BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN


__ADS_3

🎈Selamat membaca ....🎈


Waktu berjalan cepat.


Sang pangeran mungil sudah menginjak usia satu tahun lebih.


Dalam kurun waktu beberapa bulan belakang pun, kehidupan di Keluarga Adjieran Smith berjalan dengan normal.


Hanya Fania dan Andrew juga masih belum dikaruniakan momongan.


Tapi tak ada yang mempermasalahkan hal tersebut, termasuk sepasang suami istri yang bersangkutan.


Tapi Fania dan Andrew tetap menjalani hidup mereka dengan santai dan bahagia.


Fania sendiri masih disibukkan dengan kuliahnya. Masih tak diijinkan bekerja oleh Andrew juga.


“Ya ampun, sumpah gue gabut bener ini Tuhan ..” Fania menggumam sendirian di kamarnya.


Andrew lusa baru kembali dari Paris, padahal liburan musim panas sudah dimulai sejak kemarin. Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith terasa sepi, karena Reno dan Ara beserta Varen dan Mama Anye, kini sedang tinggal di kediaman pribadi mereka di Frognal. Sementara John juga sedang berada di Indonesia, entah kapan balik lagi ke London.


‘D’.


Fania menulis dan mengirimkan pesan teks pada Andrew.


‘Aku malam ini nginep di rumah Kak Reno ya?.”


Tak ada jawaban sesaat, dibaca juga belom.


Fania meletakkan ponselnya diatas meja dan coba membunuh bosan dengan menonton Televisi.


đŸŽ¶


Crashing Hit a Wall ..


đŸŽ¶


Chanel musik yang menjadi pilihan tontonan Fania siang itu. “Kangen manggung ih.” Tak lama ponselnya pun berdering.


“Assalamu’alaikum.” Fania menyapa dengan salam pada Andrew yang menelponnya.


‘Wa’alaikumsalam.’ Andrew menjawab salam sang istri tercintanya. ‘What is it, Heart?. ( Ada apa, Sayang? ).’


“Ga baca pesen aku emang?.”


‘Iya, sudah aku baca.’


“Trus kenapa masih nanya?.”


Andrew terdengar terkekeh. ‘I think you’re gonna say, "Oh, D, I miss you so much". ( Aku kira kamu mau bilang, ‘Oh, D, aku kangen berat' ).’


“Yah itu sih ga usah diomong. Kamu jadi pulang lusa?. Aku susah tidur kan ga dikekepin Donald Bebek.”


‘Kamu pikir aku bisa tidur dengan nyenyak disini?.’


“Coba Video Call, kamu lagi dimana?.”


‘Ya Tuhan, masih susah percaya?.’


“Ya kali kamu khilap.”


‘Jangan suka berpikir buruk. Sebentar aku switch ke video.’ Andrew merubah panggilan telponnya ke video call. ‘Lihat kan?. Aku sendirian lah, Heart.'


Fania tersenyum simpul saat Andrew memperlihatkan seisi kamar hotelnya melalui ponsel. “Iya, aku percaya. Suami aku setia bukkan main.”


'Kamu diantar Alex ke tempat R?. Atau minta antar Ben.'

__ADS_1


“Ya ilah, timbang ke rumah Kak Reno, aku hafal udah jalanannya kali. Ribet banget pake dianter.” Cerocos Fania. “Trus kamu kapan pulang jadinya?. Ini udah liburan tau aku dari kemaren.” Si Kajol masih nyerocos.


'Iya, secepatnya. Paling cepat lusa aku sudah pulang, Heart.' Ucap Andrew.


Fania mencebik. “Tuh kan, aku nyium bau – bau ngaret lagi nih pasti.”


Andrew terkekeh. ‘Kalau bisa hari ini aku pulang, Heart.’


“Ck. Kamu nih, terlalu sibuk sekarang. Italy belom kelar, sekarang malah ke Paris.”


‘Salah siapa, aku ajak ga mau, hem?.’


Fania mengerucutkan bibirnya.


