BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 230


__ADS_3

Selamat membaca ....


💋💋💋


--- Sebelum terus baca\, Author mau ngingetin aja daripada keburu mupeng\, wkwkwk. Yang masih dibawah umur atau yang masih jomblo\, harap minggir yak --- Itu ajah sekilas inpoh --- --- Karena Episode ini mengandung unsur Kedewasaan Yang Amat\, Amat.. Sangat Hakiki ---😜


💋💋💋


Ulang lagi, Selamat membaca ....


“Nald.” Fania menahan nafas karena bibir Andrew yang sudah turun dari bibir mulai menelusuri perlahan wajahnya. Menciumi dengan lembut namun intens, dari mulai garis rahang, leher hingga bahu t*lanjang Fania yang malam


ini masih memakai baju berleher sabrina.


“Heem ....” Andrew menyahut tapi tak menghentikan kegiatannya. Masih memeluk pinggang Fania namun sudah lebih merapatkan tubuhnya dan tubuh Fania, menyudutkan tubuh sang istri dengan pembatas balkon kamar mereka.


Nafas Andrew sudah terdengar sedikit memburu di telinga Fania.


“Nald, kita masih diluar....” Fania mengingatkan, namun kepalanya sedikit pening akibat perbuatan Andrew pada leher dan bahunya. Ditambah lagi semilir angin yang sedikit dingin membuat Fania merasa ada yang mendesir


didalam tubuhnya.


Andrew tak lagi menjawab. Nampak sibuk bergerak ke kiri dan kanan leher Fania, mengabsen setiap incinya dengan kecupan. Dadanya nampak sedikit naik turun. Tangan Andrew sudah mulai bergerilya dipinggang belakang Fania.


“Akh, Nald....” Fania sedikit memekik saat merasakan Andrew menggigit kecil area dibawah tulang selangkanya. Meninggalkan kissmark disana. Tanda kepemilikannya.


“Too tempting ( Terlalu menggoda ).” Suara si Donald terdengar mulai berat. Setelah membuat kissmark di dada atas Fania.


Fania memukul pelan dada Andrew. “Liat – liat kek, ini masih di luar, oke?.” Sedikit kesal dengan aksi Andrew yang membuat tanda kemerahan dibawah tulang selangkanya itu.


“So what, hem? ( Terus kenapa, hem? ).”


“Ma .... “ Andrew keburu membungkam lagi bibir Fania dengan bibirnya. Sembari langsung menggendong depan si Kajol yang juga dengan spontan melingkarkan kakinya di pinggang belakang Andrew, sambil masih saling menerima dan memberi saliva mereka.


Andrew membawa Fania ke atas ranjang, tanpa menghentikan ciuman mereka. Hanya berhenti sesaat untuk mencari udara dan dua bibir itu bertaut lagi. Nafas keduanya sudah tak beraturan. Terlebih saat Andrew yang mendudukkan dirinya di sisi ranjang dengan Fania yang terduduk diatas pahanya.


“Heart....” Andrew memandangi seluruh wajah Fania sambil menyentuh pelan dengan telunjuknya. Kembali lagi meraup wajah dan bibir Fania. Kembali juga menyusuri leher dan bahu wanita tercintanya itu. Merasakan sesuatu


yang sudah terasa sesak dibawah sana akibat kaki Fania yang masih erat melingkar dipinggangnya.


“Sebentar ya ....” Fania menghentikan tangan Andrew yang akan melorotkan dress mini berleher sabrina yang sedang Fania kenakan.


“Kenapa?.”


“Sebentar dulu, kamu tunggu sini aja.” Fania bergegas berdiri, membuat Andrew menghela nafasnya yang sudah berat. Membuatnya sedikit dongkol, ditinggal pas lagi hot – hotnya.


‘Is she replying my refusement yesterday? (Apa dia sedang membalas penolakan gue kemarin?).’ Batin Andrew was –was. “No way! (Ga bisa!).” Melirik pada Bapaknya Bona yang sudah tak sabar ingin menjulurkan belalainya.


