
Selamat membaca ....
- - -
London
“Pasti Fania Ya Hon?. Pasti bahas masalah uang yang kamu kirimin kan?. Hihi ga kebayang mukanya Fania sekarang.“ Ucap Ara saat melihat Reno mengakhiri panggilan.
“Hmmmm, siapa lagi. “Sahut Reno pada Bidadari surga pribadinya itu. “Good morning My Love. ( Selamat pagi sayangku ).“. Ucap Reno sambil mengecup kening Ara.
“Good Morning to you too my beloved hubby. ( Selamat pagi juga suamiku sayang ).“ Ara pun mengecup kening Reno.
“Sholat Shubuh dulu yuk.“ Ajak Reno pada Ara dan dijawab dengan angguk kan oleh istrinya itu .
Mereka berdua pun melakukan Sholat Shubuh berjamaah seperti yang biasa mereka lakukan. Meskipun mereka sudah beberapa tahun terakhir tinggal di London, Reno dan Ara semampu mungkin menjalankan kewajiban mereka sebagai muslim.
**Indonesia
Keluarga cemara begitu bersemangat saat Fania bilang “Belanja Kitah. “ Saat mereka sedang berada di salah satu tenant yang menjual produk kesehatan dan kecantikan.
Tujuan mereka setelah keluar dari tenant tersebut setelah memberi beberapa vitamin dan madu, adalah sebuah departemen store yang kalo bahasa Indonesia nya itu berarti bintang. Departemen Store yang menguasai 3 lantai di Mal tersebut dipilih oleh mamanya Fania untuk dimasuki karena kayaknya kalo mau cari baju – baju buat seluruh anggota keluarga cemara itu dirasa ada.
Yah namanya juga Departemen Store dari Pakaian, sepatu, tas bahkan mainan juga ada walau terbatas jumlah dan jenisnya.
‘Yang penting mereka bahagia.‘ Begitu Batin Fania yang membebaskan Papa , mama dan adiknya untuk memilih dan mengambil apapun yang mereka mau.
"Biar Emba yang bayar.“ Begitu kata Fania.
Akhirnya keluarga cemara itu pun berpencar. Si Papa terlihat menuju ke area sepatu laki-laki. Si mama dan Prita entah kemana. Entar pas mau bayar juga pasti pada kumpul tanpa dicari, begitu yang ada dalam hati Fania.
Fania juga akhirnya ikut melihat – lihat segala barang dari berbagai macam Brand yang tersedia di departemen store tersebut.
Fania berjalan menuju ke area pakaian dalam wanita. Fania lupa kalo di rumah Reno sudah banyak pakaian dalam untuknya yang Brandnya ga ada di departemen store tersebut. Yah namanya lupa kan ga inget.
Setelah menentukan pilihan pada sepasang pakaian dalam wanita, Fania memberikan barang tersebut pada SPG yang ada di dekatnya. Fania sudah membawa sebuah nota dari pakaian dalam yang tadi dia pilih di tangannya.
Fania melihat si Papah yang lagi memandang sebuah sepatu kemudian menghampirinya.
“Bagus tuh Pah sepatunya.“ Ucap Fania membuat papanya menoleh.
“Iye bagus emang, harganya bagus juga.“ Sahut si Papa membuat Fania tersenyum.
“Ambil aja sih kalo suka.“ Ucap Fania santai.
“Sayang duitnya.“ Ucap Papa Fania.
“Ya elah pake duit Fania ini.“
“Ya tetep aja sayang.“ Ucap papa Fania yang masih memegang sepatu pilihannya.
“Ish, ini suka kan?. “Tanya Fania pada papanya setelah mengambil sepatu yang papanya pegang barusan.
“Iya suka tapi mahal. Jadi ga usah lah Kak.“ Ucap papa Fania yang dirasa sayang kalau beli sepatu yang harganya hampir satu juta rupiah. Karena papa Fania tau berapa gaji anaknya di kantor. Kalaupun punya uang lebih hasil nyanyi juga paling paling nominalnya ga jauh dari jumlah gajinya.
__ADS_1
“Mba, size 42 ya.“ Ucap Fania pada SPG sepatu tanpa menghiraukan papanya yang kekeh ga mau beli itu sepatu padahal kayaknya mah naksir banget.
“Kak tau ga itu harganya hampir sejuta.“ Papa coba mengingatkan Fania takut anaknya itu ga sempet liat harga itu sepatu.