Cup!. Kecupan dari Andrew di layar ponsel yang gemas kalau mimik muka Fania sudah begitu.


‘Kangen aku, sumpah!.’


“Cepetan pulang makanya.”


‘Iya my Dear Heart, aku usahakan cepat pulang. Okay?.’


“Ya udah. Kamu istirahat deh. Aku siap – siap ke tempat Kak Reno dulu ya, boleh kan?.” Ucap Fania seraya bertanya.


'Iya boleh.'


“Aku nyetir sendiri ya?.”


'Iya, tapi tetap minta Alex mengawal.'


“Ck!. Ga usah sih. Ribet, lama lagi nunggu dia dateng.” Fania mencebik lagi. “Sekali – sekali sih aku jalan sendirian gitu, kek orang normal.”


'Memang kamu orang gila?.'


“Dih awas ya ngatain aku gila. Ga aku kasih jatah, tau rasa.”


“Ya udah ya, nanti sambung lagi.”


'Hati – hati. Jangan menyetir terlalu cepat dan kabari aku kalau sudah sampai di tempat R.'


“Iyaaa. See you Donald Bebek. Loph yuh.” Ucap Fania sambil mengecup layar ponselnya.


'Love you more.'


***


Fania sudah mengendarai mobilnya saat ini, menuju kediaman si kakak ganteng dan ibu peri.


Musim panas di London adalah musim turis utama yakni, para penghuni kota itu sendiri, selain wisatawan dari luar London. Musim yang cocok untuk berada di taman, trotoar dan pub, kafe bahkan klub. Suasana yang nyaman


serta malam – malam panjang akan dilalui pada musim ini.


Biasanya orang Inggris sendiri akan lebih santai di musim ini. Setidaknya ada senyum yang menebar dibibir mereka yang biasanya tegang.


Malam akan datang lebih lama saat musim panas tiba.


Tempat hiburan, terutama hiburan malam akan semakin ramai dimusim ini.


Fania pun menikmati perjalanan berkendara dengan mobil hadiah dari sang suami di siang menjelang sore ini namun suasana masih terang seperti tengah hari. Lalu lintas sedikit padat, namun tidak sampai macet.


“Kan gini rasanya idup gue tentrem ga ada bodyguard yang ngintilin,” Gumamnya di dalam mobil. “Ah iya, lupa ga bawa apa – apaan.” Fania teringat untuk membeli sesuatu untuk dibawa ke rumah kakak gantengnya itu. Matanya mencoba mencari – cari toko kue dan sebagainya searah jalannya. Fania melihat sebuah kerumunan di sebelah kirinya. Tampak seperti sebuah kafe. Tampak seperti kafe biasa, bukan untuk kalangan atas, namun sangat ramai.


Penasaran, kemudian ia membelokkan sedikit mobilnya dan menepi didekat seorang petugas yang memakai rompi vallet, kemudian memanggilnya untuk memarkirkan mobil miliknya. Jangan kek orang susyah kalo kata si Kajol. Fania langsung menjadi pusat perhatian mereka yang sedang berada didekatnya.


Bukan hanya mobil merah ceper berlogo kuda berdiri, namun juga pengendaranya yang tampil casual namun modis, didukung wajah cantiknya. Menggoda para kaum adam untuk menoleh padanya. Lihat boleh, pegang janganđŸ˜€

__ADS_1


“Hi.” Fania menyapa seorang pria negro tinggi besar yang sepertinya adalah bodyguard tempat tersebut. “Should I buy a ticket to get in?. ( Apa aku harus membeli tiket untuk masuk? ).” Tanya Fania pada pria tersebut.


“Yes, Miss. ( Ya Nona ).” Jawab pria itu kaku. “But I’m afraid that you should to take a line at the waiting list first. ( Tapi sayangnya anda harus mengantri didaftar tunggu ).” Tambahnya lagi.


“I see. ( Oh begitu ).” Fania sedikit kecewa. “Okay, thank you. ( Baiklah, makasih ).” Ucapnya sopan dengan senyuman pada pria negro tersebut. Fania pun beranjak pergi.


