
Selamat membaca ...
“Hon, kamu belum mengantuk?.” Tanya Ara pada Reno di balkon kamar yang ada di kamar pribadi dalam kediaman mereka.
Wanita itu menghampiri suaminya yang terlihat duduk sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Reno menoleh pada bidadari surga pribadinya itu. “Belum , Babe.” Jawab Reno pada Ara.
“Pasti mikirin Fania dan Andrew, iya kan?.” Ucap Ara menerka apa yang ada di pikiran suaminya saat itu.
“Mereka satupun belum ada yang kasih kabar.” Ucap Reno.
“Aku yakin mereka ga akan apa – apa Hon, inget kan tadi Andrew bilang apa?. Dia akan jaga Fania dengan nyawanya.” Ucap Ara lagi mencoba menenangkan kerisauan suaminya tentang Andrew dan Fania.
“I know.” Sahut Reno.
“Jadi, apa yang kamu khawatirkan Hon?.” Ucap Ara sambil membelai sayang kepala suaminya. “Mereka itu sebenernya saling cinta.”
Reno menoleh pada Ara lalu memberi kode untuk duduk dipangkuannya. “Tau darimana, hem?.”
“Tau lah Hon, aku bisa merasakan kok. Mereka itu punya ikatan dalam hati masing – masing. Hanya saja keduanya masih menutup diri.” Jelas Ara.
Reno terdiam sejenak. “Jadi ikatan sayang aku ke Little F kurang kuat nih?.” Goda Reno pada istrinya.
“Ikatan kamu dan Little F kan Cuma satu. Rasa sayang antar sahabat. Ikatan antara adik dan kakak. Tapi kalau Fania dan Andrew, mereka ada ikatan hati diluar persahabatan. Iya kan?. Aku yakin kamu pasti udah duluan tau.” Ucap Ara pada suaminya.
“Pinter banget istrinya Reno Alexander.” Ucap Reno gemas sambil mencubit ujung hidung istrinya yang mancung itu.
“Iyalah.” Sahut Ara. “Udah sih, kasih mereka waktu berdua. Siapa tau malam ini pada jujur sama hatinya masing –
masing. Apalagi adik kesayangan kamu tuh, jago banget nutupin perasaannya sama Andrew padahal dia ada rasa yang mendalam sama si Donald. Sama deh itu Andrew juga ke Fania.”
“Sebelum lose contact , aku tau kalau Andrew itu cinta monkey nya Fania. Sampai sekarang ternyata belum move on. Tapi kalau Andrew mungkin dia pun ada rasa yang lebih dari teman atau kakak sama Fania. Hanya saja... .” Reno tidak melanjutkan kalimatnya.
“Ah udahlah, Hon. Jangan halangi kalau mereka memang akhirnya memutuskan untuk jalan berdua ke depannya. Biar waktu yang jawab semua.” Ucap Ara.
“Aku Cuma khawatir, Babe. Just it.” Ucap Reno.
“Iya aku paham. Kamu mengkhawatirkan Fania karena ragu sama perasaan Andrew ke Fania, kan?.” Ucap Ara.
Reno mengangguk. “Begitulah.” Ucapnya.
__ADS_1
“Udah ah, kamu jangan segitu mengkhawatirkan perasaan Andrew ke Fania. Aku yakin kalau Andrew Adjieran Smith itu udah jatuh cinta sama adik kesayangan kamu itu. Dari matanya juga udah kebaca.” Ucap Ara.
“Even so, but... .” Reno tidak berhasil melanjutkan kata – katanya.
“But I’m sleepy now, duhai kakak gantengnya Fania yang over protective.” Sahut Ara. “Bobo yuk.”
“Okay. Kita bobo kalo gitu. Tapi aku minum susu dulu ya.” Reno memberikan senyum konyol pada Ara sambil memainkan alisnya, menggoda sang istri yang kemudian tertawa melihat mimik muka suaminya itu.
“Kabuuur ... .” Ara langsung berdiri dari pangkuan suaminya sambil menutup dadanya, lalu berlari kecil sambil tertawa masuk ke dalam kamar.
Reno yang terkekeh dengan kelakuan istrinya pun langsung mengejar si bidadari surga pribadinya ke dalam kamar.
Lalu yang terjadi.. ya terjadilah.
**
“Tapi orang yang gue suka, ada.” Ucap Andrew.
Deg. Hati Fania kembali berwarna abu – abu.
“Hh.” Samar samar terdengar Andrew menghela nafas. “ Dan gue rasa gue udah jatuh cinta sama dia.”
‘ Pupus sudah ‘. Batin Fania merasakan nyeri dihatinya meski ga punya sakit jantung.
