
Selamat membaca..
“Bahkan Tuhan pun ga mengijinkan kamu pergi dari aku, kan?.”
Andrew dan Fania kini sudah tinggal berdua saja dikamar mereka. Fania tersenyum saat Andrew yang telah berganti pakaian menghampirinya yang sedang menyandarkan dirinya di sandaran ranjang.
“Sini.”
Andrew meraih tubuh Fania perlahan dan mengganti sandaran ranjang dengan dadanya. Merengkuh tubuh Fania dan memeluknya, sambil sesekali mengusap –usap perut Fania yang masih rata itu.
“Jangan lagi berkata untuk pergi, dengan alasan apapun, Heart.” Andrew membuat Fania menatapnya. “Jangan lagi meragukan aku dan ketulusan aku. Termasuk R. Dia menyayangi kamu dengan tulus. Kami semua menyayangi kamu dengan tulus.” Ia tersenyum.
“Aku hanya bingung, D.”
Fania merubah posisinya. Kini ia duduk dan menghadap Andrew.
“Apa yang membuat kamu bingung?.” Andrew kembali memposisikan Fania untuk bersandar lagi didadanya. “Jangan duduk seperti tadi, kasihan babynya.” Andrew mengecup pucuk kepala Fania.
Membuat Fania tak tahan untuk menoleh dan tersenyum pada suami yang sangat ia cintai itu.
Ah, mungkin hormon kehamilan yang membuat Fania jadi baper akibat bahagia dengan perlakuan hangat Andrew.
Terlalu hangat jika hanya sebuah kepura – puraan bukan?. Mata Andrew terlalu teduh saat memandangi Fania kalau itu hanya sebuah bagian dari konspirasi bersama kakak gantengnya untuk memanfaatkan Fania. Rasanya Fania mulai merasa yakin kalau itu tidak mungkin.
Fania kini sudah meyakini ketulusan Andrew dan cintanya yang sungguh – sungguh pada dirinya. Memorinya sedang mengurut setiap kejadian yang sudah ia alami sejak bertemu kembali dengan si kakak ganteng dan Donald Bebeknya.
Mulai mengingat setiap momen yang membuat wajah Reno dan Andrew khawatir dan sedih saat beberapa kejadian buruk pernah menimpanya. Rasanya iya, dua laki – laki itu benar – benar menyayanginya. Perkataan wanita yang mengaku adik tiri Reno itu pasti ingin memprovokasi nya saja.
Tapi Fania tetap akan mencari tahu soal masalah Reno dan keluarganya. Keluarga Alexander.
Andrew membelai lembut kepala Fania hingga menyusuri wajah Fania sampai ke garis rahangnya. “Heart, mulai sekarang jangan membebani hati dan pikiran kamu tentang apa yang orang luar katakan kekamu. Kita ini keluarga, paham?. Ikatan dan kepercayaan yang sudah terjalin bertahun – tahun jangan sampai hancur karena interfensi orang luar. Meskipun kita juga sempat lama berpisah.”
Fania mendengarkan semua perkataan Andrew dengan baik. Sambil menikmati perlakuan dan belaian Andrew padanya saat ini. Fania melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andrew.
“Aku Cuma takut, D. Takut kalau kamu ga benar – benar cinta sama aku. Aku pasti kehilangan.....” Mata Fania mulai berkaca – kaca. Hormon kehamilan rasanya sudah mulai menaikkan sensitifitas emosinya.
“Hei ...” Andrew menangkup wajah Fania. “Siapa yang pernah berlutut meminta maaf kamu, hem?.” Andrew menghapus air mata yang sudah terproduksi dimata Fania, namun tak membiarkannya sampai turun. “Kalau aku ga benar – benar cinta, ga mungkin aku rela menjatuhkan harga diri aku hanya untuk meminta maaf pada kamu di hadapan orang banyak, Heart.”
“Jadi maksud kamu, aku ini udah mempermalukan kamu gitu?!.” Fania menghadapkan tubuhnya pada Andrew dan seketika raut wajahnya berubah.
Andrew pun setengah terkejut dengan Fania yang tiba – tiba menarik tubuhnya dan langsung menudingnya seperti itu. Andrew sampai menegakkan tubuhnya.
“Aku ga bilang seperti itu, Heart.” Ucap Andrew dengan wajahnya yang sedikit terkejut dengan tudingan Fania.
“Tadi kamu bilang, kamu menjatuhkan harga diri kamu didepan orang banyak demi aku?. Kamu merasa aku permalukan berarti, kan?. Tandanya kamu ga ikhlas melakukan itu, kan?.”
Mata Fania kembali mulai berkaca – kaca. Ia pun tak mengerti kenapa dia merasa tersinggung dengan ucapan Andrew barusan.
“Heart, aku ga bermaksud seperti itu.” Sumpah Andrew tak mengerti salah dari ucapannya itu dimana. Padahal juga dia bicara sudah selembut mungkin pada Fania.
Fania menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terdengar terisak. Membuat Andrew menjadi bingung yang melihat Fania nampak tiba – tiba menangis dan menutupi wajah dengan kedua tangannya itu.