Takut nasib dia dan Bapaknya Bona menderita akibat gairah yang belum tuntas, Andrew bergerak menyusul Fania yang masuk ke dalam walk in closet.


“Kenapa, Heart?.” Andrew sudah menyusul Fania yang tampak baru saja menutup salah satu laci meja rias dalam walk in closet mereka. Menghimpit tubuh Fania sebelum si Kajol sempat berbalik. Bagian atas Andrew sudah


shirtless, tak lagi memakai atasan.


Gercep.. gercep emang si Donald kalo soal buka – bukaan.


“Nald ....” Fania setengah menggelinjang.


Andrew kembali menyerang lehernya perlahan, sambil kedua tangan Andrew melorotkan mini dress milik Fania dengan sekali tarikan. Takut kecolongan, andai si Kajol berubah pikiran. Ga jadi manja – manjaan.


“Mau main disini?. Heemm....”


Andrew berbisik di telinga Fania dengan nafas yang terdengar sudah memburu. Melihat Fania yang kini hanya mengenakan dua potong pakaian saja.


Belum terlihat semua, namun bapaknya si Bona sudah lumayan meronta. Membayangkan segala kem*suman yang sebentar lagi akan dia lakukan pada Fania. Membayangkan kenyalnya dua squishy yang masih tertutup penyangga


berwarna hitam tanpa tali itu makin membuatnya tak sabar.


Satu minggu puasa, rasanya Andrew sudah amat haus saat ini. Haus akan belaian Fania yang mampu membuat seluruh tubuhnya rasa terserang aliran listrik. Lapar akan tubuh Fania yang sudah seminggu belum dilahapnya. Tangan terampil Andrew sudah meloloskan penyangga squishy milik Fania.


Buram sudah rasanya mata si Donald Bebek melihat indahnya squishy yang kini tak terhalang apapun. Udah ga sabar mau suting iklan oreo. Dibuka, diputer, dicelupin.

__ADS_1


“N – nald.... se – ben – tar ....”


Serangan Andrew dari belakang pada tubuhnya meski belum sampai ke tahap penyatuan juga sudah menyulut kobaran api gairah dalam tubuh Fania.


Andrew sudah makin tak sabar. Membalikkan tubuh Fania dan mendudukkannya diatas meja rias.


Mata Andrew kian menyipit, celana pendek yang ia pakai makin terasa sesak, begitu menyiksa. Melepaskan sendiri celana dan boxernya tanpa melepaskan pagutannya pada bibir Fania. Kini tangannya sudah siap melepaskan


satu potong pakaian yang masih dikenakan Fania.


“Nald, tunggu.”


Andrew mendengus pelan. ‘Apalagi Ya Tuhan ....’ Batinnya sedikit kesal karena b*rahi nya sudah diubun – ubun namun si Kajol malah menahan pinggulnya hingga sulit bagi si Donald untuk melorotkan segitiga yang bukan


emas namun berenda itu, sambil mendorongnya pelan.


“Kenapa? ....”


“Ini ....” Fania menunjukkan sebuah kotak kecil pada Andrew.


Andrew menyunggingkan senyumnya. “For? ( Untuk?).” Tanya Andrew sambil tangannya kembali mencoba melepaskan kain berenda penghalang goa, yang akhirnya terlepas juga. Lalu melebarkan kaki sang istri agar miliknya dapat dengan leluasa bergerak masuk untuk bersemayam ditempat terhangat milik Fania.


“Untuk kamu lah, masa aku yang pake?. Nih, mau kamu yang pake sendiri apa aku pakein?.” Fania melirik ke arah belalai bapaknya Bona milik Andrew.


Andrew meraih kotak yang ditunjukkan Fania padanya.


“I don’t need that (Aku tak membutuhkannya).”


Andrew melemparkan ke sembarang arah, kotak yang isinya merupakan alat kontrasepsi yang biasa digunakan para pria itu. Lalu menarik pinggul Fania dengan sekali gerakan oleh kedua tangannya.


