BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 164


__ADS_3

Selamat membaca....


 


Prok .... Prok ....


Tepuk tangan mengisi ruang keluarga rumah baru keluarga cemara. Ungkapan keharuan dan kelegaan atas kelanjutan kisah cinta dua orang di depan mereka saat ini.


Fania, yang menjadi pilihan Andrew. Wanita yang sudah Andrew tunjuk dan tentukan untuk dirinya. Yang tak mungkin dibiarkan Andrew diganggu gugat oleh makhluk manapun di muka bumi ini. Kalo kata Abang Judika, **'Walau Dunia Menolak, ku tetap cinta kamu.’**Asek dah Author.


“Andai Aku Balon, Aku Akan Menjadi Keempat Balon yang Tidak Meletus, Agar Kau Pegang Erat – Erat.” Begitu kata Babang Andrew berkata pada Fania sebagai penutup sesi lamaran setelah gadis pemilik hatinya itu mengangguk.


‘Dasar botak. Pas memang kalau pakai balon sebagai perumpamaan.’ Batin Reno.


Fania dan Andrew langsung dapat hamburan ucapan selamat dan pelukan dari keluarga mereka. Rona bahagia tidak juga hanya terpancar dari wajah keduanya, namun dari mereka semua yang sudah terjalin sebagai keluarga.


“Well, semuanya kita berangkat sekarang untuk merayakan?”. Ucap Tuan Anthony. Dan mereka semua pun berangkat menuju tempat yang sudah direservasi Andrew sebelumnya untuk acara makan mereka sekaligus perayaan suksesnya acara lamaran Andrew dan Fania.


***


Keluarga cemara sudah diantar kembali ke rumah mereka oleh salah satu mobil milik keluarga Smith. Minus Fania yang tentu saja ditahan sama si Donald yang kangen dua hari ga ketemu plus di blok pula nomornya sama Fania.


Meski tau kalau Fania nya itu mau melepas kangen dengan keluarga cemara, tapi Andrew pun punya rindu yang hatinya udah ga kuat nampung. Aish.


Dengan bantuan para sekutunya, Andrew dengan mudah meyakinkan Keluarga Cemara kalau malam ini Fania engga pulang dulu ke rumah barunya keluarga cemara..  Besok baru diantar Andrew pulang.


Dan tentunya amat sangat mudah meyakinkan keluarga cemara, karena mereka toh sudah percaya pada seorang Andrew yang sudah meminta Fania secara resmi pada mereka. Meminta secara sopan dan Gentle, datang bersama dengan keluarganya pula. Sosok calon menantu yang sempurna di mata orang tua Fania yang tau bagaimana seorang Andrew mencintai Putri sulung mereka.


Keluarga Smith pun sudah berkumpul di ruang keluarga mereka, sembari menunggu waktu tidur. Toh mata mereka juga sepertinya masih full baterai karena masih excited dengan status barunya Fania yang udah upgrade dari pacar jadi tunangan.


“Pesta tunangan lo jadinya gimana Ndrew?.” Tanya John yang malam itu ikut nimbrung menginap di rumah keluarga Smith yang berada di Jakarta. Termasuk Jeff dan juga Reno plus Ara. Atas bujukan Mom pastinya biar lengkap malam ini pada kumpul dan menginap semua. “Jangan mendadak lagi. Cape tau ga.”


“Ga usah. Langsung aja nikah. Straight to the point (Langsung aja).” Sahut Andrew yang sedang bermain game konsol melawan saingan beratnya itu, Reno.


“Tanya Fania nya dong Ndrew. Kebiasaan apa – apa suka memutuskan sendiri.” Protes Mom.


“Yah Like you don’t know, Mom. (Yah, kayak ga tau dia aja Mom).” Sambar Reno.


“Mom, bener itu Ndrew. Tanya sama Fania sama keluarga cemara juga, kira kira mau mengadakan pesta pertunangan apa engga?. Ya kan Sweety?.” Ucap Ara seraya bertanya pada Fania.


“Ga perlu kayaknya ah segala pake Pesta Pertunangan segala.” Sahut Fania.

__ADS_1


“See? (Liat kan?). Pasti Fania pemikirannya sama seperti Andrew Mom.” Timpal Andrew yang seperti biasa main sambil tiduran dengan beralaskan paha Fania sebagai bantal.


“Hum. Satu mubazir duit. Kedua, Fania sama Andrew kan juga masih lama nikahnya.” Ucap Fania. Lalu semua orang tiba – tiba menatapnya. Termasuk Andrew yang seketika bangun dari posisi wenaknya. “Kenapa?. Fania ada salah ngomong?.”


“Siapa bilang masih lama?.” Ucap Andrew sambil menatap Fania.


“Loh memang tadi kita ga sempet bicarakan soal itu kan?. Lagian kan kata kamu sama Kak Reno aku disuruh kuliah?. Paling engga tahun depan kan kalau nikah mah?.” Ucap Fania sembari menatap Andrew.


“Memang tadi kita ga bicarakan soal itu. Karna Dad, Mom sama Andrew sudah membicarakan duluan dengan Papa dan Mama kamu soal kapan kalian akan menikah.” Dad angkat suara.


“Heeeemmmm, gitu.” Fania manggut – manggut. “Ga buru – buru juga kan Nald?.”


