BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 16


__ADS_3

♦ANAK BEBEK IS IN DA HOUSE!!♦


**


Selamat membaca...


♥♥


“Because, Anak Bebek is coming soon (Karena Anak Bebek sebentar lagi nongol).” Celetuk Ara sambil berdiri menghadap Fania dan Andrew yang kompak mengernyitkan dahi mereka.


‘Anak bebek is coming soon?.’


Fania dan Andrew sama – sama membatin.


“Don’t you guys get it? ( Apa kalian berdua tidak paham? ).” Dad berdiri dengan wajah sumringahnya menghampiri Fania dan Andrew. Keduanya pun kompak menggeleng. Masih belum mudeng. Lalu Dad terkekeh melihat wajah bingung Andrew dan Fania. “It happens again ( Hal itu terjadi lagi ).” Sambungnya.


“What happens again? ( Apa yang terjadi lagi? ).” Suami istri yang masih bingung ini bertanya dengan kompak lagi.


Keluarganya terkekeh geli melihat keduanya.


Fania coba menelaah.


“Duren. Andrew tiba – tiba kepengen duren .... Anak bebek.... Oh Ya Allah!.” Mata Fania membola, ia menutup mulut dengan tangannya.


“What is it, Heart? ( Kenapa, Sayang? ).” Andrew meraih bahu Fania, sedikit khawatir dengan raut wajah sang istri yang matanya juga sudah berkaca – kaca.


“D.... aku, aku, aku ....” Fania terbata.


“Aku, aku...” Mom berdiri mendekati Andrew dan Fania seraya meledek dan tersenyum. “Aku akan jadi induk bebek....”


“What? ( Apa? ).” Andrew mengernyit pada Mom.


“Yang terjadi sama kamu, Donald Bebek, pernah terjadi pada R sekitar empat tahun lalu.” Ucapan Mom kali ini menyadarkan Andrew.


“Maksud Mom, Fania...” Andrew menatap bahagia pada Fania yang juga merona bahagia.


“Kalian akan menjadi orang tua.” Ucap Mom sambil tersenyum.


Fania dan Andrew saling tatap penuh arti, tak lama Andrew membawa Fania dalam dekapannya. “Doa kita terjawab, Heart.” Andrew mengecupi pucuk kepala Fania bertubi – tubi.


“Tapi aku belum terlalu yakin, D ....” Wajah Fania berubah ragu. “Aku takut terlalu berharap.... takutnya kamu yang tiba – tiba mau duren itu hanya kebetulan aja.”


Andrew kembali meraih bahu Fania dan menatap mata istrinya lekat – lekat.


“Aku akan hubungi Judith ya?.”


“Kelamaan.” Celetuk Reno yang kemudian berdiri menghampiri Fania dan Andrew yang sedari tadi masih terpaku ditempat mereka. “Nih.” Menyodorkan kotak yang berisi alat uji kehamilan pada Andrew.


Fania menatap Reno haru.


“Lo sampe udah nyiapin ini, Kak?.”


“Karena gue langsung merasa yakin, saat induk bebek jantan ini telfon gue minta dibawakan durian dari Jakarta.” Ucap Reno. “Sana test, biar ga penasaran.”


Reno membelai kepala Fania seperti biasa. Bahagia juga menghampirinya dan Ara jika prediksi mereka semua benar adanya soal Fania yang kini sedang berbadan dua.


“Iya Kak.”


“Yuk, Heart.” Ucap Andrew menggandeng Fania dan mengambil alat uji kehamilan yang disodorkan Reno.


“Pakai kamar mandi di kamar aku dan Reno aja, Sweety.” Ucap Ara.


Andrew dan Fania pun mengangguk.


*****


Air mata Fania turun bersamaan dengan senyuman bahagia di wajahnya. Sekali lagi ia menutup mulutnya, saat Andrew menunjukkan garis dua di alat uji kehamilan setelah menunggu sebentar.


“Finally, Heart ( Akhirnya Sayang ). Kita punya kesempatan untuk menjadi orang tua.”


Andrew memeluk erat Fania dengan matanya yang juga sudah basah.


Fania sampai terisak saking bahagia. Ketakutannya karena takut tak bisa memberikan keturunan pada Andrew musnah sudah.