“Tapi.. Akh!.”


Andrew sudah melakukan penyatuan dengan sekali hentakan. Belum semua, namun cukup membuat Fania sudah merasa sedikit penuh. “Tapi kamu ga boleh menolak....” Andrew sudah menenggelamkan belalainya. “Karena mulai


sekarang aku akan sering ‘menabung’ agar kamu segera hamil....” ia pun menggeram nikmat.


Andrew mulai bergerak perlahan namun pasti, membuat Fania tak kuasa menahan sensasi permainan panas mereka diatas meja rias yang ikut berguncang seiring guncangan tubuh sepasang suami istri yang sedang memadu


Desahan demi desahan terlepas dari bibir Andrew maupun Fania. Saling menyalurkan hasrat dalam balutan cinta. Saling menyentuh apapun yang bisa diraih tangan mereka, karena ritme permainan yang sudah tak beraturan.


Kissmark pun sudah dimana – mana. Tanda merah kepemilikan yang keduanya saling buat pada tubuh masing – masing.


“Punya goyangan baru? Hemmmm?.” Tanya Andrew dengan seringai nakalnya dan Kini Fania sudah berada di pangkuan Andrew, berpindah dari meja rias ke sofa di dekatnya. Masih dalam walk in closet, karena si Donald belum ingin menyelesaikan permainan panasnya dengan Fania. Meski keringat sudah mulai bercucuran diantara keduanya.


Fania kembali bergelinjang, serangan pada atas dan bawahnya yang dilakukan Andrew benar – benar membuatnya terlena. Terkekeh mendengar pertanyaan si Donald kala keduanya masih bergerak perlahan diatas sofa, menormalkan ritme yang sempat tak beraturan meski nafas sudah setengah tersengal.


“Yakin kuat?. Heeem?.” Tanya Fania balik disela permainan mereka diatas sofa.


Andrew terkekeh sambil mengeratkan pelukan dipinggang Fania yang sedang bergerak perlahan diatasnya.


“Show me! (Tunjukkan padaku!).”


“As your wish Sir! (Sesuai keinginan anda Tuan!).”


Si Kajol mulai bergoyang.


“G-goyang ap-a... i-ni sa-yang....?.” Si Donald terbata tak kuasa menahan nikmat yang dilakukan oleh si Kajol. ‘Damned, belajar dimana dia?. It’s too .. (Ini terlalu...).’ Batin Andrew mengutuk sekaligus memuja gerakan er*tis Fania diatasnya saat ini.


“Ini namanya goyang kolaborasi!.” Sahut Fania tanpa menghentikan gerakannya. Membuat Andrew sedikit terdengar meracau dan sesekali mendongakkan kepalanya. ‘Tau rasa. Nantangin sih. Rasain nih goyang kolab gue.’ Batin si Kajol dengan seringai licik nan nakalnya, yang puas melihat Andrew sedikit kewalahan mengimbanginya saat ini.


“Faster, Heart! (Lebih cepat sayang!).”


“Yes, Donald Duck!.”


***


Dua insan yang baru saja melakukan adegan panas nan membara di walk in closet mereka kini sudah berpindah ke atas ranjang.


“Nald.” Ucap Fania dengan menyandarkan kepalanya didada Andrew yang masih dibiarkan polos oleh si empunya.


Masih polos keseluruhan tepatnya. Setengah badan Andrew hanya tertutupi selimut. Tak membiarkan juga Fania untuk mengenakan apapun, karena kegiatan yang sempat mengguncang kaca rias dan di sofa dalam walk in closet belum cukup baginya.

__ADS_1


“Heem?....” Sahut Andrew yang tangan satu tangannya melingkar dipinggang polos Fania dalam selimut dan satu tangannya membelai lembut kepala istrinya. Menghirup aroma harum dari rambut Fania.


“Kenapa k*ndomnya ga kamu pake tadi?.”


“Pasti ga enak rasanya.” Andrew mengangkat dagu Fania agar wajah itu menatapnya. “Kan katanya mau hamil?.” Ia tersenyum.