“Kalau bisa besok aku maunya kita nikah besok.” Jawab Andrew tanpa dosa.


“Emang mau lo itu sih.” Celetuk Jeff dan dibalas cebikan oleh Andrew.


“Ga buru – buru kok Kak Fania. Masih ada waktu ....” Sambar Michelle namun menatap sinis kepada kakaknya.


“Hemm. Jadi sudah ditentukan?. Mama sama Papa Fania udah oke?.” Ucap Fania.


‘Oke ga oke, keluarga cemara mah ikut aja daripada pusing mikirin kelakuan calon menantunya.’ Batin Reno.


“Sudah Oke.” Sahut Andrew yang mendapat tatapan malas dari seluruh anggota keluarga kecuali Dad Anthony yang senyum – senyum melihat Putranya itu.


“Pas Ulang Tahun kamu.” Jawab Andrew yang kembali memainkan game konsolnya.


‘Hah?. Die sadar ulang tahun gue kapan ga sih?.’ Batin Fania dan gadis itu menatap kakak gantengnya yang sudah duluan menatap dirinya sambil senyum – senyum. Lalu mengedarkan pandangan ke anggota keluarga yang lain.


“Kenapa Little F?.” Tanya Reno masih senyam senyum dengan Ara yang juga sama senyum – senyum menatap Fania. Andrew mendongakkan kepalanya sedikit ikut menatap Fania.


“Kamu memang inget ulang tahun aku kapan?.” Tanya Fania pada Andrew. ‘Oh, mungkin maksudnya ultah gue tahun depan kali.’ Batin Fania.


“Ga mungkin aku lupa.” Sahut Andrew lalu kembali ke bermain game.


“Kapan ayo?.” Tanya Fania.


“Seminggu lagi kan?.” Jawab Andrew. “Salah?.”


“Bener si. Tapi maksudnya kan pas Ulang tahun aku tahun depan ya?. Masa iye nyiapin pernikahan dalam seminggu?.” Fania lalu kembali mengedarkan pandangan pada yang lain.


“Too long. ( Kelamaan ).” Sahut Andrew lagi. “Tahun ini lah.”

__ADS_1


“Hah?! Apa?!.” Fania terhenyak dengan ucapan Andrew. “Ya kalau ultah aku tahun ini minggu depan. Iya kali nyiapin nikah cuman seminggu.”


“So? ( Jadi ? ).” Andrew masih santai.


“Haha, becanda kamu Donald Bebek.” Fania coba santai. “Jangan ngaco deh.”


Andrew meletakkan konsolnya yang langsung di sambar Jeff. “Yang ngaco itu siapa sayaaang? Hem?.”


“Nald, ultah aku tahun ini itu minggu depan. Sadar ga sih?. Se-ming-gu. Masa nyiapin nikahan seminggu doang?.” Fania nampak gusar. “Mana ada orang nikah buru – buru persiapannya?.”


“Bisa. Kalau aku sudah bilang Bisa. Pasti dan harus bisa.” Sahut Andrew yang kembali mendapat tatapan malas dari yang lain.


“Serius ini jadinya?!.” Wajah Fania sudah menampakkan keterkejutan yang luar biasa. “Kita nikah seminggu lagi?!.”


“Very serious. ( Sangat serius ).” Jawab Andrew dengan wajah tanpa beban. “Lebih cepat lebih baik.”


“Gila !.” Pekik Fania.


“Memang!.” Yang lain kompak mengaminkan ucapan Fania barusan.


**


“Pah. Itu si Endru sama keluarganya seriusan bilang Kalau acara nikahnya si Kajol sama Endru, minggu depan?.” Tanya Mama Bela pada papa Herman saat mereka sudah sampai di rumah barunya.


“Iya masa die orang kaga serius.” Jawab si Papa enteng.


“Puyeng deh mamah, Pah. Ada gitu orang mau nikah persiapannya seminggu.” Sahut Mama Bela sambil menggaruk belakang telinganya yang ga gatal sebenarnya.


“Ngapain puyeng. Orang kata mereka kita terima beres aja.” Sahut si Papa lagi enteng.


“Lah, kita kudu nyebar undangan kan?.” Timpal si Mamah.


“Tinggal sebar. Kan mau dianterin besok sekalian kata Nak Endru juga.” Papah Herman mah mode woles aja kayaknya. “Kalo puyeng tinggal pinjem toa musholla.”


“Dih, si Papah mah orang diajakin ngomong serius.” Protes Mama Bela. “Kan ga enak juga kalo kita ga bantu – bantu apa gitu.”


“Udeh sih Mah, bersyukur aje si Fania dapet calon suami kayak Nak Endru yang orang tua sama keluarganya mau terima anak kita sama kita ini yang jauh ga sebanding sama mereka.” Jelas Papah Herman.


“Iye sih. Pada sayang sayang amat kayaknya ama si Kajol. Pake susuk apaan itu die ye?.” Timpal Mama Bela asal yang dijawab dengan gelengan malas sang suami.


“Susuk kuda liar kali.” Sahut si Papa yang kemudian bergegas tidur karena besok paling engga dia dan keluarganya sudah mulai repot soal urusan nikahnya Fania dan Andrew. ‘Terima kasih Tuan Anthony, untuk segala hal yang sudah Tuan lakukan dan berikan untuk keluarga saya.’

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2