
♦ FANIA & ANDREW ♦ SENTIMENTAL STORY
Selamat membaca..
“Tapi kayaknya gue balik dulu ke Mansion mau ambil hape.”
“No need. ( Ga perlu ).” Suara yang terdengar mendekat, membuat Fania menoleh perlahan. Seketika Fania tersenyum lebar. Ia langsung memberikan Varen pada Ara.
“D!.” Fania langsung menghambur memeluk Donald Bebeknya yang ia rindukan itu.
“Clumsy, huh?!. ( Ceroboh ya?! ).” Andrew menggoyangkan ponsel Fania yang ia pegang.
Fania hanya nyengir kuda.
“Iya maaf. Namanya lupa.” Ucap Fania pada sang suami yang toba – tiba datang itu sambil bergelayut manja.
Cup!.
Satu kecupan mesra mendarat dari Fania di pipi Andrew.
Andrew pun membalas dengan mencium pucuk kepala serta bibir Fania.
“I miss you. ( Aku kangen ).” Ucap Fania.
“I miss you too. ( Aku juga ).” Sahut Andrew.
Andrew langsung juga mendekat pada Reno dan Ara, serta menyalim takdzim pada Mama Anye dan langsung menggendong Varen dengan gemas yang seketika tersenyum pada Andrew yang mengangkatnya dari pangkuan Ara. “Oleh – oleh nya mana Uncle.” Ucap Ara menirukan suara anak kecil.
“Of course I bring something for my handsome nephew. ( Tentu saja aku bawa oleh – oleh buat keponakanku yang ganteng ini ).” Ucap Andrew dengan gemas pada Varen yang kemudian tertawa, karena Andrew menggelitik perut
mungilnya.
“Ih sama kamu gampang banget itu dia senyum sama ketawa. Giliran sama aku sentimen banget kayaknya. Irit banget senyum kayak bapaknya.” Fania mengerucutkan bibirnya.
“Mungkin dia aneh lihat kamu, Heart.”
“Nah kan, persis seperti yang gue bilang.”
“Kompak deh kalo udah ngatain gue.”
Ara dan Mama Anye hanya senyam – senyum melihat ketiga orang tersebut.
**
Fania memperhatikan Andrew yang diam saja sejak keluar dari kediaman Reno dan Ara.
“Kok kamu tiba – tiba pulang cepat, D?. Katanya lusa atau ada kemungkinan lebih lama?.” Fania sudah berada dalam mobilnya bersama Andrew yang berada dibalik kemudi. Menyetir untuk kembali ke Mansion utama.
Andrew tersenyum tipis. “Kenapa?. Ga suka aku pulang cepat?.”
“Ye, kan aku bilang aku udah kangen dari hari pertama aku pergi.” Sahut Fania. ‘Cuman rada aneh aja ini dia mendadak pulang. Semalem juga ga ngomong apa – apa. Dari Paris kesini berapa jam sih?.’
“Ponsel kamu mana hem?.”
“Ketinggalan di kamar kayaknya. Tadi aku charge, malah lupa aku bawa.”
“Darimana?.”
“Dari rumah lah.”
“Kenapa baru sampai ke rumah, R jam segini?.”
“Itu apa namanya. Macet. Kan ini musim panas, D. Orang pada keluar semua buat hangout.”
“Ada apa dijalanan dari Mansion ke Frognal sampai beberapa jam, hem?.”
“Yaaaa ga macet – macet amat emang. Sama aku mampir ke Charlie dulu.”
“Berapa lama di Charlie?.”
“Kamu nih ih masa aku diinterogasi sampe segininya?.”
“Aku hanya tanya.”
“Yang penting kan aku udah ditempatnya kak Reno juga, D.... Jangan curiga gitu ah.”
“Aku ga curiga, Hanya khawatir.”
“Ya udah ga perlu khawatir. Aku ga macem – macem sama cowok lain, kok. Satu aja ga abis – abis.”
__ADS_1
“Aku yakin soal hal itu.”
“Ya udah. Kamu udah makan?.”
“Sudah. Ada lagi yang mau kamu sampaikan ke aku?.”
“Engga sih. Ga ada yang penting juga. Cuma kangen.”
“Ya sudah. Satu hal, Heart.”
“Apa?.”
“Aku hanya mengingatkan, jangan melakukan segala hal yang pernah aku larang atau aku batasi tanpa sepengetahuan atau tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan aku.”
