
Selamat membaca.....
“Berhenti meragukan aku Fania.” Andrew makin mendekatkan wajahnya pada Fania dan langsung menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya. Mulai dari mengecup hingga memainkan bibir tipis Fania yang selalu dirasa menggoda untuk Andrew. Fania yang awalnya diam lama – lama akhirnya merasa terbuai dengan ciuman Andrew yang lembut dan perlahan.
Namun lama kelamaan ciuman Andrew semakin menuntut, karena ia mulai ******* bibir bawah Fania, membuat gadis itu merasakan aliran udara dimulutnya terasa sedikit sesak.
Fania mencoba memberi isyarat pada Andrew untuk berhenti dengan mendorong dada laki – laki itu pelan. Namun
Andrew salah mengartikan, karena laki – laki plontos itu malah makin merapatkan tubuhnya pada Fania, memegang tengkuk si gadis pujaan tercintanya dan menciumnya lebih dalam. Meski merasa sesak namun Fania membalas ciuman Andrew, dan membuat laki – laki itu makin memburu.
Melepaskan sebentar ciumannya untuk mencari udara hanya sepersekian detik dan kembali mencium Fania. Bahkan menarik tubuh gadis itu semakin rapat padanya sambil mengalungkan dua tangan Fania dileher kokoh Andrew, sementara tangan kanan Andrew meraih tengkuk Fania dan tangan kirinya merengkuh pinggang ramping Fania.
Merasakan Fania yang membalas ciumannya, Andrew pun semakin menuntut karena entah bagaimana lidahnya sudah berada di dalam mulut Fania, mengabsen setiap incinya. Fix Fania mulai kehabisan nafas.
“N – Naal....” Ucap Fania yang akhirnya melepas bibirnya perlahan dari pagutan Andrew seraya menyentuh lembut
wajah Andrew.
Nafas Fania sudah tak beraturan apalagi Andrew. Sekuat mungkin menahan sesuatu yang mulai bergejolak dalam
dirinya karena Fania.
“Maaf....” Ucap Andrew dengan suara sedikit parau dan nafas yang terengah sambil tangannya membelai wajah Fania yang merona karena sesaat merasa Donald nya begitu bersemangat mencium bibirnya.
“Nafsu banget.” Ucap Fania sambil malu – malu menatap Andrew dan tersenyum meledek.
“It was called a French Kiss, Sweety.” Ucap Andrew lagi sambil tersenyum.
“Tau aku juga, suka liat di film – film.” Sahut Fania.
“Prakteknya?.” Tanya Andrew dengan tatapan yang menggoda sekaligus meledek Fania.
“Ish, pake nanya. Udah dibilang aku ga pernah pacaran. Ngerasain ciuman juga sama kamu waktu itu yang tau – tau nyosor.” Cebik Fania dan membuat Andrew tergelak.
“Demi Moore KW, dasar. Polos sekali pacar aku ini, hem?.” Lagi, Andrew menggoda Fania. “Eh, my Future wife
deh.”
“Dah, ah gombal banget sih.” Fania kembali mencebik lalu Andrew memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Kamu harum.” Ucap Andrew di ceruk leher Fania yang terhalang hoodie sweaternya. Namun nafas Andrew terasa
menyentuh kulit lehernya membuat bulu bulu halus ditubuh Fania meremang.
“Harum dari mana sih. Gombal lagi. Mandi aja aku belom.” Sahut Fania. ‘Udah kek Nal. Jantung gue ni udah kayak berpacu dalam melodi.’ Batin Fania.
“Berarti memang tubuh kamu harum meski belum mandi.” Ucap Andrew lagi. “Ya udah kita istirahat dulu, nanti turun
pas mau makan malam.”
“Ya udah deh. Badan aku juga kayaknya mulai berasa pegal nih, pengen rebahan.” Sahut Fania.
“Rebahan?.” Tanya Andrew yang kurang paham.
“Tiduran maksudnya.” Jawab Fania.
“Hemm. Ya udah, yuk bobo.” Ucap Andrew dengan senyum Smirk nya.
**
“Jangan marah ya, hem?.” Ucap Andrew sambil memegang dagu Fania dan gadis itu pun mengangguk. “Ya udah yuk, kita istirahat.” Andrew pun akhirnya menggiring Fania dalam dekapan, berlalu dari semua orang tanpa berkata – kata lagi untuk pergi ke kamarnya bersama Fania.
