BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 253


__ADS_3

Selamat membaca ....


“Jadi sejak kapan bisa main Billiard, hem?.”


Fania, Andrew, dua J beserta Dewa kini sudah duduk disalah satu meja, masih di kafenya Albert.


“Ga lama setelah kenal Ka Dewa. Dia sering banget ngajak aku ke tempat main Billiard.” Fania menjawab pertanyaan Andrew padanya.


“Pasti dia maksa, kan?.” Andrew melirik pada Dewa.


“Wo, jangan asal ngomong lo. Kalo gue tukang maksa, udah gue paksa Naomy jadi pacar gue dari dulu.”


Dewa membela diri. Fania dan dua J hanya terkekeh melihat dua orang yang bersahabat tapi juga bisa dibilang musuh dalam cinta diwaktu yang sama itu saling berargumen.


“Tau nih, jangan suka asal nuduh orang.” Sahut Fania. “Orang aku sendiri yang minta diajarin. Asik soalnya liat Ka Dewa main. Jago, keren.”


“Masih lebih keren aku!.” Andrew tak terima Fania memuji Dewa. Yang lain terkekeh saja.


“Iya, masih keren kamu kok Donald Bebek.” Sahut Fania agar si Donald Bebek bahagia. “Kan udah ada buktinya. Lebih milih kamu kan? Biar ga ada rambutnya juga.”


Andrew tersenyum lalu terkekeh mendengar ucapan Fania. Dua J dan Dewa pun sama.


“Kenapa ga kamu tekuni?. Kan sayang udah punya gelar. Bisa masuk jajaran pemain pro.” Ucap Andrew.


Fania menggeleng. “Aku awalnya Cuma main karena senang aja. Ga ada obsesi disitu. Masih kalah sama musik dan nyanyi. Jadi ga terlalu gimana – gimana sama Billiard.”


“Nah itu elo bisa sejago itu?. Masuk deretan sebagai ratu billiard, kan berarti kemampuan lo sudah diakui, Jol.” John bersuara. "It's just too bad. ( Sayang, tau )."


“With a killer skill. ( Dengan kemampuan tingkat dewa pula ).” Jeff menimpali. “Right just like what Andrew said, ( Benar seperti yang Andrew bilang ), sayang gelar lo.”


“Bonus aja itu sih.” Sahut Fania. “Gue itu Cuma ga suka ngelakuin apa – apa itu setengah – setengah kalo lagi belajar satu hal, terlebih kalo gue suka.”


Keempat pria itu manggut – manggut.


“Jadi si Dewa nih, guru Billiard lo?.” Tanya John pada Fania.


“Yap. Tapi tau – tau ngilang!.” Sahut Fania lalu melirik Dewa dengan mengerucutkan bibirnya.


“Kan aku kecelakaan, sayang.” Timpal Dewa.


“Mau mati lo?!.” Andrew melemparkan kacang pada Dewa. Ga terima Dewa memanggil Fania dengan sebutan sayang.


Yang lainnya hanya terkekeh.


“Emang gue sayang sama dia.” Ledek Dewa pada Andrew.


“Tapi dia ga sayang sama lo. Dia sayangnya sama gue!.” Andrew menyahut ketus.


“Dih, apaan sih kamu nih? Kek anak Abg.” Fania terkekeh melihat sikap Andrew kalo bucinnya lagi kambuh.


“I don’t care ( Bodo amat ).”


“Dasar!. Ga usah cemburu sama Ka Dewa, dulu dia yang setia nemenin aku, jagain aku sebelum kamu sama Kak Reno muncul tau.”


“Tuh, denger Donald Bebek!.” Dewa kembali meledek Andrew.


“Hem.” Sahut Andrew malas.


“Sorry ya Ka, gue ga tau lo kecelakaan. Handphone lo juga ga pernah bisa dihubungi saat lo tau – tau ngilang.” Fania berkata tulus pada Dewa.


Dewa tersenyum. “It’s okay, Naomy. Aku juga sempat koma beberapa bulan. Dan langsung dibawa ke Norweg saat siuman.”


Fania tersenyum tipis.


“Lo ga mendalami Billiard lagi karena si Dewa yang tiba – tiba menghilang dari hidup lo ini, jadinya?.”


Fania mengangguk. “Salah satunya iya, itu alasannya. Gue merasa kehilangan sosok seorang temen, sahabat, abang, guru gue.”


Andrew, dua J mendengarkan. Dewa hanya tersenyum. Sedikit perih sih, tapi memang dari dulu toh Dewa sudah tau kalau memang hanya Andrew yang ada dihati Fania. Naomy yang ia cintai.


Meski sebenarnya niat awal Dewa datang ke London selain menghadiri acara Ara dan Reno. Dia memang sangat ingin menemui Fania. Meski tau, kalau Fania sudah menjadi istri sahabat lamanya, Andrew.


Sempat keegoisan mendominasi dirinya. Mengesampingkan Andrew, demi mengejar kembali pujaan hatinya. Ingin menyampaikan hal yang belum sempat tersampaikan langsung dari bibirnya tentang perasaannya pada Fania.