“Iya....”
**
Mata Fania sedikit membola, ketika Andrew menghentikan mobilnya di depan sebuah tempat.
Ia melirik Andrew sedikit yang nampak wajahnya biasa saja.
“Yuk turun.”
Fania nampak ragu. “Kamu mau ajak aku kemana ...?.”
Andrew menunjuk pada sebuah Kafe yang lumayan rame itu. “Kenapa?.”
“Rame banget kan?.”
“Bukannya kamu sangat suka keramaian seperti ini?.”
‘Kenapa gue ngerasa ke sindir ya?.’ Batin Fania bermonolog.
“Ayo, Heart.” Andrew sudah menunggu disamping pintu penumpang yang diduduki Fania, yang kemudian mau tidak mau keluar juga dari mobil. “Ada Live Music didalam. Kamu suka kan? Siapa tahu aku bisa melihat kamu perform
setelah aku melewatkan satu.”
Deg!.
“D.” Fania mencekal pelan lengan Andrew. “Aku bisa jelasin.”
“Aku ga minta penjelasan, hanya minta kejujuran.”
Fania menarik nafasnya dalam. “Maaf.” Ucapnya dengan tertunduk.
“D.”
Fania mencekal pelan tangan Andrew yang sudah menggandengnya untuk menjauh dari mobil sekali lagi.
“Kenapa, hem?.”
“Kita pulang aja, ya?.” Fania setengah mengiba. Rasa tak enak kini menjalari hatinya.
“Why?. ( Kenapa? ). Kamu bukannya menyukai tempat ini?.”
Andrew berkata dengan mimik wajah yang biasa, namun nada bicaranya terlalu datar, dan Fania paham kalau Andrew sedang dalam mode mood yang kurang bagus.
“D, aku akan jelasin semuanya. Tapi kita pulang dulu, ya?.”
“Kan aku sudah bilang, aku ga minta penjelasan.”
“Iya, aku tau aku salah, udah ga jujur. Aku ga bermaksud bohong sama kamu, D.” Fania setengah tertunduk. “Kita bicara di rumah, ya?.”
Andrew menarik nafasnya dalam.
“Ya sudah, ayo kita pulang.”
***
“D.” Fania mencoba memulai pembicaraan dengan Andrew saat mereka baru saja memasuki kamar tidur mereka. Andrew hanya menjawab dengan deheman.
‘Ya ilah, ngambek deh ini dia pasti kalo udah begini, sih.’ Batin Fania bermonolog. “Kamu mau makan?.”
“Nanti saja. Aku belum lapar.” Andrew menjawab tanpa menoleh sambil langsung masuk kekamar mandi.
Fania mulai resah. Si Donald Bebek yang nampak terlalu tenang, membuat ia malah sedikit tak tenang.
Pasalnya, kalau Andrew tau kemarin Fania main ke kafe yang tadi, kemungkinan besar, Andrew tau segala hal yang ia lakukan disana. Termasuk performnya di kafe itu kemarin.
Bukan Andrew melarang total Fania melakukan segala hal yang disenanginya, yang Andrew pernah bilang padanya, boleh melakukan apapun, asal Andrew ada disampingnya.
Susah kalo punya suami posesif begitu. Kadang kesel, tapi sayang, cinta malahan.
__ADS_1
“Susah dihubungin, maen ke tempat rame yang banyak cowonya, belom lagi gue ikut perform, ngobrol bareng temen – temennya Jeannie sama Shita yang kebanyakan cowo, yang dia ga kenal kayaknya. Haish!.”
Fania sedang mengabsen kesalahannya sendiri saat Andrew masih di kamar mandi. Lebih baik di sadari lebih dulu, daripada ntar didikte sama Andrew. Terbayang diotak Fania dia akan diceramahi seperti anak gadis yang diceramahi orang tuanya karena melanggar jam malam.
**
‘Ish ni orang gue tungguin dari tadi, malah tidur. Ga liat apa gue duduk disini.’
Fania melirik Andrew dari balkon kamar, setelah tadi memutuskan untuk menyesap batangan nikotin sambil menunggu Andrew selesai mandi dan berganti dengan baju yang telah ia siapkan.
Fania menghela nafasnya. Ga enak banget rasanya kalau seolah –olah Andrew sedang mendiamkannya begini.
“D.”
Fania mendekati Andrew yang sudah merebahkan dirinya diatas ranjang.