Termasuk juga meninggalkan Cindy begitu saja, tanpa perduli wanita itu sudah berderai air mata dan merasakan
sakit yang teramat dalam dihatinya.
“Andrew ....”. Ucapnya lirih saat Andrew berlalu dari hadapannya. Tangisnya makin terdengar pilu hingga kakinya
terlihat tak lagi mampu menopang tubuh ramping Cindy, hingga wanita itu bersimpuh tanpa perduli bahwa ada orang lain disekitarnya. “How could you this to me?.” Isaknya sambil memegang dada sebelah kiri.
Keluarga Smith menatap Cindy dengan iba melihat keadaan wanita itu saat ini.
“Cindy.” Ucap Nyonya Erna yang menghampiri Cindy lalu membantunya untuk bangun.
“How could he do this to me, Mom?. (Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, Mom.).” Ucap Cindy masih sambil
menangis yang juga sudah terbiasa memanggil Nyonya Erna dengan sebutan Mom, seperti anggota keluarga lainnya.
“Don’t be like this Cindy.” Ucap Nyonya Erna lagi sambil membimbing Cindy untuk duduk disofa tempatnya tadi.
__ADS_1
“Andrew, Just because of that girl.... (Hanya karena gadis itu ....).” Ucapnya lirih masih terisak dan menutup wajahnya dengan tangan. “Who is she?!.” Ia setengah berteriak.
“Cindy, calm yourself, Dear.” Tuan Anthony berbicara dari tempatnya.
“I’m asking! Who is she?!. ( Aku tanya! Siapa dia?! ).” Cindy kini berdiri menghadap keluarga Smith dan bertanya
dengan kesal.
“Behave, Cindy.” Ucap Nyonya Erna yang kembali mencoba menenangkan Cindy dan mengajaknya duduk kembali.
“Who is she, Mom?!.” Tanya Cindy pada Nyonya Erna masih dengan terisak tanpa perduli wajahnya yang sudah
terlihat kacau saat ini. “How dare she took Andrew from me!. ( Beraninya dia merebut Andrew dariku! ).”
“She didn’t take Andrew from you.” Babang Reno yang merasa Cindy menyalahkan si Little F kesayangan merasa tak terima dengan ucapan Cindy, hingga akhirnya ia bersuara. “She’s even already have her Own place in Andrew’s heart, right before you. ( Dia bahkan sudah memiliki tempat tersendiri di hati Andrew, jauh sebelum kamu.).” Ucap Reno datar, namun yah sinis.
Cindy menatap Reno dengan heran tak paham maksud dari laki – laki berwajah tegas itu. “What do you mean?.”
“You’ve heard what Andrew was said. That girl, Fania, is Everything for Andrew.” Kini Ara bersuara. “You can’t
blame her for what Andrew feel to her. Is it you who was left first if I’m not mistaken. ( Kamu tidak bisa menyalahkannya atas perasaan Andrew padanya. Bukannya kamu yang pergi duluan, kalau aku tidak salah). You put yourself way too high about your position in Andrew’s heart. ( Kamu terlalu menempatkan diri kamu terlalu tinggi atas posisimu di hati Andrew. ).”
Jleb. Kata – kata Ara yang meski terdengar lurus dan datar namun terasa menghujam dengan telak di hati Cindy. Dibalik wajah cantik Ara dan keanggunannya yang memukau, namun Ara sanggup menjatuhkan mental seseorang hanya dengan kata – katanya. Teramat sangat mirip dengan Reno, suaminya.
‘Ara Alexander.’ Batin Reno tersenyum mendengar kata – kata istrinya pada Cindy. Berkata dengan tenang
bahkan anggun, namun apa yang keluar dari mulut istrinya itu terasa tajam.
‘ Like husband, like wife.” Batin Tuan Anthony dan Nyonya Erna. Yang mendengar perkataan Ara barusan. Mirip
dengan Reno, suaminya yang kalo ngomong itu datar, tapi nyelekit kalo udah nyindir.
‘Kak Ara... manis mukanya bahkan mengalahkan gula. Tapi pedas mulutnya mengalahkan Tabasco.’ Batin Michelle.
‘Cakeeeppp.’ Batin Jeff yang disertakan dua jempol yang juga cuman nyantol di batinnya. Wkwkwkwk.
‘Macem – macem sama Fania. Urusan sama gue. Kepedean.’ Batin Julid Ara.
***
__ADS_1
To be continue ...