“Fania!.”


Suara yang terdengar dari dua orang yang berbeda, membuat Fania menoleh ke arah belakangnya. “You guys?. ( Eh, kalian? ).”


“Hey! Mrs. Andrew Smith, you’re here too?. ( Hey! Nyonya Andrew Smith, lo disini juga? ).” Ucap salah seorang wanita yang memanggil Fania barusan.


“And what you guys doing here, also?. ( Lo berdua juga ngapain disini? ).”


Fania balik bertanya pada kedua wanita yang notabene adalah teman dekatnya di kampus, Shita dan Jeannie.


“Enjoy summer! What else?. ( nikmatin musim panas lah! Apalagi? ).” Sahut Jeannie. “Come, let’s get in. ( Ayo kita masuk ).”


“Is there any show inside?. ( Apa sedang ada pertunjukan didalem? ).”


“Are you deaf?. Of course it is! Can’t you hear the sound of the music?. ( Apa lo tuli?. Tentu aja ada! Lo ga denger tuh suara musik? ).” Celetuk Shita.


“Of course I heard, damned. ( Iya gue denger, oncom ).” Sahut Fania.


Shita dan Jeannie terkekeh.


“Who accompany you?. ( Lo sama siapa? ).” Tanya Jeannie. “Your H – O – T husband, huh?. ( Sama suami S-E-K-S-I lo itu? ).”


Gantian Fania yang terkekeh.


“Btch! ( Ganjen! ).” Fania mengatai Jeannie sambil menoyor kepalanya bercanda, mereka bertiga pun terkekeh. “I come alone, just curious. But I think I’m about to leave*. ( Gue sendirian, Cuma penasaran. Tapi kayaknya gue mau pergi dari sini ).”


“But why?. Are your husband call you to get home to spank your as?*. ( Tapi kenapa?. Apa suami lo telpon suruh pulang, pengen ena – ena? ).” Celetuk Shita asal.


“Ck!. Wash your dirty brain!. ( Ck! Ngeres aja otak lo! ).” Fania mencebik. “I don’t want to spent my time for taking line in waiting list. ( Gue ogah buang waktu ngantri didaftar tunggu ).”


“Oh don’t you worry about that Sweetheart. We’re taking you in!. ( Oh jangan khawatir kalo soal itu, sayang. Lo masuk bareng kita! ).” Ucap Jeannie yang langsung merangkul bahu Fania.


“Seriously?!. ( Serius nih?! ).” Fania sumringah. “But I don’t  have a ticket. ( Tapi gue ga punya tiket ).”


“Ck! No need at all. Let’s go!. ( Ga perlu sama sekali. Ayo masuk! ).” Shita dan Jeannie langsung menggiring Fania masuk ke dalam kafe yang super ramai tersebut. Tanpa ada halangan dari para bodyguard yang berdiri tegak disisi kiri dan kanan.


Apa Shita dan Jeannie tamu VIP?. Entahlah, yang jelas Fania sedang merasa senang saat bisa masuk ke tempat itu.


“Let’s the music heal our soul!. ( Biarkan musik menyembuhkan jiwa kita! ).” Jeannie berteriak antusias saat sudah berada di dalam kafe dengan kerumunan pengunjung yang ramai tersebut.


‘Totally heal my soul.. ( Benar – benar menentramkan jiwa gue... ).' Mata Fania berbinar saat melihat ke arah panggung musik didalam kafe tersebut.


**


Paris ..


“R, tell Fania to check her phone. I tried to call but it seems that her phone is dead. ( R, bilang Fania suruh cek ponselnya. Gue udah coba telfon tapi kayaknya ponselnya mati ).” Andrew menghubungi Reno melalui ponselnya.


Setelah sebelumnya menelpon Fania beberapa kali tapi tak tersambung. Pesannya pun belum terkirim sepertinya.


‘Fania?.’


**


Nah lo


**


To be continue ....

__ADS_1


Kali ini cuman atu episode dulu iyee my beby bala – bala semua.


__ADS_2