ! “. Perintah Andrew ke John . dan John pun buru – buru turun dari


ranjangnya tanpa berpikir panjang untuk memastikan keberadaan Andrew yang


katanya sekarang ada di bawah.


“ Ah Botak gila “. Gerutu John sambil bergegas untuk menjemput Andrew

__ADS_1


di Lobby Apartment.


***


“ Why lookin’ at me like that ? “. Tanya Andrew dengan suara datar, saat sudah


berada di dalam Apartemen John. Ia merasa aneh pada temannya yang sedang


menatap dirinya dengan raut wajah yang sepertinya belum percaya kalo Andrew


ada disitu sekarang.


“ Lo kan harusnya ada di Singapura bukan ? “. Tanya John yang merasa aneh


soal kedatangan Andrew hari ini. Pasalnya informasi yang dia dapat,


kalau Andrew ada di Singapura dan lusa John akan menyusul laki – laki plontos


ini ke negara tersebut.


Andrew tidak langsung menjawab pertanyaan John.


Dia meminum bir kalengan yang sudah ada ditangannya.


“ So what kalau gue kesini dulu baru ke sana?. Jadwalnya baru


lusa Meeting dengan calon klien baru disana “.


“ Lo kan bisa ke Hotel . Kenapa harus kesini


dan ganggu gue pagi – pagi buta ? “.


Ucap John kesal yang merasa waktu istirahatnya terganggu gara – gara


si laki - laki plontos ini.


“ Ada yang mau gue pastiin “. Sahut Andrew.


“ Fania kan ? “. John keceplosan membuat Andrew langsung berwajah serius. ‘


Damned, gue keceplosan ‘. Batin John tapi tanpa menunjukkan dirinya yang


sedikit panik dalam raut wajah nya di depan Andrew yang sedang menatapnya


seperti itu.


“ Jadi bener feeling gua ya “. Ucap Andrew seperti bicara hanya pada dirinya


sendiri.


“ Heh Bald man ..... “. Belum sempat John meneruskan kalimatnya , Andrew menyela.


“ Jadi apa yang Reno sembunyi in soal Fania ? “. Selidik Andrew


Sebenarnya John itu kaget Andrew bisa hampir tepat sasaran soal Fania.


Tapi John memang terlatih untuk terlihat tenang .


Reno sudah menyuruhnya untuk tetap diam kalau


sewaktu – waktu Andrew menelponnya untuk menanyakan soal Fania.


Karena menurut cerita Reno, Andrew seperti sudah membaca sesuatu


soal Fania yang disembunyikan Reno darinya.


Reno juga menjelaskan pada John, dia bukan bermaksud menyembunyikan Fania


dari Andrew karna laki – laki plontos itu, walau tak seperti Reno


yang begitu mengkhawatirkan Fania, tetap menyayangi Fania dan memang ingin


bisa bertemu lagi dengan gadis yang Andrew juluki Demi Moore KW itu.


ini orang nya nanya langsung depan gue ‘. Batin John.


“ John, Fania sudah ketemu ? “. Tanya Andrew yang berharap John berkata Iya.


“ Menurut Lo ? “. Tanya John Balik


“ Udah “. Jawab Andrew


“ Hampir “. Ucap John


“ Maksud lo hampir ? “.


“ Masih belum bisa dipastikan . Itu aja yang bisa gue bilang “. Kilah John.


“ Explain “.


“ Aish, ni orang “. Gerutu John. Karena seperti hal nya Reno, Andrew juga kalo


nanya itu pake detail. “ Reno ketemu salah satu kenalannya yang kenal Fania.


Tau lah. Dia bilang si tomboi sering dateng ke toko buku favorit kalian


bertiga. Jadi waktu Reno disini, gue dan dia sering bolak balik ke toko itu


buat nemuin si tomboi. Tapi nihil “. John berimprovisasi dengan otak encernya.


“ I see. Jadi itu sebabnya Reno lama disini lebih dari biasanya “.


“ Nah You understand now ?. Gue mau lanjut tidur kalo gitu “. Ucap John yang


bangkit dari duduknya untuk menghindari Andrew dan memang juga dia ingin


melanjutkan istirahatnya yang terganggu. “ Lo pake kamar yang itu “. John


menunjuk kamar tamu yang berada di belakang Andrew, lalu kembali ke kamarnya.


Setelah John masuk ke dalam kamarnya, Andrew masih duduk terdiam di tempatnya sambil


otaknya memikirkan sesuatu.


‘ Bikin penasaran ‘. Batin Andrew. Lalu ia pun beranjak untuk menuju kamar tamu


yang John tunjuk tadi.


*


“ Mba, ini yang seri terbarunya yang mana ya ? “. Fania sedang melihat – lihat Printer


yang rencananya dia mau beli, karena printer di rumah Fania itu sudah rusak.


Berhubung uang dari Reno masih ada, masih banyak malah. Jadi dia ingin


mengganti Printer di rumahnya yang memang sudah ga layak pakai itu, karena


berhubung printer model lama.


“ Kakak mau cari merek ini ? “. Tanya si SPG Pria.


“ Iya mas tapi mau yang seri paling baru “. Jawab Fania.


