BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 251


__ADS_3

Selamat membaca...


- - -


- - -


BLLLURFFF!. Fania menyemburkan minuman yang baru saja disesapnya. Andrew membantu Fania menyeka bibirnya yang terkena tumpahan mocktail akibat kaget mendengar ucapan Elle tentang taruhan. Dewa langsung mencarikan tisu untuk Fania.


“Are you okay, Heart? ( Kamu ga apa – apa, Sayang? ).” Tanya Andrew yang takut Fania tersedak.


Fania menggeleng. “Aku ga apa – apa.” Ucapnya lalu menoleh pada Elle. “Ulet bulu, kegatelan emang.”


Andrew memandangi Fania dalam posisi siaga. Seketika ingat kelakuan bar – bar sang istri saat insiden di ruangan Reno kala itu.


Sementara dua J pun sama. Sama – sama menyiapkan dirinya seandainya si Kajol tau – tau ngamuk sama cewe bernama Elle itu. ‘Entah apa yang ada diotaknya si Kajol saat ini.’ Batin mereka berdua.


Sementara Dewa terlihat biasa saja. Masih memperhatikan setelah tadi memberikan tisu pada Fania. Namun dia tau wanita yang ia kenal bernama Naomy ini, amat sangat benci kalau diusik. Sementara teman – teman mereka yang lain masih tetap dalam posisi canggung, karena sepertinya atmosfer yang ada saat ini sudah menyentuh ranah pribadi.


“Elle, you shouldn’t talk like that, okay? ( Elle, seharusnya lo jangan ngomong begitu, okay? ).” Andrew kini beralih pada Elle. “Look, I’m really sorry if Fania had offended you, she just doesn’t know you that well ( Gue minta maaf, kalau Fania udah menyinggung lo. Dia hanya belum mengenal lo dengan baik ).”


“Aku ga suka ya, kamu minta maaf ke dia, atas nama aku apalagi. Aku ga kepengen minta maaf sama dia.” Fania membuat Andrew menoleh padanya.


“Heart. Biar bagaimanapun dia teman aku.” Andrew mencoba membuat Fania mengerti.


“So? ( Jadi? ). Mentang – mentang dia temen kamu, dia bisa seenaknya gitu ganjen sama kamu?. Kan dia tau aku istri kamu?.”


Andrew menghela nafasnya pelan. “Dia memang seperti itu, Heart. Please? Jangan ribut disini?.”


“I don’t feel offend, Andrew. Don’t you worry. I can understand, maybe she jealous to me ( Aku ga tersinggung kok, Andrew. Jangan khawatir. Aku bisa mengerti, mungkin dia cemburu sama aku).” Ucap Elle pada Andrew dengan yakinnya.


Fania langsung menoleh pada Elle. “Excuse me, what did you say? ( Maaf, lo bilang apa? ). Me? jealous? To you? ( Gue? Cemburu? Sama Lo? ).”


“Heart, sudah. Please?.” Andrew mencoba mengalihkan perhatian Fania dari Elle.


“I just said, maybe Fania. ( Aku kan Cuma bilang mungkin, Fania ). You don’t need to be upset if you really not jealous to me ( Kamu ga perlu marah kalau memang bener kamu ga cemburu sama aku ). Grow up, girls. Come on? ( Dewasa dong. Ayolah ).” Ucap Elle setengah terkekeh.


“Elle, let’s cut this off, will you? (Elle, hentikan ini, oke? ).”


Andrew sedikit merasa sulit. Pasalnya disatu sisi adalah wanita yang dicintainya, yang satu lagi memang teman yang cukup akrab dan baik padanya saat di Universitas.


“Fania, Elle. Come on girls. We’re here to have fun ( Fania, Elle ayolah. Kita disini buat nongkrong bareng dan senang – senang ).” Jeff ikut nimbrung karena memang dia sendiri juga berteman dengan Elle. Sementara John dan Dewa masih diam dan memperhatikan.


“Andrew, I don’t feel that I’m starting anything with your wife ( Andrew, aku ga merasa memulai masalah dengan istri kamu ). But, you’ve heard it right? She’s the one who try to insult me at the first place ( Tapi kamu dengar kan? Dia yang mulai duluan ).” Ucap Elle yang merasa tak bersalah. “I’m just telling the truth that we’re friend and close. Just it but she’s started to get jealous and insult me ( Aku Cuma bilang kenyataan kalau kita teman dekat. Tapi dia cemburu dan mulai menghina aku ).”


