BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 219


__ADS_3

Selamat membaca.......





“Nald, besok kamu kalau mau ke kantor, berangkat aja ya. Aku udah ga apa – apa.”


Fania dan Andrew sudah berada di kamar mereka dan sudah merebahkan diri mereka diatas ranjang.


Fania mengangkat kepalanya yang tadi bertopang pada dada Andrew karena tak mendengar sahutan dari suaminya itu.


“Nald?.” Panggil Fania sembari menyentuh wajah Andrew yang nampak sedang melamun itu. Andrew seketika nampak tersadar dari lamunannya.


“Hem?.” Andrew menatap Fania sembari mengelus lembut punggung wanita tercintanya itu. “Ada apa, kamu ingin sesuatu?.”


Fania menopangkan dagunya didada Andrew. “Kamu kenapa?.”


“Aku?.”


Fania mengangguk. “Iya kamu. Lagi mikirin apa?. Kamu melamun.”


Andrew tersenyum. “Siapa yang melamun, hem?.”


“Kamu.”


“Aku ga melamun, Heart.”


“Coba tadi aku bilang apa hayo?.”


Andrew hanya tersenyum tipis.


“Menyesal ya menikah sama aku?.” Ucapan Fania mengejutkan Andrew dan spontan ia bangun dari posisinya, mendudukkan Fania untuk menatapnya.


“Kenapa bicara seperti itu?.” Ucap Andrew dengan tanda tanya, apa yang sedang dipikiran Fania saat ini.


“Aku Cuma nanya, Nald. Lagian sih kamu ngelamun gitu.”


Andrew menghela nafas pelan. “Maaf. Aku hanya sedang memikirkan kebodohan aku yang memaksa kamu minum pil kontrasepsi.”


“Aku banyak nyusahin nya ya?.” Fania tertunduk.


Andrew meraih dagu Fania. “Hey, kamu jangan bicara begitu. Aku ga suka kalau kamu bilang seperti itu. Ga pernah aku merasa disusahkan kamu, Heart.”


“Ya, aku yang merasa sendiri.” Sahut Fania.


“Don’t ever talk like that again, hem?. (Jangan pernah bicara begitu lagi ya?). Aku yang salah.”


“Iya.” Fania mengangguk. “Kamu besok ke kantor ya?. Aku udah lumayan sehat kok ini. Ga masalah kalau kamu tinggal.”


“Udah lebih baik kita tidur, hem?.” Andrew merebahkan Fania dan merebahkan dirinya sendiri. “Ga usah kamu pikirkan soal pekerjaan aku. Yang penting kamu benar – benar pulih dulu. Mau ke Camden, kan?.”

__ADS_1


Fania mengangguk. “Sama kamu ya?.”


“Iyalah. Sama siapa lagi, coba?.” Membawa Fania dalam dekapannya. “Sehat dulu yang penting kamunya. Jangan melakukan hal – hal yang membuat aku takut setengah mati lagi.  Dan kamu harus kuliah juga, kan?. Kuliah di


kampus tempat Michelle, fix. Aku dan Reno sudah memutuskan.”


“Iyaaaa ... Donald Bebek. Cerewet banget.”


***


Author’s POV on


Fania sudah pulih saat ini. Sudah seminggu ini pun si Kajol kembali menjadi Fania yang seperti biasanya. John pun sudah kembali ke Indonesia dan yang lain sudah berutinitas seperti biasa.


Sesuai dengan rencana awal kedatangan Fania ke London untuk kuliah, sekarang dia sudah terdaftar untuk melanjutkan studinya di kampus yang sama dengan Michelle.


Meski masuk sedikit terlambat, karena tahun ajaran baru perkuliahan sudah lebih dahulu dimulai. Namun tidak masalah bagi Keluarga Smith tentunya.


Fania masih menyesuaikan diri, terlebih lagi dengan bahasa yang digunakan di Negara Inggris ini. Orang – orang yang beraksen bak Harry Potter, membuat Fania sedikit kesulitan untuk memahami Bahasa Inggris yang baku, meski dia lulus dengan nilai yang baik saat ikut kursus di suatu lembaga Bahasa Inggris di Jakarta.


Lagian selama ini, Bahasa Inggris yang digunakan Fania sehari – hari pun tidak terlalu baku. Jadi Fania seringkali berkonsultasi dengan kakak ganteng, suaminya dan Michelle.


Untungnya sih, kampus tempat Michelle dan Fania menimba ilmu ini selain biaya pendidikannya tinggi, namun juga merupakan sekolah privat. Jadi setiap kesulitan para mahasiswa akan senantiasa lebih dapat terbantu oleh para pengajar di kampus tersebut.


Tentunya karena tidak sembarang orang yang bisa kuliah di kampus yang total biaya perkuliahan nya hampir mencapai satu milyar tersebut, sudah pasti para mahasiswanya mendapat kemudahan dan fasilitas dalam menuntut ilmu disana.