'Belom sepuluh juta.' Batin Fania sombong. “Iya tau.“ Jawab Fania santai sambil melihat lihat sekitaran area sepatu tadi sambil nunggu spg membawakan sepatu dengan size yang diminta Fania.
“Eh kakak, gaji kamu aja cuma lima juta. Itu juga kayaknya ga nyampe.“ Papa Fania menghadapkan anaknya pada dirinya. Sementara si anak yang megang duit tujuh puluh juta ga bilang - bilang itu Cuma melihat papanya dengan santai.
“Pah , Woles aja Woles, napa. Kalo Fania minta papa untuk ambil itu sepatu, berarti Fania punya uang lebih. Udah gitu aja.“ Ucap Fania pada papanya.
“Tapi kan Kak .... “ Belum sempat papa Fania meneruskan kalimatnya si spg sepatu sudah kembali ke hadapan mereka dengan membawa sepatu pilihan papanya sesuai dengan ukuran yang diminta.
“Ini ka , sepatunya size 42. Seperti yang diminta. “ Ucap si Spg sambil memberikan kotak sepatu pada Fania. Dan Fania memberikan itu pada papanya.
“Nih cobain Pah. Fania cari Mama sama Prita dulu.“ Ucap Fania sambil meninggalkan papanya yang lagi bimbang tapi seneng.
Akhirnya Fania menemukan Mamanya dan Prita di area kosmetik.
“Mah, udah belom ?. Papa udah kelar milih noh.“ Panggil Fania saat melihat Mama dan adiknya.
“Kak, ini yang biasa kamu pake ya bedaknya?.“ Mama Fania menunjuk salah satu bedak padat di salah satu konter kosmetik tempat dia berdiri.
“Hm, salah satunya. Kenapa mau juga yang kayak gitu?. “
“Masa bedak gini doang aja dua ratus rebu kak. Yang biasa mama pake aja lima puluh rebu ga sampe.“ Ucap mama Fania lagi.
Fania memutar bola matanya, ga habis pikir sama Mamanya yang enteng banget ngomongin produk orang depan spg nya. Untung itu spg cantik nya senyum.
“Mba, cariin warna yang cocok buat Mama saya yang blaem blaem ini mba.“ Ucap Fania pada si emba spg yang cantik.
“Dandanin mba sekalian kalo perlu.“ Celetuk si Prita.
“Iya , Ya Allah Mah, itu emba nya udah milihin warna yang cocok ama muka Mama. “ Jawab Fania geregetan sama Mamanya. Dan Mamanya Fania nyengir tanpa dosa.
“Ini aja Kak?.“ Tanya si emba SPG
“Oh sama ini lipstik deh mba.“ Fania mengambil salah satu lipstick dan memberikannya pada spg tersebut. “Mama mau juga lipstick kayak gini?. “
“Mau kalo dibeliin sih.“ Jawab si Mamah tanpa malu - malu.
“Ya udah pilih deh warnanya itu. “
Akhirnya Fania dan Mamanya malah keasyikan milih ini itu di counter kosmetik tersebut. Sementara Prita hanya melihat – lihat saja karena dia belum berani menggunakan make – up.
Setelah dirasa cukup, kemudian si SPG memberikan nota pada Fania.
“Silahkan untuk membayar di kasir , nanti ambil barangnya disini ya Kak“ Ucap si Spg sambil tersenyum seraya memberikan nota pembelian pada Fania.
“Ma kasih mba.“ Ucap Fania dan Mamanya.
“Lah dek , lu belom milih apa – apaan dari tadi?. “ Tanya Fania pada Prita yang sepertinya memang belum dapet sesuatu.
“Ntar aja deh Kak, dilantai atas ada yang Prita taksir sepatu kets.“ Jawab Prita .
“Mm, ya udah . Bayar yang disini dulu kalo gitu.“ Ucap Fania sambil berjalan ke Kasir namun di stop mamanya sebentar.
__ADS_1
“Kak, coba Mama Liat notanya.“ Ucap Mama Fania sambil mengambil nota pembelian kosmetik tadi dari tangan anak sulungnya. “Kakak ini kosmetik doang ampe sejuta lebih gini .Yang bener aja? Boros banget ini sih.“ Mamanya terkejut melihat nominal yang tertera di nota.
Papa Fania ternyata sudah mendekati mereka saat Fania dan Mamanya masih di counter kosmetik.
