
Selamat membaca...
Dua mobil RR yang membawa Fania, Andrew, Jeff beserta Reno dan Ara sudah melaju untuk menuju ke tempat tinggal utama keluarga Smith di The Royal Borough, suatu kawasan elite kaum Jet set di London, Inggris.
Fania menatap kagum dari balik jendela mobil di setiap jalan yang ia lewati.
“Wow. My dream cometrue (Mimpi gue jadi kenyataan).” Gumamnya namun didengar oleh Andrew. Membuat laki – laki itu menarik Fania pelan agar duduk lebih dekat dengannya yang sedang bersandar dengan gaya yang elegan meski dengan outfit casual, di dekat pintu mobil satunya.
“Sini.” Ucap Andrew yang langsung menyandarkan Fania didadanya. Membuat Fania menatap teduh wajah Andrew, terpesona sesaat.
‘Cakep banget sih Lo Nal sekarang.’ Batin Fania yang gemes sama pacarnya. Ula lala.
“Jangan jauh – jauh.” Ucap Andrew lembut namun didengar oleh dua orang yang ada dikursi depan.
‘Heleh, bucin banget si Andrew.’ Batin Jeff.
Ben sedikit paham dengan apa yang Andrew ucapkan. Laki – laki paruh baya itu sekilas melirik kaca spion depan dan menemukan Andrew yang tersenyum dengan sangat tulus pada Fania sambil membelai lembut kepala gadis yang disampingnya kemudian memeluknya erat dan menopang kan dagu diatas kepala sang gadis serta mencium pucuk kepala gadis cantik yang bernama Fania itu. Pemandangan yang lagi – lagi langka, karena belum pernah melihat sang Tuan Muda bersikap seperti itu pada seorang wanita.
‘Even, Mister Andrew never act like that to Miss Cindy (Bahkan Tuan Andrew tidak pernah seperti ini pada Nona Cindy) .’ Batin Ben.
**
Lagi – lagi mata Fania di kaget kan dengan pemandangan yang membulatkan matanya, saat memasuki sebuah rumah yang amat sangat luas dan mewah, setelah sebelumnya juga sudah melihat beberapa rumah lainnya yang juga terlihat luas dan mewah, bahkan ada yang hanya terlihat halamannya saja kalau dari luar. Seperti halnya rumah yang halamannya baru dimasuki ini.
‘Ish gila sih ini. Dari pager ke dalem kudu naek angkot kayaknya.’ Batin Fania saat melewati halaman rumah dan mobil pun akhirnya berhenti di depan rumah mewah yang sungguh Ruar biasah untuk Fania.
Rumah yang memiliki banyak pilar tinggi didepannya, dengan pintu depan yang didesain dengan sangat elegan. Luas. Sangat sangat luas bahkan. Sampai sampai Fania duduk terpaku memandang ke sebelah kanannya, meski Ben tadi setengah berlari untuk membukakan pintu mobil di sisi kiri Andrew.
“Yuk, Sweetheart, kita turun. Sudah sampai.” Ucap Andrew yang menghentikan kekaguman Fania menatap rumah mewah nan indah tersebut.
Ben sedikit menunduk saat Andrew dan Fania turun dari mobil.
“Wow, very wow.” Ucap Fania takjub melihat halaman yang terbentang di depannya. “Gila, gue serasa di tempat suting film Kabhi Kushi Kabhi Gham ini mah.” Ucapnya lagi karena melihat luasnya halaman rumah tersebut yang seperti di film India yang dia sebutin tadi.
“What?.” Tanya Andrew ga paham.
__ADS_1
“Kabhi Kushi Kabhi Gham. Orang bule mah ga paham pasti.” Sahut Fania lalu ia berbalik pada Andrew.
🎶Kabhi .. Kushi .. Kabhi .. Gham ..
Fania bernyanyi sebait sambil memperagakan gaya Kajol yang asli kalo joged di film. Yah harap maklum, karna si Fania itu suka ngerasa hidupnya ga afdol kalo ga goyang badannya sebentar. Membuat Andrew lagi – lagi merasa geli saking lucu liat cewenya, sampai dia ketawa menutup mukanya.
Reno dan Ara yang juga sudah turun dari mobil di yang satunya kembali nyengir melihat kelakuan Fania.
‘Apalagi itu si Fania kelakuan.’ Batin Reno dan Ara.
Ben yang melihat kelakuan Fania yang absurd itu sebenarnya ingin tertawa, tapi mengingat gadis itu adalah tamunya Andrew dan nampak begitu spesial, jadilah Ben tidak berani untuk tertawa. Tersenyum pun juga ga berani.
“Nah kalau mau minta foto Jol, sini gue fotoin tuh sekalian di helipad tuh.” Ledek Jeff sambil menunjuk sebuah tempat yang seperti landasan helikopter. ‘Puas – puasin deh lo kalau mau salto juga sekalian.’ Batin Jeff.
“Fania ... Fania ... .” Ucap Andrew dengan senyuman lebar sambil mengacak rambut Fania. “Demi Moore KW, dasar.”
