BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 220


__ADS_3

* Makasih untuk para reader yang masih setia. Dua episode lagi hari ini untuk kalian semua 😚 *


💗💗💗


Selamat membaca ..


“Nald, aku ke ruangannya Kak Reno dulu boleh ga?.” Andrew mengajak Fania ke Perusahaan selepas mereka makan siang.


“Boleh aja, Heart. Aku minta Amanda antar kamu ya?. Sebentar lagi aku ada tamu soalnya.”


“Cewe apa cowo?.”


Andrew tersenyum lalu terkekeh. “Cowo, Heart. Don’t worry. ( Jangan khawatir ).”


“Aku ga khawatir. Hanya berjaga – jaga.”


“Atau kamu tunggu mereka datang aja dulu gimana?. Baru setelah itu kamu ke ruangan kakak kamu itu. Biar kamu liat sendiri tamu aku, hem?.”


Fania tampak berpikir sejenak. “Um.. aku langsung ke ruangan Kak Reno aja deh.”


Andrew yang sedang memangku Fania, menekan tombol ekstension sekertarisnya dan menyuruh wanita itu untuk datang ke ruangannya.


“Biar Eve yang antar kamu ya.” Ucap Andrew dan Fania mengangguk.


Tak lama Eve pun datang. “Excuse me Sir, Ma’am. ( Permisi Tuan, Nyonya ).” Sapa Eve yang nampak sedikit canggung melihat Bos dan istrinya yang lagi pangku – pangkuan itu.


Fania tersadar, kalau posisinya saat ini masih dalam pangkuan Andrew. Ia pun sedikit malu pada Eve yang nampak senyam – senyum itu. “Why are you smiling Eve?. ( Kenapa senyam senyum gitu Eve? ).” Ucap Andrew sedikit menyunggingkan senyumnya juga.


“Just envy with you and Mrs. Fania intimacy, Sir. ( Hanya cemburu melihat kemesraan anda dan Nyonya Fania, Tuan ).” Ucap Eve setengah meledek. Fania jadi tersenyum, meski masih ditahan Andrew diatas pangkuannya.


Sekertaris pribadi Andrew yang cantik itu adalah wanita yang baik dan ramah menurut Fania. Kata Andrew dia itu mantan terindahnya Jeff.


“Get married then, or find a boyfriend. ( Nikah makanya atau cari pacar kek ).” Celetuk Andrew. Eve memutar bola matanya. Ia tak terlalu kaku pada Andrew seperti karyawan yang lainnya.


“Ya Okay, I will let you know if I found one. ( Ya oke, nanti saya kasih tau kalo udah nemu ).” Sahut Eve.


Fania dan Andrew terkekeh. “Could you please take my wife to her Brother Office?. ( Bisa tolong anter istri gue ke ruangan kakaknya? ).”


“With pleasure, of course. ( Dengan senang hati tentunya ).” Sahut Eve. “Shall we go now, Mrs. Fania?. ( Apa kita pergi sekarang, Nyonya Fania? ).


“Ya, sure. ( Iya, tentu ). Sahut Fania juga. “Nald, aku ke tempat Kak Reno dulu ya.” Fania langsung berdiri. Diikuti Andrew.


Andrew pun mengangguk. “Aku akan beritahu kamu kalau pertemuan aku sudah selesai. Atau nanti aku langsung susul kamu.” Ia pun mengecup pipi Fania sekilas.


‘Aish, you both really make me so jealous with this intimacy. ( Aish, kalian berdua nih bikin gue cemburu aja dengan kemesraan kalian ini ).’ Batin Eve. ‘Send me a person for my life companion as soon as possible, God. ( Kirimkan aku pendamping hidup dengan segera, Ya Tuhan ).’


Fania menyambar bungkusan makanan yang dibawanya dari restoran untuk Reno, kemudian keluar dari ruang kerja Andrew untuk menyambangi kakaknya itu di ruangannya sendiri dengan diantar oleh Eve.


**


“Where’s Kelly?. ( Mana Kelly? ).” Fania mencari keberadaan sekertaris Reno yang tidak sedang berada di meja kerjanya.


“Maybe she’s in the restroom, Ma’am. ( Mungkin sedang ke toilet, Nyonya ).”


Eve ikut mengedarkan pandangannya seperti halnya Fania.


“You think my Brother is in his office right now, Eve?. ( Menurut kamu, kakak aku sekarang lagi ada di ruangannya ga? ).”


“I don’t have no idea for that. Ma’am. ( Ga tau juga, Nyonya ).”