Fania melihat Elle dengan raut wajah yang tak percaya. “Lemes banget mulutnya ulet bulu.” Gumam Fania,  yang hanya para lelaki yang serumah dengannya saja yang paham gerutuan nya. Andrew kembali menoleh pada Fania.


“Udahlah Jol, jangan cari ribut, oke?.” Ucap Jeff pada Fania sebelum Andrew berbicara.


“Dih, siapa yang cari ribut?. Dia duluan aja itu yang keganjenan ama laki orang. Udah mana lemes mulutnya.”


“Enough, Heart. Please ( Cukup, Sayang. Sudah ).” Tambah Andrew dan Fania menatapnya.


“Jol, udah Jol.” John menepuk bahu Fania pelan. Dewa masih diam saja.


Elle terdengar menghela nafas. “Look Fania, I really don’t have any crush to your husband okay? ( Denger ya Fania, aku ini ga punya perasaan suka yang berlebihan pada suami kamu). If I want, I already make him mine before you ( Kalau aku mau, aku udah menjadikan dia milik aku sebelum kamu ).”


“Wah beneran lemes ini ulet bulu.” Sahut Fania lagi. Andrew dan dua J kembali menatapnya. Udah mulai siaga satu, sementara Dewa mulai tersenyum dengan arti yang hanya dia sendiri pahami.


“Elle. Just stop okay? ( Elle, berhentilah tolong. Ya? ).” Ucap Andrew lagi pada Elle.


Elle mengangguk. “Okay. I’ll stop ( Baiklah aku berhenti). But one thing should I say here to you Mrs. Andrew ( Tapi satu hal yang ingin aku katakan pada kamu, Nyonya Andrew).”


Fania tak bersuara.


“Elle.” Andrew seperti ingin menghentikan Elle untuk berbicara. Sebenarnya ia ingin menghampiri Elle, tapi takut Fania malah jadi salah paham.


‘Semoga ucapan ini cewe ga memprovokasi si Kajol.' Batin John.


Andrew nampak memberi kode pada Jeff agar segera menghampiri Elle.


Dan nampaknya Jeff pun paham.


“Elle, come on ( Elle, ayo ).” Jeff mencoba mengajak Elle menjauh.


“Why, I’m the one who should left? ( Kenapa aku yang harus pergi? ).” Elle yang merasa tidak terima tak mau mengikuti Jeff yang mengajaknya menjauh.


Andrew menggeleng pelan. ‘Sama – sama keras kepala.’ Batinnya menggerutu. “Then we who supposed to leave ( Kalau begitu sebaiknya kami yang pergi ).”


“Continue what you want to say to me before ( Lanjutkan apa yang tadi lo mau bilang sama gue ).” Fania tak mau beranjak meski Andrew sudah menggandengnya dan hendak membawa Fania pergi dari sana.


“Fan, sudahlah.” Ucap John.


“No, it’s okay. ( Tenang aja ga apa – apa ). Isn’t it will become impolite if we don’t let a person continuing what they want to say? ( Bukannya ga sopan kalau kita ga membiarkan seseorang melanjutkan ucapannya? ).”

__ADS_1


“You are absolutely right ( Kamu benar sekali ).” Elle menanggapi ucapan Fania. Orang – orang yang bersama mereka pun tak mau ikut campur. Hanya terdiam dan memperhatikan saja. Kecuali jika dua wanita yang sedang perang dingin ini mulai menggunakan kekerasan, baru rasanya mereka akan ikut bertindak. Memisahkan. Apalagi coba?.


“Okay.” Timpal Fania singkat dengan wajah tak perduli.


“Talking ‘bout politeness, I think it will more polite if you ask an apologize to me, cause it’s you who started. Insulting me? ( Bicara tentang kesopanan, aku rasa akan lebih sopan kalau kamu meminta maaf padaku, karena semua ini kamu yang memulai. Menghina aku, kan? ).”


Fania tersenyum sinis.


“Sepertinya, aku dengar ada yang berusaha menjatuhkan kamu, Naomy.” Bisik Dewa dan Andrew memperhatikannya.


Andrew bertanya dengan matanya pada Dewa dan laki – laki itu hanya mengendikkan bahunya.


“Jangan provokasi dia, Wa.” Ucap John.


