
Selamat membaca...
London...
“ Assalamualaikum. “ Reno mengucapkan salam kepada Ara yang sedang berada di dapur kediaman mereka di Frognal Way, yang merupakan salah satu daerah hunian mewah di London, Inggris.
“ Wa ’alaikumsalam. “ Ara menjawab salam Reno dengan senyumannya yang terlalu manis. “ Hi Hon, tumben udah pulang jam segini ?.” Tanya Ara karena suaminya pulang sangat awal dari biasanya.
Dua pelayan yang ada di dapur bersama Ara pun menunduk hormat dan menyapa majikan laki – laki mereka yang baru saja tiba itu.
“ Kangen istri. “ Ucap Reno sambil memberi kecupan lembut di bibir istrinya. “ Lagi buat apa sih ?. Repot banget kelihatannya, hem ?. “ Reno melirik sebuah mangkok aluminium besar yang berisikan adonan di dalamnya. Serta masakan yang sepertinya berisi irisan kentang, wortel dan daging dalam mangkok yang ukurannya lebih kecil dari mangkok aluminium yang berisikan adonan.
“Ini aku mau coba bikin pastel hon, tapi masih aja susah juga ternyata ya. Dari tadi gagal terus bikin lipatan pinggirnya.“ Ucap Ara sambil meneruskan kegiatan yang sempat ia hentikan saat menyambut suaminya . “Tuh, liat deh, Hon. Engga banget kan bentuknya?. “ Ucap Ara sambil menunjuk sebuah nampan yang berisikan pastel yang sudah diisi dan dibentuk oleh Ara, tapi dengan lipatan pinggirnya yang acak – acakan.
“ Hem ... “ Reno hanya ber hem ria sambil melihat pastel yang ada di nampan. “ I think you should call tante Bela , then. “ ( Sebaiknya kamu menelpon Tante Bela ). Reno terkekeh melihat hasil pastel buatan Ara yang sudah dibentuk dengan kurang indah itu.
Ara mengerucutkan bibirnya dan membuat Reno makin terkekeh melihat mimik wajah istrinya yang menurutnya lucu dan menggemaskan saat ini.
“ Harusnya aku video in waktu Tante Bela bikin kepangan pastelnya. Ga lulus - lulus buat pastel aku nih.“ Ucap Ara kecewa dengan hasil kerjanya itu.
“ Ya udah video call aja Tante Bela nya sana. “ Ucap Reno sambil melonggarkan dasinya.
“ Ye, jam berapa ini di Indo coba?. “ Sahut Ara.
“ Oh iya ya. “ Reno ,melirik arlojinya . “ Tengah malam ya di Indo. “
“Makanya ... Ya udah Hon, kamu mau dibuatkan kopi ?.“ Ara menawarkan.
“ Ya boleh. Sekalian aku mau minta tolong kamu. “ Ucap Reno.
“ Untuk ?. “
“ Mandiin aku. “ Ucap Reno tanpa dosa dengan senyuman konyolnya.
__ADS_1
“ Wah tanda bahaya itu. Ya udah ayo. “ Sahut Ara. Kemudian suami istri itu tertawa dan mereka berjalan keluar dapur setelah Ara mencuci tangannya terlebih dahulu.
Dua maid (pelayan) yang juga sedang berada di dapur, tersenyum melihat kedua majikannya yang selalu tampak mesra walau belum dikaruniai buah hati setelah tiga tahun menikah. Terlebih lagi Reno juga terlihat lebih bahagia sekarang.
*****
“ Butik kamu gimana Babe?. “ Tanya Reno pada Ara saat mereka sudah duduk di ruang makan dan dua pelayan
sedang melayani mereka berdua.
Ara memiliki Butik di London dan beberapa cabang lainnya dibeberapa bagian dunia. Reno memberikan Butik tersebut untuk Ara sebagai hadiah pernikahan karena memang itu adalah impian Ara dan wanita itu memang mempunyai tangan seorang designer.
Saat ini Butik Ara sudah cukup terkenal dan sudah sering mengikuti Event seperti Fashion Week. Bahkan Brand butiknya juga sudah ada di beberapa negara, berkat kerja keras dan memang kelayakan dari pakaian yang ia buat.
“ Lancar dong, Alhamdulillah. Berkat dukungan suami aku pastinya. “ Jawab Ara atas pertanyaan Reno, sang suami tercinta tentang Butik yang ia kelola.
Saat Reno dan Ara memulai makan malamnya, sebuah suara yang sudah sangat mereka kenal membuat keduanya mengalihkan pandangan ke sumber suara.