Berharap, jika ada kesempatan baginya untuk memiliki hati Fania, tak perduli meski wanita itu sudah menikah. Dan pernikahannya dengan Andrew adalah suatu kesalahan.


Namun pada akhirnya Dewa sadar, selain Fania yang teramat mencintai Andrew, ia teringat dulu Andrew pernah bercerita beberapa kali padanya. Tentang sosok gadis tomboi yang Andrew sayangi, yang Andrew harapkan untuk bertemu lagi. Sangat.


Binar mata bahagia Andrew saat bercerita tentang sosok gadis tomboi yang ceria, kadang ngeselin dan Andrew senang menjahili nya.


Raut wajah Andrew yang berubah muram saat kehilangan kontak dengan si tomboi. Andrew yang tak pantang menyerah mencari gadis tomboi kesayangannya, yang memang sudah ia tunggu sejak lama. Andrew yang sedari dulu juga memang mencintai Fania.


‘Gue akan menunggunya Wa, sampai batas maksimal kalau gue benar – benar ga bisa menemukan dia lagi.’ Kata – kata Andrew yang pernah diucapkan pada Dewa kala itu.


Meski rasanya ada perih mendengar arti dirinya bagi Fania barusan, namun Dewa bahagia. Naomy nya menyayanginya dalam arti yang lain. Dewa tau itu. Tak apa Fania tak mencintainya, asal Dewa melihatnya bahagia.

__ADS_1


Toh cinta tak harus memiliki bukan?.


Lagipula Fania sudah berada dalam dekapan laki – laki yang tepat. Laki – laki yang juga mencintai Fania dengan sepenuh hatinya. Memuja Fania sama seperti Dewa memuja Naomy nya.


‘Ku lepas dengan Ikhlas’ Kalo kata Lesti, eh Dewa.


“Nah, kalo Ka Dewa ga ngilang tuh bisa jadi gue jadi pemain pro sekarang.” Dewa kembali fokus pada Fania yang sedang berbicara.


“Harusnya lo fokusin aja itu jadi pemain pro.” Celetuk John.


“Sempet sih, mikir begitu. Tapi gue kebetulan juga baru banget dapet jadwal reguler di kafe. Ya gue pilih nyanyi lah. Yang udah jelas duitnya.” Sahut Fania. “Lagian ga lama gue ketemu sama Vla trus gabung di FC kan.”


Keempat pria yang bersama Fania manggut – manggut lagi.


“Ketemu Vla dimana?.” Tanya Andrew.


“Dia nabrak aku awalnya, nyerempet sih. Trus ga lama akrab ama dia dan dikenalin sama anak – anak FC. Bryan, Arman, Caca.”


“Kalo ga salah si Bryan pernah nembak lo bukannya?.” Celetuk John yang membuat Andrew langsung menoleh pada Fania.


“Benar itu, Heart?.” Tanya Andrew penuh selidik.


“Bener.” Jawab Fania santai.


Andrew berdecak. “Berani – beraninya si Bryan.”


“Ya lo juga belom ada, Donald bebek!.” Celetuk Dewa.


Andrew memberikan lirikan sinisnya pada Dewa.


“Tau lo Ndrew, wajar si Bryan naksir Fania. Bukan si Bryan doang gue rasa.” John ikut nyeletuk.


“Betul sekali Kakak John yang blaem – blaem.” Sahut Fania. “Fania gitu loh.”


Sombong amat lu Jol.


“Iya, iya Fania yang cantiknya mengalahkan seluruh wanita yang ada di dunia.” Andrew menggoyang pelan kepala Fania sambil terkekeh. “Terus kamu terima itu si Bryan?.”


“Ya enggalah. Kalo aku terima, berarti aku pernah pacaran namanya, Donald Bebek. Ish ga paham – paham orang di bilang belum pernah pacaran akunya. Cuma ama kamu doang. Itu juga bentaran kan.”


“Kok sebentar?.” Andrew menyela.


“Yah emang sebentar. Yang ngebet pengen kawin siapa?.” Timpal Fania.


“Iya memang aku yang buru – buru ingin nikahi kamu.”


“Nah tuh nyadar.”


'Bahaya kalau ga cepat - cepat diikat.' Batin Andrew bermonolog.


Sahut Fania dan Andrew mencubit gemas sebelah pipi Fania.


“Dasar.”


“Lagian waktu Bryan nembak, aku malah lagi deket sama Vla. Udah ah, aku mau ke toilet dulu.”


Andrew setengah terkejut, sambil mencekal tangan Fania yang sudah berdiri hendak ke toilet.


“Maksudnya, kamu pacaran sama Vladimir?.”


“Ih, dibilang ga pernah pacaran ini Donald Bebek ga paham – paham. Deket, kayak waktu aku sama Ka Dewa. Ya ga sedeket kayak aku sama Ka Dewa banget sih, Cuma Vla juga baik, perhatian juga. Sering nemenin aku, nganterin aku kemana – mana. Udah ah, aku kebelet nih.”


