
Selamat membaca ...
“Italy, huh?!.”
Fania berdiri terpaku setelah masuk ke dalam ruangan yang sepertinya sangat eksklusif itu.
Terpana!. Bukan dengan ruangan yang begitu mewah dengan design interiornya. Namun terpana dengan pemandangan yang sedang dilihatnya saat ini.
Mata dan hati Fania terasa panas saat ini. “Italy, huh?!.” Gumamnya sambil mengepalkan kedua tangannya melihat laki – laki yang amat sangat dikenalnya luar dalam, sedang tertawa dan nampak seperti menikmati ‘suguhan’ didepannya.
“Ma’am.” Ucap Ezra. ‘The end of the world ( Akhir dunia ).’ Batin Ezra yang wajahnya kini mulai pucat.
“Fania....” Alex berkata pelan. ‘Mister Reno is save ( Tuan Reno selamat ).’ Batin Alex yang tidak melihat Reno, hanya Nino yang berdiri selurusan agak jauh dari Fania. ‘But Mister Andrew is dead! ( Matilah Tuan Andrew! ).’
“Excuse me, Miss. You are .....? ( Permisi Nona, anda adalah ...? ).” Seorang pria perlente yang berada dekat tak jauh dari Fania dengan gelas berisi minuman beralkohol di tangannya bertanya pada Fania.
“Fania Andrew Smith!.” Fania meraih gelas yang sedang di pegang pria itu dan menenggak isinya dengan cepat. Kerongkongannya rasa terbakar, tapi hatinya lebih – lebih terasa terbakar melihat si Donald Bebek sedang menonton tarian e*otis tepat didepannya sambil tertawa. Bahkan mengeluarkan banyak lembaran uang dari dompetnya dan menyodorkan pada perempuan yang terlalu seksi didepannya.
PRANGG!!!!....
Semua orang seketika terkejut, lalu menatap ke arah bunyi suara pecahan kaca yang lumayan ricuh meski musik yang terputar lumayan kencang. Pekikan dari seorang bartender wanita membuat mereka semua yang berada dalam ruangan spontan menoleh ke sumber suara.
Beberapa botol minuman beralkohol yang tertata rapih disana nampak beberapa sudah pecah berhamburan seperti di lempar sesuatu.
Si Kajol pelakunya!.
Ia melemparkan dengan sekuat tenaga, gelas yang tadi ia rampas dari pria disebelahnya ke arah rak minuman yang berada di belakang dua bartender yang sedang bertugas setelah menenggak isinya.
Beberapa orang yang sepertinya juga bodyguard mencoba menghampiri Fania. Namun Ezra dan Alex mencegahnya.
“Don’t! ( Jangan! ).” Sergah Alex dan Ezra. “She is Mister Andrew Smith’s wife. Mister Andrew will kill you himself if you touch her ( Dia istri Tuan Andrew Smith. Tuan Andrew akan membunuhmu dengan tangannya sendiri jika kalian berani menyentuhnya ).”
Ezra memperingatkan dua orang berbadan besar itu untuk tidak melakukan apapun. Dua orang itu pun mundur karena tau siapa Ezra dan paham soal peringatan yang diucapkan Ezra barusan.
Sementara Alex tak berani mengatakan apapun pada Fania saat ini. Lumayan ikut terkejut juga melihat Fania yang melempar gelas ke arah bar. Fania yang lebih sering ia lihat tertawa lebar dan keras, sungguh berbanding terbalik
dengan Fania yang saat ini sedang berdiri menatap tajam pada suaminya.
Dada Fania nampak naik turun bersamaan dengan tatapan murka ke arah Andrew yang sudah berdiri terpaku seperti Jeff dan Nino.
Nino dan Jeff menelan kasar salivanya. Tak kuasa untuk bergerak atau berucap melihat Fania yang nampak amat sangat murka saat ini.
‘This is so bad, very bad ( Ini sangat buruk, benar – benar buruk ).’ Batin Nino
‘Mati!.’ Batin Jeff.
“Heart ....” Wajah Andrew pucat pasi. Mencoba melangkah mendekati Fania.
Fania mengangkat satu tangan sambil mengarahkan telunjuknya.
“STAY RIGHT WHERE YOU ARE! ( TETAP DITEMPAT MU! ).”
Andrew spontan tak melanjutkan langkahnya. “Heart ....” Memanggil nama kesayangan nya untuk Fania dengan suaranya yang terdengar sedikit berat menuju parau. Menelan kasar salivanya.
“BAJINGAN!.”
“HEART!!.”
Andrew seketika berlari saat Fania mendorong Alex yang berdiri di belakangnya dan melesat keluar dari ruangan laknat tempat Andrew berada.
