
ASEK DIKASIH EPISODE LAGI NIH HARI SAMA AUTHOR
♦FANIA VS KAK RENO&KAK ARA♦
Selamat membaca ...
“Excuse me Mister R, I made a soup for you. It can help to warm your stomach ( Permisi Tuan Reno, aku membuatkan sup untuk anda. Bisa membantu menghangatkan perut anda ).” Pengasuh Varen itu meletakkan mangkuk yang dibawanya dengan nampan, kemudian disajikan untuk Reno.
Fania memperhatikan wanita bernama Merryl, pengasuhnya Varen itu.
“Thank you, Merryl ( Terima kasih, Merryl ).” Ucap Reno pada pengasuh anaknya itu.
“My pleasure, Sir ( Dengan senang hati, Tuan ).” Ucap Merryl dengan sangat sopan dan senyum yang, terlalu manis?.
‘Rasa pengen gue cekokin sendok.’ Batin Fania melihat sikap Merryl pada Reno. “Sejak kapan baby sitter ngurusin makanan majikannya juga?.” Ucap Fania setengah ketus, sengaja berbicara dengan Bahasa Indonesia pada Reno.
“Udahlah Little F, lo ini jangan terlalu berprasangka. Kan gue sudah bilang, latar belakangnya sudah gue selidiki, ga ada yang salah.”
“Excuse me, Mrs. Fania. ( Permisi Nyonya Fania ), let me take Varen with me, so you can eat with Mister R ( Biar Varen saya yang pegang, jadi anda bisa makan dengan Tuan R ).” Ucap Merryl yang menyela percakapan Fania dan Reno, hendak mengambil Varen dari tangan Fania.
Fania menatapnya sinis.
“You don’t understand about politeness, Merryl, hah? ( Lo ga ngerti sopan santun, Merryl hah )?.”
“I’m sorry Ma’am, I just want to let you eat ( Saya minta maaf Nyonya, saya hanya ingin membiarkan anda makan ).”
“I’m talking with my brother and you suddenly interrupt ( Gue lagi ngomong sama kakak gue dan lo tiba – tiba menyela ).”
“Little F, get over it, okay? ( Little F, udahlah, ya? ).”
Fania tak menggubris ucapan Reno. Hanya melirik si kakak ganteng sebentar.
“Varen stay with, you! Better go back to your room ( Varen sama gue, Lo! Mendingan balik sana ke kamar lo! ).”
Fania berkata dengan ketus pada si pengasuh, yang wajahnya sekilas nampak memandang Fania dengan tak suka, namun segera tersenyum kemudian.
Reno geleng – geleng melihat Fania yang sedang dalam mode judes on nya. “Go back to you room Merryl, let Varen with her Aunt ( kembalilah ke kamarmu, Merryl. Biarkan Varen bersama tantenya).”
Pengasuh itu mengangguk. “Excuse me ( Permisi ).” Lalu segera beranjak pergi dari ruang makan.
“Lo ga perlu seperti itu, Little F.”
Ucap Reno sambil setengah menggeleng, lalu hendak memakan sup pemberian Merryl tadi.
“Ck!.”
Fania meraih mangkuk yang berisikan sup didepan Reno.
“What now, Little F? ( Apalagi sekarang, Little F? ).”
Fania tak menjawab Reno.
“Nina!.”
Fania beranjak dari duduknya, dengan membawa serta mangkuk sup yang diberikan Merryl pada Reno. Sementara Reno hanya memperhatikan kelakuan si adik angkat dari tempatnya sambil geleng – geleng.
“Yes, Ma’am. Do you need something? ( Ya Nyonya. Apa anda perlu sesuatu? ).”
“Next time you don’t let that Nanny make any food for my brother ( Lain kali kamu jangan biarkan pengasuh itu membuatkan makanan untuk kakak ku ). Throw this away ( Buang ini jauh – jauh ).” Ucap Fania pada Nina sembari
__ADS_1
memberikan mangkuk ditangannya pada Nina.
“Yes, Ma’am ( Ya Nyonya ).” Nina meraih mangkuk itu lalu membuang isinya sesuai perintah Fania.
“You all hear what I’m saying ( Kalian semua dengar baik – baik ).” Fania berkata pada seluruh penghuni dapur. “Don’t let that Nanny make any food or drink for my brother, you guys understand? ( Jangan biarkan pengasuh itu membuatkan makanan atau minuman untuk kakakku, apa kalian mengerti? ).”
“Yes, Ma’am ( Ya Nyonya ).”
