BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 103


__ADS_3

Selamat membaca...


“Ga usah maksain perasaan lo ke gue. Ga usah maksain buat cinta ke gue, kalo sebenarnya engga. Lo Cuma hutang janji, bukan cinta!.” Fania entah mengapa tidak bisa menahan kata – kata tersebut keluar dari mulutnya.


Padahal sisi hatinya yang lain mengatakan seharusnya ia bangga dan bahagia saat mendengar Andrew mengatakan pada Julian, Lisa, dua J serta Paula si wanita yang menjadi sumber cemburunya itu, kalau Fania adalah cinta dalam hati dan hidupnya Andrew. Bahkan di nobatkan Andrew sebagai Future Wife nya laki – laki plontos itu.


Andrew menoleh pada Fania yang kini pandangannya lurus ke depan, tetap tidak menoleh pada Andrew. Dia benar – benar tidak percaya apa yang didengarnya barusan.


Kesal, sangat! begitulah perasaan Andrew mendengar ucapan Fania karena tak terima kalau gadis itu ternyata masih meragukan ketulusannya. Saking kesalnya saat mobil John yang dikendarainya sudah sampai di depan gerbang rumahnya, laki – laki plontos itu membunyikan klakson dengan emosi.


“What take you so long?!.” Ucap Andrew dengan nada suara yang tinggi kepada si penjaga rumah yang membukakan gerbang. Tanpa perduli si penjaga mengerti atau tidak maksudnya. Padahal juga si penjaga rumah tidak sampai satu menit membuka gerbang otomatis itu. Tapi berhubung si Tuan Muda lagi kesal, semua jadi salah


dalam pandangannya.


“Maaf Tuan Muda.” Ucap si Penjaga rumah alias pak satpam berseragam safari itu.


Andrew tidak bicara lagi saat gerbang rumah sudah terbuka lebar. Ia memarkirkan mobil John dengan sembarangan dan emosinya juga terlihat saat dia menginjak rem untuk berhenti.


Fania sebenarnya agak kaget waktu Andrew membentak si Pak Security rumahnya, namun gadis itu tetap bersikap sok cool depan Andrew karna, gengsi mungkin?. Atau sisi egois seorang Fania sedang mendominasi?. Hingga membuatnya berpikir kalau Andrew itu sebenarnya hanya merasa kasihan padanya, atas cinta dan pengharapan


Fania pada si Donald itu.


“Jadi mau lo apa sekarang?!.” Andrew yang merasa kesal itu kini kembali berbicara dengan bahasa gue – elo lagi ke Fania, karena merasa emosi atas ucapan Fania yang menggambarkan ketidak percayaan si Little F atas perasaannya.


Fania yang merasa Andrew sedang membentaknya, spontan menoleh pada si Donald itu yang sedang melihatnya dengan wajah kesal.


“Kenapa? Marah merasa gue bentak?!.” Ucap Andrew yang suaranya memang sudah meninggi saat bicara pada Fania. “ Ga suka?!. Terserah Lo!.”


Andrew bahkan tidak memberikan kesempatan pada Fania untuk bicara, karena si Donald langsung keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras saat menutupnya kembali.

__ADS_1


“Shit!.” Umpat Andrew tapi dia tetap melangkahkan kakinya menjauh dari mobil, meninggalkan Fania yang masih duduk didalamnya.


Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun untuk melihat Fania, laki – laki plontos yang sedang emosi itu terus berjalan masuk menuju rumah bahkan mengabaikan Bi Cici yang menyambut dan menyapanya di pintu.


“Selamat malam Tuan Muda.” Sapa bi Cici tapi tidak dijawab Andrew. Wanita itu pun celingak celinguk melihat ke arah luar pintu seperti mencari seseorang. Tapi karena dirasa Andrew datang sendiri, ia langsung menutup pintu utama rumah Andrew kembali.


Andrew berjalan menuju dapur rumahnya untuk mengambil minuman dingin untuk sekedar menetralkan emosinya pada Fania. Bi Cici yang melihat Andrew melangkah menuju dapur, langsung menanyakan sang Tuan Muda jika ia menginginkan sesuatu.


“Tuan Muda mau apa?. Biar saya ambilkan.” Ucap Bi Cici.


“Bibi Istirahat aja.” Ucap Andrew singkat dan datar.


Melihat wajah sang Tuan Muda sedang tidak bersahabat, bi Cici memilih untuk menuruti apa yang Andrew bilang.