Selain Oxford, Reno, Andrew, Ara, bahkan dua J pun pernah mengenyam pendidikan di kampus tersebut. Dan kini giliran Fania dan Michelle. Dua murid yang mendapatkan perhatian lebih dari pihak kampus. Karena yang satu adalah putri bungsu Keluarga Adjieran Smith dan yang satu lagi merupakan menantu kedua Keluarga Adjieran Smith.


***


“Aish, baru berapa hari belajar di sini, udah sering kena migrain perasaan gue.” Gumam Fania sambil memijat pelan keningnya saat mata perkuliahan yang dia ambil selesai dan kini ia berjalan keluar dari ruang belajar.


Fania masih belum terlalu akrab dengan teman – teman yang mengambil mata kuliah yang sama karena dia juga baru beberapa hari berstatus sebagai mahasiswa. Belum juga ada yang berani mencoba akrab dengan Fania, karena tau status wanita itu dari nama belakang yang disematkan Andrew di belakangnya.


Belum lagi bodyguard yang standby untuk Fania yang ditempatkan Andrew untuk menjaganya selama di kampus. Sama seperti halnya Michelle yang juga punya bodyguard. Yang kadang membuat Fania risih. Mungkin hal itu juga yang membuat mahasiswa lain enggan mendekati Fania.


“Sepertinya Nyonya Andrew sedang sakit kepala.”


Suara bariton seorang pria, namun bukan bodyguardnya membuat Fania langsung menoleh ke arah suara.


Pria berkepala plontos berbadan tegap nan atletis, berkulit cerah dengan stelan kerjanya beserta kacamata yang membuatnya tampak mempesona.


“Donald Bebeeekkk ....” Fania langsung berhambur ke arah Andrew yang sedang tersenyum dengan wajah sumringahnya. Andrew langsung menangkap tubuh Fania. Tak perduli meski banyak mata yang memandang ke arah mereka.


Cup!. Andrew mengecup lembut bibir Fania. “I miss you. ( Aku kangen ).”


Ca elah babang Andrew bikin iri Author aje.


“Dih setiap hari ketemu juga.” Sahut Fania.


“Tapi kan baru hari ini bisa jemput.”


“Emang Pak Bos sibuk banget sih.” Fania mengerucutkan bibirnya. Seperti biasa membuat Andrew gemas.

__ADS_1


“Iya maafkan saya kalau begitu, Nyonya Andrew.” Goda Andrew yang membuat Fania setengah terkekeh. “Ya udah yuk, kita makan siang. Lapar kamu pasti, kan?.”


 “Bangeeet.” Sahut Fania dengan mimik wajah yang menggemaskan. Membuat Andrew spontan mengacak – acak rambut istrinya itu.


“Ya udah yuk.” Andrew membawa Fania berjalan keluar dari kampus untuk mengajak wanita kesayangannya makan siang bersama.


“Eh Nald, nanti berhenti dulu di Tesco ya?.” Ucap Fania saat dia bersama Andrew di mobil sport milik Andrew. Sementara bodyguardnya mengendarai mobil yang terpisah.


“Mau beli apa, Heart.” Tanya Andrew.


“Minuman sama camilan. Iseng mulut aku.” Jawab Fania.


“Kita kan mau makan?.”


“Aku haus nya sekarang lah.”


Andrew pun mengangguk untuk mengiyakan.


“Kamu tunggu disini aja. Aku sebentar doang beli minum.” Fania meminta Andrew untuk tetap di mobil saat sudah sampai di tempat yang Fania maksud.


“Aku ikutlah.” Andrew memaksa.


“Ga usah sih. Sebentar doang. Don’t worry, oke?. Tuh akses keluar masuk juga Cuma satu pintu. Keliatan lah dari sini.” Fania tetap meminta Andrew untuk tidak ikut ke dalam.


Andrew mengangguk pasrah. Namun ia tetap keluar dari mobil dan bersandar pada pintunya memposisikan matanya pada akses keluar masuk mini market tersebut. Mengkode sang bodyguard untuk sedikit mendekat pada


Fania. Sekedar berjaga – jaga agar kejadian di Thai tak terulang lagi dimana Fania tiba – tiba menghilang.


“Sudah?.” Tanya Andrew saat melihat Fania keluar dari mini market dengan bungkusan di tangannya.


“Udah. Yuk.”


Andrew dan Fania melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk makan siang.


“Mau yang mana kamu, Nald?.” Fania mengeluarkan dua jenis minuman yang berbeda dari bungkusan mini market.


Andrew menoleh sebentar. “Kamu saja. Aku belum haus.” Ucap Andrew. “Itu apa?.” Andrew seperti melihat barang lain dalam bungkusan.


Fania seketika melipat asal dan langsung memasukkan kantong plastik ke dalam tasnya. “Oh ini, Tisu basah.”


Andrew sedikit merasa aneh. Namun ia kembali fokus pada kemudi.


**


To be continue ....


Jangan lupa ritualnya Readers ...


LIKE-VOTE-KOMEN


Jangan lupa juga add ke favorit ya


Ma acih.

__ADS_1


__ADS_2