“I won’t say any apologize to a woman who has no dignity. Trying to kiss someone husband with a pool match. Hah, so funny! ( Gue ga akan minta maaf pada wanita yang ga punya harga diri. Mencoba mencium suami orang lewat pertandingan billiard. Hah, menggelikan sekali ).” Sahut Fania pada Elle.


“For God Sake, Heart. Enough. Let’s out from here ( Demi Tuhan, Sayang. Cukup, Ayo kita pergi). And Elle, did I tell you to stop? ( Dan Elle, bukankah aku menyuruhmu berhenti? ).”


“Are you afraid your husband lose from me? and let you see him kiss me? ( Apa kamu takut kalau suami kamu kalah dari aku? Dan membuat kamu melihat dia menciumku? ).”


“Damned, Elle. Stop! ( Sial, Elle. Berhentilah! ).” Andrew menggandeng untuk memaksa Fania pergi dari sana. Namun Fania menahan tubuhnya.


‘Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk.’ Batin Jeff.


“Heart, come on ( Sayang, ayo ). Aku mohon, Sudah.” Ucap Andrew dan kembali berusaha menggeret Fania.


“Me? Afraid? ( Gue? Takut? ).” Fania menyunggingkan senyum lebar saat berbicara pada Elle yang berada disebrangnya. “To you? ( Sama lo? ).”


Fania melepaskan gandengan tangan Andrew darinya, dan Andrew mengusap kasar wajahnya sambil menarik nafas.


“Heart, don’t ....”


Andrew kembali ingin membujuk Fania sebenarnya, namun Elle keburu berbicara lagi.


“Okay, let’s stop this argue ( Oke, mari kita hentikan perdebatan ini ).” Ucap Elle dengan senyuman yang sepertinya tampak menjijikkan buat si Kajol. “I won’t ask your husband to have a match with me, if you mind with that ( Aku ga akan mengajak suami kamu untuk bertanding denganku, kalau memang kamu keberatan akan hal itu ).”


‘Belom titik ini pasti omongannya si ulet bulu.’ Batin Fania yang memprediksi gelagat Elle.


“Let’s have a friendship match ( Bagaimana kalau pertandingan persahabatan? ).” Ucap Elle, yang sesuai dugaan Fania kalau wanita itu masih akan terus bicara. “ Don’t worry I’m not asking your husband ( Jangan khawatir aku tidak meminta suami kamu yang bertanding ).”


“You still can continue the match Elle, but me and Fania are leaving ( Kamu bisa meneruskan untuk bertanding, tapi gue dan Fania akan segera pergi).” Ucap Andrew.


“Well, too bad. I just want to ask your wife to have that friendship match with me ( Sayang sekali. Padahal aku ingin meminta istrimu untuk tanding persahabatan denganku ).” Elle masih nyerocos.


“Hah?.” Sahut Fania.


Fania terdiam.


“Andrew is a pro in this game. Because he taught me so well untill at least I’m quite good as him ( Andrew itu sangat pro dengan permainan ini. Karena dia yang mengajarkan aku dengan sangat baik sampai ya setidaknya aku bisa sebagus dia ).” Cerocos Elle lagi.


“Jangan di layan, Jol.” John coba mengingatkan. “Jangan gegabah dan mempermalukan diri lo nantinya.”


Fania juga tak menjawab John.


“Ayo, Heart.” Andrew kembali mencoba membawa Fania pergi karena ucapan John.


“Udah lama banget aku ga liat Gumdrop.” Dewa tiba – tiba berbisik di telinga Fania. Membuat Andrew dan dua J sedikit heran dengan Dewa yang berbisik pada Fania dan satu sudut bibir Fania terangkat setelah Dewa berbisik.


John menggerakkan kepalanya pada Dewa dengan Andrew yang masih memperhatikan Dewa yang kemudian senyum – senyum setelah membisikkan sesuatu pada Fania. “Bukan apa – apa.” Sahut Dewa santai.


“Lo jangan provokasi dia!.” Ucap Andrew pada Dewa.


“In other words, you challenge me? ( Dalam kata lain, lo nantangin gue gitu? ).” Ucap Fania merespon ucapan Elle.


Elle terkekeh. “ I didn’t challenge you, okay?. Friendship match! ( Aku ga nantangin kamu, oke? Pertandingan Persahabatan! ).”


“Heart. Udah aku bilang. Sekarang pulang.” Andrew mulai nampak kesal. Entah pada Elle atau Fania atau pada situasi saat ini. Ah entahlah. Yang jelas si Donald Bebek puyeng saat ini.