“Baik Tuan Muda, kalau begitu bibi permisi dulu.” Ucap Bi Cici seraya pamit untuk kembali ke kamarnya saat Andrew sedang membuka kulkas.


‘Berantem lagi sama Nona Fania apa ya?.’ Batin bi Cici.


Andrew memilih sekaleng bir dari dalam kulkasnya. Benar memang yang dibilang Jeff kalau Andrew sudah biasa mengkonsumsi Bir kaleng yang mungkin tidak terlalu memiliki kadar alkohol tinggi. Namun Andrew juga bukan seorang pemabuk yang hobi minum minuman keras. Hanya sekedar saja dan malam ini sekaleng Bir setidaknya jadi pilihan untuk membasahi kerongkongannya mungkin juga hatinya, karena rasa emosi pada Fania.


Menutup kulkas serta membuka kaleng bir dengan kasar seraya menenggak minuman tersebut dengan cepat, Andrew meletakkan kaleng Bir di meja mini barnya dengan hentakan.


“Damned!.” Lagi – lagi ia mengumpat untuk meluapkan kekesalannya. “Bisa – bisanya ngomong begitu dia.” Ucap Andrew yang kini duduk di kursi mini bar. “Terserah lo lah Fan.” Ucapnya lagi pada diri sendiri sambil menenggak kembali bir kalengnya sambil mengeluarkan ponsel dan rokoknya dari saku celana.


Andrew belum sadar atas ketidak hadiran Fania yang belum masuk ke dalam rumah. Ia pun mengambil sebatang rokok dan menyalakan hingga menyesap nya. Bir kaleng yang dia ambil tadi sudah hampir habis dan Andrew berniat untuk mengambil satu lagi di kulkas, tapi tangannya tak sengaja menyentuh layar ponselnya hingga ponselnya itu menyala dan memperlihatkan wajah Fania yang sedang tidur dilayar kunci ponsel.


‘Fania.’ Andrew melihat ke arah pintu utama rumahnya. Mengingat ingat apa tadi Fania ada di belakangnya saat ia masuk rumah. Namun seingat Andrew ia tidak mendengar bi Cici menyapa Fania. “Ah Shit.” Umpatnya lagi. “Jangan bilang kamu masih diluar, sayang.” Gumam Andrew pada diri sendiri lalu beranjak dari tempatnya dan


melangkahkan kaki lebar – lebar menuju halaman rumahnya.

__ADS_1


Dada si Donald rasa mencelos saat ia melihat pintu mobil penumpang dimana tadi Fania duduk, sekarang sudah terbuka lebar tapi Fania tidak ada.


****


Hati Fania rasa perih saat tadi Andrew membentaknya. Dan kini ia melihat sosok itu berjalan menuju ke dalam rumah tanpa membukakan pintu mobil untuknya, bahkan menoleh pun tidak. Hanya berjalan lurus hingga masuk rumah tanpa memperdulikan Fania.


Fania menghela nafasnya. ‘Salahkah gue ini Tuhan?.’ Batin Fania dan gadis itu pun mengusap wajahnya saat sudah tidak melihat Andrew lagi sambil menyadarkan kepalanya di senderan kursi mobil.


“Tapi kenapa mesti bentak gue sih?.” Gumam Fania. “Trus gue harus gimana ini?. Pulang?.” Gumamnya lagi.


Fania memijat keningnya yang dirasa sedikit pening itu, lalu menyadari sudah beberapa menit Andrew masuk ke dalam rumah dan tidak kembali untuknya. Gadis itu melihat jam di ponselnya.


“Ya sudahlah.” Ucapnya pada diri sendiri dan membuka pintu mobil untuk bangkit dari duduknya karena sudah merasa pegal dan hopeless kayaknya kalau Andrew akan kembali untuk sekedar melihatnya.


Mengambil sling bagnya lalu menyelempangkan di bahu, Fania kemudian melihat ponselnya lagi sambil berjalan disisi mobil, menjauhi pintu mobil yang lupa ia tutup. Dan memasang headset di telinganya.


🎶 sulit ‘tuk ku mengerti jalan pikiranmu.. setengah hatiku


terluka, senangkah hatimu..? 🎶


**


“For God Sake, Fania ... .” Gumam Andrew saat melihat kursi penumpang depan sudah kosong. “Sampai begini sih ....”


Emosi yang tadi sempat ada di hatinya sudah berganti jadi kekhawatiran dan penyesalan yang membuat Andrew rasa tak menentu.


***


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2