BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 217


__ADS_3

Selamat membaca.......


♥♥♥♥♥


Andrew kini duduk di ruang keluarga bersama para lelaki. Dirinya memutuskan tidak kembali ke kamarnya setelah  para wanita yang langsung bergegas untuk melihat kondisi Fania saat Andrew turun mengantar Owen dan Judith keluar dari kamarnya. Sambil juga menunggu asisten Owen membawakan obat untuk Fania.


“Apa lo mau cerita, hem?.” Tanya Reno pada Andrew. Ia pun memilih untuk duduk bersama para lelaki lainnya di ruang keluarga, karena tadi sudah sempat bertanya pada Owen dan Judith mengenai kondisi Fania. Jadi Reno tidak mengikuti Mom, Ara dan Michelle untuk menengok Fania, meski sempat khawatir juga.


Sempat juga bertanya secara pribadi pada Owen dan Judith soal bungkus obat yang ia temukan tadi. Reno sudah paham duduk masalah Andrew dan Fania berdasarkan penjelasan yang ia dapat. Namun ia tetap bertanya pada


Andrew, memastikan apa Andrew mau berbagi masalahnya atau tidak.


Andrew mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan nafas berat. Dad yang duduk disebelahnya menepuk – nepuk pundak putranya itu untuk menguatkan dan seolah memberi tahu, kalau dirinya akan selalu memberi dukungan pada Andrew. Sementara dua J masih diam.


“You have a right to keep all of your problems, Son (Kamu punya hak untuk menyimpan masalahmu, Nak)” ucap Dad. "But, at least you can feel better if you share (Tapi, setidaknya akan lebih baik jika kau berbagi)"


“I gave her contraception pills (Aku memberikannya pil kontrasepsi)” Sahut Andrew lesu. Ia tertunduk.


Dad dan dua J sontak terkejut, tapi mereka diam tak bertanya. Menunggu Andrew melanjutkan. Reno tak terkejut, namun ia juga tetap diam.


“Fania tidak setuju. But I pushed her (Tapi aku memaksanya)” Andrew menghela nafas lagi. “Dia akhirnya mau minum, meski tidak terima. Sampai akhirnya.. ia meminum semua pil. Entah apa yang ada dalam pikirannya.”


Dad dan dua J lebih terkejut lagi.


“Maaf R, tapi gue punya alasan untuk itu.” Ucap Andrew dengan tersirat nada penyesalan dalam tiap ucapannya. Ia tau betapa sayangnya Reno pada Fania. Kalaupun setelah ini Reno menghajarnya karena Fania yang hampir celaka, Andrew sudah menyiapkan dirinya untuk itu. Dia akan sangat menerima kalau andainya Reno mendaratkan satu atau dua pukulan padanya. “I just ... (Aku hanya ....) ....”


Andrew menggantung kata – katanya.


“You’re not feeling ready to be Father? (Lo ga siap untuk menjadi seorang Ayah?)” Tanya Reno.


Andrew menggeleng. “Bukan.” Sahutnya. “It’s not because I’m not ready to be a Father (Bukan karena gue ga siap untuk menjadi seorang Ayah), gue .... masih punya sedikit trauma melihat Fania di Rumah Sakit.”


Ketiga pria itu akhirnya paham dengan penjelasan Andrew. Mengingat betapa kacau dan sedihnya Andrew saat insiden yang menimpa Fania saat di Thailand. Betapa Andrew punya penyesalan yang besar atas kejadian tersebut, mengingat juga Fania sempat kritis meski sebentar.


“Apa lo bilang alasan lo sama Fania, saat lo meminta dia untuk minum pil kontrasepsi, Ndrew?.” John buka suara untuk bertanya. Andrew menggeleng.


“Fania sangat ingin segera punya anak. Dia ga akan perduli alasan apapun yang gue berikan. Kalian tau dia keras kepala, kan?.” Andrew tersenyum tipis namun nada suaranya masih terdengar berat. “Sementara setiap kehamilan itu memiliki resiko masing – masing. Dan gue takut resiko itu menghampiri dirinya. I’m not ready for that. Never been ready (Gue ga siap untuk itu. Ga akan pernah siap)” Ia tertunduk lagi.


Keempat pria yang bersama Andrew kompak menghela nafas juga. Paham atas beban dan kegalauannya Andrew.


Berpikir mungkin mereka akan bersikap sama seperti Andrew, jika mereka berada di posisi laki – laki plontos itu saat ini.


Memahami juga betapa cintanya si Andrew ini sama Fania.


“But I never thought that she could be that reckless (Tapi gue ga sangka kalau dia akan senekat itu)” Ucap Andrew lagi.