Fania tersenyum tipis dan menoleh sebentar pada Andrew yang masih berdiri sedikit jauh darinya.
“Ya lo kasih taulah perasaan lo ke dia. Kalo lo ga kasih tau atau tanya ke orangnya kan lo ga akan tau perasaan cewe itu gimana ke elo. Jangan mencintai dalam diam.” Ucap Fania lalu kembali menatap malam dan tertegun sejenak. ‘Kayak gue.’ Batin Fania. “Tanyalah sama dia Nald, gimana perasaannya ke elo.”
“Ini baru mau gue tanya.”
Sepasang tangan kekar berada di sebelah kanan dan kiri tangan Fania yang sedang memegang tiang penyangga silver balkon kamar Andrew. Membuat Fania menoleh ke sebelah kanannya, karna suara dari ucapan tadi terdengar dengan sangat jelas ditelinga kanannya bersamaan dengan hembusan nafas si pemilik suara.
Wajah yang sedang menatapnya dari sisi kanan itu tersenyum dengan hangatnya pada Fania. Membuat hati Fania rasa tak menentu.
Berharap Donald tak mendengar hatinya yang berdegup sangat kencang saat dalam posisi tersebut.
Karna jarak wajahnya dan Donald sangat dekat, lebih dekat dari saat laki – laki itu bicara sambil menggenggam
tangannya sewaktu mereka bicara di sofa dalam kamar Andrew.
“Perasaan lo ke gue seperti apa?.” Tanya Andrew dengan lembut pada Fania yang sedang ia tatap dengan dalam. Belum ada jawaban karna gadis itu sedang menatapnya. Andrew terus memandangi wajah Fania, sambil
menatap dalam manik mata coklat Little F nya, coba mencari jawaban atas pertanyaannya karna Fania hanya diam namun terus menatapnya.
__ADS_1
Fania terkejut karna Andrew tiba – tiba sudah berdiri dibelakangnya. Meletakkan dua tangan kekar yang bisa dijadikan sandaran itu disamping kanan dan kiri tangannya. Bahkan lebih terkejut lagi hingga tak sanggup berkata – kata karena mendengar pertanyaan Andrew barusan.
‘Nyatakah ini Tuhan?.’ Batin Fania bertanya pada hatinya sendiri sambil menatap dalam manik mata Andrew, mencari tau apa Donald nya itu sungguh – sungguh atau hanya sekedar menggodanya.
“Gue mau tau bagaimana perasaan lo ke gue. Karna rasa sayang gue sudah berubah jadi cinta.” Andrew melepaskan pegangannya pada sanggahan balkon. “To you, Fania.” Andrew merengkuh tubuh Fania dalam dekapannya. Meletakkan kedua tangannya diantara leher dan dada Fania. Memeluk Little F nya dengan sangat erat dari belakang.
Lalu Andrew terdiam, menikmati Fania dalam pelukannya. Meletakkan dagunya diatas pucuk kepala Fania yang terdiam kaku setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Donald nya barusan. Bahagia, Spechless bahkan rasa tak percaya sedang melingkupi gadis itu.
Fania merasakan erat dan hangatnya pelukan Andrew.
“N – Na ..ld?.” ucap Fania pelan dan terbata karna rasa gugupnya.
“Hem?.” Sahut Andrew lembut dan singkat.
Fania kembali diam. Sumpah, Fania bingung harus gimana, harus ngomong apa.
Akhirnya Fania memberanikan diri menyentuh lengan Andrew yang sedang memeluknya erat. Meletakkan pelan dagunya di lengan itu.
“Your answer please.” Andrew meminta jawaban. “Perasaan lo ke gue? Apa sama dengan yang gue rasa, Little F?.
“Nald, gue....”
“Gue sayang lo Fania. Lebih dari sekedar teman, sahabat dan kakak.” Andrew melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Fania untuk menghadapnya. Namun Fania tertunduk.
Membuat Andrew berpikir kalau Fania mungkin tersinggung dengan pernyataan cintanya.
“Fan, kata lo tadi gue harus jujur tentang perasaan gue sama cewe yang bikin gue jatuh cinta. Lo suruh gue tanya
kan?.” Ucap Andrew lalu dia meraih dagu Fania. “I already asked. Sekarang gue minta jawaban.” Menempelkan dahinya pada dahi Fania.
“Do you Love Me, my Little F?... .”
**
To be continue .....
Berani jujurkah Fania atas perasaan dia yang sebenarnya pada Donald alias Andrew?.
Nantikan di episode selanjutnya ..
Noted:
__ADS_1
kemungkinan episode selanjutnya agak slow update satu hari soalnya Author mau ada urusan keluarga dulu.