__ADS_1


“Just call me Fania, okay?!. I don’t like if you call me with Ma’am. Feel like that I’m that old!. ( Panggil aja gue Fania, oke?!. Gue ga suka kalau lo panggil gue dengan sebutan Nyonya. Kayaknya tua banget gue! ).”


Fania menggerutu dan Eve malah tersenyum.


“I’m afraid I can’t do that Ma’am. ( Saya rasa, ga bisa Nyonya ).”


“Ck!.”


“Why don’t you just come inside?. ( Kenapa anda ga masuk aja? ).”


“Is that okay?. ( Ga apa – apa nih? ).”


“Well, he is your Brother. ( Yah dia kan kakak anda ).”


“I guess you were right. ( Gue rasa lo bener juga ).” Fania hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang kerja pribadi kakak gantengnya.


“Should I wait for you, Ma’am?. ( Apa perlu aku tunggu, Nyonya? ).” Tanya Eve apakah Fania ingin ia untuk menunggunya atau tidak.


“No, you can leave me here. ( Ga usah, tinggal aja ).” Jawab Fania. “Thanks, Miss Evee. (Makasih Nona Evee).”


Eve pun pamit dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“Sweety?.”


Suara merdu nan lembut yang Fania amat kenal terdengar seiring dengan munculnya sosok wanita jelmaan ibu peri yang Fania sayangi.


“Eh, Bumil.” Fania sumringah. Dan Eve pun menyapa sopan pada Ara yang baru saja tiba.


Ara menjawab sapaan Eve dengan ramah tentunya, lalu ia memeluk Fania.


“Sedang apa kamu?. Kok ga masuk?.”


“Ini baru mau masuk. Soalnya sekretarisnya Kak Reno ga ada. Jadi tadi rada ragu mau masuk.”


“Mrs. Ara, Miss Fania.” Fania dan Ara menoleh ke arah suara. Kelly, sekertaris Reno itu muncul, sedikit tergesa. Ia menyapa sopan kepada kedua wanita cantik itu , namun wajahnya sedikit gugup.


“Hi Kelly.” Ara menyapa sekertaris Reno itu dan langsung membuka ruang kerja suaminya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Mrs. Ara.” Kelly tampak ingin mencegah.


“Sstt....” Ara mengkode wanita itu untuk diam sambil menempatkan telunjuk dibibirnya seraya tersenyum. “I want to surprise him. ( Aku ingin mengejutkannya ).”


‘Oh Lord, it looks like there will be a commotion. ( Oh Tuhan, sepertinya akan terjadi keributan ).’ Batin Kelly.


‘Napa nih si Kelly?. Kek ada sesuatu?.’ Batin Fania. Lalu ia menoleh ke arah Ara yang sudah membuka pintu ruangan Reno.


Namun Ara nampak berdiri terpaku. Membuat Fania heran dan matanya mengikuti ke arah mata Ara sedang memandang.


Mata Fania membulat sempurna. “KAK RENO!.” Fania memanggil Reno dengan kencang. Sementara Ara masih terpaku di tempatnya.


Reno kaget dengan kedatangan dua wanita yang berharga dalam hidupnya. Begitu juga dengan wanita yang bersama Reno saat ini.


Suara Fania yang menggelegar mengagetkan kedua orang yang tampak seperti sedang duduk sambil berpelukan saat Fania melihatnya.


Satu tangan dari wanita yang bersama Reno saat ini nampak bergelayut di belakang leher kakak gantengnya dan satu lagi nampak seperti sedang di genggam Reno di bagian pergelangan wanita itu.


Ara nampak syok. Namun wanita itu berusaha tenang, meski matanya nampak berkaca – kaca.


“Babe, Little F. Ini ga seperti yang kalian kira.” Reno berdiri menghampiri Ara dan Fania. Wanita itu mengikutinya dengan santai.

__ADS_1


“Oh, Hi Ara.” Wanita itu menyapa dengan santainya. Nampak tersenyum licik.


Ara terdiam, sementara Fania menatap Reno dengan tajam lalu memandang wanita tersebut dengan sangat sinis. “What are you doing with her?. ( Apa yang sedang kamu lakukan dengannya? ).” Ara bersuara datar.


“Kak, apa – apaan sih lo?!.” Fania ikut bersuara.


“Babe, listen to me. ( Sayang dengerin aku ).” Reno mencoba menjelaskan. “Little F, ini ga seperti yang kalian lihat.”


“Aku tanya apa yang sedang kamu lakukan sama dia?!.” Ara bersuara kencang sekarang. Sejenak Fania terkejut. Pasalnya baru kali ini denger si Ibu Peri teriak.


“Ba....” Reno hendak berbicara lagi.


“Don’t be so upset, Ara. ( Ga usah kesal, Ara ).” Wanita itu menyela Reno.