Fania tersenyum tipis. “Tapi kan kamu ga mau buru – buru?.”


“Heart, aku sudah pikirkan semuanya. Apa yang menjadi kebahagiaan kamu, pasti akan menjadi kebahagiaan aku.”


Fania setengah menunduk. Menatap goresan bertuliskan namanya di dada sebelah kiri Andrew. “Aku ga mau kamu merasa terpaksa juga Nald....”


Andrew bangun dan memiringkan tubuhnya. “Yang bilang aku merasa terpaksa siapa, hem?.” Sambil membelai lembut wajah Fania yang tanpa make up namun tetap dan akan selalu cantik dimata Andrew.


“Ya siapa tau?.” Ucap Fania sambil telunjuknya membuat pola abstrak di dada Andrew. “Takutnya karena kamu merasa ga enak sama aku yang kepingin cepet – cepet hamil dan punya anak, kamu jadinya terpaksa berkorban


buat aku.”


Fania sedikit merasa bersalah pada Andrew yang selalu pada akhirnya melakukan apa yang dirinya minta dan inginkan.


Andrew kembali tersenyum. “Ga ada yang dikorbankan, Heart. Kalaupun ada, itu memang sudah seharusnya aku berkorban untuk kamu. Untuk siapa lagi?. Aku mungkin salah, yang kadang berpikir dan melakukan sesuatu secara sepihak, semata – mata karena aku takut terjadi apa – apa sama kamu.” Ucap Andrew. “Paranoid, kalau R bilang.”


“Makasih ya Donald Bebek ....”


“Mmm, kasih aku panggilan yang sexy gitu?.”


“Udah sexy banget itu Donald Bebek. Sama, persiiis banget sama kamu.”


Andrew mengernyitkan dahinya. “Persis dari mananya?.”


Fania terkekeh. “Persis mesumnya. Sama – sama ga betah pake celana.” Fania tergelak.


Andrew merubah posisinya lagi. “Terdengar seperti sebuah kode ditelinga aku.” Ia menyeringai nakal.


“Tuh kan, liat deh muka kamu tuh. Mesum mode on udah.” Ucap Fania masih dengan kekehannya. “Udah ah aku mau tidur.”


Andrew mencekal tangan Fania dengan pelan keatas kepala istrinya itu , saat si Fania hendak memiringkan tubuhnya. “Malam masih panjang, Heart. Call me ‘D’. (Panggil aku D).” Ia beraksi lagi, mengeksplor tubuh Fania.


“Nald ....”


“D ....Heart, you’re so yummy (D .. Sayang, kamu sangat lezat).” Racau Andrew sambil menyusuri tubuh mulus Fania.


“Aku cape ih.”


Namun Andrew tak menggubrisnya. Bibirnya terus bergerilya turus menyusuri perut rata Fania hingga pusarnya, semakin turun ke bawah menuju surga dunia yang hanya milik Andrew seorang.


Andrew menyeringai nakal pada Fania yang matanya sudah sayu, sedang juga menatap dirinya dengan tangan yang sedang memegang kepalanya. Fania menggeleng pelan. Wajah cantiknya sudah merona.


“Kenapa, hem?.”


Andrew menggoda melalui tatapannya.


“Oh, Nald.... D... please. Ja ...., ugh.” Tangan Fania terlambat menarik Andrew menjauh dari pusat intinya. Bibir Andrew sudah bermain disana. ‘Donald Bebek ga ada akhlaaaakkkkk....’ Batin Fania mengumpat karna rasanya ia hampir gila dengan apa yang diperbuat Andrew dibawah sana.


“Kenapa, hem?.”


“Geliii....ta - pi ....”


“Tapi apa, hem?.”


“Enakkk ....”


****


Segitu aja, dosa tanggung ndiri kalo reader maksa baca.😜


***


To be continue..


*** Mohon tinggalkan jejak yah ****

__ADS_1


Meskipun Cuma jempol 👍👍, udah cukup bikin Author nya bahagia.***


__ADS_2