Alex dan Ezra ikut mengejar Tuan dan Nyonya nya itu. Disusul oleh Nino dan Jeff juga yang ikut berlari mengejar Fania dan Andrew.
__ADS_1
“Isn’t that Andrew’s wife? ( Bukannya itu istrinya Andrew? ).” Ucap salah seorang pria perlente.
“Yes, she is ( Iya ).” Sahut pria lainnya.
“HEART!.”
Andrew terus mengejar sambil memanggil Fania yang berlari dengan amat sangat cepat menuju pintu keluar itu.
Lantai dasar yang lumayan padat itu sedikit menyulitkan Andrew mengejar Fania yang sudah menjauh karena tubuh rampingnya memudahkan ia bergerak melewati orang – orang yang berkumpul sambil menikmati pertunjukan.
Sementara Andrew yang tinggi besar, sedikit menemukan kesulitan untuk melalui orang – orang yang sedang berkumpul itu.
***
“Fania?!.”
Shita setengah kaget melihat Fania muncul dengan tergesa – gesa dari dalam.
“Give me your car key ( Kasih gue kunci mobil lo ).” Fania menadahkan tangannya pada Jeannie.
“So –sorry, we about to leave , we thought you .... ( Ma – maaf , kita baru aja mau pergi, kami pikir lo.... ).”
“JUST GIVE ME YOU GOD DAMNED CAR KEY! ( BERIKAN AJA KUNCI MOBIL SIALAN LO! ).” Hardik Fania pada Jeannie sebelum gadis itu meneruskan kalimatnya.
“Is inside the car, the vallet .. ( Ada di dalam mobil, petugas vallet ... ).”
Fania langsung menaiki mobil Jeannie yang baru saja diantarkan petugas Vallet dan duduk di belakang kemudi.
“HEART!!.”
Andrew sedikit terlambat mengejar Fania yang sudah melajukan Lamborghini Urus milik Jeannie.
“HEART!.” Mencoba mengejar mobil yang dikendarai Fania namun tak keburu. “SHIT!.”
“Andrew!.” Nino datang bersama Jeff, Alex dan Ezra di belakangnya. Nino langsung memanggil petugas Vallet agar segera mengambilkan mobil miliknya. “I’ll go with you! ( Gue ikut lo! ).” Nino buru – buru berbicara setelah melihat Andrew yang masuk ke mobilnya dan langsung duduk dibelakang kemudi saat mobil itu datang.
“Where’s your car?! ( Mana mobil lo?! ).” Tanya Jeff pada Alex yang juga sudah meminta petugas Vallet mengambilkan mobilnya saat Nino meminta mobil juga tadi, begitupun Ezra.
“Let me drive, Sir. ( Biar aku yang mengemudi, Tuan ).” Alex yang juga panik ikut menawarkan.
Jeff tak menggubris karena ia langsung masuk dan duduk di belakang kemudi. Alex pun langsung berlari kearah pintu penumpang disamping Jeff meski sedikit ragu.
“You don’t know how the way your young lady driving ( Lo ga tau gimana Nona muda lo kalo nyetir mobil ).” Ucap Jeff pada Alex. “Especially when she’s become like this. I can’t even imagine! ( Terlebih lagi saat begini kondisi dia. Gue ga bisa ngebayangin!.” Gumamnya.
Jeff memasang sabuk pengaman begitupun Alex. Menoleh pada Shita dan Jeannie.
“Is Fania using your car? ( Apa Fania pake mobil lo? ).”
Jeannie mengangguk gugup.
“What Car?! ( Mobil apa?! ).” Tanya Jeff dengan tergesa.
“Lamborghini Urus.” Sahut Jeannie. “White ( Putih ).”
Jeff langsung menjalankan mobil. “Ezra! You handle everything here! ( Ezra! lo urus semua yang disini! ).” Teriak Jeff pada Ezra sambil lalu melesatkan mobil Alex dengan cepat.
Sementara itu Andrew dan Nino yang sudah lebih dulu mengejar Fania sudah berada sedikit di belakang mobil Jeannie yang dikendarai Fania.
“What car that she use? ( Dia pake mobil apa? ).” Tanya Nino pada Andrew yang gusar dibelakang kemudi sambil matanya terus celingak – celinguk ke arah depan, memastikan mobil yang dikendarai Fania tak hilang dari pandangan.
“Lamborghini Urus!.”
__ADS_1
Andrew sudah melesatkan mobil Nino yang ia kendarai dengan cepat menyalip hingga sudah benar – benar berada tepat dibelakang mobil yang dilajukan Fania.
“SHIT!.”