“If there’s anything happen to this family, because you all ignore what I’m saying now, I’ll hunt you down! ( Jika sesuatu terjadi pada keluarga ini karena kalian mengabaikan ucapan ku saat ini, Gue akan memburu kalian! ).”
Ucap Fania dengan serius pada semua maid Reno dan Ara yang sedang berkumpul di dapur.
Glek!
Para maid menelan salivanya mendengar ucapan adik majikan mereka itu.
Reno yang mendengar perkataan Fania hanya tersenyum dan geleng – geleng saja ditempatnya.
“My Over Protective Sister ( Adik gue yang Over Protektif ).” Reno terkekeh pada Fania yang sudah kembali duduk didekatnya. Memandang juga pada Varen yang malah tersenyum lebar, melihat tantenya lagi judes dan sempat
berbicara kencang di dapur tadi.
Entah apa yang ada dipikiran itu bocah.
“Ck!.” Fania hanya berdecak menanggapi ucapan Reno.
****
“Assalamu’alaikum.”
Suara indah nan merdu menyapa telinga orang – orang yang mendengarnya di ruang tamu kediaman si kakak ganteng, kala hari beranjak senja.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Fania dan Reno kompak.
Ara juga menyambangi Fania yang sudah berdiri untuk salim padanya. Menyambut tangan Fania untuk memberikan tangannya, lalu cipika cipiki dengan si adik ipar yang mukanya lagi asyem. Ara senyam – senyum melihatnya.
“Kenapa sih mukanya begitu?.” Tanya Ara pada Fania. “Varen mana?.”
“Kak Ara nih, suaminya sakit juga, jam segini baru pulang. Ga tau emang?.” Jawab Fania. “ Varen tidur.”
“Ih, tadi Kak Ara sudah mau pulang, waktu kakak ganteng kamu ini telpon mau pulang selepas rapat. Dari pagi juga sudah Kak Ara suruh stay di rumah. Tapi ini orangnya ga mau, nah tadi dia bilang mau pulang juga Kak Ara mau jemput dia bilang ga usah.” Ara menjelaskan. “Kenapa sih, hem?”
“Ibu Peri kan lagi repot mengurus acara untuk London Fashion Week nya, Kajool.” Celetuk Reno.
“Coba – coba cerita.” Ucap Ara sambil mendudukkan dirinya samping Reno dan meminta salah seorang asisten rumah tangga membawakannya teh.
“Varen tumben ga dibawa?.” Ucap Fania seraya bertanya.
“Hectic banget dibutik dan studio, Sweety. Terlalu banyak orang. Kasihan Varen nanti malahan.” Sahut Ara. “Ada apa sih?.”
“Mending lo pecat itu, baby sitternya si Varen.” Ucap Fania lagi.
“Kenapa?. Dia bermasalah dengan kamu, Sweety?.”
“Engga.”
“So? ( Jadi? ).”
“Gue ga ada masalah sama dia. Tapi dia akan menjadi sumber masalah buat hubungan kalian berdua.”
“Maksud kamu?.”
“Bibit pelakor!.”
__ADS_1
Ara malah terkekeh, Reno geleng – geleng. “Kamu kok sampai mikir kesana sih?.” Ucap Ara.
“Iya habis, masa dia ada di kamar lo... bla... bla... terus bla... bla...” Fania menceritakan kronologis sumber kecurigaannya dari sejak dia datang sampai di ruang makan.
“Kalau soal dia masuk ke kamar Kak Ara dan Kak Reno, memang yang kami mengijinkan dia masuk untuk mengantar Varen kalau kami memintanya.”
“Tapi kan ada lo Kak. Ga masalah kalo itu sih. Nah tadi kan lo ga ada. Ngapain dia stay disana, sok manis lagi. Berdiri seolah – olah istrinya kak Reno.”
“Kamu berlebihan, Sweety.” Sahut Ara.
“Aku juga sudah bilang begitu.”
“Nah terus dia ngapain sok perhatian bikinin sop segala buat kak Ren?. Udah gitu nih ya, kayaknya ga sopan banget manggil Kak Reno, dengan sebutan ‘R’ meski pake embel – embel Mister didepannya. Sok akrab bener.”
“Astaga Sweety, Kak Ara rasa itu hanya bentuk perhatian pada orang yang mempekerjakan mereka. Nina juga bukan Chef disini, tapi dia suka menghidangkan bahkan juga memasak untuk kita, kan?. No big deal lah. Kamu
jangan terlalu khawatir.”