'Kenapa gue jadi cengeng begini, sih?.' Batin Fania bermonolog.
“Maafin aku kalau kata – kata aku barusan menyinggung kamu. Aku ga bermaksud apa – apa. Hanya ingin menjelaskan betapa aku mencintai kamu sampai rela melakukan apapun, Heart.” Andrew membuka kedua tangan Fania dan menangkup wajah Fania untuk menatapnya. “Maafin aku, hem?.”
“Kamu, aku masih cantik aja, badan aku masih bagus, udah berani berani bohongin aku demi ngeliat penari ronggeng yang ga pake baju. Gimana nanti kalo badan aku udah gendut?. Pasti kamu bakalan sering ninggalin aku, kan?. Bilang nanti ke Italy lah, kemana lah, nongkrong sama cewe – cewe seksi. Iya, kan? Bener kan?.” Fania terisak.
Andrew menghela nafasnya sambil membatin. ‘Oh Tuhan.’
***
__ADS_1
“Selamat pagi. Menantu Mom yang cantiknya Masya Allah seperti mertua dan kakak iparnya.” Sapa Mom saat melihat Fania datang bersama Andrew ke halaman belakang untuk sarapan. Sementara lainnya yang sudah duduk ditempatnya masing – masing hanya terkekeh mendengar celotehan Mom mereka.
“Aku ga termasuk memangnya?!. Cantik gini juga.” Celetuk Michelle yang merasa tak disebut oleh Mom.
“Iya kamu juga cantik, anak Mom kan?. Pasti cantik lah. Tapi belum Masya Allah masih Insya Allah.” Ucap Mom asal. Lagi – lagi membuat semua orang terkekeh.
“Apa sih Mom?.” Sahut Michelle sebal.
“Ya kalo sekarang cantiknya masih biasa. Nanti kalau sudah menikah dan hamil seperti dua kakak ipar kamu ini, nah baru Mom bilang cantiknya Masya Allah, Chel.” Timpal Mom lagi.
“Whatever (Terserah deh).” Michelle mendengus kesal.
“Hey, Little F, sudah enakan?.” Reno menghampiri Fania sambil mengelus lembut kepala Fania seperti biasa.
Fania mengangguk. “Udah Kak Ren.”
“Kenapa muka kamu ditekuk, gitu, Sweety?.” Tanya Ara dari tempat duduknya.
Setelah semalam dia, Dad juga Jeff dan Uncle Keenan bergantian memberi selamat pada Fania dan Andrew, setelah berita soal kehamilannya menyeruak ke seisi kediaman akibat aksi Michelle yang turun dengan berteriak sambil bilang, ‘Kak Fania hamiillll!!!.’ sehabis melakukan test pada alat uji menunjukkan dua garis merah.
Jadilah Kediaman Smith geger saat itu juga dan wajah bahagia semua orang yang tinggal didalamnya langsung nampak.
“Ga apa – apa Kak.” Jawab Fania namun melirik sebal pada Andrew.
“Ga apa – apa tapi mukanya begitu.” Celetuk Jeff. "Ngambek lagi?."
Fania hanya diam dan langsung duduk ditempatnya.
Andrew pun hanya diam saja, meski ia merasa mata semua orang sedang melirik padanya. Sedang malas layan.
‘Gue sendiri aja bingung sama sikapnya si Little F. Nanti marah, nanti nangis. Semua yang gue bilang sepertinya salah.’ Batin Andrew bermonolog. Setengah menggerutu.
“Kalian jadi ke hospital untuk konsultasi dengan Judith hari ini?.” Tanya Reno pada Fania dan Andrew.
Fania mengangguk.
“Kita bareng kalau begitu.” Ucap Ara. “Kebetulan hari ini juga jadwal periksa aku. Kalian ada janji nya pagi ini juga kan?.”
Andrew dan Fania menjawab dengan anggukan.
“Jangan ngidam macam – macam, Jol. Yang wajar – wajar aja.” Celetuk Jeff mengingat Fania yang suka aneh – aneh. ‘Nanti tau – tau dia ngidam mau bawa pesawat jet.’ Gumam Jeff dalam hati.
“Waktu awal – awal Kak Ara hamil, Kak Reno kan yang ngidam?.” Tanya Fania pada Reno dan Ara.
“It called Sindrom Cauvade.” Sahut Reno.
“Means? ( Maksudnya? ).” Andrew gantian bertanya.
“Sindrom kehamilan simpatik.” Sahut Ara.
“Itu kenapa Kak?.” Tanya Fania disela - sela suapan nya.
“Ikatan batin gue dan Ara terlalu kuat. Jadi gue yang ngidam. Termasuk morning sickness nya Ara juga gue yang mengalami.” Timpal Reno santai disela suapan nya juga.
Fania meletakkan sendoknya. “Kamu ga ada merasa mual, D?.” Tanya Fania pada Andrew.
“Engga.” Andrew menggeleng pelan. Fania terdiam, membuat Andrew bingung. “Kenapa, Heart?.”