Disaat yang bersamaan Ara, Mom dan Michelle datang dari lantai atas.


Mom yang langsung memegang bahu putranya itu, membuat Andrew menoleh. “Bagaimana Fania, Mom?.”


“She’s sleeping (Dia tertidur).” Jawab Mom.


“Obat untuk Kak Fania sudah dibeli, Kak Andrew?. Kalau belum biar gue yang belikan.” Michelle bersuara.


“Is she having a gag again? (Apa dia muntah lagi?).” Andrew berdiri sedikit panik.


“Engga kok , Fania tidak muntah lagi. Hanya badannya sedikit panas.” Sahut Mom.

__ADS_1


“Owen and Judith have told me about that. Owen’s assistant will come her bring some medicine for Fania (Owen dan Judith sudah memberitahukan hal itu padaku. Asistennya Owen akan datang kesini bawa obat untuk Fania)” Ucap Andrew. "Thanks Chel, lebih baik lo balik tidur sana."


Yang lain hanya mengangguk. “Sebaiknya lo temani Fania dulu. Nanti kalau asistennya Owen datang, gue bawakan obatnya ke kamar kalian.” Ucap Reno.


“Fania tadi cerita pada kami, Nak.” Ucap Mom pada Andrew. “Kami sebenarnya yang memaksa. Karena kami benar – benar khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Ga apa Mom, ini salah Andrew.” Andrew tersenyum tipis. “Hanya tidak menduga kalau Fania bisa senekat itu.”


“Ndrew, apapun alasan kamu untuk menyuruh Fania minum pil kontrasepsi, ada baiknya kamu bicarakan baik – baik.” Ara menasehati. “Bagaimanapun, kami para wanita ini sensitif dengan hal – hal semacam itu.”


Andrew mengangguk. “Ya Ara, that’s the mistake I made. Didn’t talk about that with Fania before. (Ya Ara, itulah salahku. Tidak membicarakan dulu sebelumnya tentang hal itu dengan Fania). Yang dia lakukan sungguh diluar dugaan.”


“Yah, kalau bicara soal nekat, Ndrew. Memang si Fania orangnya nekat kan?. Ingat Race Wars, kalau lo lupa.” Celetuk Jeff.


“Ya, gue lupa kalau dia suka nekat.” Sahut Andrew tersenyum tipis. “Sampai ga terpikir akan senekat ini.”


“Ya udah lebih baik lo segera ke kamar. Kasian adik gue sendirian.” Ucap Reno.


“Lo benar R.” Sahut Andrew. “Yuk semua, Mom, Dad. Andrew ke kamar dulu. Kalian juga lebih baik kembali beristirahat.”


“Andrew is right (Andrew benar). Kalian juga lebih baik kembali beristirahat. Biar asisten nya Owen Reno yang tunggu.” Ucap Reno lagi.


Para anggota keluarga yang lain pun mengangguk.


“Let us know if you need anything, Son (Beritahu kami jika kamu butuh sesuatu, Nak)” Ucap Dad sebelum kembali ke kamarnya.


“Iya Ndrew, kalau ada apa – apa langsung kamu beritahu kami semua.” Tambah Mom dan Andrew mengangguk. "Jangan suka menyimpan masalah sendiri." Tambah Mom kemudian berlalu bersama Dad ke kamar mereka.


Bersamaan dengan Andrew yang akan kembali ke kamarnya, yang lainnya pun ikut menyegerakan diri mereka untuk kembali ke kamar masing – masing.


*


Tok ... Tok ... Tok ...*


Pintu kamar Andrew dan Fania di ketuk dari luar. Andrew melangkah untuk membukakan pintu.


“Here (Ini).” Reno dan Ara ada dibalik pintu. Memberikan bungkusan yang berisi obat – obatan untuk Fania.


“Thanks R (Makasih R). Come in, she’s wake up (Masuklah, dia udah bangun).”


Reno mengangguk, berjalan menuju ranjang dimana Fania sedang duduk bersandar. Ara mengikuti suaminya.


“Titip Fania sebentar, gue mau ambil bubur hangat untuk Fania dulu di bawah.” Ucap Andrew pada Reno dan Ara. Kedua orang itu pun mengangguk.


Fania tersenyum tipis melihat Reno dan Ara.


“Hey Little F, gimana keadaan lo sekarang, hem?.” Reno bertanya dan duduk disisi ranjang menghadap Fania, setelah mengambilkan kursi untuk Ara.


“Entahlah, Kak.” Fania tertunduk. Reno membelai kepalanya, Ara menggenggam satu tangan Fania.


“Sweety, jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Kami semua khawatir setengah mati.” Ucap Ara.