“Pah, mana notanya?. “. Tanya Fania saat melihat Papanya dan mengabaikan Mamanya yang barusan komen tentang kosmetik yang mereka beli. Lalu Papa Fania memberikan nota pembelian pada anak sulungnya itu.
Mama Fania yang Kepo merebut nota si Papa dari tangan Fania. Tambah terkejut lagi si mama ngeliat itu nota.
“Pah, ga salah ini beli sepatu harga segini? Gaya - gayaan banget.“. Tanya Mama Fania pada suaminya.
“Disuruh Fania.“ Jawab Papanya enteng.
“Udah ah sini notanya.“ Ucap Fania pada Mamanya sambil mengambil nota yang tadi direbut sama si Mama dan kemudian mendekati kasir serta membayar sejumlah nilai yang tertera pada tiap nota dengan kartu debitnya.
‘Tiga juta aja belom nyampe.‘ Batin Fania sambil tersenyum tipis, yang hanya dia yang paham arti senyumannya itu.
****
Keterkejutan Papa dan Mama Fania serta Prita tidak hanya di Departemen Store tersebut. Karna setelah keluar dari situ, Fania menuruti Prita untuk membeli sepatu incaran nya yang hampir seharga sepatu si Papa. Terus si mama juga di bonusin lagi baju sama Fania.
Ga berhenti sampai disitu, Fania bahkan membelikan ponsel baru untuk ketiganya tanpa membeli untuk dirinya sendiri.
Papa dan Mama yang seharusnya merasa senang, tapi malah terlihat kurang nyaman pada Fania yang kayaknya duitnya ga abis – abis itu.
“Kak Papa , Mama ga perlu hp baru. Kamu dapet uang dari mana?.“ Tanya Papa Fania penuh selidik sementara Fania paham dengan apa yang dipikirkan oleh Papa dan Mamanya, tapi mencoba terlihat santai. Fania hanya ingin membahagiakan mereka.
“Pah. Mah , udahlah . Kita kesini kan mau seneng – seneng. Kan Fania bilang mau belanjain Papa, Mama, Prita. Nah ya udah terima aja ya. Hp Papa sama Mama juga hampir ga layak pakai . Kalo si kucrit atu ga dibeliin juga ntar dia ngiri. Lagian hp juga udah pada error itu.“ Ucap Fania dengan sedikit penjelasan.
“Iya tau, tapi ga gini juga Ka, ini udah berlebihan. Coba ini abis berapa semua yang kamu belanjain total ?. Belasan juta Ka !.“ Ucap Mama Fania yang terharu tapi juga ada khawatir dengan anaknya hari ini yang terlihat sangat royal lebih ke boros di mata Mama Fania dan Papanya.
"Udah ya Ma, Pa. Ini kita ditempat umum. Intinya Fania punya cukup uang buat beli semua ini, oke?!. Ini uang Fania, halal, bukan juga boleh ngutang. Mending sekarang kita nonton, oke ?. “
“Tapi kan Kak .... “ Papa Fania mencoba bicara lagi tapi Fania menginterupsi dengan wajah melas nya.
“Pah udah ya. Plis ... ?!. Kita nikmatin aja hari ini.“ Ucap Fania sambil memandang kedua orang tuanya bergantian.
Akhirnya Papa dan Mama Fania sama – sama mengangguk , mengiyakan ucapan Fania barusan.
“Ya udah sekarang kalo kita nonton aja gimana ?.“ Ajak Fania mencairkan suasana.
“Ya udah ayo.“ Sahut Mama Fania
"Cus ah.“. Ajak Fania sambil merangkul Prita.
Fania lagi –lagi benar – benar ingin menyenangkan keluarganya hari ini. Bahkan nonton pun, Fania memilihkan tempat di Premier untuk mereka berempat. Membuat Prita girang karna akhirnya dia bisa ngerasain nonton di area eksklusif. Sementara Papa dan Mama Fania juga berusaha positif thinking pada putri sulung mereka yang hari ini benar benar memanjakan keluarganya.
“Horang kayah.“ Ucap Prita saat duduk disamping Kakaknya.
“Horang Udik.“ Sahut Fania pada Prita dan membuat adiknya itu terkekeh.
“Ma kasih Ya Kakakku sayang.“ Ucap Prita tulus.
“Sama – sama adekku sayang yang palanya peyang.“ Balas Fania dengan ejekan, sambil cekikikan.
“Au amatan.“
__ADS_1
***
To be continue...