“ Oh sebelah sini Kak “. Ucap si SPG Pria sambil mempersilahkan Fania untuk


mengikutinya.


“ Wangi amat “. Gumam Fania saat mencium aroma Harum khas parfum laki – laki yang


dari harumnya sudah terbayang oleh Fania soal merek dan harganya.

__ADS_1


Fania ga tahan untuk ga menoleh


“ Miss ....  “. Suara Berat seorang Pria yang sedang berada di counter Pulpen yang


harganya amazing buat Fania.


“ Cowok botak lagi “. Gumam Fania saat memperhatikan pria yang


sepertinya sedang memilih – milih Pulpen mahal disana.


“ Kak “. Suara seorang Pria lain mengalihkan pandangan Fania dari


laki – laki botak yang sedang ia tatap dari belakang itu.


“ Eh iya mas , Sorry “. Fania langsung menghampiri si SPG Pria yang ingin


menunjukkan Printer yang diinginkan Fania. ‘ Sampe lupa gue ama printer. Ah


cowok botak kenapa jadi begitu menggoda ‘. Batin Fania sambil mengikuti si SPG


pria tersebut.


**


“ I wish gue lebih beruntung dari Reno hari ini “. Gumam Andrew saat melangkah


masuk ke dalam sebuah Toko Buku Besar di daerah Jakarta. Toko buku Favorit


Fania dulu kalo mau beli komik.


Andrew sudah lama tidak mampir ke tempat ini


dan sepertinya sudah banyak perubahan penempatan


dari yang Andrew sedikit ingat.


Andrew ingin bertanya pada SPG Pria yang sedang berdiri di samping seorang gadis


yang menggunakan kemeja garis – garis perpaduan abu – abu dan putih


serta celana panjang dengan tas yang ia slempang kan di bahunya.


Tapi urung, karena sepertinya si SPG pria itu sedang sibuk


dengan gadis yang sedang memilih printer.


‘ Beautiful ‘. Batin Andrew yang walau hanya melihat gadis itu dari samping.


Karena kulitnya yang bersih dan hidungnya yang lumayan mancung


yang jelas terlihat walau dari sisi kanannya saja.


Andrew itu jago menebak wanita cantik atau bukan


meski hanya melihat dari belakang.


Kemudian Andrew beralih kepada SPG wanita yang sedang berdiri di sebuah Counter Pulpen


yang Eksklusif.


“ Miss “. Sapa Andrew dan SPG wanita itu menjawab Andrew dengan senyuman.


“ Yes, Sir, How can I help you ? “.


“ I want to buy comic for my sister, can you show me where is it ? “


“ Oh , you can go to second floor sir “.


“ Alright, thank you “. Ucap Andrew kemudian meninggalkan counter Pulpen Eksklusif


tersebut untuk pergi menuju ke lantai dua.


**


“ Printer udah “. Ucap Fania pada dirinya sendiri setelah memegang nota pembelian


sebuah printer kemudian melihat arloji ditangannya. “ Masih macet pasti “.


Gumamnya lagi.


Fania hari itu tidak dijemput oleh John, karena si laki –laki blasteran


itu menelpon Fania kalau dia punya banyak kerjaan di kantor.


Fania juga tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Lagipula dia memang berencana untuk mampir ke Toko Buku Favoritnya itu


untuk membeli printer baru dan pulangnya dia akan memesan taksi online.


Fania memutuskan untuk mencari – cari bahan bacaan di lantai dua.


“ Cari Novel dulu deh ah “. Gumam Fania sambil menaiki eskalator menuju lantai dua.


Fania sampai di bagian Toko Buku tersebut yang memajang banyak sekali


Novel dari penulis dalam dan Luar negeri.


Sambil melihat – lihat yang sekiranya menarik walau dari cover nya saja.


Fania berjalan menyamping sambil tangannya menyentuh buku – buku


yang ada di rak tanpa memperhatikan ada orang lain di dekatnya.


Brug


Fania menabrak seseorang yang dipastikan adalah Pria karena


wangi parfumnya sama dengan yang ia cium di bawah saat memilih printer.


“ Eh, maaf , maaf “. Ucap Fania.


“ It’s okay. Are you ? “. Jawab si Pria yang suaranya berat


Fania coba menengadahkan kepalanya karena waktu sadar telah menabrak


seseorang yang ia lihat hanya lengan kanan si Pria yang terlihat lumayan berotot.


“ Eh “. Batin Fania saat melihat orang yang barusan ia tabrak.


Laki – laki bertubuh tegap , dengan harum yang maskulin


serta berkepala plontos itu tersenyum padanya.


Fania terkesima pada laki – laki tersebut. Begitu pula laki – laki yang ia tabrak


yang sepertinya terlihat terpesona pada wajah Fania.


“ Are you okay ? “. Tanya laki – laki plontos tersebut yang suara beratnya


terdengar seksi di telinga Fania.


“ I – iya. Sorry “. Jawab Fania kikuk.


“ Never Mind “. Ucap si Pria. “ Would you please excuse me then “. Ucap si Pria


itu lagi sambil tersenyum kemudian berjalan meninggalkan lorong tersebut


beserta Fania yang hatinya sedang berdebar.


“ Ya Allah Donald .... “

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2