__ADS_1


“Aku benar – benar ga percaya, D. Akhirnya aku dipercaya lagi untuk punya anak.” Ucapnya yang langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Andrew.


“Don’t cry, hem? ( Jangan menangis, hem? ).”


“Aku terlalu bahagia.”


“Aku lebih berbahagia diatas kebahagiaan kamu, Heart. I love you.”


“I love you more, Donald Bebek.”


****


“So? ( Jadi? ).”


Reno langsung menghampiri bersama keluarga yang lain saat Fania dan Andrew keluar dari kamarnya. Menunggu dengan harap – harap cemas hasil tes kehamilan Fania.


Berdoa dalam hatinya seperti juga anggota keluarga yang lain, agar penantian Fania dan Andrew untuk seorang buah hati berakhir sudah. Karena penantian sepasang suami istri yang ia sayangi itu sudah lebih lama daripada penantiannya dan Ara.


Berharap dengan sangat prediksinya dan seluruh keluarga tepat, Fania sedang mengandung. Meski Fania punya riwayat gangguan medis di rahimnya. Ada sedikit khawatir karena melihat wajah Fania yang seperti habis menangis dan ada sisa air mata juga diujung pelupuknya.


“ANAK BEBEK IS IN DA HOUSE!! ( Anak Bebek Akan Datang!! ).”


Andrew bersorak dengan semangat sambil mengangkat tinggi – tinggi testpack yang ia pegang.


“Alhamdulillah.” Keluarga Smith yang ada saat ini pun ikut bersorai penuh syukur.


Satu persatu memberikan ucapan selamat yang disertai pelukan pada Fania dan Andrew. Haru, karena pada akhirnya pernikahan Fania dan Andrew pun lengkap sudah.


***


“Congratulation. Andrew, Fania. You both finally have an opportunity to become parents ( Selamat, Andrew, Fania. Kalian berdua pada akhirnya memiliki kesempatan untuk menjadi orang tua ).”


Andrew membawa Fania menemui Judith, untuk menjalani pemeriksaan kehamilan yang lebih detail.


“Bora – Bora is the right place to make a baby ( Bora – Bora ternyata tempat yang tepat untuk membuat bayi ).”


Celetuk Andrew sambil terkekeh, sementara Fania hanya tersenyum lebar.


“It was a week ago right? ( Itu seminggu yang lalu, kan? ). You both second Honey Moon? ( Bulan madu kedua kalian? ).” Tanya Judith pada sepasang calon orang tua itu.


Celetuk Andrew.


“No ..... I don’t think so ( Sepertinya bukan ). Still Made in London, because your baby it’s been four weeks already ( Masih Buatan London, karena usia bayi kalian sudah mencapai empat minggu ).”


Fania dan Andrew kompak membulatkan mata mereka.


“What?!.”


“Yap!. You are guys so lucky, that baby is in good condition. But, I suggest for not doing a long trip for while ( Yap!. Kalian sangat beruntung, bayi kalian dalam kondisi yang baik. Tapi, aku sarankan untuk tidak melakukan perjalanan jauh untuk sementara waktu ).”


“Ya, I understand Judith ( Ya, aku mengerti Judith ). Due to my condition, right? ( Berhubungan dengan kondisiku, kan? ).” Ucap Fania lalu Andrew menggenggam tangannya.


“I always be around, don’t you worry, okay? ( Aku akan selalu ada, kamu jangan khawatir, oke? ).” Fania mengangguk dengan tersenyum mendengar ucapan Andrew.


“I give you some vitamins for your womb and also list of the food that you need to consume ( Aku berikan beberapa vitamin untuk membantu menguatkan kandungan dan daftar makanan yang perlu kamu konsumsi ).” Ucap Judith dan Fania mengangguk pahan juga Andrew.


“Can I ask you, one more question? ( Apa aku bisa bertanya tentang satu hal lagi? ).” Ucap Andrew pada Judith.


“Ya sure! ( Ya tentu! ).”


“Can I visit my baby quite often? ( Aku bisa ga menengok bayiku sering – sering? ). You know right, Judith? Kind of husband thing ( Kamu ngerti kan Judith? Hal yang menyangkut kebutuhan suami ).”


‘Ga jauh – jauh pikirannya dari yang itu dia sih.’ Batin Fania yang geli sendiri mendengar Andrew bertanya pada Judith tanpa merasa risih sama sekali.