“Let’s make your Friendship Match Happen, then ( Jadiinlah itu yang lo bilang Pertandingan Persahabatan ).” Sahut Fania dan Elle tersenyum. Andrew berdecak dan dua J geleng – geleng. Sementara Dewa melebarkan senyumnya.


“Both of you! Stop! ( Kalian berdua! Hentikan! ).” Pada akhirnya Andrew mulai gusar.


“Perempuan yang berani – beraninya meminta ciuman dari suami aku di depan mata aku, itu udah menyenggol harga diri aku sebagai istri kamu.” Ucap Fania dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang tentu saja hanya dipahami Andrew, dua J dan Dewa.


“Tapi aku ga suka kamu seperti ini.” Sahut Andrew.


“Jangan liat kalo ga suka.” Fania menimpali tanpa memandang Andrew. Fokus pada Elle. Andrew hanya menghela nafasnya yang melihat wajah Fania yang rahangnya sekilas terlihat mengeras. Dia takut Fania berlaku bar – bar bukannya malah tanding billiard. Sambil otaknya berpikir apa Fania sebenarnya ngerti apa engga soal permainan


bola sodok tersebut.


Ini bukan lagi namanya pertandingan persahabatan. Yang ada ini pertandingan yang hasilnya adalah satu pihak yang akan dipermalukan. Begitu kiranya pikiran Andrew dan mereka yang sedang melihat Fania dan Elle.


“I accept your invitation for the Friendship Match you’ve said ( Gue terima undangan Pertandingan Persahabatan lo itu ).” Ucap Fania. Dan Andrew nampak pasrah. Ia tau watak Fania kurang lebih mirip dengan wataknya. Keras kepala. Pantang menarik kata – katanya.

__ADS_1


“Just one game, okay? ( Hanya satu kali aja, oke? ).” Ucap Andrew sambil memandang Fania dan Elle bergantian.


“Okay.” Sahut Elle.


“How ‘bout the bet? ( Bagaimana dengan taruhannya? ).” Tiba – tiba Dewa nyeletuk yang langsung mendapat pandangan horor dari Andrew saat pria itu sudah berdiri didekat meja yang memisahkan jarak Fania dan Elle.


“No ....” Andrew hendak menyela.


“Just like her first bet ( Seperti taruhan dia diawal ).” Fania langsung menyambar sambil mengarahkan telunjuknya pada Elle.


“THAT’S THE SPIRIT! ( ITU BARU NAMANYA SEMANGAT! ).” Dewa terlihat nampak amat sangat senang.


Sementara suasana yang tadinya mulai cair, kembali tegang setelah mendengar Fania menjawab celetukan Dewa. Elle lumayan kaget sementara yang lain tercengang terlebih lagi Andrew. Terkecuali Dewa, tentunya yang terlihat senang sendiri.


“Aku ga mau, Heart!. Apa – apaan?!.” Andrew langsung protes merasa dirinya jadi bahan taruhan. Lebih ga kebayang lagi kalo Fania kalah dan dia harus mencium Elle. “Dan lo Dewa, lo jangan macam – macam!.”


“Are you okay to see your husband kiss me? ( Apa kamu akan baik – baik saja kalau suamimu menciumku? ).”


“We’ll see about it ( Kita lihat saja nanti ).”


“No ‘’We’ll see’’. Yes or No? ‘cause you have to responsible to every single word you say about the bet ( Ga ada ‘kita liat nanti’. Ya atau Tidak?. Karena kamu harus bertanggung jawab untuk perkataanmu soal taruhan ).”


“Don’t worry, I’m a woman with a word ( Jangan khawatir, gue wanita yang memegang kata – kata gue ). If you win, right? ( Kalo lo menang, kan? )”


Elle manggut – manggut dengan menyunggingkan senyuman yang nampak punya arti tersendiri baginya. “And ‘If’ You win? ( Dan ‘Kalau’ kamu menang? ).” Ucapnya seraya bertanya pada Fania.


Fania sedikit bergeser. “Your Dignity! ( Harga diri lo! ).” Ucap Fania. “Here, ( Disini ). Under My Feet! ( Dibawah kaki gue ).” Ia menggoyangkan kakinya dan menunjuk ke arah lantai dengan matanya pada Elle. “You understand me, right El-le? ( Paham maksud gue kan, El –le? ).”


Elle lumayan terkejut dan dia terpaku pada posisinya. Berpikir betapa beraninya istri Andrew ini. Sedikit mengerikan pandangan mata Fania padanya.