“Apaan sih?.” Tanya Fania saat Jeff mendekatinya lalu melihat – lihat seperti mencari sesuatu di tubuh Fania.
Andrew segera menarik Fania dalam pelukannya. “ Udah gue bilang, jangan suka memperhatikan Fania gue. Mau mati Lo?!.” Ucap Andrew yang sudah sering kesal pada si Bule gila karna sering memperhatikan bodinya Fania.
“Gue Cuma heran sama dia. Kayak ga ada cape – capenya. Orang kalau baru pertama kali terbang belasan jam biasanya kan jet lag. Nah ini si Kajol perasaan ga ada capenya.” Ucap Jeff.
“Dih, biasa aja sih, badan - badan gue, kenapa lu yang repot si Kak?.” Sahut Fania yang masih didekap Andrew.
“Ada – ada aja lo.” Ucap Andrew. “Mana ada robot bibirnya yang seseksi Fania gue.”
Dih Abang Donald .. bikin Fania malu tapi ge er aje.
“Ya udah ayo masuk cepetan.” Ajak Jeff pada yang lainnya untuk segera masuk rumah, karena di luar sudah terasa lumayan dingin. Dan pintu masuk rumah juga sudah terbuka lebar dengan beberapa pelayan yang sudah berdiri rapih menyambut kedatangan tuannya.
“Come.” ( Ayo ). Ajak Andrew yang kini menggandeng Fania masuk.
Reno dan Ara sudah berjalan lebih dulu setelah itu Andrew, Fania dan Jeff.
Kedatangan mereka disambut dengan sapaan dari pelayan yang berdiri rapih dan teratur itu. Membuat Fania sedikit merasa sungkan.
“Buka aja coat ( mantel ) kamu. Didalam lebih hangat.” Ucap Andrew yang membantu melepaskan coat Fania, dan salah seorang pelayan wanita menghampiri Andrew dan Fania.
“Let me help, Sir.” ( Biar saya bantu, Tuan ). Ucap si Pelayan wanita dengan hormat dan sopan. Lalu ia membantu melepaskan coat Fania dan memegangnya.
__ADS_1
“Yuk.” Ajak Andrew pada Fania, karena Ara da Reno sudah berjalan di depan mereka yang sebentar menengok kebelakang.
“Hurry up (Cepet), Little F. Udah laper nih.” Ucap Reno lalu kembali berjalan masuk ke arah sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang tamu.
“Tau kelamaan jalannya, cucu Ratu Elizabeth.” Ucap Jeff yang akhirnya berjalan mendahului Andrew dan Fania.
“Ish.” Cebik Fania membuat Andrew gemas dan lagi – lagi membelai kepala Fania dengan lembut.
“Kenapa?.” Tanya Andrew.
“Tuh Bule usil.” Jawab Fania sambil menunjuk Jeff yang sedikit jauh karena berjalan cepat.
“Bukan itu. Kamu kenapa?. Kok kayaknya gugup?.” Tanya Andrew lagi.
Fania mengangkat bahunya. “Ini rumah siapa sih?.” Fania balik bertanya.
“Mom and Dad, kan aku udah bilang tadi.” Jawab Andrew.
“Hem... .” Fania hanya menjawab dengan hem –mannya.
“Finally (Akhirnya) ... kalian pulang juga.” Terdengar suara seorang wanita dari ruangan belakang saat Fania dan Andrew sudah berada di ruang tamu rumah itu yang bahkan lebih besar dari rumah Fania di Indonesia.
“Kamu ke ruang makan aja duluan ya. Mereka pasti lagi makan siang. Aku ke toilet sebentar.” Ucap Andrew pada Fania dan gadis itu pun mengangguk. Lalu Andrew segera berlalu menuju tangga untuk pergi ke toilet di
kamarnya.
Fania hanya terpaku berdiri di tempatnya. Dan seorang pelayan menghampiri dirinya.
“Let me take you, to the dining room, Miss.” ( Mari saya antar ke ruang makan, Nona ). Ucap si Pelayan sopan.
“No, it’s okay. I’m gonna wait for Andrew, here.” ( Ga apa - apa, saya tunggu Andrew disini saja ). Ucap Fania yang juga sopan sambil tersenyum. Mayan juga si Kajol bahasa Inggrisnya dah ah.
“Alright then, would you please excuse me, Miss.” ( Baiklah, kalau begitu, saya permisi ). Pamit si Pelayan sopan dan dijawab anggukan oleh Fania.
“Where’s your Bos?!.” ( Mana Bos kamu ? ) Suara wanita yang sepertinya berusia paruh baya namun masih nyaring dan sedikit Fania kenali.
‘Kayak kenal sama suaranya.’ Batin Fania. Namun tak terlalu diingat ingat Fania dan matanya kembali berkeliling, masih sambil berdiri.
“Excuse me Miss, may I know who are you?.” ( Maaf Nona, boleh saya tau siapa kamu ? ). Fania menoleh karena merasa ada yang berbicara padanya.
__ADS_1
****
To be continue .....