“You better not talk!. ( Kau sebaiknya diam! ).” Reno menghardik wanita itu. “Babe....” Lalu kembali lagi berbicara pada Ara.


“Your husband just hug me and I hug him back. ( Suamimu hanya memelukku dan aku memeluknya balik ).” Kembali ucapan Reno dipotong oleh wanita yang terus memandangi Ara dengan wajah liciknya itu. “What’s wrong with that? ..... We missed each other. ( Apa yang salah dengan itu?.... Kami saling merindukan ).”


“Cut that off! ( Jangan asal ngomong! ).” Reno memperingati wanita itu. “ I s ....” Reno memandang kesal sambil hendak berbicara pada wanita menyebalkan itu.


“What did you say?!. ( Lo ngomong apa barusan?! ).” Fania kini yang menyela Reno. Berbicara pada wanita yang sepertinya keganjenan itu dengan tatapan yang amat tajam. “What’s wrong with that?!. ( Apa yang salah?! ).” Fania nampak mulai emosi. “It’s obviously wrong!. Don’t you feel ashamed?!. Hugging someone’s husband like that, Hah?!. ( Terang aja salah!. Lo ga malu apa, memeluk suami orang seperti itu, Hah?! ).”


Wanita itu kini memandang sinis ada Fania. “ Who do you think you are, hah?. Talking like that to me?!. ( Lo pikir lo siapa, hah?!, Ngomong begitu sama gue?! ).”


“ENOUGH!. ( CUKUP! ).” Hardik Reno sambil memandang marah pada wanita itu. “ Get out from here, Gabriela. NOW!. ( Keluar dari sini, Gabriela. SEKARANG! ).” Reno mengarahkan telunjuknya ke arah pintu.


“Babe, dengerin aku. Please.” Reno memohon pada Ara. Saat wanita bernama Gabriela itu mengambil tasnya.


“Kak Ara, duduk dulu yuk. Kasian debay nya.” Fania ikut membujuk. Merasa kalau kakak iparnya itu pasti sedang syok setelah melihat pemandangan kurang mengenakkan tadi. Meski Fania yakin kalo wanita yang bernama Gabriela itulah yang mencoba menggoda Reno.


Ara menatap pada Gabriela saat wanita itu melenggang dengan santai setelah mengambil tasnya. Ia juga menyunggingkan senyum yang seperti mengejek pada Ara. Namun Ara tetap diam, hanya memandang.


‘Ish ni cewe. Pengen gue cakar mukanya.’ Batin Fania.


“You don’t need to be jealous, if you really sure that he loves you. ( Lo ga usah cemburu, kalau merasa dia memang mencintai lo ).”Gabriela mulai mengoceh lagi. “I go now Reno. ( Aku pergi sekarang, Reno ).”


Memandang sinis pada Fania. “What?!. ( Apa?! ).” Ucap Fania dengan melotot pada Gabriela.


“Next time I wil make a computation with you!. ( Lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu! ).” Ancam Gabriela.


“Don’t you ever dare!. ( Jangan pernah lo berani mencobanya! ).” Ara bersuara, membela Fania. Kini memandang Gabriela dengan tatapan sinis bercampur jijik.


“Is she your friend?. ( Apa dia temanmu ? ).” Gabriela beralih ke Ara.


“Sir. ( Tuan ).” Nino datang dengan tergesa ke ruangan Reno setelah Kelly memberitahunya tentang keributan yang terjadi di ruang kerja pribadi atasan mereka itu.


“Nino. Take this woman away from here!.  ( Nino. Bawa perempuan ini pergi dari sini! ).” Perintah Reno pada Nino. “ Make sure she never come here again. ( Pastikan dia jangan pernah kesini lagi ).”


“Come Miss Gabriela, don’t make me push you. ( Ayo Nona Gabriela, jangan sampai aku memaksamu ).” Ucap Nino dengan penekanan. Gabriela menatapnya tak senang.


“Don’t be rude, Reno. I’ll go. Don’t you worry. ( Ga usah kasar Reno. Aku akan pergi. Jangan khawatir ).” Gabriela memandang Reno sambil tersenyum licik.


Fania tampak sudah mengepal tangannya.


“Just go!. ( Pergilah! ).” Sekali lagi Reno mengusirnya, sambil menatap marah pada wanita bernama Gabriela itu.


“You are a very great man, Reno. ( Kamu adalah pria yang hebat, Reno ).” Gabriela setengah terkekeh, lalu memandang sinis meremehkan Ara. “But too bad, you married a barren woman. ( Tapi sayang, kamu menikahi wanita mandul ).”


*****

__ADS_1


To be continue......


Jempolnya dulu dong


__ADS_2