Namun Andrew bergeming.
Fania masih tetap berusaha.
Mengusap lembut tangan Andrew yang tertopang menutupi mata suaminya itu. ““D, aku tau kamu ga tidur.”
Andrew tetap bergeming. Membuat Fania menarik dan menghembuskan nafasnya dalam.
“D, jangan gini kek. Aku tau kamu marah.”
“Aku ga marah.” Akhirnya suara bariton itu terdengar juga, namun belum menggeser tangan yang menutupi matanya.
“Ya ini buktinya.”
“Aku lelah, ingin istirahat.”
“D, please?. Iya aku salah. Aku main ketempat yang kemungkinan besar orang – orang didalemnya ga kamu kenal. Banyak juga cowo, tapi kan aku sama Shita dan Jeannie .. iya memang ada teman mereka yang cowo, tapi kan aku Cuma sekedar ngobrol sama mereka. Iya ga seharusnya aku perform disana tanpa bilang ke kamu lebih dulu, kan hape aku....”
Fania belum selesai dengan penjelasannya tapi Andrew sudah menyela.
“Aku sudah bilang, aku ga minta penjelasan. Aku lelah, butuh istirahat.”
“Tapi, D....”
“Sudah aku bilang aku ga minta penjelasan, Heart. Sekarang biarkan aku istirahat. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku cabut semua larangan dan batasan yang pernah aku berikan ke kamu.”
“Kok, kamu ngomongnya gitu sih, D?.” Ucap Fania sedikit kesal karena Andrew tak merubah posisinya. “Lagian aku lagi ngomong ini, kamu kalo ngomong di masa bodohin begini pasti kesel, kan?.”
“Ya sudah, bicara. Katakan apa yang mau kamu katakan.” Andrew merubah sudah merubah posisinya dan kini terduduk sambil bersandar di sandaran ranjang.
“Biasa aja sikapnya bisa ga? Jangan ketus gini.”
“Bicara, aku dengarkan. Aku ingin istirahat setelah kamu selesai.”
“D, kamu marah kenapa sih?. Kemarin juga aku ga sengaja – sengajain buat kesana tanpa bilang sama kamu. Aku Cuma penasaran aja, kebetulan ketemu Shita dan Jeannie, terus...”
“Terus kamu terlalu menikmati waktu kamu tanpa memikirkan suami kamu yang khawatir.”
“D ... ya engga gitu. Iya aku memang aku terlalu asik disana. Udah lama banget D ... I just miss my stage. ( Aku Cuma kangen panggung ) itu aja.” Fania coba menjelaskan. “Music is my soul, my life.. something ...... ( Musik itu jiwa aku, hidup aku, sesuatu ....).”
“Music is your life, huh?. ( Musik adalah hidup kamu, ya? ).” Andrew tersenyum miring. Ia beranjak dari ranjang.
Fania memperhatikannya.
“Kamu tau?. Untuk aku, You! Are my life ( Kamu! Adalah hidup aku ).”
Andrew menunjuk pada Fania. Kemudian ia menghela nafasnya, menggeleng dan tersenyum miring.
“All I can say. just enjoy your life , then ( Aku hanya bisa bilang, silahkan menikmati hidup kamu itu ). Mulai hari ini, kamu ga perlu repot – repot meminta ijin aku, untuk tiap hal yang ingin kamu lakukan, Naomy Stephania.”
“D....” Mata Fania berkaca – kaca. “Bukan begitu maksud aku...” Andrew melangkah menuju pintu. “D .....”
Lolos juga air mata dari pelupuk mata Fania.
“Kamu dan musik itu dua hal berbeda ....”
Ucapan Fania tak terdengar oleh Andrew yang sudah membawa dirinya keluar dari kamar mereka.
Mendudukkan dirinya diatas ranjang sambil sedikit terisak.
***
“Mrs. Fania, are you looking for Mister Andrew?. ( Nyonya Fania, apa anda mencari Tuan Andrew? ).” Salah satu asisten rumah tangga keluarga mereka menghampiri Fania, yang tampak sedang memeriksa beberapa ruangan.
“Ya, did you see him, Annie?. ( Ya, apa kamu melihatnya, Annie? ).”
“Mister Andrew was left and he said that you don’t have to wait for him. ( Mister Andrew tadi keluar dan dia bilang agar Nyonya tidak perlu menunggunya ).”
__ADS_1
***
To be continue...