***


“You smell it first before you eat ( Cium dulu itu baunya sebelum lo makan ). Jangan sampai lo muntah!.” Ucap Reno pada Andrew yang sudah menjejerkan duren di ruang makan.


“Ga usah gue cium – cium ini durian baunya memang sudah menyengat, R.” Sahut Andrew.


“Terserah! Gue sudah mengingatkan.” Ucap Reno lagi.


Dan pada akhirnya mereka semua terpana, tak percaya melihat Andrew yang memakan duren dengan lahapnya.

__ADS_1


“Pelan – pelan Andrew.” Celetuk Mom dan Andrew manggut – manggut.


“Ternyata enak juga ini buah.”


“Jangan terlalu banyak D, nanti sakit perut kamu.”


“It’s okay Heart. You want some? It’s very sweet ( Kamu mau? Ini manis banget ).” Andrew menyodorkan satu durian pada Fania.


“Engga ah, Ga boleh kan?.”


“Sedikit ga apa – apa.” Ucap Reno.


“Bener boleh?.” Tanya Fania yang sebenarnya memang ngiler.


“Boleh. Gue udah baca lah. Ga sembarangan jawab. Ada asam folat yang bisa mencegah bayi lahir kurang  sempurna.”


“Sejak kapan lo belajar ilmu kedokteran?.” Ledek Andrew yang menyuapi durian pada Fania.


“Sejak gue akan menjadi ayah sebelum Varen lahir. Dan lo harus banyak belajar dari gue, Andrew Adjieran Smith!.” Ucap Reno pongah.


“Ya, ya.” Jawab Andrew pongah.


“Lucu ya.” Celetuk Ara.


“Apanya yang lucu?.”


“Ada bebek doyan duren.”


Mereka semua terkekeh. Fania mengelus perutnya yang masih rata sambil juga tersenyum memandangi Andrew yang nampak belum ingin selesai melahap durian dihadapannya.


“Bebek jaman now, makannya duren.” Celetuk Fania.


Andrew terkekeh. “Yang penting aku bahagia... Anak Bebek is in da House. Udah ingin buru – buru lihat dia lahir, ya Heart?.“


“Iya.”


“Habis itu kita buat lagi.”


“Ga jauh – jauh.”


“Ya bebek kan anaknya banyak. Ga ada bebek yang pakai alat kontrasepsi kan?.”


“Tau amatan!.”


**


Fania berdiri di balkon kamarnya dan Andrew. Menatap langit London yang sebentar lagi akan gelap. Mengelus pelan perutnya yang masih rata itu, sambil tersenyum dalam lamunannya hingga sebuah tangan kekar melingkar lembut diperutnya, menangkup tangannya yang sedang berada disana. Fania spontan bersandar pada dada bidang dibelakang punggungnya.


“What are you thinking, hem? ( Sedang memikirkan apa, hem? ).”


Andrew berkata lembut di telinga Fania lalu mengecup pipinya. Fania membalikkan badan dan melingkarkan tangannya di leher Andrew.


“Kita dan bayi kita.” Ucap Fania sambil menatap Andrew lekat - lekat.


Andrew tersenyum. Cup!. Mendaratkan satu ciuman di bibir Fania.


“Habis sikat gigi?.” Tanya Fania dan Andrew mengangguk. “Pakai pasta gigi varian baru?.”


“Engga, masih menggunakan pasta gigi yang biasa aku pakai.” Ucap Andrew. “Apa kamu mulai ga suka dengan aromanya?. R bilang biasanya ibu hamil sensitif dengan berbagai macam aroma.”


“Justru aku suka. Wangi Duren Mint.”


“Besok kita buka Perusahaan Pasta Gigi Duren Mint kalau begitu.”


Fania dan Andrew sama – sama terkekeh. Bahagia, karena pernikahan mereka sebentar lagi akan terasa sempurna. Terlebih untuk Fania.


“Donald Bebek junior ga minta dikunjungi ayahnya?.”


“Kan Judith bilang sementara ini kalau bisa jangan dulu.”


“Kasihan bayi kita Heart, nanti kalau ga sering aku kunjungi dia pikir nanti aku ga sayang. Padahal kan aku sayang banget. Makanya aku usahakan sering - sering berkunjung.” Andrew menyeringai jahil.


‘Halah!. Sa ae Bola Boling.’

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2