“Gue kecewa, Kak ....” Ucap Fania lirih.


“Gue paham perasaan lo Little F. Tapi Andrew punya alasan sendiri.” Ucap Reno. “Dia khawatir ....”


“Khawatir kalo gue dan anak gue nantinya akan jadi beban buat dia, karena dia udah punya orang lain diluar sana?.” Mata Fania berkaca – kaca memandang kakak gantengnya.

__ADS_1


Reno tersenyum. “Little F, kenapa mikir sampai kesitu?.”


“Iya, Sweety. Kamu jangan berpikir seperti itu. Ga akan mungkin ada wanita lain di hati Andrew selain kamu.” Ara menambahkan.


“Terus kenapa, Kak?. Kenapa dia ga mau punya anak dari gue?.” Fania setengah terisak, satu dua bulir air mata turun ke pipinya. Reno menghapusnya lembut.


“Justru karena dia takut kehilangan lo, makanya dia ambil keputusan seperti itu.” Ucap Reno pada Fania dan adik angkatnya itu menatap Reno dengan raut wajah yang sedikit bingung.


“Maksudnya?” tanya Fania.


Ara juga sebenarnya juga sedikit kurang paham perkataan Reno, tapi wanita itu diam menunggu suaminya melanjutkan.


“Apa yang menimpa lo di Thai, membuat Andrew trauma dengan Rumah Sakit. Melihat lo di Rumah Sakit, tepatnya.” Reno melanjutkan. “Kami semua saksinya, betapa dia hancur saat lihat lo kritis dan ga sadar. Dia belum bisa melupakan hal itu, F.”


Fania tertunduk lagi. Mencoba memikirkan ucapan kakak gantengnya barusan. “Tapi apa hubungannya kehamilan gue dengan saat gue di Rumah Sakit karena ke tembak?.” Kembali menatap kakak gantengnya.


“Ya... setiap kehamilan itu kan ada resikonya. Andrew takut dengan resiko itu. Sama seperti gue yang juga punya ketakutan yang sama atas kehamilan Ara.” Reno memandang Ara dan menggenggam tangan istrinya itu.


“Tapi aku kan ga pernah kritis seperti kamu, Sweety. Dan kami berdua juga sudah sering konsultasi dengan Judith. Sementara Andrew kan belum paham betul soal itu.” Ara menambahkan.


“Andrew itu cinta mati sama lo, F. Dia hanya masih trauma kalau harus liat lo masuk Rumah Sakit lagi.” Ucap Reno. “Dia akan lebih memilih ga punya anak, daripada harus kehilangan lo. Mungkin beda cerita kalau insiden di Thai ga pernah terjadi.”


Fania mulai memahami ucapan Reno dan Ara soal ketakutan dan kekhawatiran Andrew kalau dia hamil. “Tapi seharusnya dia bicarakan dulu sama gue, kan?”


“Ya disitu letak salahnya si Donald Bebek. Ga bicarakan dulu sama lo.” Celetuk Reno. “Dia kan suka punya persepsi sendiri, sama aja kayak adik gue ini nih." Reno menoel pelan hidung Fania. "Dia hanya butuh sedikit waktu.”


Fania tersenyum tipis. Andrew datang dengan membawa bubur dan air hangat diatas tray. “Makan dulu, Sweety. Agar kamu bisa minum obat.”


Ara dan Reno berdiri untuk memberikan ruang bagi Andrew didekat Fania.


“Ya udah kalau gitu aku sama Reno sekalian pamit ya.” Ucap Ara. Andrew dan Fania mengangguk.


“Makasih Kak Ara, Kak Reno.”


“Thanks Ara, R.”


“Sama – sama.” Reno dan Ara menjawab bersamaan. “Get well soon ya (Lekas sembuh ya)” Reno mengecup pucuk kepala adik kesayangannya itu, diikuti Ara.


Keduanya pamit untuk kembali ke kamar mereka pada Andrew dan Fania.


Andrew kembali fokus pada Fania setelah mengunci pintu kamarnya dari sebuah remot, saat Reno dan Ara sudah keluar.


*****


To be continue ....


*Jangan lupa ritualnya para readerku sayang*💋


*Like, Vote, Komen*


Ah iya sekalian Author mau kasih info. Kalau Novel 'Bukan Sekedar Sahabat', ga ada season - season nan yah. 😃. Ceritanya akan Author selesaikan dalam satu Novel ini. Jadi Episode akan lumayan banyak.


Kalau sequel sedang Author pikirkan.


Itu dulu aja deh ya infonya. Tetap dukung Author ya my bebi bala bala semua 💗


Ma acih.

__ADS_1


__ADS_2