“ Good Evening Mr. and Mrs. Alexander. “ ( Selamat sore, Tuan dan Nyonya Alexander ). Suara berat dari seorang Andrew ternyata yang datang ke kediaman mereka.
“Baru saja dan langsung kesini.“ Ucap Andrew seraya menghampiri Ara untuk memeluknya serta mencium pipi kiri dan kanan wanita yang dia anggap sebagai kakak itu walaupun usia Ara sama dengan Reno. Hanya satu tahun lebih tua dari Andrew. Karena dimata Andrew , cara berpikir seorang Ara itu lebih dewasa daripada umurnya dan memang layak untuk dijadikan kakak , karena Ara sering memberikan nasehat pada Andrew untuk kebaikan laki – laki itu.
“ Duduk deh, bentar aku panggil Nina buat menyiapkan piring buat kamu. “ Ara pun berjalan menuju arah dapur untuk meminta salah satu pelayannya agar menyiapkan peralatan makan untuk Andrew yang baru saja datang itu.
“ Hei , My Bro , You’re not happy if Im visit ?. “ ( Lo ga seneng gue dateng ? ). Ucap Andrew sambil menepuk bahu Reno sambil tersenyum mengejek, kemudian duduk di sisi kanan Reno.
Reno hanya meliriknya sebentar dan menjawab dengan kata andalannya. “ Hem ... “.
Kemudian Ara datang beserta salah satu pelayan yang sudah membawa peralatan makan lengkap untuk Andrew.
“Udah puas liat Menara Ei-fel ?. “ Sindir Reno yang sepertinya masih kesal pada Andrew yang waktu itu menyuruhnya segera balik ke London untuk menghadiri meeting bulanan Perusahaan dan yang katanya mau membahas salah satu proyek mereka di Turki , tapi saat selesai Meeting di Perusahaan mereka yang ada di London, si Andrew malah langsung bertolak ke Paris.
“ Udah makan dulu . Nanti aja bertengkar nya. “ Ara menengahi dua orang laki – laki yang jarang akur tersebut.
**
__ADS_1
“ R, sudah cek email yang gue kirim soal banyaknya barang reject dari perusahaan garmen kita yang di Paris ?. “
Tanya Andrew saat mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Dan menunggu pelayan menghidangkan pencuci mulut.
“ Sudah. “ Jawab Reno santai.
“ Sudah ketemu juga solusinya ?. “ Tanya Andrew lagi.
“ Lo lupa gue pintar . “ Ucap Reno membanggakan diri.
“Cih.“ Ucap Andrew seperti tak terima dengan ucapan Reno yang sering membanggakan dirinya depan dirinya itu.
Reno tetap saja datar menanggapi ketidak sukaan Andrew mendengar ucapannya barusan.
“ Your coffee Mister Reno. “ ( Kopi anda Tuan Reno ). Seorang pelayan meletakkan secangkir kopi hitam untuk Reno dengan sopan dan hati - hati.
“ Your coffee Mister Andrew. “ Pelayan itu juga meletakkan secangkir kopi yang sama seperti Reno untuk Andrew.
“ Thank you.“ ( Terima kasih ) . Ucap kedua laki – laki tersebut pada si pelayan.
“ Silahkan... . “ Ara menghidangkan dua buah jenis makanan di hadapan mereka. Yang satu adalah Brownies coklat dan yang satu lagi pastel yang wanita itu buat tadi sore.
Andrew memandang pastel itu dengan mimik wajah yang aneh.
“ What is that? (Apa itu?). “ Tanyanya pada Ara sambil menunjuk piring yang berisikan beberapa buah pastel yang ditata rapih meskipun bentuknya ga rapih. Haha, maaf ya Ara.
“ Pastel. Memang kamu pikir apa Ndrew?.“ Jawab Ara menjawab keheranan Andrew.
“Curry Puff? Are you sure?. “ ( Pastel ? Yakin ? ) . Andrew tampak ragu, namun tetap mengambil satu. Tidak langsung memakannya tapi sibuk memperhatikan pastel tersebut.
“ Jangan liat bentuknya. Makan aja dulu baru komen. “ Ucap Ara sedikit sinis karena Andrew seperti sedang menilai – nilai pastel buatannya.
"No, it’s not about the shape. ( Bukan, ini bukan soal bentuknya ). Lihat ini gue jadi ingat pada si Demi Moore KW. “
**
__ADS_1
To be continue ...