Andrew mengumpat lagi. Sepertinya Fania mengenali mobil Nino dan Fania nampak langsung lebih melesatkan mobil yang dikendarainya itu hingga Andrew sedikit tertinggal lagi.
Jeff dan Alex juga sudah berada sedikit jauh di belakang Andrew dan Nino, namun tetap berusaha mengejar sambil menyalip beberapa mobil yang tak terlalu banyak ada dijalanan malam ini.
“Traffic light in front. We can push her to stop at the side of the road a head then ( Didepan lampu merah. Kita bisa pepet di untuk minggir ke sisi jalan didepan ).” Ucap Nino sambil menunjuk kearah depan.
“Wish the light is red when she reach there! ( Berharap lampunya merah saat dia sampai disitu ).” Sahut Andrew.
“Is going to red! ( Sepertinya akan merah! ).” Ucap Nino sambil menunjuk pada lampu lalu lintas diujung jalan depan.
Andrew sudah bersiap untuk memepet mobil yang dikendarai Fania. Kebetulan jalanan sedikit lengang di area tersebut.
“DAMNED!.” Andrew mengumpat lagi. Fania tak menginjak rem ternyata saat lampu lalu lintas itu berubah merah. Membuat mobil yang datang dari arah kiri akhirnya berhenti mendadak menghalangi mobil Andrew karena Fania
dengan cepat melesat.
Jeff dan Alex yang posisinya lumayan lenggang langsung melesat mendahului mobil Nino yang berusaha berjalan lagi setelah mobil yang tadi disalip Fania dengan mendadak pun kembali melaju. Andrew bergerak cepat.
Adegan kejar – kejaran bak di film action box office kini sedang terjadi antara mobil yang dikendarai Fania, Andrew dan Jeff.
“She’s driving so fast ( Dia mengemudi sangat cepat ).” Ucap Alex saat dia dan Jeff sudah melihat mobil Fania. Jeff tak menjawab tetap fokus pada kemudi dan kecepatan mobil yang ia kendarai mencoba mengimbangi Fania.
‘Untung dia pakai Urus, kalo yang dia bawa Ferrari 812 gue yakin dia sanggup terbang dari jalan tol!.’ Batin Jeff bermonolog. Mengingat betapa nekadnya si Kajol waktu melawan Gloria di Race Wars waktu itu.
‘Damned, Miss Fania! Why she should be like her brother and husband in driving? ( Sial, Nona Fania! Kenapa dia harus sejago kakak dan suaminya dalam mengemudi? ).’ Batin Nino pun bermonolog.
“Lucky me! ( Gue beruntung! ).” Celetuk Andrew sambil memandang lurus . Nino sedikit melongo. “Dead end in front, right? ( Jalan buntu di depan, kan? ).”
**
“DONALD BEBEK, KURANG AJAAR!!!!.” Fania mengumpat dalam mobil Jeannie yang dirampasnya. Melajukan mobil Lamborghini berkapasitas lima penumpang itu dengan cepat dan, kesal!.
Sepanjang jalan si Kajol tak henti – hentinya mengumpati Andrew yang tadi terciduk sedang menonton penari striptease, bahkan terlihat mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.
“Gue aje ga pernah disawer!. Eh bisa – bisanya itu laki ga ada akhlak nyawer itu penari ronggeng!. DONALD BEBEK SIALAAANNNN!!!.”
Fania terus mengumpat, tak berpikir kemana arah dia akan melajukan mobilnya. Kesal setengah mati pada Andrew. Mengumpat tapi juga ada air mata yang turun ke pipinya saking kesal dan murka.
“Mobil Kak Nino kan itu?.” Fania melirik pada spion depan. Lalu menoleh cepat ke belakang untuk memastikan. “Ngapain segala ngejar gue?!.” Fania menginjak lebih dalam pedal gas, melaju lebih cepat.
Melirik arah kanan sedikit didepan. “Lampu merah pula.”
Berpikir sebentar.
“Ah sebodo amat!.” Fania tetap tancap gas saat lampu berubah merah. Terdengar klakson panjang dari arah sisi kiri. Namun ia abaikan dan tetap terus melaju cepat.
Fania menghembuskan nafas cepat dan sedikit berat, berdecak.
“CK!. Jalan buntu pula. Oon Fania , oon!.” Ia mengatai dirinya sendiri. Melirik lagi spion depan, dua mobil sudah nampak di belakang. Mobil Nino dan Alex.
***
To be continue....
Dua episode sudah meluncur .... Jangan lupa ritual nya ya.
LIKE - VOTE - KOMEN
__ADS_1
Karena Author nya rajin baca, Hehehehe.
Loph Loph 💗💗