“Berarti kamu ga bener – bener sayang sama aku. Ga kayak Kak Reno yang sayang bener – bener sama Kak Ara.” Mata Fania mulai berkaca – kaca.
“Ya Tuhan, Heart. Aku harus gimana lagi untuk buat kamu percaya tentang perasaan aku kekamu?.”
Perdebatan Andrew dan Fania membuat yang lain menghentikan makan mereka.
“Buktinya kamu ga ngidam kayak Kak Reno. Ga muntah – muntah kayak Ka Reno waktu itu. Berarti kamu ga bener – bener sayang sama aku, kan?.”
Fania meninggalkan meja makan dan Andrew yang terdengar mendesah lesu. Lalu menoleh pada Reno.
__ADS_1
Reno mengendikkan bahu sambil membuka sedikit tangannya. “Kenapa?. Gue ada salah
bicara?.”
Andrew mendengus kesal dan langsung mengejar Fania yang merajuk.
****
“Kamu ke kantor?.” Tanya Fania setelah ia dan Andrew selesai memeriksakan kandungannya yang baru berusia dua minggu itu ternyata.
Baru dua minggu usia kehamilan Fania, namun Andrew sudah dibuat repot oleh mood istrinya yang mengalahkan saat Fania sedang datang bulan.
“Iya, aku ada meeting bulanan hari ini. Bareng R, juga.”
“Lama?.”
Andrew dan Fania sudah kembali berada didalam mobil, terpisah dengan mobil yang dinaiki Ara dan Reno.
“Well, Depends ( Tergantung ) kalau memang tidak ada masalah dalam laporan mereka, mungkin hanya akan sebentar.” Andrew merengkuh Fania. “Kenapa, hem?.”
Fania terdiam sejenak. “Aku ikut ke kantor ya.”
“Kamu harus banyak istirahat, Heart. Tadi dengar kan yang Judith bilang?. Aku akan antar kamu ke rumah dulu.”
“Belum apa – apa udah ga boleh lagi dateng ke kantor kamu. Gimana nanti kalo aku udah gendut terus perut aku udah tambah besar. Jangankan ke kantor, pasti kamu malu ajak aku kemana – mana, iya kan?.”
‘Oh Astaga Dragon.’
Batin Andrew yang merasa terdzalimi.
***
“Sweety, kenapa ga ikut Kak Ara aja ke Butik, yuk?.” Ajak Ara saat dia beserta Reno, Fania dan Andrew sudah sampai di Lobi Perusahaan Smith.
Mengingat Rute dari Rumah Sakit adalah melewati Perusahaan Smith lebih dulu baru kemudian Butiknya Ara.
Ara mencoba membujuk Fania yang ikut turun dengan Andrew dan Reno di lobi Perusahaan, agar mau ikut ke Butik bersamanya. Daripada dia bengong nanti nunggu Andrew dan Reno selesai rapat bulanan.
“Engga ah Kak, aku mau disini aja.”
Fania bergelayut manja di lengan Andrew dan suaminya itu hanya tersenyum lalu merengkuh Fania dalam dekapannya.
‘Kalau begini kan enak, manja, menggemaskan.’ Batin Andrew bermonolog.
“Kak Ara benar, Little F. Kenapa kamu ga ikut ke Butik?. Katanya mau belajar bikin design tas dan baju?.” Kakak ganteng ikut mengusulkan.
“Engga ah Kak, gue mau disini. Mau liat semua staff yang ikut rapat sama kalian. Banyakan cewe apa cowo. Nanti mentang – mentang istrinya lagi hamil ntar curi curi pandang ke karyawan cewenya. Tuh liat tuh.”
Fania menunjuk beberapa karyawan perempuan yang melewati mereka dan menyapa dengan tersenyum memberi hormat.
“Senyam – senyum sama laki orang. Mana roknya pada pendek banget itu. Rok adenya pada dipake. Ga punya rok yang lain?. Ga cukup apa gaji disini buat beli baju yang bener?.”
Cerocos Fania sambil menatap intens pada dua karyawan wanita yang tadi menyapa mereka, sampai kepala dan matanya mengikuti kemana arah kedua wanita itu berjalan, hingga hilang dari pandangannya.
‘Astaga Dragon.’ Sekali lagi Andrew bermonolog. Rasanya dia mau guling – guling dengan sikap Fania saat ini. Kalah roller coaster juga kayaknya dengan mood si Kajol saat ini yang naik turun ga karuan.
Ara dan Reno sekuat tenaga menahan untuk tidak tertawa, melihat cemburunya Fania saat ini dan muka pasrah tak berdayanya Andrew. Alhasil hanya sudut bibir Ara dan Reno saja yang nampak berkedut hampir kasat mata.
“Ya udah yuk, Heart. Lebih kita masuk” Ajak Andrew pada Fania. Lebih baik cari aman untuk dirinya saat ini.
Ara dan Reno akhirnya tersenyum. Ara berangkat menuju butiknya, dan Reno mengikuti Fania serta Andrew untuk masuk ke dalam Perusahaan.
***
To be continue...
Ritual jangan lupa. Jempol tolong dilemesin.
__ADS_1