Tak pelak semua orang memandang horor pada Fania. Termasuk para pria dalam keluarganya yang ada disitu. Udah rasanya ga sanggup ngomong apa – apa lagi kalau Fania sudah bersikap seperti itu. Fania yang ga boleh disenggol harga dirinya.


‘Oh Tuhan.’ Batin Andrew yang sudah campur – campur rasanya. Mau marah, tapi takut Fania ngambek. Bukan masalah ngambek nya, tapi kelakuannya yang sering diluar dugaan kalo ngambek. Tapi juga ga rela jadi bahan taruhan.


“LET’S THE GAME BEGIN! ( MARI KITA MULAI! ).” Suara Dewa kembali membuat fokus orang – orang yang tadinya sedang berspekulasi dalam otak mereka.


“Kamu ga harus melakukan ini.” Ucap Andrew sekali lagi yang coba membuat Fania berubah pikiran.


“What game? ( Mau main seperti apa? ).” Dewa bersuara sambil memandangi Elle dan Fania bergantian. Tak memperdulikan Andrew yang sedang membujuk Fania.


Fania mengangkat bahunya.


“Any (Apa aja ).” Sahut Elle pada Dewa.


“Free Style then ( Free style kalo gitu ). Agree? ( Setuju? ).” Ucap Dewa lagi.


“Terserah dia.” Sahut Fania. Andrew dan dua J saling tatap bergantian dengan tanda tanya besar soal apakah Fania ngerti dan bisa main billiard?.


“Elle?.” Tanya Dewa pada wanita itu.


“Agree ( Setuju ).” Jawab Elle.


“Head or tail? ( Kepala atau ekor )?.” Dewa sudah memegang koin dan siap melempar. Elle memberi kode agar Fania memilih duluan.


“Tail ( ekor ).” Ucap Fania dan Dewa langsung melempar koin.


“Head! ( Kepala ).” Ucap Dewa stelah koin dilempar. “ You go first, Elle ( Lo duluan Elle ).” Dan wanita itu mengangguk. “Free style remember?. Killer ball. One shot, player who had less ball except the white one is the winner ( Free style inget ya?. ‘Bola Pembunuh’. Satu pukulan. Pemain yang bolanya paling sedikit tersisa dimeja, dia pemenangnya ).”


******


‘Free style – gaya bebas: Istilah yang biasanya digunakan dalam sebutan berbagai macam olahraga / pertandingan / permainan.


‘Killer Ball – Bola Pembunuh: Salah satu jenis permainan dalam Billiard.


******


Bola sudah tersusun dimeja. Elle mendapat giliran pertama untuk memukul. Terlihat pro dalam memegang tongkat billiard termasuk posenya dalam mengambil ancang – ancang untuk memukul.


CTAAAKK!!. Elle mengayunkan tongkatnya hingga menyentuh bola utama hingga menyebarkan bola – bola target yang tersusun rapih sebelumnya. Semua mata memandang ke arah meja billiard memperhatikan setiap bola yang menggelinding ke dalam lobang meja.


“Three balls left ( Tiga bola tersisa ).” Ucap Dewa yang berinisiatif menjadi wasit. Elle nampak tersenyum puas. “Giliran kamu, Naomy.” Dewa tersenyum pada Fania dan petugas Billiard kembali merapihkan bola – bola yang tadi sudah masuk diatas meja.


“Okay.” Sahut Fania. Dewa nampak memberikan ruang padanya. Semua orang pun memperhatikan gerak – gerik Fania.


‘Dia bisa ga sih sebenarnya?.’ Batin Jeff.


John berdiri mendekati Dewa. “You know something, don’t you? ( Lo tau sesuatu kan, lo? ).” John berbisik pada Dewa.


“I know big thing ( Gue bahkan tau sesuatu yang besar ).” Sahut Dewa santai sambil matanya tetap memperhatikan Fania yang sebentar lagi akan memukul bola.


Sementara Andrew sudah berdebar tak karuan. “Heart, posisi tubuh kamu salah.” Andrew makin gelisah melihat Fania yang tak nampak lihai, kalau dilihat dari posisinya saat ini dan cara Fania memegang tongkat. ‘Pasti meleset.’ Batin Andrew makin gelisah.


**

__ADS_1


To be continue ..


Digantungin lagi ah, wkwkwkwkwkwk.


__ADS_2