“Like I said, too much ( Seperti yang aku bilang, berlebihan ).” Celetuk Reno. “Khawatir lo berlebihan, pemikiran lo kejauhan.” Sambungnya. “Dia panggil gue Mister R aja lo permasalahkan. Mereka yang dirumah Dad juga suka panggil gue begitu.”
“Yah yang manggil lo begitu rata – rata orang lama. Wajar lah!. Si Nina aja yang udah lama kerja disini jarang – jarang gue denger manggil lo begitu. Nah ini orang baru, mana keganjenan gue liat.”
“Itu hanya perasaan kamu aja, Sweety. Toh kami juga sudah menyelidiki latar belakangnya. Ya kan, Hon?. Kerjanya bagus Sweety, dan dia menjaga Varen dengan baik saat Kak Ara dan Kak Reno ini sedang tak sempat.”
“Justru perasaan gue yang kuat bilang kalo ada yang ga beres sama itu baby sitter.” Fania berargumen. Ara nampak memijat pelipisnya.
“Ga gampang mendapat pengasuh yang cekatan, Sweety.”
“Banyak Kak, kita tinggal ngomong, gue rasa seluruh penyedia baby sitter bakal ngajuin kandidat – kandidat terbaik mereka buat keluarga kita.”
“Takes Time ( Butuh waktu ) lagi kan buat memilih. Lagian si Varen juga udah cocok sama Merryl.”
“Mendingan menyita waktu sebentar, daripada terjadi hal – hal yang ga diinginkan.”
“Udahlah Sweety, kekhawatiran kamu itu berlebihan.” Ucap Ara. “Kalau dia memang berniat ga baik, kenapa harus sekarang – sekarang?. Kan dari awal kalau dia memang punya maksud tertentu, sama kakak ganteng kamu ini, pasti kelihatan kok. Toh buktinya selama ini kan engga.”
“Ibu Peri was right, Little F. Yang lebih banyak berinteraksi disini dengan Merryl kan kami.” Timpal Reno. “Kalau masalah dia membuatkan makanan untuk gue, dia itu memang rajin kok. Kadang juga bikin kudapan untuk orang – orang disini. Come on, don’t be too naive, Little F ( Ayolah, jangan terlalu naif, Little F ).”
‘Ck! Ini orang berdua kalo dibilangin!.’ Batin Fania bermonolog. “Kak Reno sama Kak Ara nih kalo diingetin. Nanti kalo udah kejadian tau rasa!.”
“Sweety! I don’t like if you’re talking like that, okay? ( Sweety! Aku ga suka kalau kamu bicara seperti itu, Okay? ).” Ara menyergah ucapan Fania dengan wajahnya yang nampak serius. “Sudah, ya?. Kekhawatiran kamu pada Merryl
itu tak beralasan. Kamu jangan selalu berpikir buruk tentang seseorang.”
“Gue bukan berpikir buruk, Kak. Gue ngeliat gelagat yang ga beres dari itu cewe.”
“Your feeling? ( Perasaan kamu, kan? ).” Ucap Ara yang berdiri dari duduknya. “Perasaan kamu itu belum tentu benar. Ingat waktu kamu berprasangka buruk tentang kakak kamu ini, bahkan Andrew saat masalah Keluarga Alexander?. Kamu berpikir buruk tentang mereka kan?. Kamu merasa mereka, R dan Andrew, bahkan kami ga tulus sama kamu. Tapi kenyataannya?.”
“Ara benar Little F, lo berpikir terlalu berlebihan.”
“Iya itu gue salah, oke. Tapi kan....”
“Sudah ya Fania. Aku ga mau membahas soal ini lagi. Kehadiran Merryl sudah cukup membantu aku dan kakak kamu untuk menjaga Varen , terlebih saat kami sedang sibuk – sibuknya seperti sekarang. Kamu belum merasakannya Little F, memiliki anak disaat kamu sedang sibuk dengan banyak hal. Sudah ya, Kak Ara lelah, mau istirahat.”
Ara langsung beranjak dari ruang tamu, menuju kamarnya dan Reno.
Ada sedikit rematan dihati Fania atas perkataan Ara.
“Saat lo sudah punya anak nanti, lo akan paham. Saat ini lebih baik lo lebih fokus sama kuliah lo, Little F.” Ucap Reno. “. Yuk gue istirahat duluan.” Pamitnya lalu mengikuti Ara ke kamar mereka.
Satu rematan lagi dihati terasa dihati Fania. Ia tak beranjak dari tempatnya. ‘Ya sudah kalo gitu.’
**
__ADS_1
To be continue ..