“Ish!.” Andrew menggerutu.


Dua J dan Dewa sontak tergelak.


“Ndrew, Ndrew, kan sudah pernah gue bilang. Si Fania mungkin ga pernah pacaran, tapi gebetan pasti banyak.” Celetuk Jeff.


“Setuju.” Sahut Dewa.


“Lo jagain deh itu si Kajol baik – baik. Jangan sampe lo bikin ulah lagi.” John menambahkan.


Tiga pria itu tergelak lagi. Pasti si Andrew kepikiran. Begitu otak mereka sama - sama berpikir.


“Kalau setengah dari followers si Kajol adalah pria. Berarti saingan lo itu kurang lebih lima ratus ribu pria – pria yang bisa menjadi ancaman buat lo.” Mulut kompor si bule gila sukses membuat Andrew seketika memutar otaknya.


**


“D ....” Fania dan Andrew sudah kembali ke kamar mereka.


“Apa, hem?. Mau minta aku menjalankan kewajiban?.” Goda Andrew saat Fania menghampiri dirinya yang sedang berada dibalik meja kerjanya.


“Amit deh. Kamu nih ga jauh – jauh dari situ aja otaknya.”


Andrew terkekeh, membawa Fania dalam pangkuannya.

__ADS_1


Menghadapkan wajah cantik Fania tercintanya, menatapnya penuh cinta.


“Habis enak, gimana dong?.” Cup!.


Tak tahan untuk mencium bibir ranum Fania, jika bibir itu sudah dekat seperti ini dengan bibir Andrew. Terlalu menggoda.


Fania kini yang terkekeh. “Kamu nih.”


“Ada apa, hem?. Ada yang mau kamu bicarakan?.”


“Engga, iseng aja sendirian. Bosen nonton TV. Kamu ngapain sih? Masih ngecek kerjaan?.”


Andrew mengangguk.


“Ini kan weekend.”


“Hanya mengecek email masuk, kok.”


“Hem ....” Sahut Fania dan dia mengalihkan pandangannya ke layar komputer Andrew.


“Ini email Perusahaan, bukan email pribadi aku.” Ucap Andrew yang melihat Fania seperti mengecek emailnya.


“Ih, orang Cuma liat doang. Emang aku ini, kamu apa?. Cek email aku satu – satu. Belum lagi DM aku di IG.” Fania beralih lagi ke Andrew.


“Jadi, kamu keberatan?.” Selidik Andrew namun tak serius.


Fania hanya tersenyum, lalu menggeleng. “Kamu masih aja ga percaya sama aku, D.”


“Bukannya ga percaya. Aku hanya berjaga – jaga.”


“Satpam kelles. Berjaga – jaga.”


Andrew terkekeh lagi. “Habis, gebetan istri aku banyak ternyata. Dewa, Vladimir, entah siapa lagi.”


“Siapa suruh ninggalin aku dulu?.”


Andrew tersenyum. “Iya, aku salah meninggalkan kamu dulu. Harusnya aku paksa ikut ke London dari dulu, ya?.”


“Eem.. ada bagusnya juga sih, kita sempet lose contact. Hidup aku jadi lebih berwarna.” Ucapan Fania membuat Andrew sedikit menatap tajam padanya. “Kenapa ngeliatin aku begitu?.”


“Seneng ya, punya banyak gebetan?.” Andrew sedikit sinis. Namun Fania malah jadi gemas.


“Ye, orang mereka yang deketin aku si.”


“Ya kamu terlalu banyak menebar pesona.”


“Enak aja. Kalo aku tebar pesona. Aku udah pacaran dari dulu, tau. Kayak kamu sendirinya ga tebar pesona aja.”


“Aku juga ga menebar pesona. Memang aku mempesona, kan?. Toh buktinya Kajolita Esperansa De La Costa nungguin aku.”


Fania tergelak. Cup!. Gantian Fania yang mengecup bibir Andrew.


“I consider that’s a code. ( Aku anggap yang barusan sebagai kode ).”


Fania hanya terkekeh saat Andrew langsung menggendongnya setelah kecupannya tadi.


“Oh iya, Heart.”


“Apa?.” Andrew sudah membaringkan Fania di ranjang.


“Followers IG kamu yang sekitar satu juta lebih itu kebanyakan pria kah?.”


“Ga tau. Mungkin. Ga menghitung juga.”


“Setengahnya?.”


Fania tampak berpikir. “ Lebih kayaknya. Kenapa sih?.”


Andrew terdiam sejenak. “Besok kita bertukar ponsel kalau begitu.”


“Ha?.” Fania tak habis pikir. Sampe segitu Posesif nya si Donald Bebek.


Mau protes, tapi udah keburu dibikin geli mengarah ke enak oleh si Donald bebek.


Tutup hordeng ah...


**


To be continue..


**


Jangan lupa ritualnya. Like & Komen. Biar seneng itu si Kajol. Wkwkwkwk.


Terima kasih. Kiss, kiss, muah.

__ADS_1


__ADS_2